
“Siapa?” Tanya Ronald setelah Zivi mengakhiri telponnya.
“Hmmmm, rahasia!” Jawab Zivi menggoda Ronald yang terlihat sangat ingin tahu.
“Pacarmu?” Tebak Ronald dengan harapan Zivi akan menjawab dengan sebaliknya.
“Kalau aku bilang ‘suami’, kamu percaya?” Tanya Zivi dengan senyuman khasnya senang melihat raut penasaran Ronald juga sekalian ingin berkata jujur pada Ronald.
Pernikahannya memang tidak begitu dirahasiakan, juga tidak dipublikasikan. Yang tahu hanyalah orang-orang yang diundang. Jika orang yang diundang tahu, mungkin tahu dari mulut ke mulut orang yang tahu tentang pernikahannya. Kecuali alasan dibalik pernikahannya dengan Eibi, hanya dirinya, Eibi, teman-teman Eibi, Donna, dan pastinya pria yang menjebak mereka.
“Tidak percaya!” Jawab Ronald tegas membuat ZIvi membulatkan matanya, “Mana cicin nikahmu?” menarik tangan kanan Zivi yang polos. Zivi ingat bahwa ia tak mengenakan cincin nikahnya karena belum di ambil.
“hahaha, Pasti kau tak percaya.” Ucap Zivi tertawa memandang jarinya sendiri. Ia menarik tangannya dan melihat jarinya. Tak ada cincin disana, baru ia merasa ada yang kurang. Cincin itu sudah biasa bersamanya. “Tak memakai cincin bukan berarti belum menikahkan?” Tanya Zivi mengenyahkan perasaan rasa kehilangannya.
“hmmmm, tapi dari semua orang yang aku temui, pasti mengenakan cincin nikah mereka. Jangan bohong padaku Zivi. lihat saja bentukmu, tak ada tanda-tanda sudah menikah pula!” ucapnya sambil melihat Zivi dari atas hingga bawah.
“Ihh, kau!” Zivi melotot, risih dengan tatapan Ronald. Ia pernah dengar bahwa pria tahu ciri seorang wanita sudah menikah atau belum, masih gadis atau belum dari hanya melihat tubuh. Tak disangka ia mengalami penilaian demikian langsung dari teman lamanya sendiri.
“Hahaha! Maaf!” ucap Ronald dengan tawa, “aku hanya memastikan dugaanku salah!” jelasnya, “aku percaya dengan apa yang aku lihat!”
Zivi memutar bola matanya jengah, “terserahmu, percaya atau tidak!” Ucap Zivi.
Waktu berjalan terus. sambil makan dan ngobrol santai, menanyakan kabar keluarga masing-masing, dan kegiatan masing-masing yang sekarang. Sudah jam 20:00 saja.
“Sepertinya saya harus pulang!” ucap Zivi mengakhiri percakapan mereka.
“Yeah, nanti bisa kontak-kontak lagi!” jawab Ronald. Dan mereka berpisah.
Setelah makan malam, nonton TV sambil menunggu, tak ada tanda-tanda Zivi pulang. Eibi mondar-mandir gelisah di ruang tamu. Zivi belum pulang juga. Mau segera menyusul, namun ia sadar ia tidak tanyakan lokasi tempat mereka makan.
Glek!
Pintu terbuka saat ia hendak menelfon Zivi lagi.
Hatinya lega melihat Zivi, dan sangat lega melihat Zivi tak dalam keadaan buruk malah sangat ceria.
“Maaf!” ucap Zivi melihat sekilas raut khawatir diwajahnya. Saat pak Tejo memberitahunya bahwa Eibi menanyakan, ia merasa biasa saja. Namun Eibi menanyakannya karena ia khawatir.
“hmmm, go wash!” balas Eibi mendekatinya dan mengambil tas belanjaan dari tangannya.
“I’ll manage this!” tambahnya memberitahu Zivi yang hendak berkata lagi.
