
Kezia tidak percaya dengan foto-foto yang pernah Anthony tunjukkan padanya bahwa Eibi memiliki kekasih dan bahkan sudah menikah.
Namun apa yang ia lihat dimeja kantor Eibi, membuatnya ragu akan keyakinannya pada Eibi yang bisa menikahi wanita lain selain dirinya.
Impossible! Batinnya menolak, namun dalam foto itu jelas-jelas Eibi sedang memasukkan cincin ke jari manis wanita yang dinikahinya itu.
Ia tidak terlalu bisa melihat wajah gadis itu karena fotonya menampilkan posisi mereka dari samping.
Namun ia betul bagaimana rupa gadis itu saat melihat foto yang pernah Anthony tunjukkan padanya. Gadis itu terlihat lembut dan tenang dari raut wajahnya. Tidak terlihat cantik, juga tidak terlihat jelek. Ia sederhana namun jujur, dia wanita yang menawan. Itulah yang dipikirkan Kezia.
Tapi satu hal yang ia tahu. Eibi tidak menyukai wanita sebangsa wanita dalam foto itu. Ia ingat betul bagaimana Eibi membenci Ibu tirinya, hingga ia membenci semua wanita yang sebangsa dengan wanita itu. Tak terkecuali dengan wanita yang dinikahinya. ‘Why? Why did he marry her? Something fishy!’
Kezia yakin ada sesuatu pastinya yang membuat Eibi menikahi Zivi. Ia tidak percaya dengan ucapan Eibi, meski ia masih dengan jelas mengingat ucapan Eibi padanya.
“Yeah, I’m merried.” Ucap Eibi tegas tanpa merasa bersalah saat melihatnya syok menatap foto diatas mejanya.
“Huh! Merried? I didn’t believe it!” Balas Kezia.
“Believe or not, It’s up to you. I just tell you the truth. I’m a merried man now.” Jawabnya dengan seringai senang menyaksikan raut wajah Kezia yang terlihat marah.
“Eibi, do you have a problem that made you merry her? I know you!” Ucapnya melembut dengan tatapan sendu menunjukkan perihatin jika Eibi ada masalah. “You can tell me. I will definitely help you.” Tawarnya.
“I don’t have any problem!” Ucap Eibi. Ingin sekali dirinya membuat wanita itu malu dengan menunjukkan video memalukan dari wanita itu. Namun ia tidak tega.
“I have told you that I’m merried now. So …” Eibi tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tahu bahwa Kezia pasti mengerti, dirinya sudah menikah, tidak bisa diganggu lagi, juga bahwa hubungan mereka berakhir.
Dengan segala usaha Kezia ingin mempertahankan hubungannya dengan Eibi, dan bersedia membantunya menyelesaikan masalah yang membuatnya harus menikah. Namun Eibi tidak memberinya sedikitpun harapan, dan langsung menegaskan untuk tidak mengganggunya pria yang sudah menikah.
‘Should I stop?’ batin Kezia. ‘No. Never!’ menegaskan pada dirinya sendiri. Ia sangat mencintai pria itu, meski juga merasa bersalah karena melakukan kesalahan dibelakang Eibi, ia menyesal, dan sudah bertobat dari kesenangan sesaatnya itu. Ia tahu siapa orang yang diinginkan hatinya. Eibi. Hanya Eibi.
Jika Eibi tidak memberitahunya, maka ia harus memiliki cara lain.
****
Jam 16:30. Waktu kerja Zivi berakhir. Hari itu, ia memutuskan untuk segera pulang. Ia ingin membicarakan hubungannya dengan Eibi agar jelas, dan dirinya pun tidak bersikap seolah-olah dirinya tidak tahu, dan terlihat begitu bodoh. Ia sudah merasa bodoh, tidak ingin dirinya begitu bodoh dan kasihan dimata orang lain. Bukankah menyedihkan terlihat begitu bodoh dan kasihan?
Paling tidak, Eibi tahu bahwa dirinya bukanlah wanita bodoh yang bisa ia manfaatkan!
Setelah melewati padatnya jalan raya yang penuh dengan kendaraan karena memang jam orang pulang kerja, akhirnya Zivi memasuki gerbang rumah tempat ia tinggal setelah menikah itu.
Belum sempat ia melangkah masuk, suara penjaga rumah memanggil namanya menahannya masuk.
“Ada apa pak?” Tanya Zivi. Pak Tejo yang memanggilnya.
“Ada orang yang mencari Non Zivi.” Tanya Zivi mengeryitkan keningnya.
“Siapa Pak?”
