
Saat buka mata pagi hari, Zivi merasakan hangatnya mentari yang masuk melalu kisi-kisi jendela kamar.
Terkesiap. Bukan karena Eibi memeluknya. Tapi terlambat masuk kerja. Dan benar saja ia terlambat setelah melihat jam untuk memastikannya.
Tanpa memikirkan apa-apa lagi, kecuali caranya cepat tiba di kantor. Ia sudah diberikan ijin, dan masuk dengan terlambat, bisa menjadi catatan hitam untuk kinerjanya nanti.
Sebelum berangkat, Zivi terlebih dahulu menghubungi Bosnya bahwa ia datang sedikit terlambat. Tanpa menunggu balasan, Zivi segera melajukan motornya. Yang penting melapor terlebih dahulu. Itu batinnya.
Alden yang ingin menanyakan Eibi pada Zivi, hanya sampai mulutnya terbuka, belum ada kata yang terucap, Zivi sudah meninggikan gasnya dan melaju.
Akhirnya ia hanya mengeceknya sendiri dikamar Eibi.
Tok tok tok
Tidak ada respon dari Eibi, dan ia memutuskan menunggu Eibi di ruang tamu. Hingga jam 10, Eibi baru keluar kamar memanggil manggil Zivi dengan suara lemah dan parau.
“Zivi sudah berangkat kerja.” Jawab Alden memberitahunya sambil berdiri dan melihat Eibi yang tertatih menuruni tangga.
Alden dengan cepat menaiki tangga, memegang Eibi dan membawanya kembali ke kamar.
Setelah kembali berbaring, Alden memanggil dokter ke rumah untuk memeriksanya.
“Dia kehilangan kesadarannya.” Ucap dokter terlebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Sesuai pemberitahuan Alden, dokter mengobati Eibi dan memasang infus ditangannya.
“Dia kelelahan dan butuh banyak istirahat. dehidrasi dan kurang tidur.” Dokter memberitahu Alden. Dan Alden pahami, karena ia selalu bersama Eibi. Dan semalam Eibi tidak tidur karena ia yang menyetir hingga jam 5 pagi mereka tiba.
Alden menghela nafas kesal. Zivi pergi kerja sementara Eibi sakit? Meninggalkannya begitu saja? Paling tidak memberitahunya. Ia menggelengkan kepala. Jika bukan karena Zivi, mungkin Eibi tidak akan sampai sakit seperti ini. tidak pernah Eibi sakit. Dan baru kali ini, itu karena Zivi. ia menghubungi Zivi. tidak terjawab.
Ia hendak melempar ponselnya karena kesal, tapi tertahan, ia teringat harus memesan makanan untuk Eibi. Saat sakit, apa yang harus di pesan? Ia tidak tahu. Ia melakukan pencarian sebentar di google, lalu memesan sesuai info yang ia dapat. Meski tidak yakin.
Saat Eibi membuka mata dan melihat kesamping nya, tidak ada orang yang ia cari. Kondisi tubuh, hati dan pikirannya tidak baik, dan berharap menemukan apa yang bisa membuatnya kembali bersemangat secara batin paling tidak jika tubuhnya belum pulih. Pupus.
Saat mendengar handle pintu yang putar, hatinya kembali menerima harapan, senyumannya tersungging.
“Sudah bangun?” wajah dan suara itu memudarkan kembali senyumannya. Tidak menjawab dan kembali menutup matanya.
Alden menyadari perubahan air muka Eibi, “bangunlah dan makan sebentar, minum obat lalu tidur lagi.” Ucapnya mengabaikan kekecewaan Eibi.
“Saya tidak lapar. Hanya mau tidur!” jawab Eibi tanpa membuka matanya.
‘saat sakit, kemana dia? Tidak adakah pedulinya sama sekali pada saya?’ batinnya. ‘demi dia, ia sampai jatuh sakit, apa?’ Eibi kesal.
“Zivi kemana?” tanyanya pada Alden yang masih berdiri disana memandangnya.
“Kerja.” Jawab Alden singkat dan duduk di sofa. “Kamu benar, tidak lapar?”
“Kerja? Apa dia tidak tahu kalau saya sakit?” Tanya Eibi.
“Saya rasa tidak. Saya menelponnya dari tadi tidak terjawab.” Terang Alden. “Sebentar saya ambilkan makan untukmu.” Beranjak meninggalkan kamar.
***
Di kantor sibuk dengan banyaknya pekerjaan yang numpuk sejak ijin. Harus ia selesaikan. dan untuk menghindari gangguan, ia mengatur ponselnya dalam mode silent.
“huammmmm!” Zivi menguap lelah mengerjakan laporan dan mengatur data tamu yang akan datang. Ia meneguk minumnya untuk menyegarkan kembali otaknya serta membuat matanya melek. Teman-temannya masih belum kembali dari makan siang.
“Sudah sejauh mana Vi?” Tanya Donna.
“Sedikit lagi!” jawab Zivi, “setelah itu kita bisa makan.” Sambil meregangkan otot tangan dan lehernya, krek! krek!
“Yap. Sama! Semangat!” Donna menyemangati dengan suara yang tidak bersemangat. “Aku sangat mengantuk. tidak tidur semalaman!” keluhnya.
“Kenapa tidak tidur?” Zivi bertanya.
