LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 67 Dia? He or She?



Sepulang makan siang, Zivi diserbu dengan banyak pertanyaan oleh Donna. Meski harus setengah suara saat menjawab, Zivi tetap menjawab. Jika tidak, maka jangan berharap kerja dengan aman.


Zivi menceritakan semuanya. Namun Zivi merasa pertanyaan Donna berikutnya seakan sungguh – sungguh memastikannya.


“Ada apa denganmu Don? Apa yang saya ceritakan seperti itu, dan kamu bisa menyimpulkan sendiri bagaimana hubungan kami!” Jawab Zivi.


“Tidak. Hanya memastikan saja!” Jawab Donna Kembali fokuske layar komputernya. Namun pikirannya tidak diam. Kenapa Richard menanyakan hubungan Eibi dan Zivi? dan memintanya memastikan bagaimana hubungan mereka? Tidak mungkin Richard mau berpaling darinya. Dengan menggelengkan kepala ia menghela nafas. Nanti saja pulang dan tanya ke Richard! Donna memutuskan.


Sedangkan Zivi memikirkan Eibi yang tadi menanyainya dengan selidik. Dari respon Eibi, sepertinya Eibit ahu jika ia jijik berbagi sendok, meskipun Eibi mengatakan ia tahu, tapi ia bisa merasakan jika Eibi tahu. ‘ya sudahlah. Bagus jika tahu!’ mengendikkan bahunya. ‘Mungkin dia ahli kejiwaan dan bisa membaca orang!’. Batinnya. Sudah beberapa kali Eibi menanyainya dengan penuh selidik jika ia menyembunyikan jawaban yang sebenarnya soalnya.


Sore hari pulang kerja, Zivi berpikir akan pulang naik kerdaraan online, tak disangka mobilnya Eibi sudah menunggu di depan gerbang. ‘Mungkin Eibi meminta Alden menjemputnya.’ Batin Zivi. Tanpa menengok ke depan, Zivi menarik buka pintu penumpang mobil.


“Duduk didepan!” Suara Eibi menghentikannya untuk masuk mobil.


“Lho! Saya kira temanmu yang jemput!” Respon Zivi. Zivi tidak biasa berinteraksei banyak dengan Alden, jadi panggilannyapun tidak menentu. Daripada langsung dengan namanya, lebih tidak sopan. Jadi seperti sebutannya untuk Alden.


Zivi menutup Kembali pintu mobil dan membuka pintu depan. “Alden saya tinggalkan mengurusi urusan yang belum selesai!” jelas Eibi.


“Jika masih ada pekerjaan, tidak perlu jemput. Saya bisa naik kendaraan online.” Zivi memberitahu Eibi. Jadi tidak enak membuat Eibi meninggalkan pekerjaannya.


“Tapi saya mau menjemputmu!” Jawaban Eibi mengenyahkan perasaan tidak enak Zivi dan terganti dengan rasa manis. Seperti ini rupanya jika menyukai seseorang. Merasa diperhatikan saja sudah senang. Baru merasa, bagaimana jika sungguhan dia bilang kalau dia perhatian? Bagaimana kalau sungguhan dia suka?


“Kamu mau beli sesuatu?” Tanya Zivi saat Eibi masuk area pusat perbelanjaan. Eibi tidak meresponnya masih sibuk menengok dan mengikuti arahan tukang parker.


“Hmmm. Ayo turun!” Respon Eibi singkat dan mengajaknya turun saat sudah memarkirkan mobilnya.


Zivi mengikut kemana Eibi menariknya.


“Kita masih ada stok makanan di rumah!” ujar Zivi saat Eibi membawanya masuk area belanja bahan makanan.


Eibi mengambil kereta belanja dan menariknya kebagian belakang samping tempat belanja dan ia melihat segala jenis peralatan.


“Kamu bisa memilih peralatan apa yang diperlukan untuk dapur kita!” ujar Eibi.


Zivi menggeleng merasa semuanya sudah cukup yang ada dirumah.


“Ini sepertinya perlu!” Eibi mengambil pan berukuran kecil, sedang, dan besar. Tiga sekaligus dan meletakkannya dalam kereta belanja. Zivi diam, tapi dalam bertanya untuk apa?


“Ini untuk membuat pancake, ini untuk menggoreng roti dan telur, dan ini bisa untuk masak spageti.” Eibi memberitahunya kegunaan masing-masing pan. Dan Zivi mengangguk paham, ia menangkap bahwa Eibi sepertinya tidak memasak masakan macam-macam dengan pan yang sama.


“Saya tahu kamu suka buat kue.” Ujar Eibi sambil memilih pemanggang kue juga beberapa bentuk Loyang kue disana. Membeli mixer, serta microwave.


Tak lupaia membeli resep masakan western yang ada disana. Zivi merasa Eibi memberinya tanda untuk belajar masak western. Dan itu benar. Eibi memilih buku resep western, disana ad acara masak spaghetti juga pancake. Ia ingin Zivi melajar masak masakan western, terlebih khusus ia mau Zivi bisa masak spageti jug pancake yang enak untuknya. Yang pernah ia makan masakan Zivi enak, dan pastinya ia bisa belajar masak masakan western dengan mudah.


