LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 35 Bridal Shower



Suara bising dilapangan terdengar, menarik perhatian pemain lainnya dilapangan sebelah. Namanya arena lapangan bebas orang bersuara, tak akan ada yang mempermasalahkannya. Mereka cukup menoleh, dan setelah lihat dan tahu, kembali fokus pada permainan masing-masing.


“Terima Don!” suara Lita melengking dari sebelahnya. Donna maju dan memukul bola yang datang padanya.


“Zivi, terima!” seru Epi yang dibelakang.


“Wuhhhh” Zivi melompat memukul bola yang agak tinggi dari jangkauannya. Dan berhasil.


Lita berpasangan dengan Donna, Zivi dengan Epi. Mereka bermain bulu tangkis diakhir pekan untuk mengisi waktu libur mereka. Sekalian hari itu adalah hari istimewa bagi mereka untuk Lita. Sudah hampir 1 jam mereka bermain.


“Setelah bermain bulutangkis, kita harus pulang dan bersiap-siap untuk acara selanjutnya!” ucap Lita kala mereka tengah bermain.


“Yeah. Let’s fun babe. Setelah ini kita akan sangat jarang berkumpul. So, let’s celebrate it.” Sahut Donna yang juga ikut bergabung bersama meraka.


Karena Lita akan menikah, mereka melakukan perayaan kecil untuk melepas masa lajangnya. Epi, Lita, Zivi, juga Donna ikut bergabung bersama meraka. Perayaan sederhana akan dilakukan nanti sore hari menjelang malam. Beruntung hari itu semuanya free dan bisa lengkap.


“Sayang sekali, saat Zivi menikah kita tidak merayakannya ya…” ucap Lita dengan sedikit sedih.


“Iya. Lha! kita tahunya saat sudah mepet hari H.” balas Epi.


Donna hanya memandang Zivi yang sudah tahu keadaan sebenarnya. Zivi terlihat santai dan tak terpengaruh.


“Saya tak kepikiran untuk merayakannya kala itu. but that’s ok. Sekarang let’s be happy with this bride to be.” Ucap Zivi sambil tersenyum pada mereka. “aku sudah capek. Sudah ya. Istirahat, lalu cari makan.” Tambahnya lalu berlalu keluar dari arena. Donna mengikutinya, juga Lita dan Epi ikut beranjak.


Mereka makan di cafe yang dekat dengan tempat bermain bulu tangkis dengan menu pilihan masing-masing.


“Eh, suamimu tahu kamu keluar bersama kitakan?” Tanya Lita.


“Tidak. Dia sedang diluar kota, hehehe” Jawab Zivi terhadap mereka yang menatapnya heran dengan kata pertamanya ‘tidak?-.


“Owh, tapi kamu tidak kasih tahu gitu kalau keluar?” tanya Epi ingin tahu.


“Tidak. Buat apa? Aku keluarnya juga sama kalian.” Jawab Zivi yang tidak sepenuhnya jujur. Ingin hatinya juga demikian, jika saja Eibi suami sungguhannya.


“Yeah, nggak gitu. Cumankan sekarang kamu nggak sendirian lagi. Sudah punya suami, apa-apa beritahulah.” Lita merespond Zivi, “aku gini-gini memberitahu Stefan.” Membandingkan dirinya.


“Yeah, itukan kamu. Tidak semua hubungan sama. Aku dan Richard tidak harus saling melapor.” Sahut Donna bermaksud membela Zivi. Faktanya Richard selalu tahu kemana ia pergi, karena Richard pasti menelpon dan menanyakan padanya sebelum ia memberitahunya. Jika tidak, Richard selalu tahu dari temannya yang tidak sengaja berpapasan dengannya.


“Iya sih. Aku paham maksudmu. Cumakan kita belum menikah, beda sama Zivi.” Lita menjawab namun tidak memaksakan pendapatnya.


“Yeah, cukup tahu saja aku kalau begitu. Teori sebelum menikah Hehehe” Epi yang jomlo bersuara memelas.


Drtt drtt drtt


“Kalian lanjutkan ya. Aku jawab telpon dulu.” Jawab Zivi merasa terselamatkan saat ponsel dalam tasnya bergetar.


Eibi? Dia yang menelponnya. Angkat? Tidak? Angkat? Tidak? Orang yang selalu berusaha ia hindari sejak dari pantai.


Ia hendak menjawab, panggilan berhenti. -berarti tidak perlu- batinnya. Namun ponselnya bergetar kembali.


“Hallo!” Zivi


“Hallo! How are you?” Eibi dengan suara lembutnya. Ia sangat lelah, dan baru sempat menghubungi Zivi. Ia tahu bahwa Zivi free di akhir pekan, jadi bisa menelponnya.


“Fine. How are you?” Tanya Zivi sebagai imbal balik.


“I’m really tired. But it’s fine after I hear your voice!” Balas Eibi yang terdengar menggombal di telinga Zivi.


