LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 23 For My Own Shake



Setelah pembicaraan yang cukup panjang malam itu, Zivi merasa hari-harinya lebih ringan dan menyenangkan. Ia sedikit penasaran apa yang hendak Eibi katakan malam itu.


Ya malam itu, setelah dirinya bicara banyak, Eibi tidak jadi mengatakan apa yang ingin ia katakan. Sedikit penasaran, namun tidak begitu mengusik hari-harinya. Zivi merasa senang dan lega.


Sudah satu minggu berlalu. Interaksi dirinya dengan Eibi juga lumayan baik, meski tidak begitu intens dan lama, namun lebih baik dari sebelumnya.


Setelah OR sore itu, Zivi membaringkan dirinya disofa membiarkan keringatnya kering terlebih dahulu sebelum mandi. Namun rasa kantuk menyerangnya hingga tertidur.


Ia tak sadar saat ada sosok yang masuk kedalam ruangannya yang lupa ia kunci.


Sosok itu masuk dan menunduk memberikan kecupan ringan pada bibir Zivi, lalu duduk disana memandang wajah damai yang terlelap didepannya.


Ia sangat lelah. Pekerjaannya pembangunan proyek usahanya yang berhasil disetujui Mr. Caston sudah berjalan dan menguras banyak energinya, baik fisik maupun pemikirannya.


Namun memandang wajah yang ada didepannya membuat hati dan pikirannya tenang, rasa lelahnya juga hilang. Ada rasa lega, senang, dan entah apa yang menyeruak dalam batinnya.


Wajah itulah yang selalu ia pandang selama beberapa hari ini setelah dirinya pulang kerja. Hanya bisa memandangnya saat tertidur. Setelah apa yang dia katakan padanya malam itu, ia kehilangan kata untuk bicara dengannya.


Setelah puas memandang wajah itu, ia beranjak ke kamarnya.


***


“You are home.” Ucap Zivi saat masuk kamar membuat Eibi mendongak dari Ipad yang sedang pandang dengan serius.


“Have you eaten your dinner?” tanya Zivi heran. Biasanya Eibi belum pulang jam segitu. Jadi ia pun masak makan hanya untuk dirinya tanpa mengecek Eibi dikamar.


“Not yet.” Jawab Eibi jujur sambil mendongak melihat Zivi yang masih berdiri diambang pintu.


“Do you want me to cook dinner for you?” Tanya Zivi.


“No. Don’t bother yourself. Even, I haven’t hungry yet.” Jawab Eibi.


“Baiklah.” Jawab Zivi sambil masuk kamar, lalu menutup pintu.


Ia menuju ruang ganti untuk mengambil perlengkapan tidurnya. Namun saat ia melewati Eibi, tangannya ditahan.


“What?” tanya Zivi melihat Eibi yang menahan tangannya.


Eibi menatapnya balik tanpa melepaskannya. Lama. Zivi mengeryit, lalu tersenyum “Am I that beautiful for you to stare?” godanya sambil tersenyum tipis.


What? This girl is teasing me? Eibi tak mau kalah.


Ahhh! Histeris Zivi tanganya ditarik dan membuatnya terjerembab di ranjang Eibi.


Wajah Eibi makin membesar dalam bola matanya. Zivi memelototinya dengan tanda tanya.


“What? Are you ok?” tanya Zivi melihat wajah Eibi yang sudah sangat dekat dengannya. Ia tidak takut sama sekali. Ia tahu Eibi tidak akan melalukan apa yang diluar batasnya.


Eibi masih menatap lama mata Zivi, ingin masuk kedalam perasaan gadis itu melalui tatapannya. Namun tidak didapatinya hal ingin ia dapatkan. Iapun menjatuhkan dirinya disamping Zivi.


“Why did you decide to help me? I mean, why didn’t you ask for a divorce?” tanya Eibi setelah membaringkan dirinya disamping Zivi.


Zivi terkekeh kecil mendengar pertanyaan Eibi, “So, what is on your mind?”


“Do you fall for me?” Tanya Eibi.


Zivi terkekeh lagi mendengar pertanyaan Eibi, “Do you want me to fall for you?” Tanyanya membuat Eibi membisu.


“Don’t worry Mister Akando.” Goda Zivi karena tak mendengar respon Eibi. “I’ll not fall for you. I help you, actually I’m helping myself too. I do it for my own shake” Tambahnya.


