
Apa yang ia temukan membuatnya tercengang!
Zivi dengan penuh senyum setengah tertawa dan mengusap sedikit sudut matanya. Ia duduk kodok diatas tempat tidur. Rambutnya yang basah masih tergelung handuk dan masih dalam bathrope yang kenakan. Jelas bahwa ia belum mengganti pakaiannya. Ponsel ditangannya dengan headset yang terpasang di kedua telinganya. Eibi tidak bisa mendengar percakapan mereka.
Sesekali Zivi menepuk tempat tidurnya, “aaaaa, huuuuu… aku senang sekali…” Zivi menyatakan harunya dengan raungan pada kakaknya yang akhirnya hamil. Hal yang mereka harap dan doakan akhirnya terjawab.
‘Siapa yang ia telpon? Lebih tepatnya siapa yang melakukan video call dengan Zivi yang membuatnya histeris hingga menangis tapi mengatakan senang sekali?’ Eibi ingin tahu.
“Thanks God! Akhirnya. selamat! Arrgghh, aku ingin sekali ada disana sekarang. Aku ingin sekali memelukmu!” ucapnya sambil menatap serius layar didepannya. Eibi mengeryit, ‘siapa?’ batinnya
“Nanti ambil cuti dan datang libur. Nenek juga sudah sangat merindukanmu. Jangan lupa ajak suamimu. Dia belum pernah kesini.” Ucap suara dari seberang.
“Hmmm, aku usahakan bisa ambil waktu liburku dan pulang. Aku juga sudah kangen sekali ingin pulang! Soal Eibi, aku tidak tahu apa dia bisa ikut atau tidak” Jawabnya. Eibi mendengar namanya disebutkan tersenyum.
“Kau lagi dimana Vi?” tanya kakaknya mengamati Zivi dan kamar Zivi yang bisa ia lihat.
“lagi di hotel di kota X kak! Kemaren teman menikah, jadi Zivi datang!” jelas Zivi sambil menunjukan bagian lain dari kamarnya. Eibi yang masih menonton disana merasa terjawab rasa ingin tahunya mendengar kata ‘kak’.
“Suamimu tidak ikut?” tanya kakaknya karena pernyataan Zivi yang tidak mengikut sertakan suaminya.
“Ikut. Dia lagi mandi.” Ucap Zivi dengan sedikit memanyunkan bibirnya “Hallo kak!” Eibi yang tak ia sadari terlihat dalam kamera dengan rambut yang masih basah dan telanjang dada.
“Owh!” syok kakaknya segera mengalihkan pandangannya dari Eibi malu melihat Zivi.
Zivi melotot terhadap Eibi dan mengarahkan kamera pada arah yang lain, “Maaf kak! Pemandangan yang tidak menarik!” Ucapnya pada kakaknya.
‘Tidak menarik!’ Eibi memutar bola matanya. ‘tampan begini, dibilang tidak menarik?’ Eibi merasa terhina. Ia berbalik melihat dirinya di cermin yang kebetulan ada di belakangnya. Tubuh atletisnya yang tinggi, alis mata tebal, hidung mancung, rambut pirang alami, serta warna matanya yang coklat. Masuk dalam kriteria pria ideal yang inginkan wanita, Meski ia tidak mengenal atau dekat dengan banyak wanita selama hidupnya. Ia menggelengkan kepala tidak terima perkataan Zivi.
Cup! Mendarat di pipi Zivi.
“Loudspeaker, please!” Pinta Eibi acuh tak menghiraukan Zivi yang membelalak karena mengecupnya untuk ke dua kalinya pagi ini. dan ini dilakukan di depan screen ponsel dimana kakaknya tak luput menyaksikan hal itu.
Eibi mencabut headset, tak melihat balik ke mata Zivi yang melotot. ‘siapa suruh mengatakan saya tidak menarik!’ batinnya sambil duduk disamping Zivi.
Zivi menggeser sedikit tubuhnya merasakan kedekatan mereka dengan keadaan Eibi belum memakai baju. “pakai baju!” ucapnya dengan kesal pada Eibi. ‘Apa yang akan kakak pikirkan melihat mereka seperti ini?’ kesal Zivi dalam batin.
Eibi menuruti perkataan Zivi untuk memakai baju. Ia beranjak ke lemari untuk mengambil baju.
Dalam keadaan batin yang kacau karena ulah Eibi, Zivi mendapatkan pertanyaan yang tak pernah ia pikirkan.
“Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu, Vi? sudah ada tanda-tanda belum?” melihat mereka seperti itu, akhirnya kakaknya bertanya hal yang penting yang bagi mereka yang selama ini mereka nantikan.
“Tanda-tanda apa?” Zivi bertanya pura-pura tidak mengerti.
“Isi Vi. udah isi belum?” tanya kakaknya lagi.
“Isi? Apa itu?” tanya Zivi lagi masih bertahan untuk pura-pura bego.
“masa nggak paham istilah-istilah itu Vi!” keluh kakaknya menghela nafas.
“Hamil. Sudah ada tanda-tanda hamil belum?” memperjelas.
“owh. Mana tahu aku istilah begituan. Hehehehe, Kirain apa kak.” Jawab Zivi dengan tertawa kecut yang dipaksakan.
