
Tidak memerlukan waktu yang lama untuk membangun sebuah Gedung yang besar dijaman yang serba maju seperti sekarang. Asalkan ada dana dan tenaga manusia dan mesin yang lengkap, membangun Gedung besar akan sangat singkat.
Demikian juga dengan Gedung hotel besar yang Eibi bangun -THE RICHELLE HOTEL- yang sedang marak dibicarakan disekitar karena terbaru juga megah.
Hanya dalam waktu kurang lebih dari 5 bulan ia mengusahakannya. Dan mendapat akuisisi cepat setelah pernikahannya dengan Zivi.
Secara keseluruhan, berjalan lancer, dan berhasil.
Saat ini, dirinya sangat lelah seusai mengecek semua persiapan untuk acara peresmiannya esok hari.
Zivi tengah sibuk didapur untuk menyiapkan makan malamnya. Kali ini ia makan sendiri, Eibi memberitahunya hari ini tidak pulang cepat dan tidak ada OR bersama. Jadi Zivi sendirian. Zivi tidak mempermasalahkannya. Ia tidak terlalu ingin tahu apa dan kenapa.
Perasaannya terhadap Eibi tetap pada batasnya, meski kadang sedikit goyah, namun pada akhirnya ia bisa kembali teguh. Dan bisa menjalani hari-harinya bersama Eibi kurang lebih 4 bulanan hingga sekarang.
“Ahhh, apa yang kau lakukan?” seru Zivi terkejut ada tangan yang memeluknya dari belakang.
“Sebentar saja. Saya lelah, butuh sandaran.” Ucap Eibi tidak menyingkirkan tangannya, malah meletakkan kepalanya diceruk leher Zivi.
Zivi bergidik merasakankan hal aneh dengan hal itu. Meskipun Eibi suaminya, namun ia tidak terbiasa dengan pelukan seperti itu, apalagi dengan lawan jenis. Kecuali, keluarga dan teman perempuannya yang dekat.
Suami? Ya, Eibi suaminya, namun ia tidak begitu dekat dengannya hingga sedemikian.
“Jika butuh sandaran, duduklah dikursi dan bersandar, saya lagi sibuk.” Ucap Zivi menolak namun dengan suara pelan.
“Sebentar saja. 5 minutes.” Ucap Eibi memohon dan tak melepaskan pelukannya.
“Huft. Baiklah.” Zivi pasrah.
5 menit berlalu.
“Thank you.” Ucap Eibi sambil mengangkat kepalanya dan melepaskan pelukannya.
“Apaan sih? How dare you...?” sekali lagi Zivi terkejut, bola matanya hampir loncat keluar dari dalam matanya. Eibi mencium pipinya dengan tiba-tiba.
“That's my gratitude for letting me lean on you.” Ucap Eibi sambil berbalik tak ingin melihat raut muka Zivi yang tidak senang dengan perbuatannya. Namun senyum senang, tanpa penyesalan terlihat jelas disana andai Zivi melihatnya.
Eibi meninggalkan dapur menuju kamar.
*****
Di kamar
“Are you busy?” tanya Eibi melihat Zivi berkutat dengan layar ponselnya dengan serius.
“Hummm, little. Why?” jawab Zivi tanpa mendongak. Hati pikirannya fokus dengan latihan soal yang ia kerjakan dalam layar ponselnya. Kali ini target skornya harus tinggi.
“Hmmm” Eibi menghela nafas dan menjawab dangan hmmm yang sama. Hatinya ingin sekali menghentikan gadis itu dari kesibukannya, namun kelihatannya hal penting jadi ia menahan diri.
30 menit berlalu
“Still busy?” Tanyanya lagi, melihat Zivi agak meregangkan tangannya dan lehernya dengan wajah sumringah.
“No. I'm done already.” Jawab Zivi sesaat setelah terhubung dengan pertanyaan Eibi. Dirinya begitu senang, hingga butuh waktu memproses pertanyaan Eibi yang terdengar melalui telinganya.
“Come here.” Ucap Eibi meminta Zivi dengan gaya acuh. Akhirnya yang ditunggu-tunggu dari tadi selesai dengan kegiatannya. Zivi yang tidak tahu sedang ditunggu, santai. Ia keluar dari aplikasi yang sedang ia buka tadi, mendongak melihat Eibi dengan alis terangkat.
“What for?” Tanyanya melihat Eibi yang juga sedang melihatnya. Terpancar aura yang tidak bisa dibaca oleh Zivi.
“Can you just be an obidient girl?” Eibi memincingkan matanya.
“No, I... Ok.” Zivi ingin menolak, namun segera mengatakan ok sambil berdiri setelah menangkap aura mengancam dari Eibi.
“Ahhh” Eibi yang sudah tak sabar, akhirnya bertindak membuat gadis itu histeris kaget tubuhnya sudah ditarik ke tempat tidur.
“Sit here next to me.” Ucap Eibi mendudukkan tubuh yang sudah ia Tarik tersebut.
“Hmmm. Just tell what are you going to tell me.” Ucap Zivi enggan duduk dekat dengan Eibi. Namun tangannya ditarik kebawah, pertanda harus duduk. Zivi menurut.
“Tomorrow is the hotel opening ceremony.” Kata Eibi langsung setelah Zivi duduk.
“Hmmm, I knew.” Jawab Zivi datar “And congrats.” Tambahnya mengucapkan selamat dengan menyunggingkan senyumannya.
“For what?” Tanya Zivi yang merasa tak perlu berterimakasih padanya.
