LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 53 Kesalahan Yang Seharusnya Tidak Boleh Terjadi



Pagi menyambut mereka dengan terang cahaya yang menyeruak masuk dari antara kisi-kisi kamar. Eibi membuka matanya dan melihat gadis yang masih terlelap dalam pelukannya.


Cup!


Satu kecupan khas landas dikening Zivi. Eibi melihatnya dengan seksama. Terlihat tenang dan menawan. Wajah polos khas tidur memikatnya. Ia menyampirkan anak rambut yang dengan nakal jatuh menutupi sekilas pandangannya.


“Hmmmm.” Zivi bergumam menggeliat meringsutkan tubuhnya kedalam pelukan Eibi hingga terasa nyaman dan hangat ia terdiam. Eibi tersenyum senang dengan hal itu. ia memeluk dan sesekali mengelus punggung Zivi memberinya kenyamanan.


Setelah puas menuntaskan tidurnya, Zivi membuka matanya dan bertemu dengan tatapan Eibi. Awalnya santai, namun ia terkesiap sadar. Dengan reflek ia mendorong Eibi. Eibi malah mengeratkan pelukannya. “what? Why?” pertanyaan Eibi.


“You’ve already knew the reason!” gerutu Zivi yang tak berdaya lepas dari pelukan Eibi. Sesal meminta Eibi tidur diatas ranjang terlintas. “If I knew, it will be like this…”


“Menyesal? Kamu tidak tahu betapa terlelapnya kamu tidur dalam pelukan saya! Sekarang kamu menyesal? Dan ini bukan yang pertama kali.” Bisik Eibi lembut membuat Zivi terdiam. Ia teringat sekilas semalam dirinya terlelap nyaman dan hangat dalam pelukan Eibi. Apa yang Eibi katakan benar.


Zivi tetap ingin mengutarakan keberatannya dengan gerutuan lemah, “lagipula tidak terjadi apa-apa diantara kita. Saya masih tahu batasan saya!” Ucapan Eibi menelan keberatan yang ia ingin utarakan.


“Batasan?” Zivi menggerutu namun tidak berusaha lagi untuk lepas dari pelukan Eibi. Ia juga tidak pungkiri jika ia merasa nyaman, “lalu waktu kamis pagi itu apa?”


“Itu beda.” Kilah Eibi,


“Apanya yang beda?” Zivi mendongak memelototinya.


“Cup! Ini yang sekarang!” Balas Eibi dengan cepat menundukkan kepalanya mengecup kening Zivi sebagai respon. “waktu itu saya akan pergi. Yang ini baru bangun tidur."


“Sama saja! Lepas, saya mau mandi!” Kesal Zivi sambil mengusap kening yang baru saja dikecup dengan cemberut. Eibi malah mengeratkan pelukannya dan mengunci Zivi dengan kakinya.


“Diam! Kau masih hutang penjelasan padaku!” Ucapnya dengan nada seakan mengancam, namun ia hanya sekedar ingin tahu.


Zivi terdiam, “Apa lagi?” akhirnya bertanya.


“Taruhan. Kamu menang taruhan apa?” Tanya Eibi.


“Hmmm, itu. itu.” Zivi berpikir apakah berterus terang atau tidak. Jika berterus terang, Apakah Eibi akan marah atau tidak.


“Itu apa?” Eibi menuntut. Keraguan Zivi menimbulkan kecurigaannya.


“Hanya sekedar senang-senang diantara kami sesama wanita!” Jawabnya memutuskan untuk tidak memberitahu Eibi.


“Taruhannya apa? Apa hubungannya dengan saya?” Tanya Eibi to the point. Pasti ada hubungannya dengan dirinya.


“Tidak. Tidak ada hubungannya denganmu!” Jawab Zivi, detak jantungnya tidak memungkiri. Kecepatan detaknya meningkat.


“Baiklah. Jika tidak memberitahuku, jangan berharap saya akan lepaskan!” Eibi makin mengeratkan pelukannya. Seakan ia ingin Zivi menyerap masuk kedalam tubuhnya.


“hm, lepaskan. Sesak! Akan saya beritahukan!” Zivi memohon dengan memelas, sesak juga tidak nyaman. Ia wanita normal. Ia risih saat tubuhnya sangat erat demikian dengan Eibi. Pernah mereka dekat, tapi tidak serapat ini. meski dibatasi oleh pakaian tidur, tetap saja tidak nyaman.


“Epi, Donna setuju dengan berpihak pada Lita.” Sambungnya lagi saat menerima diam Eibi, pertanda untuk melanjutkan.


