LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 56 Sisi Childish



Bugh! Pyar!


Eibi melempar ponselnya dan mengenai makanan yang Alden bawa.


Hal itu tidak Eibi pedulikan. Ia melepas infusnya dan ingin segera keluar dari kamar. Keluar, entah kemana dan apa, asalkan mampu membuat perasaannya yang kacau hilang.


Alden menahan tubuhnya yang hendak turun dari tempat tidur. “Bro! what’s up?” tanyanya, “calm down!”


Bi Surti yang mendengar suara dari kamar Eibi segera naik keatas dan menengok ke kamar yang setengah terbuka.


“Tolong bantu bersihkan, Bu!” Pinta Alden pada Bu Surti.


Mendengar perkataan Alden, Eibi menarik nafas menenangkan diri. Ia tersadar kenapa dirinya bisa lost control demikian. Hanya karena sebuah telpon. Bukan! Lebih tepatnya karena Zivi.


Alden mengambilkan minum dan memberinya minum, dan hatinya agak sedikit tenang. Eibi membaringkan tubuhnya. Namun infusnya sudah terlepas.


Alden segera menelpon dokter dan setelahnya ia menelpon Zivi. Ia menduga bahwa Zivi yang membuat Eibi marah. Dari semua rekan bisnis atau saingan bisnis, Eibi tidak pernah separah ini marahnya. Ia pernah marah seperti ini karena Kezia. Dan tidak mungkin yang ini karena Kezia. Dan satu-satunya yang memungkinkan Eibi marah hanya Zivi. Alden berspekulasi.


Dokter yang Alden panggil untung segera datang dan memasang kembali infusnya. Kebetulan ia sedang menangani pasien yang rumahnya tidak jauh dari tempat mereka.


“Hallo!” Zivi sambil mengusap bibirnya sehabis meneguk tetesan terakhir minumannya. Donna dan dirinya bagai orang yang tidak makan 3 hari, mereka melahap semua makanan yang diatas meja yang mereka pesan. Masing-masing 2 porsi dengan kentang goreng yang gurih.


“Can you come back now?” Alden bertanya dengan sedikit berbisik, namun Eibi mendengarnya.


“Hmmm, what’s going on?” Zivi menerka ada sesuatu yang terjadi.


Alden keluar kamar untuk menjawab pertanyaan Zivi yang ini. Meski Eibi diam, ia mendengar ucapannya. Jangan sampai jawabannya nanti memancing egonya dan arahnya kambuh lagi.


“Eibi needs you!” Zivi membelalak mendengarnya. Eibi yang tadi dingin dan ketus membutuhkannya? Apa ia tidak salah dengar?


“You are kidding me. I called him an hour ago. He didn’t tell me if he needed me.” Jawab Zivi dengan tertawa garing.


Jawaban Zivi membenarkan dugaan Alden bahwa Eibi ngamuk karena Zivi. “Yeah. Actually he needs you. But he couln’d tell you.” Alden berharap Zivi pulang. Eibi belum makan, dan ia tidak mau makan. “Eibi sakit!” Jawabnya to the point.


“Sakit? Sakit apa?” Zivi kaget mendengar jawaban Alden. Tidak percaya Eibi sakit namun ada sedikit khawatir dalam dirinya.


“kecapean. Dokter sudah memeriksanya dan memberikan obat. Namun dia belum minum obat karena belum makan. Tolong pulanglah secepatnya.” Nada Alden memohon.


“Hmmm, saya segara pulang. Mintalah dia makan. Beritahu dia bahwa saya akan segera pulang.” Pinta Zivi.


“Hmmm, saya akan membujuknya makan!” jawab Alden dan seketika kaget dengan jawabannya sendiri. Membujuk? Bukan dirinya sama sekali. Sama pacar saja tidak pernah, sama Eibi? Ia menggelengkan kepala heran.


Zivi segera mengajak Donna pulang ke kantor dan ia minta ijin pulang. Karena tidak ada tanggungan pekerjaan lagi, Zivi diijinkan pulang duluan.


***


Jam 3 ia tiba di rumah dengan sambutan Alden di depan pintu beserta makanan yang masih utuh.


“Tidak mau makan?” Tanya Zivi melihat Alden dengan keryitannya sabagai jawaban. ‘lihat saja makanannya utuh. Pertanda Eibi tidak makan.’


“Huft, seperti anak kecil saja!” gerutu Zivi sambil mengambil makanan dari tangan Alden.


“Kamu masuklah.” Temani dia sebentar ucapnya berlalu menuruni tangga.


Zivi minta tolong Bu Surti membantunya untuk menyiapkan bahan-bahan makanan untuk membuatkan Eibi makanan yang baru dan ringan untuk pencernaannya. Ia membersihkan dirinya di kamar mandi belakang, lalu kembali membantu Bu Surti di dapur.


