LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 3 Bule



“kamu selalu yang terbaik deh! Selalu ada tempat bagus untuk dikunjungi!” Puji Epi disela-sela menikmati makanannya.


Zivi sedang berada di salah satu Caffee kota yang cukup ramai dengan pengunjung. DEM cafe. Lampu kerlap kerlip menghiasi cafe menambah suana romantis bagi pasangan-pasangan muda yang dinner disana.


“iya, dong! Emang kamu? Sibuk main Instagram melulu. Kayak aku dong! Cari info yang menarik sekalian nambah wawasan!” ujar Lita kepedean. Sedangkan Zivi hanya tersenyum dengan perdebatan kedua temannya itu.


Mereka adalah termasuk teman yang dekat dengan Zivi. Epi adalah seorang banker yang tinggalnya tidak terlalu jauh dari kostan Zivi, sedangkan Lita adalah seorang karyawan tetap disebuah perusahaan swasta milik pamannya.


Saat ada momen bisa keluar bersama, mereka akan janjian melalui group What’s Up untuk hang out. Mereka akan bercerita banyak hal, dari A hingga Z, semuanya nyambung, ngalor ngidul, utara selatan.


Ya begitulah *kalian juga kalo sama teman dekat pasti gitu sampe lupa waktu kadang. Apa lagi kalo acara nginap ke rumah teman, ampe jam 2 malampun bisa nggak tidur karena bercerita. Gosipin teman, kejadian yang di alami, hingga masalah jodohpun di angkat semuanya.


Dan akhirnya keluarlah pertanyaan menjurus dari Epi yang sedetik membuat Zivi syok, namun cepat-cepat ia berekspresi biasa, santai menyembunyikan perasaannya tentang jodoh “tipemu apa sih?”


“Apaan sih?” protes Zivi “tipe ku itu nggak muluk-muluk. I just like BULE!” lanjutnya menjawab pertanyaan Epi dengan gelak tawa sebagai tanda bercanda meski sebenarnya memang keinginannya adalah orang asing.


“ya ela, Vi. Itu mah namanya muluk-muluk.” Protes Lita dengan tertawa.


“kamu maunya Bule. Tua juga mau?” tanya Epi dengan nyengir.


“ya nggak gitu juga kali. Seumuran, lebih tua dikit juga tidak apa-apa, atau lebih mudah dikit.” Jawabnya sambil mempertimbangkan jawabannya sendiri.


“trus yang kamu chat tiap hari itu siapa?” tanya Epi


“hmmm, aku sih nggak suka Asia ya… meski suka dramanya. Jadi yang tiap hari itu cuma teman aja. Sekaliankan aku gunakan Bahasa yang udah aku pelajari bertahun-tahun. Aku lebih suka yang dari negara A******, atau I****** juga tidak apa-apa.” Terangnya pada teman-teman yang memang pencinta local *rasaloka, hehehe


“baru tahu aku, tipemu tinggi juga! Ckckck, katanya nggak muluk-muluk, eh muluknya malah kebangetan! Tapi tidak apa-apa. Nanti kalau dapat, jangan lupa undang aku ya!” pernyataan Epi.


“iya, ku pikir dia sama si ITU.” Sahut Lita dengan melirikkan matanya ke Epi sebagai kode untuk orang yang dimaksud.


“ya ela, itu kan teman ku dari dulu. Gila kali. Mau jadi apa nanti kalau sama dia.” Timpal Zivi memahami orang yang dimaksdu kedua sahabatnya tersbut. Dia adalah Oki teman kantor Epi “sama Epi aja dia, kan ketemu tiap hari!” tambahnya.


“kok aku yang kena! Udah ah, kita pulang. Udah malam.” Ujar Epi mengalihkan obrolan.


"Bahas aku aja, kalian rame. giliran bahas dirimu, udah mau pulang aja." pungkas Zivi.


"Eh, Lit... gimana dirimu sama dia? udah jelas belum?" Tanya Zivi mulai serius sama Lita.


