
Ucapan Eibi yang tidak memberinya celah untuk mengelak, akhirnya terjadi.
Sore itu, usai jam kerja, Zivi sangat berharap Eibi tidak pulang cepat, agar dirinya bisa olahraga sendirian.
Ya, karena jadwal Gymnya tidak ada hari itu. Sayang, harapannya tidak terpenuhi. Jadilah dirinya olahraga dengan Eibi dengan setengah hati. Berbeda dengan Eibi yang begitu antusias untuk olahraga bersama. Eibi bahkan menantangnya siapa yang paling lama bertahan mengayuh sepeda.
Karena olahraga setengah hati Zivi tidak bertenaga, akhirnya menyerah. Dan akhirnya hanya duduk selonjoran disofa mengistirahatkan diri.
Melihat Zivi demikian, Eibipun duduk bersamanya.
“What’s up? Something happened at work?” tanya Eibi perhatian.
‘hisss, tidak peka. Kamu yang buatku tidak berselera olahraga!’ batin Zivi namun menggelengkan kepala untuk merespon Eibi.
“tired?” tanya Eibi.
“Yeah, I need rest.” Balas Zivi “I have to take a bath now. You. Go ahead.”
“No. It’s enough for today. We will do it again tomorrow.” Ucap Eibi seakan tahu jadwal Gym Zivi.
“No, I can’t. I have Gym class tomorrow.” Jawab Zivi.
“Do not tell lie to me.” Balas Eibi.
Huh! Apa dia tahu?
“I knew already your schedule.” Tambah Eibi “I have looked for it last night about your schedule.”
“You…” Zivi merasa tidak suka dengan jawaban Eibi “How come …”
“Yeah, It’s easy.” Jawabnya tersenyum tanpa menunggu Zivi menyelesaikan ucapannya.
“Go out. I want to take a bath!” usir Zivi tidak mau lagi bicara dengan Eibi.
hahahahaha
Eibi tidak langsung beranjak, malahan tertawa. Zivi bangun, menendang sedikit kaki Eibi, lalu bergegas mengambil peralatan mandi serta pakaian gantinya dan menuju kamar mandi.
Setelah Zivi menghilang, Eibipun keluar kamar itu, dan menuju kamar atas untuk membersihkan diri.
*****
Karena Eibi sudah tahu jadwalnya, tidak ada alasan lagi untuk menolak Eibi OR bersama diluar jadwal gym Zivi. ‘Do you fall for me?’ teringat ucapan Eibi padanya saat ketahuan ia menghindarinya.
Jadi, mau tidak mau dirinya berolahraga bersama Eibi. Dan itu adalah sore hari ini juga, setelah kemarin.
Sore hari.
Tepat waktu sekali dia. Sudah siap dengan kostum ORnya. Dengan berpakaian seperti itu ia terlihat sederhana juga mempesona.
“I’ve been waiting for you. Get ready, ok.!” Sambutnya saat melihat Zivi diambang pintu.
“Yeah, baiklah Tuan Akando. Sebenarnya, saya sangat lelah. Bagaimana jikalau saya menonton saja?” tawar Zivi.
“Kamu beralasan lagi?” tanya Eibi.
“Tidak, saya sungguh-sungguh. Dan saya sedang -mager- alias malas gerak.” Jawab Zivi dengan raut memelas.
“Saya akan membantumu berolahraga. Menghidupkan mode olahraga dalam dirimu.” Balas Eibi. Ini kesempatan mula-mulanya, tidak mau ia lepaskan. Kalau tidak, maka akan ada alasan-alasan lain besok besoknya.
Mendengar penuturan Eibi, Zivi tak mau lagi berdebat. Ia segera mengambil pakaian ORnya di lemari, menuju kamar mandi dan ganti. (Jika Eibi tidak disana, mungkin ia tidak perlu membuang tenaga menuju kamar mandi.)
“Come here. Kita pemanasan dulu.” Ajak Eibi.
“Ahhh, apa yang kamu lakukan?” Zivi terkejut saat merasakan tangannya dipegang Eibi dari belakang. *Eibi gemas melihat Zivi yang tidak berselera OR bersamanya.