“What are you doing this time?” Tanya Eibi merasakan Zivi tak merespon ucapannya.


“I’m hanging out with my friends.” Jawab Zivi dengan bola mata diputar.


“Are you at restaurant?” Tanya Eibi memastikan mendengar suara-suara pesanan-pesanan yang disebutkan waitress yang ada didekat Zivi terima telpon.


“Yeah, we have our lunch at restaurant.” Jawab Zivi tidak menyebutkan café, karena baginya tidak perlu.


“With whom?” Eibi


“My……”


“Who are your friends?” Tanya Eibi lanjut memotong ucapan Zivi yang sudah ia tebak. Yang ia inginkan siapa saja teman-temannya.


“Well, Donna, Lita, and Epi. Only four of us.” Jawab Zivi akhirnya.


“Ok, then continue your lunch.” Eibi puas dengan jawaban Zivi.


“Ok.” Ucap Zivi lalu mematikan ponselnya yang membuat Eibi tercengang.


-No other words like bye, take care? - Menghela nafas sabar, meski ia tak suka, ia memahaminya. ‘Bye and take care!’ ucapnya pada ponselnya yang sudah gelap.


“Siapa Vi?” Tanya Epi.


“Eibi” Jawab Zivi sambil tersenyum.


“So sweet! Meski sibuk diluar kota, ia menyempatkan diri untuk menelponmu!” salut Lita dengan diikuti senyuman tawar dari Donna.


Mereka menghabiskan makan mereka, lalu mencari dress cantik untuk acara mereka nanti sore. Mereka sepakat memakai warna putih semuanya dengan sepatu putih, kecuali Lita dengan gaun putih dan highheels putih untuk membedakannya. Mereka mencari crown juga selempang khusus untuk Lita dengan tulisannya.


Setelah semuanya selesai. Mereka kembali ketempat masing-masing, kecuali Zivi, ia ketempat Epi dan akan berangkat bersama Epi nantinya. Sekalian buat pudding bersama Epi untuk anak-anak besok.


Jam 5:30 sore hari Epi, Zivi dan Donna sudah ada di sebuah ruangan disalah satu resto yang sudah mereka pesan dengan tata ruang yang mereka minta. Lita mereka sepakat memberitahu waktunya jam 06:00.


Kartu dengan tulisan unik -bridal shower- dibawahnya -Mrs. Wijaya To Be- sesuai nama calonnya, Stefan Wijaya.


Setelah semuanya seperti yang mereka inginkan memberitahu waitress untuk mengarahkan Lita, teman mereka nanti kesana dan memesan menu yang mereka inginkan, mereka bersembunyi di samping pintu.


Jam 06:00 belum juga Lita muncul. Jam 06:05, juga belum. Sabar. Mungkin masih dandan. Namanya juga calon pengantin.


Jam 06:10 akhirnya mereka mendengar suara handle pintu diputar dari luar.


Lita masuk dan terpana dengan nuansa ruangan yang tidak ia duga. Pikirnya biasa. Namun sangat memikat hatinya, ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. -kalian ya? Paling bisa buat kejutan!- ucapnya dengar suara kecil untuk dirinya sendiri. Ia melihat tulisan ditembok dekat meja yang sudah ditata dengan sendok, piring, juga gelas wine. Ia melangkah pelan dengan pandangan menyusuri ruangan itu. Saat matanya hendak mencapai salah satu dari mereka,


Syurrrrrr syurrrrrr syurrrrrrrr


Potongan-potongan pita kecil berterbangan disertai lampu hias yang menyala berkedip kedip. Tak lupa fotografer, yang tak lain adalah waiter yang ada disana yang mereka minta mengabadikan moment itu. *Beruntung dia adalah kenalan Donna, dan ahli dalam urusan foto. Jadi aman.


Tawa bahagiapun terluapkan diantara mereka. Setelah menyemprotkan pita, yang berterbangan jatuh, sabagian menempel pada tubuh dan pakaian mereka, mereka serempak maju memeluk Lita, dan berhitung 1, 2, 3…… Lita merasakan tubuhnya diangkat.


“Thank you, guys. Thank you so much!” ucapnya sambil cipika cipiki satu persatu.


Setelah moment mereka selesai, mereka mengucapkan terimakasih dan memberitahunya menu bisa di bawa jika sudah siap. Selanjutnya moment mereka sendiri untuk berfoto-foto dan bercengkrama bebas sambil menikmati makanan.


-Akhirnya Lita benar-benar mengalami dan merasakan namanya Bridal shower seperti yang mereka pikirkan dan rencanakan dalam satu moment saat mereka jalan-jalan dan melihat acara bridal shower orang lain. Mereka akan saling melakukannya untuk satu sama lain, namun sayang dirinya tidak. Apakah ia akan mengalami dan merasakannya nanti jika sudah bebas dari pernikahan ini dengan Eibi? - Zivi