LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 12 Kecupan Diam-Diam



Setelah hari itu yang berbeda itu, hari-hari pernikahan dilewati layaknya bukan pasangan jika dirumah. Masing-masing dengan kegiatannya sendiri. Makanpun diurus masing-masing. Tidak ada yang terjadi antara mereka. Zivi pulang seperti biasa, sedangkan Eibi pulang malam terus. Entah apa kegiatannya diluar. Zivi tidak tahu, dan tidak ingin tahu.


Seperti biasa, Zivi akan melakukan kebiasaannya untuk relax, merenggangkan ototnya yang tegang seharian kerja agar tidur lebih pulas. Hal itu dilakukannya di ruangan yang sudah ia bersihkan. Sangat nyaman dan bahkan sering ia gunakan tempat itu sebagai tempat tidurnya disaat ingin melepas lelah sepulang kerja atau setelah berolah raga.


Sore itu, sepulang kerja, Zivi langsung menuju ruang privasinya itu.


Inilah kegiatannya diruang itu. Tidak ada yang tahu. Hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.


Mengganti pakaian kerja, memakai tanktop serta shorts. Pakaian seadanya untuk berolahraga. Memakai sepatunya. Menyalakan laptop untuk memutar Vidio senam yang akan ia tirukan. Lebih hematkan. ketimbang ikut yang diluar. Bayar, makan waktu dan belum tentu sesuai kapasitas. Itulah pikir Zivi dari dulu. Lebih baik dirumah aja. Durasinya Cuma 25 menit. Sesuai kapasitasnya.


Dan mulailah ia senam mengikuti vidio 25 T. Selesai, ia membaringkan tubuhnya disofa panjang yang ada disudut ruangan itu dengan kaki yang bertengger di lengan sofa. Karena lelah, ia pun pulas.


Sudah pukul 19:00, ia masih terlelap saking lelahnya.


****


Eibi pulang agak cepat malam ini, tidak seperti biasanya. Ia disambut pak Tejo seperti biasanya. “Tuan, selamat malam!”


“Selamat malam Pak” jawabnya dan melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya. Setengah perjalanan keatas ia berhenti menoleh kebawah mendapati Pak Tejo yang masih berdiri disana.


“Pak, tolong buatkan saya susu hangat” pintanya dan melanjutkan langkahnya. Pak Tejo manggut dan menuju dapur untuk membuat susu.


Kamarnya masih gelap. Biasanya terang. “Mungkin ia belum pulang” pikir Eibi lalu menyalakan lampu kamar.


Tok tok tok


“Tuan, susunya” suara dari depan pintu kamar


“iya Pak. Masuk saja. Pintu tidak dikunci” pinta Eibi


“ini Tuan susunya” meletakkan susu diatas meja


“terima kasih Pak”


“sama-sama Tuan” balas Pak Tejo


“Zivi belum pulang?” tanya Eibi


“sudah Tuan. Nona mah selalu pulang diwaktu yang sama setiap hari” jelas Pak Tejo.


“oh, terus dia kemana? Saya tidak melihatnya sama sekali”


“mungkin masih diruang belakang Tuan. Nona Zivi kalau pulang selalu kesana setiap hari. Tapi seharusnya sudah keluar dari sana. Mungkin ada kerjaan Tuan” jelasnya lumayan panjang


“memang apa yang dilakukan Zivi disana?” Ingin tahu Eibi


“tidak tahu Tuan. Saya belum menanyakannya. Tapi saya selalu dengar suara musik Tuan” jawabnya lagi kikuk karena tidak bisa memberi jawaban yang diharapkan tuannya.


“ohh, ya sudah Pak. Terima kasih” jawabnya dengan kening sedikit berkerut mengira ngira apa yang lakukan Zivi disana


Pak Tejo permisi turun, dan Eibipun melanjutkan aktifitasnya. Ke kamar mandi, ganti pakaian. Menyalakan TV menonton berita hari itu sambil meminum susunya.


Pukul 20:00 masih tidak ada tanda Zivi masuk kamar. Eibi pun beranjak mematikan TV dan turun menuju ruang belakang ‘apa yang sedang ia lakukan?’ pikirnya


Tok tok tok


Tidak ada suara dari dalam. Eibi mencoba membuka pintu. Pintunya tidak terkunci. Eibi melihat orang yang ia cari. Sedang tertidur lelap dengan kaki yang bersandar pada lengan sofa.


‘sexi juga rupanya’ batin Eibi mendekati Zivi. Tank top, shorts, sepatu. ‘ternyata dia suka olahraga’ batinnya. Ia memang Zivi sedikit kagum. Sedikit. Mengetahui sedikit hal tentang Zivi. Matanya menjelajahi ruangan itu. Tertata rapi. Sangat bersih, dan dihias dengan sangat indah.


Ada lemari kecil dan meja kecil disana. Ruangan yang dilapisi dengan karpet rusia dan karpet kecil diatasnya. Diatas meja ada laptop yang masih terbuka.


Kembali Eibi menghampiri Zivi disofa yang masih terlelap. Ia duduk dilantai yang beralaskan karpet menghadap Zivi. Memperhatikan lekat-lekat wajahnya. Kening, mata, alis, hidung, pipi dan bibir Zivi.


‘Ternyata menarik juga. Selama ini saya kurang memperhatikannya.’ Batin Eibi.


