LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 10 Pernikahan Gila



Pagi harinya Zivi bangun pagi-pagi sekali. Lalu segera merapikan sofa tempat tidurnya dan membersihkan dirinya dan diam dan pelan-pelan. Takut menimbulkan suara yang bisa membangunkan tidur orang lain, yang adalah suaminya sendiri.


Eibi masih menikmati tidur nyenyaknya. Entah jam berapa pulangnya semalam, Zivi tidak tahu dan tidak mau tahu.


Setelah semuanya, ia keluar kamar dengan pelan-pelan membuka dan menutup pintu kamarnya.


Zivi akan ke motel tempat nenek serta kakaknya menginap hari ini. Menggunakan waktu cuti menikahnya untuk menemani keluarganya juga sekalian mengantarkan mereka pulang.


Hari itu hari terakhir mereka disana, dan akan pulang kembali ke ***** kampung halamannya.


Dengan motor kesayangannya, Zivipun tiba.


“Vi, pagi sekali kesininya.” Kakak iparnya kaget melihat sosok Zivi yang berdiri di depan pintu kamarnya.


“Hehehe, ia. Kan hari ini kalian akan pulang, jadi Zivi sengaja pagi-pagi, biar waktunya agak banyak bersama kalian.” Jawab Zivi sambil tersenyum.


“Suamimu?”


“Dia tidak ikut. Jadi Zivi sendiri saja.” Jawabnya sambil menengokkan kepalanya kedalam tidak mau melihat langsung mata kakak iparnya saat menjawab.


“Nenek belum bangun?” Tanya Zivi


“Sudah. Sekarang lagi mandi.” Jawabnya sambil membuka pintu agak lebar dan mempersilahkan Zivi masuk. Dan beranjak ke kamar sebelah dan mengetuk pintu.


Dikamar itu suaminya tidur. Dirinya dan nenek tidur bersama dan suaminya sendirian.


Zivi duduk di tepi tempat tidur dan menunggu neneknya selesai mandi. Dan tak lama, neneknya keluar kamar mandi dan sudah rapi.


5 menit kemudian kakaknya juga kakak ipar sudah dikamar itu dalam keadaan rapi.


“Kita sarapan dulunya di area sekitar sini lalu kita jalan-jalan, sekalian cari ole-ole dan langsung menuju bandara.” Ucap Zivi dan disetujui keluarganya.


Zivi membawa mereka makan ditempat terdekat dan setelah itu jalan-jalan. Hari itu Zivi menikmati harinya bersama keluarga dengan mengabadikannya melalui foto bersama, tak lupa diupload di IGnya.


-Kedudukan, kekayaan, status tidak akan begitu berarti tanpa cinta-cinta yang tulus disekitarmu. Cinta Tulus adalah sumber bahagia yang murni- statusnya pada foto itu.


Jam 3 sore Zivi sudah berada di rumahnya. Jam 2 siang ia mengantar keluarganya ke bandara dan setelah mereka cek in, iapun pulang. ‘Zivi, kasih yang tulus itu sangat penting dalam membangun rumah tangga. Ingatlah untuk selalu meluapkannya dalam hari-harimu berumah tangga. Dan masalah apapun yang kamu hadapi Rasa sedih seidkit merasuki hatinya saat berpisah dengan keluarganya. Namun segera ia tepis.


Meski sudah terbiasa seperti seperti ini, tetap saja namanya perpisahan menyisahkan rasa sedih.


Itu adalah hari ketiganya dirumah suaminya. Ia gunakan untuk melihat-lihat sekitar rumah untuk mengalihkan rasa sedihnya berpisah dengan keluarganya.


Rumah yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Hanya ada dua lantai. Lantai dua hanya terdiri dari 3 kamar. Satunya kamar Eibi. Yang duanya tidak tahu kegunaannya untuk apa.


Lantai bawah ada ruang tamu, dengan dua kamar. Dengan sekat lemari hias, memisahkan ruang tamu dan ruang makan. Dan sebelah ruang makan ada dapur berukuran kecil. Ada pintu disamping salah satu sisi dapur. Mungkin Gudang.


