LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 25 Menghindar



Malam berlalu, hari yang barupun tiba.


Zivi menjalani aktifitas seperti biasanya, demikianpun Eibi dengan kesibukannya.


Sore hari saat pulang, Zivi tidak langsung pulang seperti biasanya.


Ia mengikuti Donna ke tempat Gym untuk ngegym disana. Ia tidak ada niat untuk pulang olahraga dirumah.


Olahraga Bersama Eibi?


Oh, no!


Meskipun hubungannya dengan Eibi sudah jelas, tetap saja harus menjaga jarak untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain, Zivi masih mengingat ucapan orang tua yang mengatakan, -sekuat-kuatnya perempuan, ia bisa jatuh. Ingat, perempuan itu makhluk yang lemah.- Ada juga ucapan lain yang mengatakan, -jika seorang wanita dan seorang laki-laki bersama, meskipun tidak ada apa-apa, namun saat setan tolak, bisa bilang apa?-


Terus, bagaimana jika dirinya jadi suka dengan Eibi jika sering Bersama dan dekat? Tidak dipungkiri, lama-lama mengenalnya, dia memiliki pesona.


Huft… harus dihindari. Takut jatuh cinta!


Dengan semua itu, Zivi memutuskan untuk daftar Gym Bersama Donna. Lebih baik bayar harga sedikit, asal aman dan nyaman dan selamat.


Berbeda dengan Eibi. Hatinya sudah melunak. Hatinya ingin makin dekat dengan Zivi. Meskipun selalu ada saja problem yang membuatnya tidak terlalu mendekati gadis itu, selalu ada cara lain yang terpikirkan olehnya.


Tidak tahu kenapa, ia ingin dekat dengannya.


Mungkin merasa bersalah. Mungkin juga rasa terimakasih. Atau rasa nyaman dan senang saat bersama dengan gadis itu. Tapi intinya ia ingin gadis itu dekat dengannya.


Sore ini ia pulang cepat, dan sudah berencana pulang cepat untuk olahraga bersama Zivi. Urusan sisa pekerjaan, biarkan Alden yang handle dan melaporkan hasilnya nanti.


Setiba dirumah, sayang sekali Zivi tidak ada.


Belum pulang? Kemana dia?


Eibi mencari Zivi.


Zivi sedang mendaftar jadi anggota baru di tempat Gym setelah itu ia sekalian membeli pakaian gym yang baru untuk langsung ia pakai. Donna juga terus berada disampingnya menemaninya.


Saat hendak mulai ngegym, ada yang menyapa mereka.


“Hi… I’m Anthony” Zivi sedikit terkejut dengan orang yang menyapanya. Ia mengingat wajah yang tersenyum didepannya itu.


“Hi, I’m Donna.” Donna menerima uluran tangan pria itu dengan santai.


“Yeah, hi… Zivi” jawab Zivi menerima uluran tangan yang sudah 4-5 detik menggantung disana.


“I know.” Jawabnya sambil tersenyum.


“Hmmm, I see.” Jawab Zivi sambil mengecek pakaiannya dan siap untuk ngegym Bersama Donna.


“Don’t you remember me?” Tanya pria itu menarik kembali pandangan Zivi dan Donna ke arahnya.


Zivi mendengarkan pertanyaan pria yang bernama Anthony itu, namun ia tidak langsung menjawabnya. Ia bergegas ke salah satu alat gym bersama Donna. Pria itu mengikutinya di alat gym sebelahnya.


“I remembered you.” Jawab Donna yang memang sudah pernah melihatnya di tempat ulang tahun pacarnya waktu itu. Kedua, ia melihatnya saat pernikahan Zivi. “You’ were the photographer of her wedding, right?” tambahnya sambil melihat ponselnya, panggilan masuk.


“Yeah, you are right.” Jawab pria tetap melihat Zivi yang pasif dengan percakapan mereka. Zivi sudah mulai olahraga, tidak menyadari pria yang memperhatikannya. Sementara Donna menjawab telponnya.


Anthony dalam diam memperhatikan Zivi dan juga mulai ngegymnya mengikuti Zivi. Tak lama, Donna pun bergabung dengan mereka. “sebentar lagi pacarku datang.” Ucap Donna memberitahu Zivi.


“Owh, that’s good.” Ucap Zivi fokus tanpa menoleh pada Donna.


Menarik! Batin Anthony melihat sikap cuek Zivi. Meski penampilannya sederhana, tapi dengan tubuh yang ramping, kulit yang indah, membuatnya mempesona. Harusnya cukup membuat Eibi jatuh hati dan melupakan Kezia, apalagi melihat video kezia bersama dirinya.


Perkenalan singkatnya dengan Zivi, sudah meninggalkan kesan tentang Zivi. Juga sedikit ada rasa bersalah, karena Zivi adalah korban perbuatannya. Berharap agar Zivi dan Eibi bisa saling mencintai dan bahagia.


1 jam berlalu. Waktunya pulang. Merekapun berpisah.