“For being with me and I could reach in this level now.” Jawab Eibi singkat namun jujur dengan yang dirasakannya.
“No need. That's all your own effort. I have No any impact of that.” Timpal Zivi merasa tidak nyaman dengan perkataan Eibi. Ia merasa dirinya tidak memberi kontribusi apapun dalam hal tersebut.
“No. You are wrong.” Eibi menyanggah pernyataan Zivi.
“L... “
“I have something for you.” Ucap Eibi menyalib Zivi yang hendak bicara lagi. Itulah caranya untuk menghentikan Zivi, jika tidak maka argument tiada akhir akan terjadi. Dan apa yang sudah ia rencanakan mala mini bisa gagal lagi. “I hope you like it.” Tambah Eibi sambil meletakkan kotak yang sudah berbulan-bulan ditangannya ke tangan Zivi.
Zivi terbelalak tak percaya melihat kotak itu dalam genggamannya, namun nyata. Ia mendongak melihat Eibi yang tersenyum melihatnya. “Bukalah.” Terdengar suara lembut dari Eibi. Zivi tak bisa berkata apa-apa. Ia membuka kotak itu.
Gelang yang cantik tersemat indah diatas busa dalam kotak tersebut, karena cahaya lampu, ia berkilau. Mata Zivi bersinar, bibir tersenyum sumringah. Melihat hal itu, Eibi sangat senang. Bisa ia baca hati gadis itu sangat puas dengan pemberiannya. Usahanya beberapa bulan lalu mencari model dan mendesignnya tidak sia-sia.
“I'll put it for you. And never take it off from your hand.” Ucap Eibi melepaskan gelang itu dari busanya, lalu melepas kaitnya, melingkarkannya pada pergelangan tangan kanan Zivi yang polos dan mengaitkannya sesuai dengan ukuran tangan Zivi, menyisahkan sedikit rantainya.
“Isn't it beatiful?” ucap Eibi lembut melihat pergelangan tangan Zivi dengan pemberiannya. Ia membolak balik pergelangang itu melihat dari segala sisi bahwa gelang itu sangat cantik dan cocok dengan warna kulit Zivi.
“Bi, sebenarnya kamu tidak perlu repot seperti ini. Kamu berhasil, sudah cukup untukku, dan kita bisa...” Zivi masih enggan dengan pemberian itu. Meski ia sangat senang dan sangat menyukai gelang itu, tetap saja ia merasa tidak nyaman. Jika seperti ini, akan semakin berat nantinya.
Eibi menekan bibir Zivi yang hendak bicara. Eibi tahu apa lanjutan dari ucapan Zivi, jadi ia menghentikannya.
Ia mengangkat tangan Zivi yang sedang ia pegang dan mengecup punggung tangannya.
“Promise me that you will never take it off.” Ucap Eibi mantap. Baginya, gelang itu melingkar di tangan Zivi memiliki artinya yang dalam. Dan hatinya sudah mantap dengan arti itu. Cukup dirinya yang tahu. Tak perlu mengungkapkannya.
“Yeah. And thank you. It’s beautiful.” Zivi yang mendengar ucapan Eibi yang penuh kelembutan, ikut terhanyut, dirinya yang biasa syok dengan hal-hal asing jadi terbuai. Ia ikut menjawab dengan lembut sambil menatap tangan sendiri. Iapun memeluk Eibi tanpa sadar. Pelukan murni tanpa tendensi apa-apa. Eibi dengan senang hati menerima pelukan Zivi, bahkan mengeratkan pelukannya.
Waktu yang terus berjalan, dan alarm alami tanda istirahat yang tidak bisa dihentikanpun menyerang.
“Huaaaammm” Zivi menguap dengan tangannya menutup mulutnya. Malu jika dilihat Eibi.
“Mengantuk?” Tanya Eibi melihat mata Zivi yang berair.
Gadis ini, tidak peduli jika hatinya senang atau tidak. Rasa kantuk datang harus tidur.
“Hmmmm, terimakasih hadiahnya, dan selamat untukmu.” Ucap Zivi tersenyum pada Eibi lalu beranjak menuju sofanya.
“Sleep with me.” Eibi menahan Zivi.
“What? No.” kembali aslinya keluar. Ucapan Eibi membuatnya syok lagi.
“Just sleep with me here. Only for tonight. I'm really tired and also happy. I want to share them with you.” Ucap Eibi memelas dan memohon.
“Just sleep.” Zivi dengan suara normal namun ragu-ragu pertanyaan berupa pertanyaan.
“Hmmm.” Ucap Eibi. Terlihat dari matanya ia sungguh-sungguh dan tak ada maksud apa-apa.
Malam itu Zivi tidur bersama Eibi di ranjang. Eibi memeluknya erat membuat Zivi risih dan ingin melepaskan diri.
Namun Eibi tidak membiarkannya “nyaman sekali seperti ini. Biarkan aku tidur seperti ini.”
“Huft...”
“Huammm” menguap lagi, mengantuk berat.
Zivipun terlelap.
Mendengar hembusan nafas lembut nan teratur, Eibi membuka matanya.
Dipandangnya wajah Zivi, tersenyum lembut dan mengecup gadis dalam pelukannya itu.
Besok acara peresmian hotelnya, dan sebelum acara peresmiannya, ia berhasil memberikan gelang yang sudang berulang-ulang tertunda ia berikan.
Sekarang persoalannya, Zivi akan datang ke acaranya besok atau tidak?