“Why?” Tanya Eibi tidak paham. Membantu Zivi dari sisi mana?


“Hmmmmm, actually, I do really wanna ask for a divorce. But it’s not only about me when I devorce.” Jawabnya.


Eibi paham akan apa yang dimaksudkan Zivi. Menghela nafas. “Is that so?”


“Yeah, that’s so. So, let’s walk through this past until the right time for us to say goodbye.” Zivi berkata sambil tersenyum.


Belum seumur jagung pernikahannya, masa ia meminta cerai. Hal itu bisa menjadi guncangan hebat buat keluargannya. Terlebih khususnya nenek. Tidak mau nenek juga kakaknya kecewa dengan pernikahannya yang naas.


‘Biarkanlah seperti ini dulu untuk sementara. Jalani, pasti waktu cepat berlalu, dan hari itu akan tiba.’ Batinnya.


Ya, hari dimana dirinya dan Eibi pas untuk berpisah.


beberapa menit berlalu, tidak ada lagi yang bicara. Hening.


Zivi teringat malam itu Eibi ingi bicara dengannya. Rasa penasarannya kembali muncul. Ia memalingkan mukanya melihat sisi wajah Eibi yang tengah menatap langit-langit kamar.


‘Meski dari dari sampin, tetap tampan.’ Batinnya sedikit terpesona dengan -husband in benefitnya-


“What?” Tanya Eibi memalingkan wajahnya melihat mata yang memandangnya.


“Hmmm, I’m curious what were you going to tell me that night?” Jawab Zivi.


Eibi terkekeh menarik kembali pandangannya kembali menatap langit-langit kamar, “Twas nothing.”


“Owh, baiklah.” Sahut Zivi tidak menuntut Eibi. Ia bangun, lalu melanjutkan kegiatan yang tertunda tadi. "Menurut saya foto pernikahan kita tak perlu dipasang." tambah tanpa berbalik, namun jelas terdengar di telinga Eibi.


"!!"


****


Disisi lain, Kezia sudah putus asa. Tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan untuk bertemu dengan Eibi. Eibi selalu menghindarinya. Ia ke kantor, resepsionisnya tidak mengijinkannya masuk dengan alasan Eibi sibuk dan tidak bisa diganggu.


Jangankan hadiah ulang tahun yang ia harapakan dari Eibi, bertemu saja dengannya sulit. Hari pertamanya saat ia datang, Eibi tidak terlihat bersemangat, malah terkesan cuek.


‘is this because of that woman?’ tidak bisa ia terima. Ingin lebih lama lagi untuk mendapatkan kembali hati Eibi, tapi….


Manajer pribadinya baru saja menelponnya untuk segera kembali. Karena kontrak kerjanya dengan sebuah agency akan mulai berjalan dalam minggu ini.


Ia menghela nafas, tidak mungkin ia melanggar kontrak kerjanya. Dengan kecewa ia memesan tiket untuk kembali ke negaranya.


‘Next time, I definitely will come again.’ Gumamnya pada diri sendiri.


Ia harus kembali mendapatkan Eibi. Ia percaya Eibi hanya mencintainya. Eibi menikah pasti dengan alasan yang belum Eibi ceritakan padanya.


Or…? Imposible! Ia bergidik dengan menggelengkan kepalanya membuang bayangan yang tidak ia inginkan.


‘Let’s see it…’ batinnya sambil tersenyum puas dengan bayangan apa yang akan ia lakukan nanti saat ia kembali lagi.


****


Zivi tertidur dengan cepat.


“Sleeper.” Gumam Eibi melihat Zivi terlelap. Ingin rasanya ia mengangkatnya pindah tidur ke ranjang bersamanya. Namun memikirkan perasaan Zivi, ia urungkan.


Ia bangun dari tempat tidurnya dan menghampiri gadis itu.


Tidak tahu kenapa, selalu ada keinginan itu saat ia melihatnya. Hal yang tidak mungkin ia lakukan saat matanya terbuka.


Ia mengecup bibir mungil gadis itu. Hal itu hanya bisa ia lakukan saat Zivi terlelap. Meski terkesan mencuri, hatinya merasa senang. Ia menyukainya.


Apakah benar menyukainya? Ia bergidik, tidak tahu pasti. Lalu ia beranjak kembali ke tempat tidurnya.