
Siang itu, Zivi beserta Donna ditugaskan keluar oleh boss mereka untuk menjemput tamu keluarga dengan tiba-tiba. Mau tidak mau, Zivi dan Donna mau, karena memang semua yang bertugas dalam hal itu keluar. Siapa lagi yang keluar, kecuali mereka berdua yang sudah terlihat tidak ada kesibukan.
Ya, sistem kerja kantornya yang fleksibel dan harus siap saling bantu. Salah satu alasan, mereka tidak bisa menolak tamu yang sudah menghubungi mereka, malah sebaliknya, sebisa mungkin membuat tamu itu membooking lewat mereka. Mereka yang kantor kecil, pekerja sedikit, harus siap dengan cara kerja demikian. Lagipula, semakin banyak tamu yang booking lewat mereka, mereka yang nikmati untungnya.
Setelah menjemput dan membawa tamu ke hotel tujuan, dirinya dan Donna memutuskan untuk mampir makan siang ke restoran yang cukup megah. Kebetulan, mereka dapat tip dari tamu keluarga tersebut. Terlihat tidak pelit, memberi mereka tip yang cukup banyak, cukup untuk makan siang mewah.
Namun hal yang tak Zivi duga, dirinya melihat Eibi sedang ciuman dengan wanita lain. Awalnya Zivi tidak memperhatikan sekitar, dirinya hanya melihat menu dan menunggu makanan pesan mereka tiba.
“Vi, Vi…” panggil Donna.
“Hmmm, ada apa?” ucap Zivi tanpa melihat orang yang memanggilnya.
“Vi, Vi… aku nggak salah lihatkan? Kamu coba lihat, ke kiri, pojokan!” pintanya menggugah Zivi dengan gelisah.
“Apa sih Don?” Tanya Zivi santai melihat Donna lalu mengikuti arahan Donna untuk melihat kea rah kiri pojokan.
Deg! Zivi membisu melihat orang yang dimaksud Donna tak lain adalah suaminya, Eibi.
Sedih! Meski tidak ada perasaan, tetap saja harga dirinya merasakan luka dan merasa malu terhadap Donna. Zivi menarik nafas, menghilangkan rasa sesak dihatinya, juga mengenyahkan rasa tidak nyaman dalam hatinya. Ia menarik kembali pandangannya kearah menu yang ia baca tadi.
Namun bukan membaca menu, ia mengerjapkan mata untuk mengenyahkan cairan dari matanya yang sudah mulai berair. ‘Tidak apa-apa, Vi. Jangan sakit hati. Ini bukan salahmu. Tidak usah malu. Biarkan saja.’ Batin Zivi menenangkan dirinya.
“Vi, apa kamu tidak apa-apa?” Tanya Donna.
“Tidak apa-apa.” Jawab Zivi dengan suara berat.
“Apa pernikahanmu dengan Eibi ada masalah?” Tanya Donna pelan, prihatin.
“Baik-baik saja, Don.” Jawab Zivi dengan menarik nafas berat dan menghembuskannya kembali.
“Vi, lihat aku. Jujur sama aku!” Donna merasakan ada yang tidak beres dari pernikahan temannya itu. Tidak mungkin baik-baik saja. Jelas-jelas Eibi berciuman dengan orang lain. Zivi juga terlihat menyedihkan dengan apa yang barusan mereka lihat. Pasti ada masalah.
“Hmmmm, Kamu mau aku jujur apa?” Tanya Zivi mengangkat kepalanya melihat Donna dengan berani setelah menarik nafas Panjang dan menguatkan hati.
Donna tak menjawab, melihat tatapan Zivi. “Apa kamu masih mau makan?” alihnya tak menjawab Zivi.
“Yap. Kenapa tidak. Kita sudah pesan jugakan.” Jawab Zivi tersenyum miris melihat Donna yang melongo melihat sikapnya.
Meski Zivi tak membicarakannya, Donna bisa merasakannya. Lagipula, dirinya pernah merasakan sakit hari seperti ini sebelumnya.
“Yap. Benar juga. Hahaha” Respon Donna mengikuti Zivi. Tidak membahas masalah yang tak ingin Zivi bicarakan.
Akhirnya makanan yang mereka pesan tiba. Mereka menikmati makanan mereka dengan segala macam ocehan yang mereka bicarakan. Sebisa mungkin tidak ada tentang apa yang barusan mereka lihat dalam kepala mereka.