“doakan supaya kami berhasil kak!” Eibi tiba-tiba melingkarkan tangannya dilehernya dan menjawab kakaknya.
“Amin. Semoga disegerakan!” Jawab kakak Zivi. Eibi sudah mengenakan baju, jadi ia bisa menjawabnya langsung tanpa mengalihkan pandangannya.
Zivi mengeryit, menghela nafas tak senang. ‘Apa pula yang Eibi katakana? Sudah jelas bagaimana pernikahan mereka. Masih menambahkan harapan untuk keluarganya!’
Zivi mengabaikan Eibi yang terus menatapnya penuh arti. Mengambil pakaiannya lalu ke kamar mandi untuk ganti. Eibipun melakukan hal yang sama. Mengganti pakaian casual untuk dan siap-siap untuk pulang.
Tok tok tok!
“Hi, bro!” Sapa Richard dengan akrab. “Donna bilang pagi ini mereka ada janji untuk jalan-jalan. Apakah Zivi jadi ikut atau tidak?” Tanyanya sambil melihat Donna, juga Epi yang tersenyum manis.
Glek! Pintu kamar sebelah Eibi terbuka. Alden keluar dan bergabung dengan mereka, berdiri disamping Epi.
“Hei! Kalian sudah siap?” suara dari belakang Eibi, yang tak lain adalah Zivi. “Sebentar, aku ambil tasku!” Ucapnya lalu segera mengambil tasnya.
Raut muka Eibi gelap. Dirinya tidak diajak sama sekali.
“Kamu mau ikut atau tidak?” pertanyaan yang mencerahkan kembali raut mukanya. Tentu karena Zivi akhirnya bertanya padanya.
“Sure. I’ll join you all.” Ucapnya, berbalik masuk ke kamar untuk mengambil dompetnya. Mendengar hal itu, Alden juga berbalik masuk kamar mengambil kunci mobil serta dompetnya.
Berenam.
“Epi, ikut Zivi atau aku?” Tanya Donna.
“Zivi saja!” jawabnya langsung, karena ia tidak mau jadi yang ketiga diantara mereka. Jika di mobil Zivi, ia ada teman. Setidaknya, ia sudah kenal Alden, dan mereka sesama jomblo.
Tampaklah mereka seperti 3 pasangan ditempat yang mereka kunjungi. Zivi digandeng Eibi, Donna digandeng Richard, dan Epi bersama Alden. Pasangan yang sangat cocok dimata pengunjung lain.
Tak luput dari pandangan Donna dan yang lain akan sikap Eibi terhadap Zivi saat itu.
‘Eibi menggandeng dan menuntun Zivi dengan penuh perhatian. Zivi terlihat menikmati kebersamaan dengan Eibi. Tidak ada keganjalan sama sekali’. Donna membatin.
Alden tersenyum puas dengan kebersamaan dan keharmonisan yang dilihatnya.
Richard dan Epi yang hanya tahu bahwa mereka pasangan yang semestinya biasa saja dan menikmati perjalanan mereka.
Tanpa mereka tahu percakapan Zivi dan Eibi sebelum semua adegan yang mereka lihat.
“Saya pikir kamu tidak akan mengajak saya.” Pernyataan Eibi tepat ditelinga Zivi dengan suara pelan.
“Tentu saja saya mengajakmu. Cuma memberimu pilihan. Anggap saja ini imbalan karena sudah membuat saya menang.” Balas Zivi berbisik balik namun dengan senyuman menggoda. Ia hanya mencandai Eibi.
“Baiklah. Apapun yang saya lakukan hari ini, kamu tidak boleh protes. Hanya diam dan terima. Jika tidak...” tak disangka Zivi bahwa Eibi akan menerima ucapannya begitu saja tapi dengan penuh makna. Tapi apa?
“Apa?” Zivi dengan mata menatap langsung pada Eibi ingin kejelasannya.
“Maka ini tidak terhitung sebagai imbalan untuk saya.” Jawab Eibi penuh dengan senyuman yang membuat Zivi merasakan hal yang tidak enak.
“Baiklah. Setuju.” Namun ia menjawab pasrah. Ia tidak tahu apa yang akan Eibi lalukan nanti. Tidak boleh ia berpikir yang jelek.
“Panas. Pakai ini.” Eibi mengambil topi yang dijual oleh salah satu penjual di dekat mereka dan mengenakannya pada Zivi. Eibi teringat foto Zivi yang mengenakan topi seperti itu.
“Berapa Bu?” tanyanya pada penjual. Zivi tidak bisa mengelak. Eibi tak bertanya padanya. juga itu adalah rejeki buat si penjual, jadi tidak baik untuk menolak.
Eibi membelikan topi untuknya juga untuk dirinya sendiri.
“Ayo, masuk ke dalam.” Ajak Eibi setelah membayar topi yang Zivi pakai.
Zivi mengikuti Eibi, kemana Eibi menariknya, menuntunnya, ia tidak menurut secara alami. Tidak keberatan dalam hati, ia bahkan sangat menikmatinya bersama Eibi. Harmonis!
Melihat pajangan dan patung pahlawan bersejarah serta berkomentar sedikit atau menceritakannya sekilas pada Eibi. Eibi menggenggam tangannya, sesekali melihatnya dan bertanya pada Zivi. setelah semua bagian dalam bangunan mereka jelajahi, mereka keluar.