LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 40 Saudara Ketemu Gede



Sejak malam itu, Zivi mulai mengunci ponselnya. Ia lega bisa kembali kontak dengan Ronald dan menejelaskan alasannya pada Ron yang mengiranya sombong dan sudah melupakannya. Meski harus berbohong untuk tetap menjaga nama baik Eibi.


“Saya berangkat ke tempat kerja ya Pak!” lapor Zivi pada Pak Tejo sebelum dirinya ditanya terlebih dahulu.


Pak Tejo terkesiap dan tertawa kecil dengan menggelengkan kepala, biasanya ia bertanya. Sejak Tuannya memintanya untuk bertanya, ia selalu bertanya jika Zivi keluar.


“Setelah pulang kerja, dan ingin pergi ke tempat lain, beritahu ya neng! Biar kami tahu dan tidak khawatir.” Pinta Pak Tejo.


“Iya, Pak! Zivi berangkat!” Zivi melajukan motornya menuju kerja.


Setelah malam itu, komunikasi mereka lebih sedikit ditambah dengan pekerjaan masing-masing yang menyita waktu. Terutama Eibi yang lebih sibuk karena hotelnya dan juga usaha lainnya sedang naik.


Sudah 2 malam, Eibi dan Alden belum kembali. Pastinya tanggung jawab pada Pak Tejo. Jadi wajar jika pak Tejo ingin dirinya memberi kabar.


***


Hari berganti, peka pun tiba.


“Saya ikut bersamamu!” Kantuk Zivi yang masih melekat hilang sekejap mendengar ucapan itu. Eibi yang biasanya masih tidur sudah bangun. Tidak salah? Ini waktu libur baginya, bukan?


“Hmmm, Asal tidak meminta pulang setelah disana!” Jawab Zivi mengiyakan. Biarkan Eibi ikut, biasanya temannya -Lita, Epi, dan beberapa family yang datang ke pernikahannya- bertanya kenapa suaminya tidak diajak. Mumpung Eibi ingin ikut, Zivi biarkan.


Dalam perjalanan itu Eibi mengambil kesempatan untuk meminta maaf pada Zivi untuk memperbaiki kembali hubungan komunikasi mereka.


“Sudah, lupakan! Saya sudah memaafkan mu.” Jawab Zivi memberikan senyum tulusnya. Ia sudah memaafkan, meski rasa tidak nyaman saat komunikasi itu masih ada. Namun ia benar-benar sudah memaafkan. Butuh waktu untuk memulihkan komunikasi mereka.


“Siapa Vi?” Bisik salah satu ibu muda dalam komunitas saat melihatnya datang bersama Eibi.


“Saudara saya!” Jawab Zivi sambil tersenyum, “Kenalkan!” Zivi memperkenalkan mereka. Juga Eibi berkenalan dengan anggota komunitas yang lainnya, juga ada Mr. Clark dan istrinya yang berasal dari negara yang sama dengannya yang membuatnya nyaman. Zivi menyerahkan Eibi pada mereka dan menuju bagian anak-anak untuk membantu rekan-rekannya.


“Itu benaran saudaramu, Vi?” Tanya rekannya, Nadya dengan senyum malu-malu.


“Cakep sekali!” Komen salah satu rekan Zivi saat dalam ruangan anak-anak.


“Iya. Cakep dari mana?” Zivi menyanggah ucapan itu, meski cakep tapi tidak begitu. itu dalam benak Zivi, “Ayo, mulai! Jangan ngobrol mulu!” Ajak Zivi pada mereka yang terpesona dan bergabung dengan Epi, Lita serta rekan lainnya yang sudah di depan.


Seperti sebelumnya, mereka mengajak anak-anak menyanyi dan bergerak untuk meregangkan tubuh mereka sebelum kegiatan mendengarkan cerita dan aktifitas lainnya.


Eibi meninggalkan Mr. Clark dan menyusul Zivi ke ruangan anak-anak yang sudah ditunjukkan padanya. Ia masuk dan melihat anak-anak yang menyanyi sambil berdiri dengan antusias.


Hati Eibi tersentuh melihat wajah-wajah kecil nan polos menyanyi sambil bergerak dengan ceria. Rupanya Zivi selalu bersama mereka setiap hari libur tersebut. Eibi bisa menebak bahwa Zivi menyukai anak-anak. Ketenangan hatinya, kelembutannya juga keceriaannya adalah bukti bahwa ia sering bersama dan menghadapi anak-anak.


Ia melihat-lihat, mencari sosok yang ia cari, dan ternyata tertutup oleh anak-anak yang berdiri, sedang Zivi duduk mengiringi anak-anak dengan gitar.


Eibi makin terpesona akan Zivi, diam-diam ia mengambil ponselnya dan memotretnya Zivi dengan pose menunduk.


Setelah mengiringi anak-anak bermain gitar, Zivi melihat sosok Eibi. Ia menyerahkan kegiatan berikutnya pada rekan yang lain, dan menghampiri Eibi yang tersenyum padanya.


“Kamu kenapa disini? Disini akan membosankan!” Ucap Zivi. Ia berharap ibi bergabung dengan yang lain.


“Membosankan? Tidak. Ini sangat menyenangkan. Saya suka!” Balas Eibi dengan senyuman lebar.


“Baiklah jika demikian. Tapi saya harus kembali membantu rekan-rekan saya, kamu bisa duduk dikursi sana atau bergabung dengan anak-anak.” Ucap Zivi memberi Eibi pilihan lalu kembali bergabung dengan teman-temanya.


Eibi memilih bergabung dengan anak-anak dan benar, sangat menyenangkan berbicara dengan mereka saat membatu mereka mengerjakan kreatifitas. Awalnya sulit, karena anak-anak tercengang melihatnya, namun tidak begitu lama, anak-anak menerimanya.


