
Meski ada rasa marah dan sakit hati setelah mengetahui alasan sebenarnya dari pernikahan, ada rasa syukur juga dalam benak Zivi. Jadi apapun sikap suaminya terhadapnya kedepan, tidak terlalu pusing ia memikirkannya. Lagian dia masih utuh, belum tersentuh sama sekali. ‘terimakasih Tuhan… Engkau masih menjagaku’ tersenyum lega memandang langit yang cerah pagi hari itu. lalu melangkah masuk ke Gedung tempat ia berkerja.
“good morning….” Sapanya ramah kepada semua rekan kantornya.
“good morning… pengantin baru kok sudah masuk kerja aja!” respon rekan sekaligus temannya itu. Mbak Rena menatapnya jengah.
Pagi-pagi Zivi memang bangun dan membereskan sofa tempat ia tidur semalam, lalu siap-siap ke kantor tanpa memedulikan tubuh yang tergeletak di ruang tamu. Ia masih belum ada kekuatan untuk menghadapi orang itu.
“Iya nih.” Dona menyetujui ucapan mbak Rena.
“yei… kenapa memangnya kalau pengantin baru? Tidak diwajibkan liburkan setelah menikahkan?” Zivi menjawabnya dengan sumringah.
“ya… ya… baiklah. Kamu benar” mbak Rena memebenarkan jawaban Zivi, dan ia cukup puas melihat ekspresi Zivi yang sumringah. Itu artinya pernikahan Zivi aman.
“Ya, Vi. Kamu selalu benar.” Tambah Dona terkekeh. Tahu akan sifat Zivi dalam hal berdebat pasti akan ada saja jawaban yang pas terlontar dari bibir mungilnya itu.
Hari pertama bekerja setelah menyandang status –istri- tidaklah mudah. Ia harus mengadapi banyak cobaan. Ya. Bagi Zivi cobaan untuk sabar meladeni setiap ejekan atau godaan dari teman-temannya itu. Ada yang berdehem sambil senyum-senyum saat dekat dengannya, ada yang menjawilnya dengan senyuman dan mimik penuh makna. Ada juga yang mengatakan ‘sakit lho, seharus kau libur saja. Kamukan dapat jatah cuti menikah. Kuat juga dirimu Zi’. Macam-macam.
Dan ini lagi teman sebelah meja kerjanya yang kepo, Dona.
“cie…… gimana rasanya malam pertama? Apa sakit seperti yang kebanyakan orang katakan? Atau Nikmat? Cerita dong…” rekan samping meja kerjanya berbisik, menggodanya juga kepo.
Plok
“Nikah sana biar tahu rasanya…” mbak Rena menemplok kepala temannya itu dengan berkas dimap yang sedang ia pegang.
“ya elah, mbak…. Paling nggak kan dapat teori dulu aku sebelum menikah nanti” kilahnya berargumen.
“Teori belum tentu bisa diterapkan dilapangan, mpok. Kadang beda. Apalagi pernikahan. Berbeda.” Jelas Mbak Rena
‘ya, seperti kehidupan pernikahanku sekarang. Berbeda.’ Batin Zivi.
“Vi, tolong cek berkas-berkas ini ya, lihat data-data tamu dan pastikan lagi semua data benar.” Pinta Mbak Rena sembil menyerah map yang berisi berkas-berkas tamu itu.
Zivi segera menerima dan mengecek berkas-berkas itu sambil mengingat lagi dan melihat isi file komputernya, mencocokkan dari computer. Takut tidak cocok.
Masalah pernikahan tak begitu ia pusingkan. Toh, itu tidak akan membuatnya mendapatkan uang untuk biaya hidupnya dan neneknya dikampung halaman. Kerja, kerja dan fokus. Menyemangati dirinya dan tetap bersyukur atas keadaannya saat ini.
Toh mereka sama-sama saling tidak mencintai. Meski ia dibohongi dan dimanfaatkan, itu bukan masalahnya, bukan dosanya. Ya, hitung-hitung berbuat baik. Membantu suaminya yang membutuhkannya.
Dari segala macam cara seharusnya ad acara untuk menolong bukan? Namun Zivi harus menolong dengan cara yang demikian. *Zivi berpikiran positif untuk dirinya sendiri dan menepis sakit hati yang dirasakannya semalam, dimalam pengantinnya.