Zivi menyerahkan barang belanjaannya dan berterimakasih, lalu menuju kamar untuk membersihkan dirinya.
Hmmmm
hmmmm
hmmmm
Terdengar suara hmmmm dari dalam kamar mandi. Rupanya sauna hati Zivi benar-benar bagus hari itu. Bisa terdengar dari nada senandungan yang ia hmmkan saat sedang mandi.
Drrrt ponsel berbunyi. Dan itu bukan ponselnya. Ia melihat ponsel Zivi diatas sofa menyala.
“RONmu?” bisik Eibi membaca nama yang tertera dilayar itu.
Ia membuka ponsel Zivi, dan membaca percakapan mereka.
-RONmu, sudah sampai di rumah? Mandilah! Nanti lanjut lagi.-
Percakapan singkat, juga masih dibatas normal. Namun hati Eibi tidak suka. Istrinya sepertinya diperhatikan orang lain.
Siapa dia? Inikah teman yang Zivi maksud? ia tahu teman-teman yang dekat dengan Zivi dan semuanya perempuan. Lalu ini? Ron? Jelas-jelas nama pria. Eibi sangat tak senang dengan nama itu, apalagi percakapan yang menunjukkan perhatian pada Zivi.
Del! Block! Eibi memblokir dan menghapus nomor itu!
Setelah Zivi mandi, Eibi menariknya duduk di sofa tempat biasa Zivi tidur.
“Tidak ada lagi alasan untuk melepaskannya mulai dari sekarang!” Ucapnya sambil mengenakan cincin itu dijari manisnya.
Zivi menarik jarinya untuk melihat lebih dekat. Cantik! Jarinya terlihat cantik dengan cincin itu. Tersenyum puas. Eibi melihat hal itu ikut senang. Menyandarkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya lagi. Senyuman Zivi terhadap cincin itu hal yang positif baginya.
Namun Zivi dalam rasa puasnya juga sadar, hubungan mereka hanya dipermukaan. Kenapa dirinya senang. Ia menggeleng. “Namun disaat tertentu, boleh saya melepasnya?” Zivi ingin mendapatkan persetujuan untuk melepasnya.
“Some people knew that we married. If they see you take it off, there will be a problem.” Eibi memberikannya alasan talak untuknya, “Remember, people believe what they see.” Eibi menegaskan pada Zivi.
Zivi menganggukkan kepalanya, tak bisa membalas Eibi, dan membuka ponselnya.
“Kemana? Kemana? Kenapa tidak ada?” Zivi mulai bertanya-tanya sambil mengscroll ulang ponselnya untuk memastikan ia terlewat. Namun tidak ada.
“Kamu membuka ponselku?” Eibi membuka matanya mendengar pertanyaan itu.
“Iya!” Jawab Eibi jujur dan tak merasa bersalah.
“Kamu yang menghapus nomor Ron?” Tanya Zivi to the point. Tidak ada orang lain dalam kamar yang bisa di curigai. Terakhir sebelum mandi, dirinya masih chat dengan Ron.
“Iya! Saya tidak menyukainya!” Jawab Eibi jujur.
Huft! Zivi menghela nafas, ini sangat keterlaluan. Eibi membuka ponselnya, membaca isinya, dan bahkan menghapus nomor Ron dari ponselnya tanpa sepengetahuannya.
Eibi dengan santai dan terus terang menyatakan apa yang suka dan tak suka, meminta begini begitu, dan sekarang ponselnya pun ia berani membukanya. Zivi merasa terganggu dengan sikap Eibi, ia tidak menyukainya.
“Jujur sekali kamu! Membuka, membaca, menghapus isi ponsel saya, kamu pikir saya suka?” Zivi meluapkan amarahnya dengan suara tertahankan. Itu privasinya. Selama ini menghormati dan menghargai Eibi, bahkan menjaga privasinya. Membuka ponselnya pun tidak sama sekali. Kenapa ia tidak mendapat perlakuan yang sama?
