
Donna mengibas pikirannya yang terasa tidak benar.
>>>
“Hei! Pulang kemana?” Zivi bersuara setelah mobil terus melaju melewati arah jalan kostnya.
“Pulang ke rumah! bukan kost!” Tanpa basa-basi Eibi menjawab santai, tak menyadari raut wajah yang tak senang.
…
“Kamu mandilah terlebih dahulu!” Dengan lembut Eibi menatap Zivi dan memintanya mandi setelah tiba di kamar.
Gadis itu belum memberinya muka. Terlihat bahwa ia masih kesal padanya. Tapi ajaibnya saat bertemu pak Tejo tadi bawah, ia bisa dalam sekejap manis dan lembut. Wajah mendung dan datar tak terlihat sama sekali. Berubah secepat membalikkan telapak tangan.
“Hmmm, biar saya mandi dibawah!” Zivi bermaksud baik agar Eibi juga mandi disaat yang bersamaan, namun airmukanya belum berubah. Tak bisa ia ubah. Ia masih kesal. Ia menjawab tanpa melihat Eibi.
“Tidak perlu.” Eibi menolak, “kecuali kalau kamu mau kita mandi bersama!” Eibi menambahkan untuk menggoda Zivi, mencairkan suasana. Tapi hasilnya sebaliknya. Api panas kembali panas, malah menjadi lebih panas. yang mendengarnya kembali kesal dan lebih kesal.
“Apa kau sudah gila?” respon yang Zivi berikan tanpa memperhatikan lagi kata-katanya. Tapi godaan itu membuat Zivi mematung sebentar dan melihat padanya. tatapannya penuh kilatan cahaya.
“Hehehe!” Eibi terkekeh dengan respon Zivi.
Jika demikian, bagaimana jadinya kemajuan hubungan mereka nanti jika Zivi demikian? Terus menolaknya. Eibi merasa lucu membayangkan bagaimana nantinya.
“Saya hanya bercanda! Mandilah dengan tenang.” Eibi berujar setelah berhenti dari tawanya yang makin membuat gadisnya itu geram.
Jangan sampai Zivi makin marah dan tak bisa diperbaiki lagi. Ia mendekati Zivi, dan dengan ragu mengelus kepala Zivi. melihat Zivi yang hanya menatapnya, namun tak menolak, ia memberanikan diri mengecup sisi kepalanya. Sepenuh mencurah perasaannya pada kecupan itu, lalu segera meninggalkan kamar.
Huft! Zivi menghempas dirinya pada sofa. Perasaannya berkecamuk. Kesal, iya. Namun ia merasakan juga kelembutan pria itu saat mengecupnya.
Perasaan macam apa ini?
Kenapa Eibi memperlakukannya demikian?
Perasaannya mengatakan Eibi menyukainya. Eibi menyayanginya. Tapi…
Selalu ada kata tapi!
Mungkin hanya dirinya yang berpikiran berlebihan!
Zivi mengenyahkan pikiran-pikiran yang sudah kian kemari bertabrakan dalam pikirannya.
Perlu segera mandi agar menjernihkan kembali pikirannya.
Sementara Eibi didapur ia sibuk membuka isi kulkal yang sudah dipersiapkan Bibi Surti sesuai pesanannya siang tadi.
Ia akan membuat steak ayam sederhana sebagai makan malamnya dengan Zivi. Tak lupa ia memasak nasi sedikit jika Zivi memerlukannya.
Ia menyiapkan sprite sebagai ganti wine sandingan steaknya. Inginnya wine, namun mempertimbangkan Zivi, ia menggantinya.
Tak butuh waktu lama menyiapkannya.
Setelah siap, ia kembali ke kamar dan mendapati Zivi yang baru saja keluar dari ruang ganti.
“Mandilah.” Sambutan Zivi padanya. meski pendek, namun raut muka Zivi tidak lagi sedatar sebelumnya, Zivi juga memberinya muka saat bicara.
Senang bukan main hingga membuatnya terhanyut, tak bisa mengatakan apa-apa.
Ia menatap gadis itu dengan seksama. Tatapan yang berubah mejadi tatapan kagum.
Dengan pakaian rumah biasa, kaos putih serta celana kain hitam selutut, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping. Karena baru selesai mandi, terlihat wajahnya yang segar, juga harum dari sabun mandinya tercium menyejukkan. Rambutnya yang tergelung keatas memperlihatkan leher jenjangnya yang menawan.
Eibi kagum. Kagum pada makhluk ciptaan Tuhan dihadapannya itu. Alangkah indahnya dia. Dengan tatapan biasa saja, ia menawan. Apa lagi jika ia tersenyum!
Tapi ada satu yang mengganjal yang membuat Eibi berhenti dari kekagumannya. Jika Zivi tenang demikian, pasti ada sesuatu. ‘Jika berkaitan denga napa yang Alden bicarakan, ia tidak akan membiarkannya!’ Membatin.
“Hmmm, tunggu saya mandi sebentar.” Pintanya lalu menuju kamar mandi.
