LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 29 Cincin



Zivi duduk santai dikamar ORnya dibelakang. Setelah powernap sebentar, ia naik ke kamar atas hendak mandi. OR skip for today.


Sesampai dikamar, ada kotak berwarna biru muda cantik diatas sofa tempat biasanya ia tidur. Apa itu? Zivi mendekat, hendak membukanya, namun ragu. Terdengar suara cibakan air dari dalam kamar mandi. Pasti Eibi. Dua minggu ini, biasanya ia pulang magrib atau agak malam karena kesibukannya. Karena hal itupun, ia biasanya OR sendiri tanpa Eibi. Mungkin harus siap-siap untuk ke hotel lebih awal. Zivi berkutat dengan pikirannya.


Ia lalu dari sofa, menuju ruang ganti mereka untuk mengambil pakaian ganti. Karena Eibi mandi disana, makai a putuskan untuk mandi dibawah.


Baru melangkah dua langkah dari sofa menuju pintu, terdengar pintu kamar mandi terbuka, “Mau kemana?” suara tanya Eibi menjangkau pendengarannya.


Zivi berhenti sejenak, menoleh, hyup! Kembali berbalik. Eibi hanya memakai handuk sepinggang.


“Kamu kenapa?” Tanya Eibi pura-pura tidak memahami situasi.


“Tidak. Saya akan mandi dibawah.” Jawab Zivi lalu bergegas ke pintu.


“Mandilah disini. Hemat waktu.” Eibi mencegahnya dengan tersenyum simpul.


“Hmmm, baiklah!” Zivi mengiayakan, berbalik sambil menunduk. Dirinya yang malu. Seharuskan Eibi. Ia merutuki dirinya sendiri.


Eibi menggeleng-gelengkan kepala dan segera ke ruang ganti memberi ruang bagi Zivi yang benar-benar merunduk menghindari melihatnya. Zivi pun cepat-cepat masuk kamar mandi.


Huft! Lega. Setelah menutup pintu.


Sehabis mandi, Eibi sudah duduk di sofa dalam balutan celana kantor dan kemeja dalamnya. Belum memakai baju kantornya. Ia sedang memegang kotak biru tadi. Ia menyodorkan kotak biru itu padanya.


“Untukku?” Tanya Zivi.


“Iya. Khusus untukmu. Bukalah.” Ucap Eibi sambil tersenyum. Senyumnya berbinar melihat Zivi menerimanya.


“Apa ini?” Tanya Zivi sebelum membukanya.


“Bukalah. Kamu akan tahu!” Jawab Eibi tak menjawab. Zivi duduk di samping Eibi dan membuka hadiah itu.


“Wow! Cantik sekali!” Seri Zivi mendapati gaun cream muda didalamnya. Warna soft yang sangat ia sukai. “Is it for me?” Tanyanya tak percaya.


“Yap. Wear it tonight.” Jawab Eibi yang puas. Tidak salah memilih warna gaun untuk Zivi. Beberapa bulan bersamanya, meskipun tidak begitu intens, ia sedikit tahu tentang Zivi. kebiasaannya dan kesukaannya, ia tahu. Bahkan ia memilih gaun itu sesuai dengan ukuran tubuh Zivi. Sangat puas diri dari awal. Sekarang menyaksikannya, lebih puas.


Zivi ingin beralasan dengan tak ada kostum, gagal pastinya. Mencelos. Tapi masih ada alasan ke dua.


“Saya tidak usah pergi ya. Saya tidak ada teman, dan saya tidak kenal siapa-siapa disana.” Jelas Zivi memelas, berharap ia bolehkan tidak pergi.


“Siapa yang bilang kamu tidak ada teman? Ada saya. Ada Alden. Sekarang cepat bersiaplah. Kamu sudah menelponku tadi pagi, tandanya harus datang. Tidak boleh beralasan.” Eibi mendorongnya ke ruang ganti untuk berganti pakaian.


Zivi menurut. Dan yeah, sangat pas ditubuhnya. Meski sedikit terbuka bahunya, namun masih normal baginya. Bawahan selutut yang sedikit mengembang, membuat tidak terlihat kecil dan kurus. Jika dipadukan dengan highheelsnya nanti, akan sangat pas.


“Kamu? Mau apa?” Zivi syok Eibi masuk kedalam tanpa ia sadari. Ia menyilangkan tangannya di dadanya.


Eibi hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap jaga-jaga Zivi. Ia menyodorkan ponselnya pada Zivi tanpa bersuara.


Zivi melihatnya lalu melihat tangannya yang meyerahkan ponselnya. “Hehehe” ucapnya sambil mencondongkan badannya untuk mengambil ponselnya.


Tepat saat mengambilnya, ponselnya berdering, ia menjawab ponselnya sambil memberikan mimik -thank you- pada Eibi, lalu fokus pada orang yang menelponnya.


“Aku harus menghadiri acara peresmian hotel.”


