LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 6 Ulang Tahun Pacar Teman



Sudah sebulan sejak ia bertemu dengan Eibi. Zivi mengingat-ngingat awal mereka bertemu di tempat perbelanjaan, dan itu adalah kejadian memalukan baginya. Bagaimana bisa ia ceroboh, tidak memperhatikan ada orang lain disampingnya, hingga menabrak Eibi.


Begitu malunya, hingga cepat-cepat pergi setelah minta maaf. Kejadian itulah yang membuatnya kehilangan dompet dan belanjaan yang sudah ia ambil terpaksa ditinggalkan dikasir. Dan lebih malu lagi, karena barangnya tak bisa ia bayar karena dompetnya tidak ada. Orang mungkin berpikir ia tidak punya uang. Huft…


Tak disangka Eibi yang menemukan dompetnya. Dan dengan baik hatinya menghubungi dirinya untuk mengembalikan dompetnya.


“Halo, nama saya Eibi.” Ucapnya sambil tersenyum dengan uluran tangannya memperkenalkan diri padanya. Ya, itu saat pertama kali mereka berkenalan di DEM kafe.


“Zivi.” ia menerima tangan Eibi sambil memberitahu namanya sendiri.


Mereka duduk berhadapan dikursi yang hanya khusus untuk dua orang yang ada dipojok ruang DEM kafe. Memesan minuman dan makanan ringan untuk dinikmati.


‘Harus memulai pembicaraan dari mana ini? Aduh… masa langsung intinya sih. Kan nggak enak banget.’ Batin Zivi


“Hmmmm”


“Hmmmm”


Keduanya bersamaan hendak bicara sesuatu. Diikuti tawa kecil karena hendak bicara diwaktu yang sama.


“Kamu dulu!” ucap Zivi mempersilahkan.


“Kamu dulu. Ladies first.” Balas Eibi mempersilahkan Eibi duluan berbicara.


“Okay. Actually I want to ask you if you can speak Indonesian.” Dengan Zivi mengutarakan apa yang hendak ia ucapkan tadi.


“Yeah, bisa.” Jawab Eibi singkat lalu diam.


“Kalau saya tidak bisa, saya akan minta kamu ngajari saya Bahasa Indonesia.” Lanjutnya dengan sedikit terbata-bata.


“Dengan senang hati, tapi mungkin tidak akan sebagus guru mengajar muridnya.” Jawab Zivi dengan sedikit tersenyum.


“Tidak masalah. Sayakan bukan anak sekolahan. Ajari saya seperti seorang teman saja.” Sahutnya santai meski sedikit kaku Bahasa Indonesianya.


“Hmmm, boleh, boleh. Karena kamu sudah berbaik hati mau mengembalikan dompet saya.” Jawab Zivi disambung dengan tawa kecil “Just Kidding.” Tambahnya lagi.


“Ya, benar. Anggap saja imbalan saya mengembalikan dompetmu.” Sambungnya lagi sambil tertawa. Lalu dia mengambil tas kecil pria yang ia bawa bersamanya dan mengeluarkan dompet yang tidak asing lagi bagi Zivi.


Mata Zivi berbinar senang melihat dompet yang dikeluarkan Eibi. “Thank you so much!” ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya jadi satu dengan raut wajah yang penuh dengan rasa terimakasih.


“Hei, begitu senangkah mendapatkan kembali dompetmu?” Tanya Eibi dengan sedikit tak percaya dan ada sedikit senyum diwajahnya.


“Yeah. Kamu tahu, dijaman sekarang, dikota yang seperti ini, rasanya mustahil untuk mendapatkan kembali barang yang hilang. Kalau kehilangan barang dan orang lain menemukannya, sudah pasti tidak akan kembali lagi.” Terang Zivi pelan-pelan agar bisa dimengerti oleh Eibi.


“Dan kamu beruntung karena yang menemukannnya adalah saya.” Eibi sedikit bangga diri mengatakan ini. Ini artinya bahwa ia tidak sama dengan orang lain. Nilai plus bagi dirinya dimata Zivi. Gadis yang sedikit memikat hatinya. Meski hanya sekadar untuk have fun.


“Yeah, that’s why I’m really thanked for your kindness. Jika tidak, akan sangat ribet mengurus ulang kartu-kartu saya didalamnya.” Terang Zivi sambil membayangkan keribetan mengurus semua hal itu jika benar-benar dompetnya hilang.


Pembicaraan mereka yang lama hingga pesanan datang dan habis mereka nikmati. Percakapan mereka yang awalnya canggung lama-lama jadi percakapan yang santai bagaikan teman lama.


Zivi sedikit nyaman bicara dengan Eibi. Dan dari pertemuan itu mereka bisa terus berteman hingga sekarang. Meski hanya lewat chat saja.


“Hei! Ngelamunin apa? Tanya teman sekantor Zivi -Dona- yang dari tadi memperhatikannya.


Dona adalah rekan kerja Zivi yang duduk tepat disampingnya. Dia satu-satunya teman yang masih sama dengan dirinya di kantor. Sama-sama single. Beda Dona sudah punya pacar. Dan pacarnya orang Bule -Richard-.