“Siapa?” Tanya Eibi saat Alden duduk di sofa.


“Istrimu! Saya memberitahunya kamu sakit jadi ia pulang cepat!” jelas Alden sambil memungut ponsel Eibi dan meletakkannya diatas meja samping tempat tidur.


“Siapa saya hingga membuatnya pulang cepat karena saya sakit?” Eibi dengan nada sinis pada Alden.


“Nanti kamu bisa tanyakan padanya langsung, ok!” Alden menjawab pelan Eibi dengan menekan perkataannya sambil tersenyum paksa melihat Eibi. ‘kenapa bertanya padanya? mana ia tahu?’ protes dalam hati.


Eibi merasa lama sekali ia menunggu. Zivi yang katanya pulang kenapa belum muncul?


“Kemana dia?” bertanya gusar.


“Mungkin dia kembali ke kantornya!” goda Alden. Tadi ketus, sekarang bertanya gusar ingin segera bertemu. Batinnya.


Butuh waktu agak lama menyiapkan makan untuk Eibi. Tapi daripada beli, Zivi meragukan makanan dari luar. Ia tidak punya kenalan yang terekomendasi untuk pesan makan, apalagi untuk orang sakit.


Setelah jadi, Zivi segera membawanya ke kamar, Eibi sedang tidur.


Zivi melihat Alden yang menatapnya penuh arti sambil menggelengkan kepala. Zivi paham.


Zivi meletakkan makanan diatas nakas, lalu mendekati Eibi. Ia meletakkan tangannya diatas kening Eibi untuk mengecek suhu tubuhnya.


Merasakan tapak tangan lembut yang pasti adalah Zivi, EIbi senang dan segera membuka matanya namun dengan raut yang serius dan dingin. “Kenapa pulang?” bertanya dengan ketus.


“Ada yang sakit, jadi saya pulang!” Jawab Zivi sambil tersenyum menatap Eibi.


Melihat mereka berdua, Alden bergerak pelan keluar ruangan. Sangat tidak nyaman menonton pasangan yang satu merajuk, yang satu membujuk.


“Siapa yang sakit?” Tanya Eibi lagi.


“Owh, jadi tidak ada yang sakit? badan hangat begini sakit apa nggak ya? Diinfus pula!” goda Zivi sambil menempelkan tangannya pada kening Eibi dan melihat jarum infus yang menempel pada punggung tangan Eibi. Eibi membuang muka kesal.


“Hei… kenapa ngambek gitu!” Zivi duduk ditepi ranjang dan mengelus pundak Eibi sambil tersenyum. “saya pulang karena dengar kamu sakit. Kenapa malah marah?” tanyanya sambil mencondongkan tubuhnya melihat wajah Eibi yang berpaling ke sisi yang lain.


“Hmmmm” begitu gemasnya melihat raut Eibi yang cemberut seperti anak kecil Zivi reflek menempelkan hidungnya pada pipi Eibi.


Secara alami terbentuk senyum dibibir Eibi. Tangannya yang bebas menahan kepala Zivi hingga menempel erat, itu sebagai balasannya atas perilaku Zivi yang cuek padanya saat ditelpon tadi. “Peduli pada saya?”


“Hmmmm, tentu saja peduli. Maaf, saya tidak tahu kamu sakit. Saya pikir kamu baik-baik saja, dan saya segera cepat-cepat ke kantor karena terlambat.” Jelas Zivi membuat Eibi lebih puas mendengarnya.


“Hmmm, got it.” Eibi melepaskan tangannya dan memalingkan wajahnya melihat Zivi sambil tersenyum lebar, meski masih terlihat pucat dan lemah, binar matanya tidak berbohong jika ia sungguh senang dengan adanya Zivi disampingnya. Zivi yang peduli padanya, Zivi yang tanpa jaga jarak menciumnya. Dekat tanpa batasan keberatan batin.


“Sekarang makan. Sebelum makanannya dingin!” Zivi menjauhkan diri dan mengambil makanannya dari atas nakas untuk diberikan pada Eibi. Ia menyuapi Eibi yang makan dengan patuh dari suapannya. Senyuman tak lepas. Sisi lain dari Eibi ia temukan. Childish. Tidak pernah terbayangkan akan ada sisi ini dari Eibi. Ternyata… Terasa manis dalam batin Zivi dengan penemuannya itu.


#Mungkin setiap orang punya berbagai macam sisi. Ada yang menonjol dan ada yang tidak. Yang tidak menonjol hanya akan muncul disaat-saat tertentu, seperti Eibi dengan sisi kekanakannya disaat tertentu bersama Zivi. Hanya bersama Zivi. Sisi itu muncul tanpa ia sadari. Setelah sekian lama sepeninggalan mamanya, sisi itu teredam dalam kini muncul dipermukaan.#