“Saya tidak bisa menolak dan ikut bertaruh. Siapa yang menang, akan ditraktir oleh yang kalah. Yang menang berhak menentukan tempat termahal yang ia mau untuk makan disana!” Terang Zivi.


“Dan kamu memilih untuk kalah dengan tidak mengajak saya sama sekali?” Eibi dengan nada kesal. Ia dijadikan taruhan, dan parahnya, Zivi rela kalah hanya untuk tidak mengajaknya. Apa dirinya bagi Zivi? Dalam taruhan receh seperti itu saja, Zivi menyerah, tidak ingin memenangkannya sama sekali karena dirinya.


“Kalau seandainya taruhannya orang lain, apa kamu akan berusaha?” Pancing Eibi membandingkan dirinya dengan orang lain.


“Hmmm, tergantung. Jika bisa ku menangkan, aku akan berusaha.” Jawab Zivi sambil merenung dan menjawab dengan sungguh-sungguh.


“Dan kamu merasa tidak bisa memenangkan ku?” Eibi belum melepaskan topik menyangkut dirinya.


“Saya hanya ingin jaga jarak seperti kesepakatan waktu itu.” Berterus terang, “Kalau saya mengajakmu, pasti akan menuntut kita dekat karena dilihat orang, harus sekamar.” Zivi mengutarakan keberatan-keberatan dalam hatinya, “dan karena kamu datang…”


“Dan akhirnya kita berakhir seperti ini.” sambung Eibi mengeratkan kembali pelukannya sambil tersenyum. “tapi kamu menang!” tambahnya.


Cup! “Selamat atas kemenanganmu!” Ucapnya lagi setelah mendaratkan kecupannya dipipi sebelahnya. Senyumannya tanda puas tak lepas dari bibirnya. Tanpa diam-diam ia mengecup Zivi pagi ini.


Zivi malu dan menundukkan mukanya. Hatinya kacau. Ia kesal terhadap dirinya, namun perasaan lain juga menyeruak menelan kekesalannya.


“Hmmm, Kamu! Ke tiga kalinya tanpa seijinku!” akhirnya berhasil bersuara dengan kesal menolak perasaan indah yang hatinya berikan.


Ia mendorong tubuh Eibi serta melepaskan diri dan turun dari tempat tidur. Eibi menikmati moment Zivi merona dan melepaskan dari pelukannya. Tepat seperti harapannya. Meski Zivi menolak secara luaran, namun luapan hati yang terpancar dalam sikap dan rautnya tidak akan berbohong.


‘bagaimana jika dia tahu kalau saya sering mengecupnya diam-diam? Dan bukan hanya di kening dan pipinya!’ batin Eibi menghela nafas. *moga tahu saat hatinya sudah untukmu ya Eibi.


Zivi mandi dengan pikirannya yang kacau. Banyak hal yang ia rasakan aneh. Bukan Eibi, tapi dirinya sendiri. Kenapa bisa semalam ia biarkan Eibi memeluknya? Bukan! Itu hatinya tidak luluh, tapi karena mengantuk. Tapi kenapa ia nyaman tidur dalam pelukan Eibi? Saat Eibi mengecupnya tanpa seijinnya? Tiga kali pula Eibi melakukannya. Perasaan apa yang ia rasakan? Tidak sepenuhnya marah. Seharusnya ia marah besar. Tidak ada yang pernah melakukan hal itu padanya. dan tidak boleh ada. Hanya suami masa depan yang berhak atas itu semua kelak. Tapi kenapa tidak ada reaksi marah saat Eibi melakukan itu? Pertanyaan Eibi, Kenapa ia harus pertimbangkan Eibi tidak mengijinkannya pergi? Ada apa dengannya? Terjadi kesalahan yang tak ia tahu, yang tidak ia mau dan tidak ia sadari. Kesalahan yang seharusnya tidak boleh terjadi.


Zivi terduduk lemas tak berdaya. Bagaimana bisa? Apa yang harus ia lakukan untuk menolak dan tak terpedaya?


Tok tok tok


Eibi mengetuk pintu merasakan tak ada suara dari dalam kamar mandi, “Zivi, apakah kamu baik-baik saja?”


Ketukan pintu menyadarkannya “Ya. Tunggu sebentar.” Sahutnya sekenanya, lalu segera membersihkan dirinya.


Setelah ia selesai, Eibi masuk. Gantian mandi.


Arghhhhhhh,


Suara histeris yang Eibi dengarkan. Tak lain itu adalah suara Zivi. Eibi segera membilas diirinya dan keluar.