LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 28 Buket Bunga



Pagi hari di kantor.


“Wow! Cantik sekali!” Donna langsung menarik tangan kanan Zivi untuk melihat lebih dekat gelang Zivi. Hal itu membuat Zivi risih dan tersenyum paksa, canggung rasanya jika ada orang yang memujinya atau memuji apa yang ia miliki. Zivi menarik kemali tangannya.


“Kau membelinya dimana?” Tanya Donna ingin tahu, terlihat ia ingin memiliki gelang saperti itu.


“Aku tidak membelinya, ini pemberian!” Jawab Zivi jujur.


“Siapa yang memberimu? Bisa dikatakan dia tahu memilih benda yang yang cantik. Sangat pas dan cocok di tanganmu.” Puji Donna “Apa teman pria yang memberikannya padamu?” tanyanya lagi penuh selidik.


“Jika aku jawab ya, memangnya kenapa?” Zivi bertanya balik dengan santai menggoda Donna.


“Ya, bagus. Tapi siapa dia? Beritahu aku. Apa dia cakep?” pertanyaan beruntun.


“Ya, bisa dikatakan cakep. Kenapa pertanyaanmu seperti itu?” Zivi bertanya tidak senang.


“Ya, kalau dia cakep, semoga dia jodohmu.” Jawab Donna lugas.


“Kupikir, kau menginginkannya. Dan dia bisa memberikanmu gelang seperti ini.” Balas Zivi.


“Hei, nona. Kau pikir aku wanita seperti apa? Gini-gini, aku setia terhadap pacarku.” Ucap Donna membanggakan diri. “Aku memikirkanmu. Ya… dengan adanya yang baru, kau lupakan si…. Siap itu suamimu?” menggebu sedikit memanas.


“Hei, kenapa jadi memanas gini bicaranya?” Zivi menepuk pelan tangan Donna. “Hayo, kerja. Nanti kita bisa ditegur.” Zivi kembali focus pada layarnya.


“Kau belum menjawab pertanyaanku!” protes Donna kembali menatap layarnya.


“Kau percaya jika aku bilang Eibi yang memberikannya padaku?” Zivi berbicara namun tetap focus pada layarnya.


“What?” sontak Donna kaget berbalik kea rah Zivi. Tentu saja suara pekikannya membuat rekan-rekan lainnya menoleh ke arahnya. Donna cepat-cepat menutup mulutnya, sambil merunduk malu menyadari dirinya ditatap beberapa pasang mata.


Zivi tetap fokus pada kerjaannya dilayar computer seakan taka da apa-apa. Mbak Rena yang kebetulan lewat bersuara, “Ada apa sih Donna?”


“Nggak Mbak. Nggak ada apa-apa. Cuma kaget saja.” Jawab Donna kikuk dan malu.


Mbak Rena mendengarnya dan berlalu.


“Unbelieveable!” bisik Donna yang cukup terdengar ditelinga Zivi. Zivi tak merespon, hanya tersenyum. Zivi sudah menduga akan respon Donna, mengingat Donna tahu bagaimana pernikahan Zivi yang sebenarnya. “Apakah dia mengundangmu ke acara peresmian hotelnya?” Tanya Donna.


“Dia memberitahuku, tapi tidak mengundangku. Kenapa?” Tanya Zivi. ia ingat semalam, Eibi hanya memberitahunya, tapi tidak mengundangnya kesana, malah memberikan hadiah padanya. Ia juga teringat bagaimana tingkah Eibi dari kemaren yang memelukny tiba-tiba, mencium pipinya, memberinya hadiah, mengucapkan terimakasih, mencium punggung tangannya, dan tadi pagi, ia dapat dirinya sangat dekat dengan Eibi. Mereka hanya terpisah oleh pakaian pembalut kulit.


Ya, dirinya dalam pelukan Eibi. Anehnya ia tidak meronta, malah nyaman berada disana. Perasaan apa ini? Zivi menggelengkan kepala. Untungnya ia bisa lepas dari pelukan Eibi dengan mudah dan bisa pergi sebelum ia terbangun.


“Ya, mungkin saja dia mengundangmu. Dia saja memberimu hadiah!” Donna menjawabnya setelah ia membalas email yang masuk di komputernya. Zivi mengangkat bahunya, tanda tidak ada komentar.


Disisi lain, Eibi sedang bersama Alden. Mereka sudah mengecek semuanya. Setiap divisi mengerjakan bagiannya masing-masing, meski ada sedikit masalah, bisa diatasi.


“Apakah kau mengundangnya?” Tanya Alden disaat mereka break. Itu sudah jam 9.


“Aku memberitahunya hari ini peresmian hotelnya. Menurutmu, apakah dia akan datang?” balik bertanya.