Flashback On
Layaknya para pasangan, seusai menikah maka akan menikmati malam yang penuh bahagia. Namun berbeda dengan pasangan yang baru menikah ini. Malam yang mereka harus habiskan bersama untuk memadu kasih, malah terlewatkan begitu saja dengan dunia masing-masing.
Bagaimana tidak?
Eibi pergi meninggalkan Zivi pada malam pengantin mereka. Ia menjumpai teman-temannya disebuah kafe tempat mereka janjian saat resepsi sore tadi.
Zivi yang awalnya merasa canggung, merasa lega ditinggalkan. Ia bisa bebas dengan hobby mendengar musik dan menulis. Sesekali ia melihat info dari emailnya berharap ada info beasiswa yang sudah ia nantikan selama ini.
Disela kegiatannya, ia mendengar HP yang bergetar, namun itu bukan miliknya. Ia mencari dan menemukan itu ada meja samping tempat tidur. Ya, dia malam itu ada dikamar pengantin mereka. Kamar Eibi yang semalam ia tempati sudah di hias sedemikian rupa menjadi kamar pengantin.
ZIVI mengambilnya dan melihat nama penelfon dilayar “Kezya”. Awalnya ia abaikan, namun karena HP tersebut terus bergetar beulang-ulang, Zivi pun kepikiran untuk mengantarkan HP itu kepada pemiliknya, EIBI. Suaminya.
Untung ia tahu tempat dimana Eibi dan teman-temannya biasa meet up. Tidak mungkin kafe yang lain selain kafe yang terkenal tempat kebiasaan orang dari kalangan suaminya bersantai. Dan tempatnya tidak begitu jauh dari kediaman mereka. Zivi minta ijin sebentar kepada pengurus rumah dan satpam yang menjaga rumah itu dan kemudian mengendarai motornya menuju kafe.
Zivi dapat melihat suaminya dari tempat parkir. Suaminya sedang tertawa lepas dengan teman-temannya. Tertawa lepas yang seakan taka da beban. Bukankah seharusnya tawa bahagia demikian untuk pernikahan mereka? tentu saja tidak. Zivi dapat memahami hal itu. Karena ia pun merasakan hal yang sama. Namun pernikahan tetaplah pernikahan. Sudah terikat, bukan hanya dihadapan pendeta dan para undangan yang menjadi saksi, terlebih dihadapan Tuhan.
Ya mereka mengikrarkan janji itu atas nama sang pencipta. Meski pencipta tahu hati dan perasaan mereka saat mengucapkannya, tetap saja sudah diucapkan. Bukankah janji yang diucapkan harus dijalankan? Zivi menarik nafas dalam menyadari keadaannya yang demikian. Ia menghampiri suaminya.
“Zivi. namanya Zivi?” namanya disebut oleh salah satu dari mereka “dia lumayan”
“tetap saja aku tidak tertarik. Awalnya aku mendekatinya hanya untuk have fun, Huft…” sahut Eibi, suaminya. Entah kenapa Zivi merasa sesak, dan ia mengurungkan niatnya untuk memberikan HP itu, ia memilih duduk di tempat kosong dekat situ. Jujur ia ingin dengar apa yang akan mereka bicarakan mengenai dirinya.
“kenapa menikahinya? Ku dengar kau sendiri yang memintanya!”
“What? Maksudmu apa?”
“ya, dia ternyata selingkuhan pacarku. Dan dia tidak mau melepaskannya. Caranya adalah membuatku menikah agar pacarku lepas dariku. Dan salah satu caranya menjebakku dengan obat tidur dengan wanita itu dan mengambil video kami tidur bersama. Itu semua setingan dia. Dan dia mengancam akan menyebarkan vidio itu jika aku tidak menikahinya.”
“kasihan sekali kamu, bro. Tapi menurutku, kamu bisa mengklarifikasi hal itu jika disebarkan.”
“tidak semudah yang kamu pikirkan. Aku berfikir seperti itu. Namun tetap saja apa yang dilihat orang yang tetap kuat. Dan pasti akan merusak nama baikku didunia bisnis. Kamu tahukan, aku disini masih memulai, dan aku benci gagal. Jadi aku tidak mau rekan bisnis yang sudah kudapatkan dengan susah payah menolak dan menarik investasinya dari perusahaan yang kurintis.”
