
Tak terasa sudah hari sabtu lagi. Hari yang selalu Zivi suka. Hari ia bisa lepas dari kegiatan kantor dan menikmati waktunya dengan apa yang dirinya ingin lakukan.
Entah jalan-jalan dengan kedua sahabatnya atau masak atau mendengar musik, belajar, mencari informasi. Apapun yang hatinya inginkan, ia bisa agendakan pada hari sabtu. Ya, pada hari ia libur kerja. Entah sabtu atau hari lainnya, jika libur.
Hari itu dirinya tidak jalan-jalan Bersama teman-temannya. Jadi, dirinya hanya mencuci pakaian kotornya selama seminggu, bersihkan kamar ORnya dan juga belajar sekalian mencari informasi beasiswa. Mimpinya itu belum teredam.
Sore hari setelah olaraga, Zivi menyibukkan diri di dapur. Ia sedang menikmati momentnya sendiri memasak.
Hal yang suka ia lakukan saat ia mood berkreasi masaknya muncul.
Namun ini bukan masak makanan untuk dirinya sendiri seperti biasanya. Ia masak untuk dibagikan ke anak-anak esok harinya.
Eibi tidak ada dirumah. Entah ia kemana, Zivi tidak tahu.
Saat bangun pagi, ia mendapati Eibi sudah tidak ada dirumah.
Zivi tidak terlalu mempersoalkan hal itu. Karena beberapa kali hari sabtu sejak ia tinggal disana, Eibi memang tidak dirumah. Apa lagi yang diurusnya kalau bukan usaha yang sedang ia kembangkan.
Andai Eibi tidak keluar hari itu, ia berencana untuk membicarakan masalah hubungan mereka yang sebenarnya. Sudah berkali-kali dirinya tidak mendapat kesempatan untuk bicara dengan Eibi.
Dia sibuk. Mungkin nanti saat ia pulang. Batinnya.
***
Dugaan Zivi bahwa Eibi sibuk dengan usaha yang dikembangkannya, benar.
Eibi bersama Alden sedang ada pertemuan dengan calon rekan bisnisnya.
Ia adalah pengusaha besar dan terkenal dalam dunia bisnis. Ia terjun dalam berbagai jenis bidang usaha.
Namun tidak semua orang bisa menjalin kerjasama dengannya.
Ia akan mempertimbangkan untuk bekerjasama jika melihat perilaku mulia dan kemampuan berbisnis dari orang mengajukan kerjasama. Untuk keuntungan, dia bukan orang yang mencari keuntungan yang tinggi.
Dia adalah Mr. Caston.
"Are you merried?" tanyanya dalam pertemuan mereka sambil melihat cicin dijari manis Eibi.
"Yeah, I'm merried. " ucap Eibi mengulas senyum tipis sambil melihat jari manisnya sendiri.
Ia hampir lupa jika dirinya sudah menikah. Begitu tidak menyadarinya hingga ia sendiri tidak sadar akan cicin pernikahan yang tersemat dijari manisnya.
Ia teringat akan pernikahannya dengan Zivi yang tergolong begitu cepat.
Tidak disangka orang yang hanya ia sasarkan untuk senang-senang, malah menikah dengannya.
Ada rasa bersalah dalam batinnya. Jika bukan karena bisnisnya, mungkin ia tidak akan menikahi gadis itu.
Ia membohongi gadis. Salah satu alasannya menikahinya untuk menambah nilai plusnya dimata calon rekan bisnisnya. Termasuk Mr. Caston.
"I only get merried 3 or 4 weeks ago." tambah Eibi.
"New couple. Congratulation for your wedding" komen Mr. Caston tersenyum sambil memikirkan sesuatu. "I should give you a wedding gift. " tambahnya diluar dugaan Eibi.
"Don't be bother about that Sir. It's more than enough to congratulate me." tolak Eibi.
"Actually, we didn't publish our merriage. Only our family and our collegues we invited. Internal merriage." jelas Eibi.