“Owh ya, saya lupa bahwa tidak ada persediaan makanan. Apa yang ingin kamu makan? Kita pesan saja!” Zivi memberitahunya sebelum ia sepenuhnya menutup pintu kamar mandi.
‘sebenarnya bukan lupa, namun memang sudah lama ia tidak kembali. Tidak mungkin ada persediaan makanan!’ Zivi menyadari hal ini dan ia hanya bisa menggunakan kata – kata yang tidak memalukan untuk memberitahu Eibi.
Eibi juga menyadari hal ini, tapi ia menyukai bagaimana Zivi memberitahunya, ia bisa merasakan suasana hatinya. Jadi ia tidak ada niat untuk menggodanya.
“Tidak perlu memesan. Aku sudah menyiapkannya. Tunggu sebentar, dan kita bisa makan bersama!” jawabnya lembut sambil tersenyum membuat yang mendengarnya tersenyum samar.
Eibi menutup pintu kamar mandi dengan puas hati. Ia menangkap senyum Zivi, meski samar, tapi itu juga senyum murni yang ia lihat, bukan paksaan.
Sambil menunggu Eibi, Zivi menyisir rambutnya, lalu duduk disofa sambil melihat-lihat kamar yang sudah berminggu minggu ia tinggalkan.
Drtttt drrttt ponselnya berbunyi.
“Hallo!” Menjawab panggilan dari Damon.
“Sedang apa?” pertanyaan dari seberang yang terdengar sayu.
“Duduk santai.” Jawab Zivi sambil melihat darinya dalam cermin dan tersenyum kecut ‘santai?’
“Suamimu pulang dan hanya duduk santai?” Damon bertanya dengan miris.
“?” terdiam sejenak sebelum menjawab, “lalu harusnya apa yang saya lakukan?”
“Yeah, paling tidak saya bisa mendengar bahwa kamu sedang bersenang ria atau apalah.” Damon menjawab kecut, namun ia ingin memastikan dugaannya benar.
“Owh, haruskah?” Jawaban Zivi yang seperti mencemooh membuat Damon lega, hubungan Zivi dan Eibi berjalan seperti harapannya.
Saat Eibi keluar dari kamar mandi, ia mendongak dan kembali membuang muka, salah tingkah namun ia berusaha menutupinya, “sudah ya. Saya masih ada urusan.” Ucapnya pada Damon, lalu memutuskan telpon setelah Damon menjawabnya.
Eibi tersenyum melihatnya namun tidak menggodanya, namun alisnya terangkat, ‘siapa yang menelponnya?’
Eibi segera keruang ganti dan segera keluar kembali dengan pakaian kasual seperti yang Zivi kenakan.
“Selesai. Yuk!” Ia mengajak Zivi turun dengan memberikan tangannya.
Zivi bangun tapi tidak menerima tangan Eibi membuat Eibi tersenyum kecut menarik kembali tangannya.
Rupanya Zivi masih belum mencair.
“Siapa yang menelponmu?” bertanya.
“Teman.” Jawaban pendek Zivi.
…
Tidak ada apa – apa dimeja makan. Hanya sebotol sprite berukuran sedang serta dua gelas, piring yang diatasnya ada garpu juga pisau.
‘Apa yang Eibi siapkan?’ Zivi bertanya juga dalam hati.
“Silahkan duduk! Sebentar saya keluarkan makanannya.” Eibi mempersilahkan Zivi duduk bagaikan tuan putri.
Zivi menurut tanpa suara.
Eibi mengeluarkan steak yang ia diamkan dalam microwave tadi agar tetap hangat dan meletakkannya ditengah tengah meja.
Zivi mengangguk-angguk melihat menu yang Eibi sediakan. Ini jawaban dari pertanyaannya.
“Saya siapkan ini. semoga kamu suka!” ucap Eibi sambil duduk dikursinya.
Zivi tidak menjawab hanya anggukan sebagai jawabannya.
“Saya siapkan nasi jika kamu merasa perlu.” Ucap Eibi lagi.
“Tidak. Cukup!” Zivi menjawab singkat biasa, namun dalam hati sedikit terharu. Eibi ternyata memperhatikannya yang suka makan nasi.
Eibi mengambil steak dan meletakkannya diatas piring Zivi dan untuk dirinya sendiri. Zivi hanya berucap ‘thank you’ dengan suara halus hampur tak terdengar. Tak lupa Eibi juga mengisi gelas mereka dengan sprite.
“Ayo makan!” Eibi lagi yang berbicara. Zivi bak tamu yang datang dan dijamu oleh Eibi, namun demikian Eibi tidak keberatan. Ia memahami suasana hati Zivi.
Ia akan diam saat suasana hatinya tidak baik, seperti sekarang ini. kemungkinan besarnya adalah dirinya si penyebab.
“Hmmm” Zivi bersuara sambil memotong steak miliknya. Dan Eibi menghentikan gerakannya memotong steak, mengeryit melihat Zivi yang ia rasa hendak berbicara.
“Sambil makan, saya mau membicarakan suata hal denganmu.” Zivi berbicara dalam sekaligus bagai air mengalir tanpa hambatan.
Deg!
Kalimat itu lagi!
Eibi membeku.