“Saya tidak tahu, katanya ingin bertemu istri Tuan Akando. Wanita tinggi, berambut pirang.” Jelas pak Tejo menyebutkan ciri-ciri wanita itu.
Wanita itu sudah berdiri disana. Ia tengah fokus memperhatikan sesuatu didinding tanpa menyadari kehadiran Zivi. Zivi mengikuti arah pandang wanita itu.
Foto Pernikahan?
Zivi terkejut melihat fotonya bersama Eibi disana. Sejak kapan foto itu dipasang? Kenapa ia tidak tahu? Sepertinya baru dipasang. Saat pagi hari ia berangkat tidak ada foto disana.
“Ehmmm” Zivi berdehem untuk memberi sinyal pada wanita itu bahwa dirinya ada disana.
“Beautiful picture!” Puji wanita itu sambil berbalik mengetahui orang yang ia ingin temui ada disana. “But I thought, the bride wasn’t happy at all.” Tambahnya.
“thought? It’s just in your mind!” sanggah Zivi. Tanpa kamu beritahu, aku sudah tahu. Batinnya.
Zivi tidak mengenalnya dan merasa sedikit tidak nyaman. Ditambah dengan perkataannya barusan membuatnya risih.
“Have we ever met before?” Tanya Zivi to the point, tanpa mempersilahkan wanita itu duduk terlebih dahulu.
“No, we have never met before. I’m Kezia.” Jawabnya sekalian memperkenalkan namanya.
Zivi hanya mengangguk kecil, dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan wanita itu. “I’m Zivi”.
“Do you have some matters to deal with me?” tanya Zivi langsung menanyakan tujuan wanita itu menanyainya sambil mengarahkan wanita itu duduk.
“Hmmmm, I’m still his girlfriend. I’m sorry in advance to tell you the truth.” Terangnya. Zivi memahami kata ‘his’ yang ia maksudkan siapa. Zivi langsung teringat kejadian di restaurant. Gadis yang mencium Eibi adalah wanita ini.
“it doesn’t matter. So, …? I’m his wife.” Sahut Zivi sambil melihat foto pernikahan yang ada ditembok. Memangnya kenapa? saya istrinya. Kedudukan yang lebih kuat daripada pacar. Dirinya sudah tahu bagaimana hubungannya dengan Eibi, tidak perlu juga cela yang memalukan dibeberkan toh. Batinnya.
“I knew. From the photo and by you’re staying here. So, it must be true.” Ucapnya dengan suara melemah, membuang nafas, lalu melanjutkan, “But, I knew Eibi has a reason to marry you. It’s impossible for him to marry you.” Tambahnya membuat Zivi malu juga marah dengan ucapan wanita itu.
“Why impossible? There’s nothing impossible.” Tantangnya tidak mau membuka cela pernikahannya.
“Yeah, because I have already known him years. I’ve been with him years. I know what he likes and dislikes, who he loves and who he doesn’t.” terangnya dengan suara pelan dan tenang. Zivi tidak menjawab. Ucapannya membuatnya ingin mendengar lebih.
Kezia menangkap diam Zivi sebagai tanda bahwa perasaan gadis itu sudah mulai terpengaruh. Ia melanjutkan, “I know, he only loves me. He loves me so much. he never thinks about any woman. Moreover, woman from your people. He hates your people, especially women.” Tambahnya memberitahu siapa orang yang Eibi tidak suka.
Zivi tidak membalas. Ucapan terakhir wanita itu seakan menancap dihatinya. Ia marah. Marah yang tertahan.
“I just want to tell you to leave him, before him.” Wanita itu menasihatinya dengan penuh prihatin.
“Hmmm,” menghela nafas “thanks for your advice. “but I will not leave him.” Tekan Zivi. Kalau ia meninggalkan Eibi, bisa saja. Pandangan orang bukanlah masalah baginya. Bagaimana dengan keluarganya? Apa kata neneknya nanti? Apa kata kakaknya? Mereka juga pasti akan menanggung malu.
Paling tidak tunggulah agak lama pernikahannya. Baru ia akan berpisah dengan Eibi baik-baik, dan tidak menimbulkan malu bagi keluarganya.
“No need for you to worry about me. It’s my matter and my husband.” Tambahnya membuat wanita bernama Kezia itu berubah air mukanya sedikit. Zivi tidak peduli, ia melanjutkan. “If you have nothing else to tell me, you can leave.” Berdiri dan mengarahkan wanita itu untuk pulang.
Merasa terusir, Kezia berdiri dan berjalan mengikuti Zivi menuju pintu keluar.
“Remember, he hates the woman from your country, you are no exception.” Bisiknya sebelum melangkah melewati Zivi keluar pintu rumah itu.