“Tidak. Tidak ada.” Kata Zivi “Cuma sedang mengingat seseorang.” Sambungnya sambil tersenyum.


“Hahaha, nggak akan percayakan sama ucapanku?” tantang Zivi menertawai Dona. Meski dirinya benar-benar mengingat seseorang, tapi dengan pribadinya yang terkenal seperti itu dikantor dan juga kadang penuh cadaan, sulit akan dipercayai. Jadi hanya mengikuti alur pikir rekan kerjanya itu. Tunggu saja jika dirinya benar-benar mereka saksikan memiliki pasangan. Begitu pikir Zivi.


“Hayo, kembali kerja. Sebelum jam pulang, kita bereskan semua laporan dan berkas-berkas yang belum selesai. Biar nggak numpuk kerjaan untuk hari senin.” Kata Zivi sambil kembali memperhatikan layar komputer di depannya.


Besok adalah hari sabtu, Weekend, jadi mereka free dan kembali masuk hari senin. Zivi menyusun data-data tamu, berkas-berkas laporan diatas mejanya, dan lain-lain. Semuanya ditata rapi.


“Vi.” Panggil Dona.


Zivi memalingkan mukanya pada Dona dengan sedikit mengeryit “Ada apa?”


“Pacarku nanti malam ulang tahun.” Pernyataan Dona.


“Dan….?” Tanya Zivi


“Temani aku yak e club. Dia rayainnya di Club B*****g. Jam 8 malam” ucap Dona dengan nada membujuk.


“Oh, no. Kamu kan tahu Dona. Aku tidak pernah masuk kesana. Dan tidak akan pernah. Ajak yang lain ya.” Terang Zivi dengan sedikit bergidik membayangkan dirinya masuk ketempat seperti itu. Tempat yang pasti ramai dengan hal-hal yang tidak biasa bagi Zivi. Bau alcohol, bau rokok, dan pemandangan yang seperti di TV.


“Ayolah. Kali ini saja. Kalau ada yang bisa saya ajak selain kamu, aku pasti tidak mengajakmu. Mau ya… aku janji, kita tidak akan lama disana. Aku pasti akan selalu dekat dan jaga kamu koq. Please…” Mohonnya.


Tak tega melihat temannya. Zivi pun mengangguk lemah. “Benaran nggak lama ya. Dan jangan sampai biarin aku sendiri disana.” Ucap Zivi menekankan.


“Yep. Pasti. Thank you.” Ucap Dona senang melonjak dari tempat duduk dan memeluk Zivi.


“Nanti aku jemput kamu jam 8 kurang ya. Jadi kamu tidak usah repot-repot bawa motormu.” Ujar Dona sambil melepas pelukannya. “Pakailah pakaian cantik.” Tambahnya lalu kembali duduk ditempatnya.


****


Kling


‘Aku sudah didepan kostmu.’ Dona.


Pesan masuk dari Donna.


‘Sedikit lagi aku keluar.’ Zivi


Zivi segera kembali kedepan cermin memperhatikan penampilannya lalu melangkah keluar setelah mengambil tas kecilnya yang diselempangkan di bahunya. Setelah mengunci pintu kamar, ia menghampiri Dona yang sudah menunggunya didepan.


Dona menurunkan kaca mobil saat melihat Zivi keluar gerbang rumah kost. “What?” satu kata keluar dari mulutnya syok melihat penampilan Zivi.


Zivi menarik buka pintu depan mobil sebelah kemudi. Masuk dan duduk dengan santai disebelah Dona yang sedang memegang kemudi dengan mulut sedikit terbuka melihat Zivi.


“Kamu yakin berpakaian seperti ini?” Tanya Dona.


“Yakinlah.” Jawab Zivi santai merasa tak ada yang salah dengan pakaiannya.


“Vi. Kita ini mau ke Club. Masa pakaiannya kayak begini?” protest Dona.


“Terus kamu maunya seperti apa? Ini sudah seperti pakaian pesta kok. Kalau ke pesta juga aku kadang berpakaian seperti ini.” Terang Zivi sambil menunduk melihat pakaiannya. Rok kembang biru gelap selutut dengan sedikit corak bunga kecil-kecil putih dan pink serta kemeja lengan pendek warna putih. Sepatu kets senada dengan roknya, juga dengan tas kecilnya. Rambutnya yang hitam dibiarkan terurai, berbeda jika ia pergi bekerja, rambutnya selalu ia cepol keatas.


Berbeda dengan Dona yang mengenakan dress merah gelap diatas lutut dengan belahan dada sedikit terbuka. Sepatu heels 5cm serta tas tangan warna senada dengan dressnya. Rambutnya keriting gantung. Sangat berbeda saat dia dikantor. Dona sangat cantik memang. Sehari-hari dengan pakaian kantorpun dia begitu cantik.


“Lagipula, malam ini ulang tahun pacarmu. Dan kamu harus terlihat lebih cantik dari siapapun, termasuk aku.” Ucap Zivi menjelaskan agar Dona tidak memprotes pakaian yang dirinya kenakan.