Setelah melakukan pemanasan awal yang ringan dengan bantuan Eibi, Zivipun akhirnya mengikutinya, dan pelan-pelan rasa lelahnya hilang dan bisa berolahraga sendiri.
“That’s enough. Sekarang saya bisa sendiri.” Ucap Zivi melepaskan dirinya dari Eibi.
“Good. Mari kita melakukan Gerakan ini.” Ucap Eibi sambil menunjukkan Gerakannya pada Zivi.
“baiklah. Ini mudah sekali. Saya biasa melakukannya juga.” Ucap Zivi mengikuti Gerakan Eibi. -plank-
1 menit, “ahh, saya tidak kuat lagi.” Seru Zivi dengan suara tertahan, lelah dengan gerak plank.
Eibi tidak merespon, hanya tersenyum melihat Zivi.
“Huffft…” Zivi melepas tangan yang menopang tubuhnya.
Eibi masih melanjutkannya, hingga akhirnya berhenti. Dan melakukannya bersamaan dengan dengan Zivi. Namun Zivi selalu berhenti duluan.
“Jikalau berolahraga, jangan banyak bicara atau bersuara. Hemat energi dan pasti bisa bertahan agak lama.” Ucap Eibi saat bagian plank berakhir.
Gerakan berikutnya -mengangkat beban
Berakan berikutnya, berikutnya dan berikutnya.
25 menit kemudian.
“cukup. Saya lelah.” Ucap Zivi sambil membuang dirinya di sofa.” Sambil menonton Eibi yang masih melanjutkan ORnya dengan naik ke mesin lari.
“Saya tidur dulu. 15 menit. Power nap” Ucap Zivi akhirnya, setelah merasakan matanya berat.
Hingga terlelap dan tak merasakan Eibi yang sekarang sudah didekatnya.
Cup.
1 kecupan.
Tidak disadari gadis itu, betapa berdebarnya Eibi saat membantunya Or tadi.
Kenapa? ada apa? ada apa dengan saya? Apa saya mulai menyukainya?
Eibi bertanya pada dirinya sendiri. Eibi mengingat perbuatannya saat pertama mengecup Zivi. Saat perasaannya ingin lagi dan lagi. Saat ia ingin tahu Zivi kemana dan bertemu siapa. Senangnya, tenangnya saat bersama Zivi.
Bagaimana perasaannya dengan Kezia? Cintanya? Atau amarah?
Eibi melhat ponselnya, dan mengenyahkan pikiran tentang perasaannya itu.
“katanya power nap 15 menit.” Eibi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat jam di ponselnya. Zivi sudah tidur lebih dari 30 menit. Eibi tidak membangunkannya. Ia menikmati pemandangan saat Zivi tidur. Pemandangan yang sangat jarang. Jika dikamar, Zivi pasti selalu menutupi mukanya dengan selimut. Kecuali selimutnya melorot.
1 jam kemudian, Zivi bangun dan melihat Eibi yang sudah tidak olahraga lagi.
“Kenapa malah memandangiku?” gumamnya untuk diri sendiri namun terdengar oleh Eibi.
“Karena kamu cantik saat tidur.” Sahut Eibi santai sambil tersenyum. Ia mengucapkannya sungguh-sungguh. Bukan untuk menggoda Zivi.
“Jangan menggoda seperti itu, nanti saya terbang.” Jawab Zivi.
“Saya sungguhan.” Jawab Eibi kali ini memandang serius Zivi.
Tap! Pandangan mereka bertemu. Namun segera Zivi alihkan pandangannya. “Kenapa sudah berhenti olahraganya?” tanyanya.
“Hei, ini sudah jam berapa?” tanya Eibi tak menjawab Zivi. Zivi pun melihat jam pada ponselnya.
“Oups, saya tidurnya sejam ternyata.” Ucapnya sambil menyunggingkan senyum khas paksa. Malu. Beranjak dari sofa, “saatnya mandi.” Berlalu meninggal Eibi.
Eibi hanya menggelengkan kepala juga ikut beranjak dari sana.