Eibi speechless. Zivi yang tadi penuh dengan raut ceria kini hilang. Ada kekecewaan dan kesedihan dalam kata-katanya, raut wajahnya, binar matanya memancarnya.
“I’m so sorry. I just don’t like him very much!” Ucapnya merasa bersalah menghancurkan suasana hati gadisnya itu.
“Hmmm, hanya dengan alasan itu. tindakanmu berlebihan. Terhadap Anthony kamu berkata begitu, dan sekarang Ron juga kamu berkata yang sama. Bisa saya terima, tapi berlebihan saat kamu menghapus isi ponsel saya!” Jelas Zivi.
“Saya rasa perlu memberitahumu, kita jaga jarak juga jaga privasi masing-masing!” Tegas Zivi. “Saya sangat menghormatimu dan menghargaimu, dan saya tidak pernah mengusik privasimu! Siapa yang menelponmu, siapa yang bersamamu, bahkan saat kamu berciuman pun saya tidak pernah berkomentar. So, saya harap kamu mengerti.” Tambah Zivi dengan berat hati juga sakit hati. Tidak pernah ia berkata demikian terhadap orang lain yang berpendidikan dan dengan posisi pekerjaan yang bagus. Pasti akan sangat paham.
“Ciuman?” Eibi tidak mengindahkan kata-kata lainnya lagi, setelah menangkap kata -ciuman-.
Eibi menatap Zivi menunggu jawaban, “Kamu melihat saya ciuman dengan siapa? Katakan!” Tuntut Eibi. Yang ia tahu hanya mencium Zivi, Secara terbuka, dipipi Zivi dan dengan rahasia saat Zivi tiur.
“Itu tidak penting. Yang penting adalah saling menjaga privasi. Ini yang pertama dan terakhir kamu membuka atau menghapus isi ponsel saya.” Zivi tegaskan, tidak menjawab pertanyaan Eibi.
“Tidak! Kau harus memberitahuku!” Tuntut Eibi menekan kedua bahu Zivi. baginya ini harus diluruskan.
“Kezia!”
“Dimana?”
“Direstoran!”
“Kapan?”
“Sudah lama! Saya tidak ingat tepatnya kapan!”
“Restoran mana?” Jawaban Zivi membuka ingatan Eibi.
Eibi teringat saat pertama Kezia datang dan ngotot ingin bertemu dengannya hingga akhirnya bertemu. Namun itu Kezia yang menciumnya dengan tiba-tiba.
Eibi memelas melepaskan tangannya dari Pundak Zivi dan mengusap wajahnya. Ia ingat hari itu, bukan karena Kezia, tapi hari itu adalah dimana ia menunggu Zivi hingga malam karena ingin memberikan hadiah gelang untuknya, dan ia ingat dirinya kecewa karena keinginannya tak terwujud.
“Ingat?” Zivi menghela nafas, pundaknya yang terasa berat jadi ringan, meski hatinya belum reda. “Kamu dengan Kezia, atau dengan siapapun, saya hargai. Semoga kamu juga menghargai saya dan siapapun yang bersama dengan saya!” Jelas Zivi, lalu beranjak menuju kamar ganti untuk mengambil selimutnya.
Tidak perlu meminta Eibi beranjak dari sofa, cukup bertindak dengan kode jelas untuk membuatnya pindah dari sofa. Dan berhasil.
Eibi ingin bicara, namun Zivi tidak memberinya muka. Ia paham Zivi masih marah. Tunggu hatinya reda dulu.
Apa yang akan Ron pikirkan tentangnya saat tak bisa menghubungi? Semoga ada jalan lain.
Media sosial! Zivi segera membuka ponselnya setelah merapikan tempat tidurnya.
Mencari nama Ron, namun pesan masuk!