“Kamu mengundangnya tidak?” Tanya Alden lagi.


“Aku sudah meberitahunya. Tapi dia tidak bilang akan datang.” Jawab Eibi sambil mengingat bagiamana reaksi Zivi semalam. “O my God, aku tidak mengundangnya.” Kembali berujar, juga menjawab pertanyaan Alden yang hanya menggelengkan kepala setelah mendengar ucapan Eibi itu.


***


Zivi sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia menunggu tugas yang baru masuk agar ada yang bisa ia kerjakan. Penantian yang menjenuhkan, tidak ada tugas baru. Tiba-tiba ingatan akan pelukan Eibi tadi pagi membuatnya bergidik. Tak pernah ia bayangkan akan sedekat itu dengan seorang pria. Tapi tadi pagi ia merasakannya. Berbeda rasanya saat pertama ia dapati dirinya bersama Eibi dihotel beberapa bulan lalu. Harusnya ia…


“Permisi, mbak.” Ucap seorang anak magang disana menyadarkannya. Zivi tersenyum sambil melihat buket bunga yang ditangannya.


“Ini ada buket bunga untuk Mbak.” Ucapnya sambil menyerahkannya pada Zivi. Hal ini juga menarik perhatian Donna yang kala itu masih sibuk.


Donna berbalik, “Dari siapa Vi?” tanyanya.


“Aku nggak tahu. dari siapa mbak?” Tanya Zivi sambil menerima bunga itu.


“Aku juga tidak tahu mbak. Coba dilihat saja pengirimnya siapa.” Sarannya.


“Oh, ya. Betul. Terima kasih mbak.” Ucap Zivi pada anak magang tersebut,


Setelah anak magangnya pergi, Zivi mulai melihat-lihat disela-sela bunga dan menemukan kartu kecil berwarna merah berbentuk hari diantara bunga-bunganya.


Donna juga ikut melihatnya. Tidak ada pengirimnya.


“Call me if you really come to my grand event” itu saja.


“Aku disuruh telpon?” Tanya Zivi pada Donna sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Iya.” Angguk Donna mengiyakan.


“Tapi siapa?” Zivi kembali bertanya. Tak ada nama pengirimnya. “Tunggu! Grand event? Apakah ini Eibi?” Zivi memastikan dugaannya.


“Kurasa iya. Siapa lagi kalau bukan dia?” Donna mengiyakan juga setelah memikirikannya.


Zivi segera menelpon Eibi.


“Hallo!” Eibi menjawab telponnya dengan sumringah. Yang ditunggu-tunggu menelpon juga. Jelas artinya bahwa Zivi akan datang nanti malam.


“Is that you?” Zivi langsung bertanya.


“Of course!” Jawab Eibi paham yang ditanyakan Zivi, “So, it means that you will come?” Eibi mempertanyakan pernyataannya.


“No! saya hanya memastikan bahwa itu benar kau pengirim buketnya.” Jawab Zivi. Hatinya senang dapat undangan dengan cara unik seperti ini. Tapi ia tidak memiliki pakaian pesta untuk acara seperti ini. Dan waktunya sudah mepet sekali. Akhirnya ia berkata tidak.


“No? kamu sudah menelpon, itu artinya datang!” Ucap Eibi tidak menerima kata -no-. Dan dia sudah tahu bahwa Zivi akan menimpalinya lagi dengan alasan, dan alasan itu sudah tertera dibenaknya, ia langsung mematikan ponselnya. Ia mengajak Alden untuk ke butik kenalannya dekat situ.


Sedangkan Zivi pusing memikirkan apa yang harus ia pakai nanti. Eibi tidak memberinya kesempatan untuk menolak lagi. Dia menenangkan dirinya sendiri, lalu berpikir. Dia memiliki pakaian yang bagus-bagus. Memang bukan gaun atau pakaian pesta semacamnya. Hanya rok, sekdress simple. Kalau di modif sedikit, bisa layak. Lagian dirinya hanya datang ikut merayakan, bukan tamu undangan penting yang jadi pusat perhatian.


Aman! Masalah teratasi. Dan yang ia perlukan sekarang adalah teman kesana. “Donna, kau mau ikut bersamaku?” Tanyanya pada Donna yang disampingnya.


“Kurasa aku tak bisa janji. Kau tahukan pacarku. Kurasa dia akan mengajakku kesana.” Donna menolak dengan berkata jujur.


“Baiklah.” Zivi tak memaksa. Ia harus berpikir lagi. -Yup, ini juga bisa jadi alasannya nanti untuk tidak pergi- batinnya sambil tersenyum. Mau mengajak Lita dan Epi, bisa terjadi yang tak diinginkan nanti. Mereka tidak tahu apa-apa tentang pernikahannya yang sebenarnya.