"Mmmm, udah sih. itupun aku yang yakinin dia." keluhnya. "apa tidak apa-apa ya aku yang yakinin dia. harusnya dia yakinin aku, ini mah kebalikan." mengungkapkan keganjalan dihatinya penuh ragu.


"Tidak apa-apa. Pasangankan memang harus gitu. kalau dia yang ragu, dirimu yakinkan. kalau nanti dirimu ragu, giliran dia yang yakinkanmu. hidup saling." Terang Zivi.


"Aku sedikit ragu sih sama dia. Moga, ini hanya perasaanku ya. doakan ya..." pinta Lita.


Pembicaraan mereka akhirnya berlangsung lama saat membahas masalah percintaan Lita. Mendengarkan, menguatkan dan memberi solusi jika bisa. Dan yang paling ampuh, hanya bisa mendoakan.


Pukul 11 malam.


*****


(Sudah 3 bulan EiBi berada dinegara XX untuk mengurusi perusahaan dan ketemu dengan rekan bisnis sekalian pulang rumah. Sudah lama ia tidak datang ke negara tersebut semenjak kepindahannya 12 tahun silam).


“hei, Bi! What’s going on?” tanya Alden membuyarkan lamunan EiBi.


“No, nothing!” jawab EiBi keluar dari pikirannya “I’m fine. There’s no any problem!” lanjutnya meyakinkan temannya yang masih ragu akan jawaban EiBi yang pertama “what’s our schedule tomorrow?”


“we have an appointment with Trans Market at 09:00 o’clock” jawab Alden sambil menyerahkan IPADnya pada EiBi untuk melihat lebih detail mengenai agenda mereka esok harinya “let’s go back!” lanjutnya mengajak pulang temannya sekalian bosnya tersebut.


Merekapun meninggalkan tempat tersebut menuju tempat parkir mobil.


Melihat EiBi yang diam dengan tatapan kosong dengan jadwal mereka, ia tak berani membuyarkan lamunan temannya. Ia diam melajukan mobilnya menuju kediaman mereka.


EiBi, ia sibuk dengan lamunannya. Dengan tak sengaja ia tertarik dengan obrolan ketiga wanita yang duduk dekat mereka tadi di DEM Caffee “She likes BULE. It means she will like me if I try. I’m BULE. Let’s have fun!” pikirnya sambil mengangguk anggukan kepalanya memutuskan untuk mendekati wanita yang ia dengar tadi mengatakan I just like BULE!


Pikirnya ‘just for fun. Untuk apa terpuruk dengan wanita yang mengkhianatinya. Ide gila! Tapi paling tidak ada yang aku dekati toh untuk mengusir semua parasit yang ingin menempel.” Pikirnya dengan senyuman kesenangan puas dengan hasil pemikirannya.


“bagaimana?” tanya Alden mengagetkannya seraya mematikan mobilnya yang sudah diparkir dengan rapi dalam bagasi mobil.


“what?”


“untuk jadwal besok?” tekan Alden menyadari EiBi sedang tidak memikirkan schedule mereka ke esokan harinya sembari mereka keluar dari mobil.


“jika ada perubahan, beritahu aku lewat WA nanti!” lanjutnya dan jalan menuju kediamannya meninggalkan EiBi yang juga masuk kedalam rumahnya.


*Alden tinggal tepat disebelah rumah EiBi dengan rumah yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Namun rumahnya sangat mewah didalamnya.


***


“Selamat malam Tuan!” salam Bibi yang biasa membersihkan rumah EiBi.


“Malam, Bi!” sahutnya dan naik ke lantai atas menuju kamarnya.


BUGGG


EiBi menjatuhkan diri di atas sofa, dan melepaskan sepatu serta pakaiannya kotornya untuk disingkirkan oleh Pak Jito ke area laundry, kemudian beranjak ke kamar mandi membersihkan dirinya dan tidur.


“Hari ini melelahkan sekali!” bisiknya pada diri sendiri dan jatuh terlelap dalam dunia mimpi.


***


“tak ada kabar! Baiklah!” gumam Alden yang dari tadi menunggu WA dari EiBi. Bolak balik melihat layar HPnya sejak masuk rumah hingga minum air putih dan beranjak tidur.