“terus apa yang kamu lakukan dengan pernikahanmu?”
“aku belum tahu.”
“jika kau berencana menceraikannya suatu saat nanti, berikan dia padaku. Hahahaha”
“kau pikir barang!” menjitak temannya “dia terlalu baik buat brengsek seperti kamu, hahahaha”
“hei, kau membelanya! Apa kau sadar? Jangan-jangan kau sudah jatuh hati padanya?”
“enak saja! Tak mungkin aku jatuh hati padanya. Kau tahu standarku bukan? Dan aku tidak suka dengan orang yang beda negara. Paham?”
“baiklah! Aku paham. Jadi kau tak akan menyentuhnyakan?”
“tidak akan! Tak mungkin ku biarkan benihku bertumbah dalam rahimnya! Itu hanya akan mengikatku selamanya!”
Cukup mendengarkan yang ia perlukan, Zivi meninggalkan tempat itu. ada senang, ada sedihnya juga mendengar percakapan itu. bukan sekedar sedih, lebih tepatnya sakit hati dan marah.
Ia cukup senang jika dirinya aman. Tubuhnya selamat karena mereka hanya dijebak dengan obat tidur. Jadi malam itu tidak terjadi apa-apa.
Namun ia sakit hati juga marah. Eibi sudah tahu jika itu jebakan, namun tidak memberitahunya. Eibi berbohong dengan alasan tanggung jawab padahal sebenarnya memanfaatkannya agar bisnisnya selamat.
Flashback off
*****
Jam 10 pagi menuju siang
“Eibi, ini sudah saya buatkan. Saya taruh dimana?” Alden menunjukkan map coklat pada Ebi yang, masih sedang berusaha keluar dari zona bawah sadarnya. Mulet dan mengusap mukanya.
“hisss, aku minum lumayan banyak rupanya. Sampai-sampai aku tertidur disini.” Menertawai dirinya sendiri.
Ia tertidur di sofa ruang tamu rumahnya. Saat pulang semalam, ia langsung membaringkan dirinya disofa, mengingat masih ada Zivi dikamarnya. Ia memang sengaja tidur disana selain karena mabuk, ia belum siap sekamar dengan Zivi.
Alden tersenyum melihat tinggah bos dan juga temannya itu “banyak apanya? Kau hanya menghabiskan 2 gelas dan KO!” Alden menyadarkan Eibi yang memang tidak bisa minum lebih dari segelas. Biasanya Eibi hanya minum segelas, itupun pelan-pelan untuk menemani teman-temannya minum bersama.
“ah, simpan saja map itu diruang kerjaku. Saya lagi tidak mau bekerja hari ini dan tidak mau mengeceknya.” Perintahnya ketika melihat map coklat ditangan Alden.
Alden melakukan sesuai perintah bosnya. Namun sampai diruang kerja Eibi, ia memikirkan tempat yang aman agar map itu disimpan ditempat yang aman. Ia memutuskan untuk meletakkannya dalam laci meja kerja Eibi. Ia menarik laci yang tak terkunci itu dan meletakkannya.
Surat itu dapat ia buatkan dengan mudah. Setelah Eibi memintanya untuk membuatkan surat itu, ia segera mengerjakannya, takut kelupaan karena masih banyak hal yang harus ia kerjakan.
Flashback On
“arghhh…...buatkan aku surat perjanjian cerai dengannya” pintanya pada Alden sambil menekan kepalanya yang pusing akibat minum.
“Kamu yakin untuk membuat itu sepihak? Diskusikan dulu dengan istrimu!” Alden menyarankan.
“sudah, buatkan saja! Setelah bisnis kita berhasil, sukses, kita tinggal menyerahkan surat perjanjian itu padanya. Kamukan bisa menirukan tanda tangannya, jadi buatlah diam-diam, tirukan tanda tangannya.” Tidak mau menerima saran Alden.
“berapa lama jangka waktu pernikahannya?”
“Hmmmm, kurasa 2 tahun cukup.” Jawabnya ditengah-tengah menahan rasa sakit dikepalanya.
“baiklah!” jawabnya tak banyak bertanya lagi melihat Eibi yang menahan sakit. Alden tak menyangka temannya itu akan melakukan hal seperti itu. membuat perjanjian cerai secara sepihak.
Flashback Off