"sacrate marriage. That's good." Puji Mr. Caston yang menyukai pernikahan yang tertutup. Meski dulu saat menikahi istrinya tidaklah demikian karena mengikuti keputusan orang tua.
"Thank you." balas Eibi tersenyum getir dengan respon Mr. Caston. Andai saja dia tahu masalah sebenarnya.
"I should give you a wedding gift I think." Ucap Mr. Caston sekali lagi dengan penegasan sambil berpikir.
Ia memikirkan hadiah apa yang tepat untuk pasangan muda yang baru menikah tersebut.
"What do you want from me as a gift?" tanyanya menyerah untuk berfikir dan menanyakan langsung saja pada Eibi.
"I am really honored to be asked for my wedding gift." respon Eibi dengan pertanyaan Mr. Caston. "What's the best gift you thought for me, I will accept it with grateful heart." Balas Eibi demi norma kesopanan ia tidak menyatakan apa yang ia inginkan sebagai hadiah pernikahan.
"I accept your propose letter to be my coworker. How about that?" tanya Mr. Caston setelah menimbang-menimbang apa yang terbaik.
Dilihatnya Eibi yang masih muda dan memiliki aura sebagai pengusaha yang mau berusaha sendiri membuatnya memutuskan untuk memberinya kesempatan untuk bekerjasama.
Menanam saham dalam proyek yang akan dibangunnya.
Lagipula sekarang dengan banyaknya tempat wisata yang menarik, menanam saham dalam proyek pembangunan hotel yang dirancang Eibi tidaklah akan merugikan kedepannya.
"Are you sure, Mr. Caston?" tanya Eibi tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Tak menyangka akan diterima begitu saja tanpa harus membahas proposal yang sudah ia ajukan. Alasan ya g begitu sepele, karena ia seorang yang sudah menikah.
Untuk pertama kalinya ia bersyukur sudah menikah. Meski bukan bersyukur karena menikahi Zivi.
"Yes. I'm pretty sure about that. What else you need after you married? You must have settled work to take care your little family." Sahut Mr. Caston.
"Thank you so much, Mr. Caston. I promisse that i definitely will not make you disappoint towards me."
Hal itu membuatnya puas sudah memutuskan hadiah yang tepat untuk pernikahan Eibi.
Bahkan tanpa terkontrol kata 'son' terlontar dari bibirnya seakan melihat binar bahagia putranya sendiri.
Begitu hasil pertemuan mereka dan disambung dengan obrolan santai sambil menikmati makanan yang sudah tersaji diatas meja.
Meski pertemuannya begitu lama, Eibi sangat puas akan keberhasilannya hari itu.
"I never thought that it would be easy like this." ucap Eibi saat sudah duduk di kursi copilot mobil disebelah Alden
"Yeah. All of this, thanks to your wife." balas Alden merespon.
"Hmmmm." gumaman Eibi yang bisa diartikan sebagai ungkapan 'yeah.'
Eibi tidak tahu juga bahwa pernikahannya akan membuka akses kerjasamanya lebih mudah dari yang ia bayangkan.
Andaikan ia belum menikah? Andaikan Zivi saat itu tetap teguh tidak mau menikah?
####
Eibi dan Alden pulang ke rumah dengan begitu bersemangat meski langit sudah menunjukkan menjelang sore.
Setiba dirumah, ia dan Alden berpisah kekediaman masing-masing.
"Ingat berikan hadiah untuk istrimu." Pesan Alden sebelum melangkah menuju tempatnya.
Eibi terdiam sejenak mendengar ucapan Alden. Saat hendak menjawab, Alden sudah menjauh dari hadapannya.
Eibi melangkah masuk rumah dengan sumringah. Ia mendapati rumah yang juga terasa hidup.
Ada Zivi yang sedang sibuk didapur.
Ia tidak tahu apa yang Zivi lakukan.