Zivi termasuk cantik. Awal mengenalnya mungkin biasa saja. Namun lama-lama akan membuat orang tertarik. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan yang membuat orang tertarik padanya. Entahkah sikapnya, tutur katanya, atau fisiknya? Mungkin gabungan dari semuanya, membuat personalitinya menawan orang.


Pandangan mata Eibi lama terhenti pada bibir Zivi yang tidak begitu tebal, juga tidak begitu tipis. Dengan lipstick warna merah yang masih menempel disana membuatnya kulit wajahnya yang bersih terlihat lebih bersinar. Hati Eibi tergelitik ingin merasakan bibir itu.


Dengan rasa takut ia pun mengecupnya pelan takut Zivi terbangun. Deg. Hatinya berdesir merasakan bibir itu. Melihat Zivi masih tak bereaksi, ia ingin mengecupnya lagi. Cup. sedikit lama. Bibir tipis yang lembut. Senyumnya tersungging.


Erhmmm


suara Zivi menggeliat. Merenggangkan tangannya mengenai sesuatu yang membuatnya membuka matanya. Ia bertatap dengan seseorang yang tak asing “Eibi!” serunya kaget. Sontak ia bangun dan berlari mangambil kain dari dalam lemari untuk membalut tubuhnya yang agak terbuka.


Melihat tingkah Zivi, Eibi terkekeh “sudah terlambat” ucapnya membuat Zivi malu namun tetap melilitkan kain itu menutup tubuhnya seperti melilitkan handuk. Wajahnya sedikit merona, malu dilihat Eibi dengan pakaian seperti itu. Zivi menunduk melepaskan sepatu olahraganya sekaligus menghindari Eibi yang masih melihatnya.


“sejak kapan kau disini?” bertanya tapi tidak melihat lawan bicara.


“hmmm, sekitar 10 menit yang lalu” jawab Eibi dengan senyuman yang mekar tanpa merasa bersalah.


Zivi cepat mengambil alat mandi, mengacuhkan Eibi karena malu. “mau mandi?”


“iya, mau apa lagi?”


“mandilah diatas. Kenapa dibawah?”


“Saya mau dibawah saja” jawabnya lalu keluar ruangan itu menuju kamar mandi.


Eibi pun keluar dari ruangan itu kembali ke kamarnya.


Eibi terkekeh melihat Zivi seperti orang yang dikejar. ‘Bagaimana jika aku bilang kalau aku bahkan menciumnya’. Batinnya.


Selesai mandi, Zivi ke dapur dan menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri.


Bahan makanannya habis dan ia belum belanja. Zivi memutuskan memasak mie goreng instan dan menggoreng telur.


Zivi makan berdiri didekat kompor dapur sambil menunggu air yang sedang ia masak mendidih. Ia mau membuat segelas susu. Sambil mengunyah makanannya, Zivi menggunting susu coklat sachetnya untuk dituang kedalam gelas.


Menyadari ada orang yang masuk dapur, Zivi memalingkan kepalanya dan melihat Eibi dengan gelas kosong ditangannya.


“Hmm, I’m hungry. So I cooked noodle. Do you want?” Tawar Zivi sambil menunjukkan mie yang sedang ia makan pada Eibi.


“Why you don’t eat at the dining table?” Tanya Eibi tidak menjawab tawaran Zivi. Matanya tertuju pada bibir Zivi yang terlihat berminyak dan sedikit coklat akibat mie goreng yang ia makan.


Hatinya ingin mengecap rasa bibir itu lagi. Ingin merasakannya lagi kelembutan dan kenyalnya. Eibi mendekati Zivi membuat Zivi mengira Eibi ingin merasakan mie yang ia tawarkan.


Zivi mengambil mienya dan menyodorkannya pada Eibi beserta sendok yang sudah ia gunakan tanpa berpikir panjang lagi. “Try it first.”


Tangan Eibi yang tidak memegang gelas terkibas ke depan Zivi, “Tidak, tidak. terimakasih. Saya sudah makan.” Ucapnya. Namun tangan yang terkibas itu terulur ke wajah Zivi, membuat Zivi sedikit memundurkan kepala dengan tatapan ‘apa?’


“Eat well, don’t make a mess.” Ucapnya sambil ujung jempolnya mengusap bibir Zivi yang sedikit berlepotan. Namun sebenarnya itu tidaklah berlepotan, karena jika makan mie memang akan terjadi hal seperti itu.


Merasakan sentuhan jempol Eibi, Zivi sedikit tertegun. Itu diluar dugaannya. Ia merasakan hal yang aneh dari sentuhan Eibi. Namun segera ia tepis dan menyingkirkan tangan Eibi dari bibirnya, lalu mengusap sendiri bibirnya.


“I’m eating noodle. So, it’s normal to be messed up like this.” Terang Zivi, lalu berpaling melihat air yang ia masak sudah mendidih. Ia membuat susu tanpa menghiraukan Eibi dibelakangnya lagi. Ia masih sedikit gugup.


Melihat Zivi membelakanginya, Eibi berlalu menuju wastafel dan meletakkan gelasnya dan kembali ke kamar. Hatinya seakan berbunga, terlihat dari senyum yang tersungging dari sudut bibirnya. Hatinya senang, bisa menyentuh bibir Zivi dan merasakan kelembutan bibir itu. meski hanya dengan tangan. Terlebih mengingat raut wajah Zivi saat ia menyentuh bibirnya. Eibi senang.