“Sepertinya mereka menyukaimu!” Komen Zivi mendekatnya saat anak-anak bubar.


“Bye, Mister!” Ucap salah satu anak yang terakhir keluar. Zivi melihat anak itu dengan tersenyum, Eibi membalasnya dengan bye juga lambaian tangan.


“Ya, Hi! Eibi.” Balas Eibi menyebutkan namanya.


“Nadya!” Jawab teman Zivi dengan senyum khasnya.


“Hei, jangan genit-genit kamu!” Bisik Epi melihat Nadya yang tersenyum malu-malu.


“Tidak. Kenalin, ini saudara Zivi.” Nadya sok akrab memperkenalkan Eibi pada Lita juga Epi.


Lita tersenyum pada Eibi, lalu melihat Nadya, “Iya, saudara ketemu gede!” ucapnya.


Zivi mendengar hal itu tertawa, sedang Eibi hanya menonton mereka dengan alis terangkat.


“Vi, kamu boleh pergi, biar kami yang bereskan ini. Jangan biarkan suamimu menunggumu!” Ucap Epi yang membuat Nadya tercengang mendengar kata suami.


“Baiklah, maaf merepotkan! Dan terimakasih.” Ucap Zivi berterimakasih pada Lita, Epi dan Nadya serta yang lain dengan senyuman dan anggukan untuk menjawab raut bertanya Nadya. Lalu memegang tangan Eibi keluar ruangan.


“Zivi, akhirnya kamu muncul juga!” Sapa Bibi Lili anggota komunitas, “Ada yang mencarimu!” tambahnya.


Zivi tidak bertanya, namun mengeryitkan alis sebagai pertanyaan, “Ronald, bibi baru tahu kalau kalian teman masa kecil. Saat kemarin sore berkunjung, dia beri Bibi ada temannya juga di sini. Dan ternyata itu kamu. Jadi Bibi memberitahunya bahwa biasanya kamu ikut komunitas Bibi.” Ucapnya sambil tertawa kecil.


Zivi mendengar sambil tersenyum dan sesekali mulutnya membundar, ’owh’, ‘begitu ya’.


“Iya, dan dia bilang ikut bibi hari ini hanya untuk bertemu denganmu.” Tambah bibi Li.


“Hahaha, kemarin sore menuju maghrib, kami sudah ketemu Bi. Tidak sengaja.” Terang Zivi sambil tertawa.


“Ini siapa Vi?” Tanyanya melihat Zivi menggandeng pria asing.


“Ini suami Zivi, Bi yang selama ini ditanyakan ibu-ibu lain.” Jelas Zivi. hari itu resikonya untuk mengucapkan kata yang intinya sama untuk memperkenalkan Eibi.


“Hi! Akhirnya ketemu lagi.” Ronald menyapa dengan riang tidak jauh dari mereka, langkah kakinya makin mendekat. Bagaikan penyelamat suara itu bagi Zivi untuk menjelaskan lebih jauh jika Bibi Lili bertanya-tanya lagi tentang Eibi atau pernikahannya. Tak semua orang di undang, termasuk Bibi Lili tidak mendapatkan undangan. Jadi tidak enak hati!


“Tuh anaknya muncul. Bibi tinggal dulu, anak dan suami sudah menunggu.” Ucap Bibi Lili lalu pergi.


“Iya. Baru tahu aku Bibi Lili adalah tantemu.” Komen Zivi, “O ya Ron, kenalkan ini saudaraku.” Zivi melepaskan genggamannya agar Eibi berkenalan dengan Ron.


“Hi, Ronald.” Ronald menyodorkan tangannya.


“Eibi.” Eibi menerimanya. Rupanya ini yang bernama Ron. Batinnya. Tatapan tak lepas dari Ron.


“Setahuku saudaramu…” Ron tak percaya dan ingin memastikan.


“Saudara ketemu gede!” Zivi tahu apa yang akan di ucapkan Ron, jadi ia menirukan ucapan Epi untuk memberitahu Ron. Zivi kembali memegang tangan Eibi dan menaruh tangan kanannya diatas punggung tangan Eibi sambil mengelusnya, “seperti yang kamu lihat!” ucapnya pada Ron dengan pandangan tak percaya.


Cincin yang tidak ia lihat kemarin kini ada, demikian juga dijari pria bernama Eibi itu. jadi yang katakannya benar. Beberapa hari susah bertemu dengannya karena kesibukannya, dan saat bertemu, ia tahu kebenaran yang sesungguhnya. Zivi benar-benar sudah menikah. Pupus harapannya.


“Sekarang kamu baru percaya!” Tambah Zivi sambil tersenyum puas. Namun tak ia sadari ada kekecewaan dimata Ron. Dan Eibi menyadari hal itu.


Setelah bincang-bincang, Zivi dengan riang berbicara, berkebalikan dengan Ron yang terlihat kecewa, akhirnya mereka berpisah dengan janji agar tetap menjaga komunikasi.


***


Perjalan pulang, hening. Eibi maupun Zivi tidak ada yang bersuara. Zivi melihat keluar jendela menikmati pemandangan yang padat kendaraan dengan Gedung-gedung diselingi dengan lahan kosong yang hijau-hijau abu-abu.


Eibi berkecamuk dengan batinnya sendiri. Cara Ron menatap Zivi. Perhatiannya melalui chat mereka. Tatapan kecewa Ron saat melihat tangan Zivi memegang tangan Eibi. Ini sangat jelas bahwa Ron menyukai Zivi. Apakah Zivi menyukai Ron?


Zivi memperkenalkan dirinya pada mereka sebagai suami juga saudara. Saudara ketemu gede. Apa itu?