“Iya. Aku tak menyangka akan ikut.”


“Aku sudah berusaha menolak. Maaf ya. Aku hanya ikut senang untukmu. Saat pulang nanti, kita bisa jalan-jalan bertiga deh. Ok!” Zivi minta maaf karena tidak bisa jalan-jalan bersama temannya yang akan pulang untuk bertunangan -Lita-.


Baru saja, ia menutup telponnya, Eibi menengok ke pintu masuk, “Apakah masih lama?”


“Tidak. Aku sudah selesai. Tinggal mengaplikasikan bedak saja.” Ucap Zivi dan melangkah menuju pintu keluar. Eibi berdiri di samping pintu memberinya jalan, lalu mengikuti Zivi menuju meja rias. Ia berdiri tepat dibelakang Zivi.


“Bisakah kamu duduk di sofa saja?” Tanya Zivi mengeluh. Ia canggung diperhatikan Eibi dengan sangat dekat demikian.


“Saya hanya berdiri disini dan melihat. Saya tidak akan mengganggumu.” Eibi menolak duduk di sofa.


Melihatnya menolak, Zivi tidak mendesaknya. Ia pasrah dan melakukan apa yang seharusnya untuk tidak membuang waktu.


Selesai. Zivi berdiri memandang dirinya didepan cermin. Tangan kananya membenahi rambut liarnya. Hal itu tak lepas dari pandangan Eibi.


“Mana cincinnya?” Tanya Eibi menarik tangan Zivi untuk melihatnya.


“Ada. Aku melepasnya tadi pagi dan lupa memakainya lagi.” Jawab Zivi sambil tersenyum kikuk.


Eibi hanya memandangnya. Tak menyangka Zivi melepaskan cincin nikah mereka. Apakah selama ini ia tidak memakainya? “Apa kamu sering melepasnya?” Tuntut Eibi ingin tahu.


“Tidak. Hanya saat saya perlu melepaskannya. Takut lepas dari jariku, karena agak longgar sedikit.” Terang Zivi jujur sambil mencari-cari diantara tatanan kosmetiknya, “Saya menyimpannya disini, tapi …” ucapnya sambil mengingat-ingat ia menaruhnya dimana jika tidak ada disana. Ia mencari lagi. “Ah, didalam kamar mandi.” Segera ke kamar mandi. Dan benar ada disana.


Eibi puas melihat penampilan Zivi. cincin nikahnya tersemat dijari manisnya, gelang pemberian melingkar dipergelangan tangannya. Dan kalung tipis dengan liontin unik nan mini menghiasi leher jenjang Zivi.


Zivi membuka lemari tasnya. -I’m for you- tulisan terlihat jelas didepan tas dengan warna asing yang tidak ia miliki. Yep, warna itu senada dengan gaunnya. Ia melihat kearah Eibi. Eibi hanya tersenyum – Thank you! - ucap Zivi lembut hampir tak terdengar, namun jelas terbaca melalui mimiknya.


Eibi mengandeng tangannya menuju rak sepatu dekat dengan garasi. Zivi kebagian sepatunya, begitu juga dengan Eibi.


Disana ada boks sepatu sepatu. Zivi langsung melihatnya. Ia sudah menebak, pasti Eibi yang melakukannya. -I’m yours- Tulisan diatas kotaknya. Zivi membukanya, dan terlihat high heels yang senada dengan gaun dan tasnya. Ia menoleh, namun Eibi tak melihatnya seperti saat ia mendapati tasnya.


Zivi hendak menunduk ingin memakai sepatunya, namun segera terhenti. Eibi menahannya, lalu menunduk dan mengenakan sepatu untuknya. Zivi syok dan tak bisa berkata apa-apa.


Bayak hal yang mengejutkannya hari ini, hingga kadang ia tak terkejut lagi karena sudah tahu. Namun pria ini, tahu juga membuatnya terkejut saat harusnya ia tak terkejut.


Pria didepannya ini seakan Eibi yang lain. Hari ini sepenuhnya lain. Selama ini meski ia merasa lain, tapi tidak seperti perlakuannya hari. Sangat romantis andaikan hubungan mereka karena cinta. Dirinya tersentuh dan sangat terbuai, namun tetap alarm batasannya aktif mengingatkannya.


Merasakan setuhan Eibi pada kakinya, Zivi merasakan gelanyar aneh teralir dalam dirinya, namun ia tetap berusaha tenang dan tak memperlihatkannya.


“Done!” Ucap Eibi berdiri dan menatap Zivi. Zivi tersenyum membalasnya “Thank you so much!” Ucapnya dengan sangat lembut, namun suaranya agak bergetar karena gugup.


Eibi memahami hal itu, namun mengabaikannya. Ia menggandeng tangan Zivi dan mengaitkan jarinya, “Let’s go!” Ucapnya lalu melangkah menuju mobil yang sudah ada didepan rumah.


Alden sudah menunggu mereka disana.