
Jam 5 pagi Eibi baru ada dikamar hotel yang sudah Alden booking untuk mereka. Hampir saja mereka mengalami kerugian besar karena salah satu penanam saham yang tidak jujur. Untung bisa diatasi dengan kerjasama, dan orang itu didepak dari anggota juga dengan tuntutan. Pelajaran berharga bagi Eibi juga yang lainnya untuk kedepannya.
Lelah, namun tidak bisa tidur. Eibi teringat Zivi. Jika Zivi tidur cepat, maka ia akan bangun pagi.
Ia menelponnya.
“Hallo!” suara dari seberang terdengar dengan malas. Sedikit menguap.
“Apa saya mengganggu tidurmu?”
“Hyiek, tidak!” segera Zivi menjawab tidak mendengar suara yang tak asing baginya. Kantuknya sirna.
“Bagaimana pekerjaanmu?” Zivi ingin tahu dan menanyakan hal ini. Karena urusan itu, Eibi pergi dan pamit padanya hanya melalui telpon. Urusan yang sangat penting.
“Sudah selesai beberapa menit yang lalu.” Ada helaan nafas lega yang Eibi luapkan saat menjawab Zivi. dan sangat tepat ia menelpon Zivi, orang yang tepat untuk ia bagikan betapa leganya dirinya. Meski bersama rekannya ia lega, namun bersama Zivi, hatinya lebih puas dan berbeda rasanya. Terlebih lagi mendengar helaan lega dari Zivi. saling. Ingin rasanya ia memeluk Zivi saat itu.
“Sekarang kamu bisa istirahat.” Ujar Zivi. Ia tahu bahwa Eibi melewatkan waktu tidur karena urusan itu. Ia tidak menanyakan detail urusannya pada Eibi, jika Eibi mau cerita pasti akan ia ceritakan.
“Tidak. Saya mau bicara denganmu.” Zivi membulatkan mata. Apa dia tidak lelah dan mengantuk?
“Kamu tidak lelah dan mengantuk?” Tanya Zivi
“Tidak. Hilang setelah mendengar suaramu!” Jawab Eibi membawa rasa manis dalam hati Zivi.
“Hmmm, terus apa yang kita bicarakan?” Tanya Zivi sambil berpikir.
“Apa saja!” Jawaban Eibi singkat. Dan Zivi teringat akan pemberian Eibi di lemari.
“Terimakasih bajunya!” Ucap Zivi.
“Apa kamu menyukainya?”
“Tentu saja.” Jawab Zivi dengan senyuman manisnya seakan Eibi ada didepannya. ‘suka sekali.’ Batinnya. “Sudah saya katakana tidak usah, tapi tetap dibelikan. Tentu saja suka." Terangnya, “berikannya juga diam-diam.” seperti nada protes namun tidak hilang kesan manjanya.
“Karena kamu tidak minta, maka saya harus bawakan sesuatu.” Eibi senang Zivi menyukai pemberiannya. “seharusnya semalam saya memberitahumu, namun tidak bisa. Beruntungnya kamu buka lemari dan tahu.” terang Eibi. “Buka laci meja rias.” Pinta Eibi, Zivi manut.
“Buat?” bertanya sambil melakukan permintaan Eibi.
“Sudah. Semuanya jepit!” Ucap Zivi, tentunya itu bukan untuk dirinya. Jepit dasi, masa untuk rambut!
“Perhatikan baik-baik!”
“Owh, ya ada kartu.” Sambil maraih kartu dengan keryitan didahinya “?” tanda tanya.
“Kartu belanja bulanan untukmu. 091910 pinnya” Eibi merasakan Zivi yang terdiam, ia memberitahu maksudnya juga pin nya tanpa panjang lebar.
“Tidak perlu. Saya punya uang sendiri.” Zivi menolak. Hatinya tidak nyaman diberikan kartu. Eibi terlalu baik padanya. Andaikan sudah 100% Zivi yakin akan kejelasan hubungan pernikahan mereka, tidak akan ada keberatan sama sekali. Apa perlu dirinya yang harus duluan membicarakannya pada Eibi?
“Tidak ada penolakan. Sudah cukup kamu tidak mau pindah kerja. Lagipula, itu bukan saja untukmu, tapi juga untuk Ibu Surti dan Pak Tejo. Honor mereka, kamu yang akan berikan mulai sekarang. Belanja keperluan rumah bisa kamu urus sesuai yang diperlukan.” Sudah beberapa waktu lalu Eibi memikirkan hal ini saat Zivi menolak pindah kerja di tempatnya.
Rencananya kemarin ia berikan setelah pulang kerja. Siapa yang tahu jika ada masalah, akan muncul dadakan. Akhirnya hanya bisa lewat telpon. Memikirkan hal ini, Eibi sungguh ingin melihat reaksi Zivi saat dirinya secara langsung memberikan kartu itu pada Zivi. Pasti lucu! Tersenyum sambil membayangkan reaksi Zivi.
“Hmmm, Kamu percaya pada saya?” suara yang membuyarkan imajinasinya. Zivi tidak menolak lagi, namun masih ada keberatan hatinya.
“Mengapa tidak? Kamu istri saya.” Eibi menjawabnya tegas tanpa keberatan hati.