Zivi membuka pintunya dan melihat ke luar. Ada satu ruangan yang merupakan satuan dari ruang dapur bersekat tembok. Disisi sebelahnya bangunan tersendiri sepertinya toilet dan kamar mandi dengan satu ruangan yang Zivi juga tidak tahu kegunaannya. Mungkin kamar pelayan.


Ada halaman berumput hijau dibelakangnya dan agak luas. Ada jemuran ditengah-tengah halaman.


“Non, sudah pulang.” Ucap bibi yang sedang merawat tanaman-tanaman pot. Memetik daun-daun yang sudah layu dan kering dan mengumpulkannya jadi satu.


“Ia, Bu. Lagi lihat-lihat saja.” Jawab Zivi. “Bu, namanya siapa? Saya Zivi.”


“Saya Bu Surti, non.” Jawabnya.


“Bu Surti tinggal disini atau pulang pergi? Soalnya dari kemarin Zivi tidak pernah lihat.”


“Ibu, hanya datang pagi saat tuan sudah berangkat kerja. sore jam 5, ibu pulang.” Terang Bu Surti.


“Ibu berkerja disini sendirian ya Bu?” Tanya Zivi sekedar ingin tahu.


“Tidak. Ibu disini kerja bersama suami Ibu. Ibu untuk urusan dapur dan kebersihan, Bapak untuk keamanan dan taman atau jika ada kerusakan.”


“Sudah lama ibu berkerja disini?”


“Tidak non, baru sekitar 4 atau 5 bulanan. Kenapa Non?”


“Tidak apa-apa. Cuma bertanya saja. Kalau Gedung yang disana itu, Gedung apa Bu?”


“Owh, itu tempat tinggal tuan Alden.”


“Siapa dia?”


“Teman juga asisten pribadi tuan Akando.” Zivi agak sedikit familiar dengan nama - nama yang baru disebutkan. Dan untung ia segera mengingatnya.


‘Alden, yang menjadi wali Eibi dalam pernikahan mereka. Akando. Oups, suaminya sendiri.’ Ia teringat nama itu saat disebutkan pendeta yang meneguhkan pernikahan mereka, dan kedua saat Eibi sendiri mengikrarkan janji nikah. -Akando Baxter apakah engkau berjanji …, Saya Akando Baxter berjanji …- sekelabat kalimat sakral itu terlintas dalam ingatannya.


Zivi bingung sendiri menyadari bahwa dirinya bahkan tidak mengingat nama suaminya, dan hanya mengetahui nama panggilannya saja.


‘Owh, Tuhan. Ini gila,’ serunya dengan suara pelan namun sedikit terdengar oleh bu Surti.


Pernikahannya sungguh gila. Hal sepenting itu bagi seorang yang akan menikah, harusnya tahu akan nama pasangan hidupnya. Namun dirinya tidak. Memang semuanya serba kilat, mengurus surat nikah dan lain sebagainya.


Meski dirinya tidak begitu terlalu terlibat, karena semua hal lebih banyak di urus oleh Eibi, *tepatnya Alden, sang asisten. Masa itu jadi alasan untuk tidak tahu nama lengkap orang yang akan jadi suaminya. Dan hari keduanya menyandang status sebagai istrinya. Parah!


“Kenapa non?”


“Tidak apa-apa Bu.” Sahut Zivi dengan cepat. ‘Mungkin juga Eibi sama denganku.’ Batinnya.


Hari itu Sivi banyak mengobrol dengan Bu Surti dan banyak bertanya-tanya seputar hal-hal yang ingin ia ketahui.


Paling tidak ada temannya mengobrol sebelum jam 5 sore. Rumah Bu Surti tidak terlalu jauh, jadi Zivi ikut berjalan bersama Bu Surti pulang, sekalian ia ingin tahu tempat tinggal Bu Surti.


Ya hari itu, Zivi lewati dengan menyadari satu hal paling konyol dalam hidupnya. Tidak tahu nama lengkap dari suaminya. Kegilaan lucu juga sedikit menyengat hatinya. Pernikahan yang kosong, tiada arti.


‘Terima kasih Tuhan. Aku akan terus bersyukur padamu meski keadaan semiris ini.’ -Zivi-