“Mana tega Vi aku tinggal tidur Richard.” Jawabnya, “enak kalian, ada Alden, juga Eibi. Bisa gantian nyetir, dan kalian tidur.” Lanjutnya. Yang ia maksudkan bahwa Zivi dan Epi bisa tidur.
“Hehehe, iya. Kami gantian tidur. Saat Alden nyetir, Epi yang jadi co-drivernya. Saat Eibi aku yang co-drivernya.” Terang Zivi.
“Nah, gitu bagus.” dengan mulut manyun.
“Iya, bagus! Dan kau tahu, aku tertidur saat Eibi menyetir!” aku Zivi dengan rasa malu. “aku sudah berusaha membuka mata, tapi gagal!” menjelaskan.
“Tidak. Dan parahnya, saat bangun, aku ada ditempat tidur!” jawab Zivi dengan senyum masam.
“Wait! Wait! Tempat tidur? Kalian berdua tidur bersama?” Donna malah menanyakan itu.
Air muka Zivi langsung berubah, “Tidak, Cuma yang semalam kesalahan!” jawabnya.
“Yang benar? Jujur sama aku Vi?” Donna yang mengantuk jadi melek dengan raut Zivi yang malu.
“Beberapa kali tanpa sengaja!” Jawab Zivi lagi setelah memikirkan kata-kata yang tepat menurutnya.
“Seberapa jauh kalian tidur bersama?” Tanya Donna.
“Hanya tidur bersama.” Jawab Zivi cepat, “ayo, fokus kerjanya!” Donna memutuskan percakapan tentang itu.
“Hmmm, baiklah. Aku tunggu kabar baiknya saja tentang kalian berdua.” Godanya. Kembali fokus.
“Apa? Berharaplah!” Zivi mendengus!
“Yap! Tentu. Aku selalu berharap!” Jawab Donna sambil tertawa kecil. “Btw, thank you, karenamu, kantukku hilang!” tambahnya.
“Ho! Dan aku jadi kesal!” balas Zivi.
“Jangan kesal. Biasanya kesal menjadi tanda baik untukku!” Donna.
“Tanda baik apa?” Zivi
“Kalau pernah dengar ucapan ‘benci jadi cinta’, ya hampir seperti itu!” jelas Donna.
“Terserahmu!” Zivi menghela nafas. Perasaannya tidak karuan. Ia kesal, ia juga senang. Bercampur. “Stop ajak aku bicara. Aku mau fokus!”
“Siap nyonya Eibi!” Goda Donna, Zivi tak membalasnya lagi.
“Yeiii! Akhirnya selesai!” ucap Zivi bersandar di kursinya sambil melihat jam di dinding, “Sudah jam 2.”
“Aku juga sudah selesai!” sahut Donna, “Ayo makan!” ajaknya.
“Ayo!” ucap Zivi sambil membuka tasnya untuk mengambil ponsel dan dompetnya.
“What? Banyak sekali panggilan tak terjawab!” Ia terkejut di layarnya terdapat hampir 20 panggilan tak terjawab.
“Alden?” bisiknya saat melihat nomor yang taka sing baginya. Meski ia tidak menyimpannya, ia tahu karena Alden pernah menghubunginya dengan nomor itu saat mengurus pernikahan dengan Eibi.
“Eibi? Ada apa?” bisiknya pada diri sendiri dengan alis terangkat!
“Ayo!” Donna segera menarik Zivi untuk ijin ke bagian front office untuk makan siang. Zivi mengekor sambil menelpon Alden. Sekali dua kali, tiga kali Alden tidak menjawab.
Ia beralih menelpon Eibi. Tutttttttttttttttttttt bunyi dering yang lama.
“Ada apa?” nada terdengar ketus.
“Tidak ada!” membalas dengan jengah.
“Buat apa menelpon?” Zivi bisa merasakan dinginnya Eibi bertanya demikian.
“Maaf, salah pencet!” Zivi berkeras hati tidak melunak. Ia sedang lapar, lelah. Merasakan perlakuan Eibi yang demikian, reflek egonya keluar.
Tut! Hubungan telpon terputus.
Zivi hanya memutar bola matanya melihat layar ponselnya. Biasanya dirinya yang mematikan duluan telponnya. Ia menggelengkan kepala.
“Kenapa Vi?” pertanyaan Donna saat sudah menuliskan permintaan ijin keluar makan.
“Tidak apa-apa. Ayo pergi makan!” Zivi menarik Donna.
“Yup! Aku sudah sangat lapar.” Donna tidak begitu memperhatikan raut Zivi saat menjawab, jadi tidak menuntut jawaban Zivi.
“Hmmm.” Jawaban pendek. Batinnya bertanya, kenapa Eibi seperti itu? ‘jangan harap aku akan menelponmu lagi! Ini pertama dan terakhir!’ janjinya pada dirinya sendiri.
Kemarin sudah baikan. Dan bahkan bisa jalan-jalan dengan senang hati tanpa ada keberatan hati apapun. Sekarang dirinya diperlakukan seperti ini? tidak bisa diterima. Batin Zivi tetap berkecamuk meski merasa diri tidak ada salah apa-apa, namun tetap merasa tidak enak dan bertanya apa salahnya.
‘Kenapa Eibi ketus dan dingin? Apa salahku?’