“Nice to meet you.” Ucapan perpisahan mereka.


Siapa yang tahu, bahwa didepan ada Eibi yang melihat mereka sedang mengucapkan perpisahan demikian didepan tempat gym.


Eibi tidak senang melihatnya.


Anthony lagi? Karena dia, Kezia mengkhianatinya. Sekarang dia mendekati Zivi lagi. Tidak bisa dibiarkan. Bantin Eibi.


Anthony pergi, Donna juga pergi kearah parkiran mobil. Demikian juga Zivi menuju parkiran motornya.


***


Ia tahu siapa yang masuk ke dalam rumah, tanpa melihat langsung melontarkan pertanyaan utama.


“I… I join the gym from today.” Jawab Zivi jujur.


“Why? Did you forget what I said yesterday?” tanya Eibi menuntut. Sekarang matanya langsung menatap Zivi.


Huh! Ada apa dengannya? Batin Zivi melihat ekspresi Eibi yang ia rasa berbeda dengan pertanyaan yang demikian.


“I… I feel tired. I need to freshen up.” Ucap Zivi tidak menjawab pertanyaan Eibi, dan langsung pergi.


Dirinya lelah, badannya lengket karena keringat ngegym, dan butuh mandi untuk menyegarkan dirinya.


Usai mandi Zivi seperti biasa menyiapkan tempat tidurnya.


Bughh…


Eibi dengan santainya duduk diatas sofa yang sudah Zivi siapkan.


What? Pertanyaan tanpa suara terpancar dari sorot mata Zivi yang membelalak kearah Eibi.


“I didn’t forget what’ve you said yesterday.” Ucap Zivi menjawab pertanyaan Eibi yang tadi.


“So, you avoid me?” tanya Eibi.


“No.” jawab Zivi.


“Then, why?” Tuntun Eibi “uncomfortable?”


“Yes.” Jawab Zivi singkat.


Damnn it, this crazy girl, she answered directly without hesitation. I just wanna know her more, become closer with her. Eibi menahan nafas.


“Why you didn’t tell me yesterday if you feel uncomfortable?”


“Hei, you didn’t ask my opinion. Moreover, this is your house.” Jawab Zivi.


“Please, get up. I need to sleep.” Pinta Zivi.


“Yeah, it’s my house, but your house too. I thougt you won’t doubt me to exercise with you.” Terang Eibi. “Why did you feel uncomfortable with me?”


“I…” Zivi kesulitan menjawab. Harus jawabnya bagaimana.


Mengingat hubungannya dengan Zivi yang tidak berawal dengan semestinya, ditambah dengan Zivi yang sudah tahu kenyataan hubungan pernikahan mereka, apa Zivi marah padanya?


“Apa kamu membenci saya?” tanya Eibi dalam Bahasa.


“Tidak. Tidak ada untungnya membenci mu. Semua sudah terjadi.” Jawab Zivi sambil mendudukkan dirinya diujung sofa. Lelah dirinya berdiri terus.


“Kalau begitu, kenapa kamu tidak ingin olahraga bersama saya?” tuntut Eibi “Kenapa kamu merasa tidak nyaman?”


“Saya… Saya hanya mau agar kita seperti biasa saja, jangan sampai terlalu dekat.” Jawab Zivi dengan pelan dan menuturkan kata-katanya agar halus.


“Do you afraid to be close with me?” Tanya Eibi.


“Yeah.” Jawab Zivi dengan anggukan.


“Do you afraid to fall for me?” Tanya Eibi langsung ke point yang ia inginkan kejelasannya.


“What? No way!” sanggah Zivi langsung dengan wajah memerah.


Seperti kata orang, kadang kita akan langsung bereaksi jika pernyataan orang itu benar, demikianlah yang Zivi alami sekarang. Tidak mau mengakuinya. Meskipun itu bukanlah alasan sepenuhnya.


Eibi menyadari hal ini, iapun menantang Zivi “If it isn’t the case, then we’ll exercise together from tomorrow on.” Pernyataannya.


“No, I can’t.” sanggah Zivi.


“Have you fallen for me?” Tanya Eibi dengan senyum menggoda Zivi.


Zivi memelototi Eibi, “No. you are over thinking!” jawab Zivi. “I’ve paid for 1 month. So, I’ve to join the gym.” Jawab Zivi. Meski jadwal Gymnya tidak setiap hari, paling tidak ada alasan untuk tidak OR bersama Eibi.


“your gym class is not every day. So, except the day of your gym class, you will exercise with me.” Ucap Eibi tegas lalu bangkit dari sofa lalu keluar dari kamar. Masih ada yang harus ia kerjakan, ia ruang kerjanya.


Zivi hendak protes, namun protes apa, pernyataan Eibi benar. Dengan sebal ia menghempaskan dirinya ke sofa dan tidur. Buang semua hal apapun hari, terlebih yang menyebalkan. Tidur.


Saat Eibi kembali ke kamar dan mengecupnya, ia sudah tidak tahu apa-apa.