Saat hendak bayar, Zivi mengeluarkan dompetnya dan mengambil ATMnya untuk membayar. Meskipun Eibi yang pilih, tidak mungkin ia meminta Eibi untuk membayarnya.


“Pakai yang ini!” Eibi menunjuk kartu yang lain dari belakangnya. Dan kartu itu adalah pemberian Eibi.


Zivi menarik kartu yang Eibi tunjuk dan memberikannya pada kasir.


Zivi mendongak pada Eibi saat kasir mengarahkan mesin debit untuk mengisi pin kartu. “Saya tidak tahu pinnya!” bisiknya pada Eibi.


Setelah menata belanjaan didapur, Zivi tersenyum pada Eibi, “Terimakasih” ucapnya. Ia melihat dapur lebih penuh dan terasa lebih hidup. Ia juga bisa membuat kue yang sudah lama ia tidak buat sekali gus menambah skillnya buat kue. Untuk western food, ia juga bisa belajar, demi Eibi.


“Hanya itu?” Tanya Eibi menariknya dalam pelukan.


“Lalu?” Respon Zivi mendongak.


Ingin Eibi bilang pada Zivi untuk mencium bibirnya. Tapi itu tidak mungkin. Memeluknya serta mengecup keningnya saja sudah cukup. Meski masih merasa kurang!


Cup! Eibi mengecup keningnya lama, “Ini!” ucapnya sebagai jawaban atas pertanyaan Zivi.


Zivi tersipu mendengar jawaban Eibi yang langsung dengan Tindakan. Ternyata Eibi mau ia berterimakasih dengan mengecupnya.


Zivi menjinjit sedikit, secepat kilat ia mengecup pipi Eibi, lalu berlari keluar dapur. Eibi tercengang! Setelah Zivi menghilang, baru ia tersadar. Zivi benaran mencium pipinya. Itu kedua kalinya Zivi melakukannya sendiri. Jika yang pertama karena gemas, ini rasanya bukan gemas. Ia malu setelah menciumnya dan berlari meninggalkannya. Ahhh jika buka bahagia apalagi sebutan yang pas untuk perasaannya itu.


Usahanya selalu membuahkan hasil. Zivi tidak lagi menolaknya. Bahkan meresponnya. Harapan positifnya pun muncul untuk tantangan berikutnya. Jika hatinya sepenuhnya untuknya, Zivi pasti akan menerima semua dirinya. Bahkan makan dengan sendok yang samapun ia akan mau.


Eibi menyusul Zivi ke kamar, dan ia dapati Zivi sedang didalam kamar mandi.


Ia duduk disofa menunggu Zivi selesai mandi *pikirnya Zivi sedang mandi. Ponsel tak asing ada disana, tak lain adalah ponsel Zivi. Hatinya tergelitik untuk tahu isinya, semoga tidak terkunci. Eibi teringat Ketika Zivi marah karena ia mengutak isi ponselnya. lebih tepatnya, melihat isi pesan dan menghapus nomor teman lamanya itu. bagi Zivi teman, namun baginya, teman lamanya itu bukannya menganggap Zivi sebagai teman. Skip! Lupakan itu. Sudah lega, Zivi memaafkannya dan bahkan hubungan mereka sekarang mengalami kemajuan.


Baru hendak ingin menyalakan ponselnya, sudah menyala terlebih dahulu. ‘lagi? Siapa dia?’ bertanya pada diri sendiri, ingin tahu siapa Amo?


“Hallo!” Eibi mengangkat telfon itu, nanti ia akan memberitahu Zivi bahwa ada yang menelponnya. Yang penting sekarang ia harus siapa Amo, laki-laki atau perempuan?


Tut!


Menarik nafas. Telpon langsung diputuskan. Siapa dia? Kenapa tidak menjawabnya? Sauna hati tidak puas dan tidak senang.


Glek! Pintuk kamar mandi terbuka. “Cepat sekali mandinya?” Tanya Eibi mendongak dan mengarahkan pandangannya pada Zivi. Lalu terkesiap sendiri dan hanya suara ‘Owh’ keluar dari mulutnya. Zivi tidak mandi. Hanya mencuci muka.


“Siapa yang mandi? Saya belum masak untuk malam!” Zivi memberitahu Eibi kenapa dirinya belum mandi sementara tangannya sibuk mengusap wajahnya yang basah dengan handuk.


“Hmmm, mau masak? Biar saya bantu!” Eibi menawarkan diri saat Zivi hanya menjawabnya dengan anggukan, namun pandangannya tidak melihat langsung pada Eibi.


Eibi ingin tahu siapa Amo, dan memikirkan caranya untuk menggali dari Zivi.


“Sorry, tadi ada yang telpon, saya pikir penting jadi saya mengangkatnya untukmu.” Sekalian mengaku pada Zivi Eibi menyerahkan ponsel itu pada pemilik. semoga tidak marah batinnya, sambil melihat reaksi Zivi.


“Siapa?” Tanya Zivi menerima ponselnya, lalu berlalu dari Eibi menuju pintu. Eibi beranjak mengikutinya.


“Amo!” Jawab pendek berharap Zivi memberinya sedikit petunjuk.


“Owh, dia!” Zivi hanya sekilas membuat yang mendengarnya kecewa.


Dia? Laki atau perempuan? jika dalam Bahasanya ‘He or She?’ ia akan bisa membedakannya.


Huft