LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 65 Lebih Dari Sekadar Pacaran



Jalan pagi hanya dengan mengitari kompleks. Sungguhan jalan pagi. Dan bagaikan orang yang berpacaran, Eibi menggandeng tangannya dengan erat, sesekali memilin jarinya memberi Zivi rasa tidak nyaman.


Dag dig dug!


Zivi menarik tangannya agar lepas.


“Kenapa?” Eibi bertanya tanpa rasa bersalah. Ia membuatnya tidak nyaman.


“Aneh saja. Kita seperti orang pacaran!” Jawab Zivi jawab dengan hati-hati menyampaikan ketidaknyamanannya.


“Kita suami istri, lebih dari sekadar pacaran!” Jawaban Eibi membuat Zivi hilang kata. Ucapan Eibi benar. Tapi tetap saja dirinya tidak nyaman. Ia teringat saat pagi Eibi memberitahunya untuk membiasakan diri. Apa hal seperti ini juga ia harus membiasakan diri? Digandeng Eibi ditempat terbuka seperti ini? Zivi mengeryit dengan seyuman malu.


“Kenapa baru aneh sekarang? Saat jalan-jalan di kota X juga saya menggandengmu.” Eibi mengingatkannya kejadian di kota C.


Memang benar, Zivi dengan bebas tanpa keberatan apa-apa saat Eibi menggandengnya. Ia bahkan juga membalas menggandeng Eibi kala jalan-jalan itu. Tapi perasaannya kala itu beda. Karena terlalu senang jalan-jalan, ia bebas. Nah ini, dengan perasaannya yang makin kuat terhadap Eibi, hal ini memberinya perasaan yang beda.


“Ini beda!” respon pendek Zivi tidak menjelaskan bedanya apa.


Karena musim panas, jam 5-an sudah berasa jam 6. Pagi sangat terang. Tukang kue keliling sudah membunyikan bel jualannya. Zivi ingin beli, sayang ia tidak membawa uang, dan hanya bisa menatap tukang kue yang lewat dengan nanar. Dengan jelas ia mencium aroma kue-kuenya saat melewati dirinya dan Eibi.


“Kamu mau?” Tanya Eibi.


Ternyata Eibi memperhatikannya. “Hmmmm.” Gumam disertai anggukan ia mendongak melihat Eibi. “Tapi kuenya sudah lewat!” menghela nafas.


Sudah menit 45, sebentar lagi jam 6. Zivi melihat jam diponselnya. Lumayan juga mengitari kompleks, mereka keluar dari jalan sebelah dan akhirnya ketemu lagi rumah mereka dengan jalan sebelahnya. Dan tukang kue ada didepan rumah tetangga mereka. Terlihat pemilik rumah sedang memilih kue-kue yang akan ia beli.


“Kamu kesana dan pilih. Saya ambil uang.” Ucap Eibi.


Dengan secangkir kopi dan secangkir teh dihadapan masing-masing beserta kue ditengah-tengah meja mejadi sarapan pagi mereka.


“Pernah makan kue seperti ini?” Dengan ragu Zivi bertanya pada Eibi. jika Eibi tidak mau makan, maka dirinya siap membuatkan roti isi untuk sarapan Eibi.


“Tidak pernah, Ini jadi yang pertama.” Jawab Eibi sambil mengambil satu kue dari piring.


“Itu namanya kue lumpur. Enak. Saya suka.” Berharap dengan ucapannya Eibi suka. Eibi hanya berguman sambil mengunyah makanannya.


“Kamu tidak makan?” Eibi dengan senyuman simpul menyadarkan Zivi yang tengah memperhatikannya.


“Makan.” Jawab Zivi sambil mengambil kue kesukaannya yang lain, karena ingin tahu raut Eibi saat makan kue khas dalam negeri, Zivi tidak segera makan. “ini juga enak. Namanya getas. Makan ini sambil minum teh, enak.” Seperti bintang iklan Zivi menunjukkannya pada Eibi.


Tentu saja baginya enak, semua kue pilihannya adalah kesukaannya. Lumpur, getas, cucur, molen, dan pisang goreng. Masing-masing satu. Eibi 1, dirinya 1.


“Let me try yours.” Ucap Eibi sambil menarik tangan Zivi yang memegang kue bekas gigitannya.


Eibi memakan kue bekasnya dan juga menyeruput tehnya. Zivi speechless. Terulang lagi. Eibi makan bekasnya. Kala itu pudding.


“Enak.” Komentar Eibi santai tidak menyadari Zivi yang merasa tidak enak, dan tidak berselera lagi makan kue ditangannya. Ia sodorkan pada Eibi agar sekalian Eibi makan. Tidak enak jika harus bilang langsung pada Eibi rasa jijiknya makan bekas gigitan orang lain.


Orang lain? Eibi suaminya. Yap, tapi tetap saja tidak bisa pungkiri jika harus makan bekas gigitannya. Tetap dia orang lain. Jika tehnya, masih bisa ia minum namun dari pinggiran lainnya.