“Owh!” Zivi hanya bisa memberikan reaksi demikian.
“?” diam namun dalam batin ‘Hanya itukah?’
“Mandilah. Nanti kamu terlambat.” Sambil menguap Eibi meminta Zivi mandi segera. Kantuk akhirnya menyerangnya setelah bicara dengan Zivi.
“Yap.” Menyadari waktu, Zivi pun mengiyakan.
“Selesai kerja, segera pulang. Tunggu saya dirumah.” Pinta Eibi sebelum menutup telponnya.
“Hmmm, akan saya tunggu.” Jawaban Zivi memberinya kepuasan. Tersenyum sambil memejamkan matanya. Istrinya patuh sekarang. Itu yang sangat ia harapkan.
Memeluk guling erat-erat membayangkan itu adalah Zivi dan terlelap. Sedangkan Zivi kembali ke lemari dalam dan meletakkan kembali hadiah yang belum kesampaian untuk diberikan pada Eibi. Kartunya ia sisipkan diantara kartu lain miliknya dalam dompet. Tapi hanya untuk urusan bayaran Bu Surti dan Pak Tejo. Tidak lebih.
Tak bisa membendung rasa ingin tahunya, saat memasuki jam istirahat kerja ia terlebih dulu mencari informasi tanda – tanda seorang pria menyukai seseorang. Makan nanti dulu. Rasa penasarannya perlu segera terjawab.
5 ciri-ciri pria menyukai wanita namun gengsi mengatakannya:
Pertama, Sering melakukan kontak mata.
‘sering. Eibi dan dirinya sering melakukan kontak mata.’ Sambil mengangguk. Ok!
Kedua, Selalu mengingat semua hal kecil tentang dirimu.
‘apa? Bagaimana ia tahu jika Eibi mengingat hal kecil tentang dirinya.’ Menggeleng. Tidak sesuai.
Ketiga, Selalu punya inisiatif untuk berkomunikasi denganmu.
‘fifty fifty. Dirinya juga demikian terhadap Eibi. Keduanya saling.’ Menggeleng. Tidak masuk.
Keempat, Memberikan perhatian dan kontak fisik.
‘selalu ia dapatkan dari Eibi tanpa ia minta. Tanpa ia harapkan.’ Masuk. Ok.
No. 1 dan 4, ok untuknya. No. 2 dan 3, tidak. Seimbang. Lihat nomor berikutnya.
Kelima, Mengubah penampilan agar lebih menarik didepanmu.
‘Eibi mah sudah menarik. Apa yang pernah ia ubah. Tidak ada.’ menggeleng kepala.
Kebanyakan tidak sesuai. Dua banding tiga. Tentu saja 2 kalah. Keluar tab dan matikan komputer.
Tidak memuaskan hatinya. Membuang nafas kasar sambil manyun.
“Kenapa Vi?” Donna yang rasanya tidak pernah absen akan reaksinya.
“Hah! Tidak kenapa-napa. Aku lapar!” Zivi tidak mau menjawab Donna apa sesungguhnya.
“Yuk! Aku juga lapar!” Donna langsung menyabet tasnya dan berdiri. Karena ia sungguhan lapar. Berbeda dengan Zivi yang tidak sepenuhnya lapar. Zivi menjawabnya lapar. Jawaban yang Donna inginkan. Tanpa ba-bi-bu langsung bertindak.
Karena Donna sudah bertindak, Zivi mau tidak mau ikut. Iya yang duluan mengajak.
Sambil makan Zivi mendapat ide untuk menggali jawaban dari Donna.
“Bagaimana hubunganmu dengan Richard?” Zivi
“Baik. Kenapa?” Donna mengeryit, Zivi menanyakan hubungannya dengan Richard?
“Apa kamu yakin?” Zivi pertanyaan menuntut.
“Yakin. 100%” Donna menjawab yakin sambil tersenyum manis penuh percaya diri.
“Kenapa bisa yakin 100%?” Zivi bertanya menggali lebih dalam seperti filsuf.
“Ya. aku tidak mendapatkan adanya alasan bahwa dia tidak mencintaiku!” Donna
“kok bisa?” Zivi tak percaya.
“Kamu kenapa Vi? jadinya seperti interogasi aku gitu.” Donna sedikit curiga dengan Zivi.
“Hanya ingin tahu saja. Saolnya aku lihat kamu senang sekali bersama Richard. Apa Richard tahu kamu menyukainya hingga demikian?” Menjawab tapi bukan alasan yang sebenarnya.
“Tahu. Dari awal pacaran sih tidak. Namun lama- lama jadi makin saling percaya dan semakin yakin. Plus, dia tidak enggan memperkenalkanku pada keluarganya, khususnya ibunya.” Donna tetap menjawab pertanyaan Zivi.
“Apa kamu pernah bilang pada Richard bahwa kamu menyukainya?” lebih menjurus bertanya.
“Tentu saja. Sering. Tentu saja Richard yang terlebih dahulu mengatakannya padaku” Penuh bangga diri Donna menjawab Zivi.
“Hmmmm. Apakah menurutmu mengatakan ‘aku cinta kamu’ sangat penting?” Zivi lebih spesifik menanyakan yang ingin ia ketahui.