Dari yang ia lihat dari pintu masuk menuju dapur, Zivi sedang sibuk menuang -nuang sesuatu yang cair ke cup-cup kecil diatas meja dapur.
Ia berdiri disana dalam diam hanya menonton gadis itu bersenandung kecil menikmati apa yang sedang ia lakukan.
Ia merasakan perasaan yang tak biasanya saat ia masih sendiri. Ya saat ia belum menikah.
Bahkan saat pulang kerumahnya pun ia tidak merasakan perasaan yang demikian.
'what kind of feeling is this?' batinnya bergidik sendiri akan perasaan yang ia rasakan.
Ia hendak berbalik menuju tangga ke lantai atas, namun teringat akan keberhasilannya hari itu membuatnya mengurungkan niatnya.
Ia berbalik melihat punggung gadis itu. Gadis yang berada dalam dunianya hingga tak menyadari ada pria yang memperhatikannya dari belakang.
Eibi menatap sendu punggung gadis itu. Andai bukan karena pernikahannya, mungkin tak akan semudah ini proposalnya diterima. Tak disangka pernikahan paksa dari jebakan dari orang yang pernah menjadi temannya akan berhasil seperti ini.
Ia ingin memeluk gadis itu, sekadar mengucapkan terima kasih. Ia tersenyum mengangkat kakinya untuk memeluk gadis itu.
"sudah pulang tuan?" sebuah suara menghentikan kakinya yg hendak melangkah juga membuyarkan perasaan yang sedang ia nikmati saat itu. Eibi menoleh melihat orang yang bertanya padanya.
"Iya Bu. Ibu Surti bisa pulang." ucapnya seakan mengusir. "Baik Tuan. Terimakasih. " ucap bu Surti, lalu pergi meninggalkan dapur untuk berkemas.
Sikap Eibi memang seperti itu terhadap yang orang asing baginya. Ia hanya akan berinteraksi sebentar. Jika ada yang ia perlukan, maka Alden atau Pak Tejo yang ia gerakkan sebagai perantaranya.
Bibi yang sudah paham akan sikapnya tidak tersinggung. Ia merasakan bahwa Tuannya orang yang baik hati. Hanya saja kaku.
"You've come back?" pernyataan Zivi berupa pertanyaan mengalihkan kembali pandangan Eibi pada Zivi.
Deg.
Matanya bertatapan dengan Zivi yang sekarang sudah berbalik memandangnya.
Seakan waktu berhenti sejenak, Zivi menanti jawaban Eibi. Sedang Eibi kehilangan kata."Yeah." akhirnya ia berucap agak sedikit canggung.
Zivi tersenyum menguraikan kacanggungan Eibi hingga tersenyum "You can continue it. I will go to my study room." ucap Eibi menemukan alasan mengakhiri keadaan canggungnya itu. Ia tidak tahu harus mengucapkan apa.
"Hmmm." balas Zivi, "Do you want someting to drink?" tanya Zivi.
"No, thanks. " jawab Eibi lalu pergi. Zivi pun melanjutkan kegiatannya ‘dia terlihat sibuk sekali. Sepertinya tidak bisa bicara hari ini’ batinnya.
Tak lama, bu Surti pun menghampiri Zivi ke dapur untuk pamit.
Setelah semua cup-cup terisi penuh, Zivi menatanya ke dalam kulkas agar besok dingin dan enak saat anak-anak menikmatinya.
Ya, saat hari minggu Zivi akan membantu bagian palayanan anak-anak, menjaga juga mengajar anak-anak. Dan dirinya beserta tim pelayanannya suka membawakan anak-anak hadiah berupa makanan atau alat-alat sekolah.
Sedang Eibi dalam ruang kerjanya memikirkan ucapan Alden tadi.
Ia menggoreskan stick pennya pada IPadnya berulang-ulang, hingga muncullah sebuah gambar utuh yang membuatnya puas.
Ia segera mengirimkan designya itu pada Alden dan memintanya untuk memesankan khusus untuknya dengan ukuran pergelangan tangan cewek.