Eibi dengan senang hati membuka mulutnya, merasa dimanja disuapi kue oleh Zivi, “Thank you.” Gumamnya sambil mengunyah dari tangan Zivi.


Zivi meraih kue yang lain dan minum tehnya dari sisi yang lain. Minatnya menjelaskan kuenya pada Eibi sudah hilang. Ia fokus dan jangan sampai Eibi memakan bekasnya lagi.


Suana hati Eibi senang, dari semalam hingga pagi ini, rasanya beda dengan hari-hari lain. Rasanya semua dipenuhi dengan Zivi. Dan mereka akan berangkat kerja bersama. ia akan mengantar Zivi terlebih dahulu.


“Kenapa dibelakang?” Zivi heran saat Eibi ikut masuk dikursi belakang.


Sepanjang jalan, tak lupa ia melirik kebelakang melihat tangan Eibi yang terus menggenggam tangan Zivi sambil memainkan jari-jari Zivi yang mungil. Tak terlewatkan awalnya Zivi menolak tangannya digenggam, namun Eibi tahan. “Perhatikan jalan!” Ucapan Eibi membuatnya mengalihkan pandangan ke depan, tapi tetap sedikit-sedikit ia curi pandang.


Zivi hanya pasrah tangannya terus dipegang sambil melihat keluar.


“Nanti makan siang bersama.” Ucapan Eibi yang mengalihkannya dari pemandangan luar kaca.


“Heh! Saya makan siang bersama Donna.” Tolak Zivi langsung dengan perasaan tidak enak. Tidak mungkin ia membiarkan Donna makan sendiri. Lagipula, apa kata Donna saat tahu dirinya makan siang bersama Eibi?


“Kamu sudah biasa makan bersama Donna. Lagipula, Donna akan makan siang bersama Richard!” Jawab Eibi.


“Bagaimana kamu bisa tahu?” Heran.


“Richard.” Respon pendek Eibi. Tentu saja ia harus membuat Richard makan siang bersama Donna nantinya.


“Owh!” Zivi dengan mulut bundar.


“So, makan siang bersamaku!” Eibi langsung putuskan.


“Baiklah.” Zivi mengiyakan namun terlihat keberatan dari raut wajahnya.


‘Tidak maukah dia makan siang bersama dengan saya? Padahal dari semalam baik-baik saja. Kenapa saya jadi merasa berbeda sekarang?’ batin Eibi merasakan perasaan Zivi.


“Apa kamu tidak suka makan siang bersama?” Tanya Eibi dengan hati-hati.


“Bukan seperti itu. Hanya saja tidak biasanya.” Jawab Zivi dengan perasaan tidak enak.


“Biarkan ini jadi yang tidak biasa.” Jawab Eibi, Zivi terdiam merenungi ucapan Eibi.


Benar juga.


“Hmmmm,” bergumam dan mengangguk sambil menatap Eibi dengan mata sayu.


Eibi tersenyum puas meski masih terpancar sedikit keraguan dari mata Zivi.


“Kita sudah sampai!” Suara Alden menyadarkan kedua bahwa mereka lupa Alden yang bersama mereka saking sibuknya dengan percakapan dan pikiran masing-masing.


Sebelum membuka pintu mobil, Zivi melihat kearah Alden dan berterimakasih. Lalu kemudian menoleh pada Eibi yang juga sedang menatapnya.


“Tunggu!” Zivi menghentikan gerakannya yang hendak membuka pintu mobil dan menoleh pada Eibi.


Zivi mengeryit menunggu Eibi bicara beberapa detik. Wajah itu kini sudah dekat dengan wajahnya.


Alden yang melihat Eibi demikian, melihat kearah lain. Menghela nafas. Ia bisa menebak perkembangan hubungan mereka sekarang sudah sejauh mana. Tidak pernah ia melihat Eibi seperti ini, bahkan terhadap Kezia pun yang menyandang status pacar kala itu tidak. Kezia yang lebih banyak aktif malahan.


Eibi menyulurkan tangannya dan menyentuh pelipis Zivi dan pura-pura merapikan anak rambut Zivi yang jatuh. Ingin ia mencium bibir pink yang dilapisi lipstik itu…


“Cup! nanti saya akan menjemputmu!” ucapnya setelah sekilas mengecup keningnya. Bibir itu belum saatnya ia klaim secara terang-terangan. Bisa jadi Zivi syok atau bahkan marah. Tahan dulu.


Zivi hanya menuduk malu dan melirik ke arah Alden, untung Alden sedang fokus melihat keluar. “Hmmm” hanya gumaman. Saat makan siang nanti ia harus memberitahu Eibi agar tidak seperti itu lagi jika ada orang. Batinnya.


Bugh, angin menerpa punggung Zivi yang tengan membelakangi pintu, dan ia sadar Eibi sudah membuka pintu untuknya. ‘Pria ini jelas ia sedang menatapnya tanpa lepas, ternyata indra lainnya bekerja membuka pintu!’ batinnya lagi.


Segera turun dari mobil dan meminta mereka pergi dengan pesan hati-hati. Setelah mereka menghilang, baru ia melangkah masuk gerbang kantor.