Meski sementara, tidak apa-apa. Jika itu satu-satunya cara saat ini untuk mengenyahkannya, digunakan.
Setelah selesai, mereka pulang ke kantor. Sudah jam 14:30 siang. Setiba dikantor, Zivi menyibukkan dirinya dengan komputernya. Membuka Web saat tidak adalagi yang bisa ia lakukan. Hingga waktunya untuk pulangpun tiba.
Zivi tidak segera bersiap-siap. Tidak seperti biasanya. Donna memahaminya. Akhirnya, ide gila yang tak ia sangka akan menjadi boomerang bagi dirinya muncul.
“Vi, nggak pulang?” tanyanya.
“Pulang, tapi bentar lagi.” Jawab Zivi.
“Kalau nggak pulang, kamu ikut aku saja malam ini.” Tawarnya.
“Aku malam ini ke club. Ayo ikut. Kamu nggak mau kan, pulang-pulang ketemu suamimu itu.” Ajaknya. Ia berencana membantu Zivi dengan caranya.
“What? Ke club jahanam itu?” tanya Zivi sinis, ada amarah dalam suaranya.
Donna syok mendengar jawaban Zivi. Donna terdiam beberapa saat hingga akhirnya berkata, “Maaf Vi. Aku hanya bermaksud menghiburmu.” Minta maaf menyesal juga merutuki dirinya dalam hati. Dirinya salah mengajak Zivi ke tempat yang bukan selera Zivi. Tapi Zivi tak perlu juga sesinis dan semarah ini saharusnya.
“Owh, terimakasih. Tidak perlu menghiburku dengan cara mengajakku ke club jahanam seperti itu.!” Tolak Zivi marah. Zivi masih mengingat asal mula ia menikah dengan Eibi karena dirinya kesana bersama Donna.
“Tidak perlu marah Vi. Kalau kamu tidak mau kesana, kita ke tempat lain.” Ucap Donna ingin menenangkan Zivi.
“Tidak perlu marah? Kamu bilang tidak perlu marah? Karena kamu tidak mengalami apa yang aku alami.” Ucap Zivi buat Donna bisu.
“Andaikan aku tidak ke club malam bersamamu malam itu, kamu pikir aku akan menikah dengan Eibi?” Zivi meluapkan kekesalannya “semua karena kamu, Don. Kamu bilang akan menemaniku disana, namun kamu meninggalkanku bersenang-senang dengan pacarmu. Bahkan ketika aku diangkat dari tempat itu, kamu tidak tahu.” Zivi menyalahkan Donna. Donna terpaku. Ia sedikit mengerti apa yang Zivi katakan.
Donna menutup mulutnya menahan tangis yang juga akhirnya membuat Zivi melepaskan tangis yang tertahankan.
“Aku minta maaf. Aku tidak tahu. Aku sungguh meminta maaf.” Ucap Donna memohon dengan kesungguhan hatinya, merasa bersalah. Donna memeluk Zivi dengan terisak. Tak ada kata keluar dari mulut Zivi karena masih terisak.
Jadilah keduanya hanya menangis. Setelah tangis reda “Aku mau memaafkanmu, aku bahkan mengatakan pada diriku, aku sudah memaafkanmu. Tapi mengingat kejadian itu, aku masih saja marah. Marah pada diriku sendiri, marah padamu, marah pada Eibi. Marah.” Ucap Zivi dengan air mata masih sedikit- sedikit mengalir dari sudut matanya. “Tapi, harus bagaimana? Sudah terjadi. Aku hanya perlu menjalaninyakan. Asalkan aku tidak memikirkannya, dan memikirkan yang baik-baik, aku baik-baik saja.” Ucap Zivi menguatkan dirinya juga penjelasannya pada Donna.
“Maaf, aku loss control.” Ucap kemudian.
“Tidak apa-apa. Kalau kau tidak seperti ini, aku akan seperti orang bodoh tidak tahu salahku padamu.” Jawab Donna, “Ayo, kita makan ke luar. Ada tempat makan yang enak. Juga tenang.” Ajak Donna akhirnya. Zivi mengiyakan karena dirinya juga belum mau pulang.
****
Eibi menunggu dirumah. Dengan kotak ditangannya. Ia berencana memberikannya pada Zivi malam itu.
Eibi tak mengira bahwa Kezia sungguhan dengan ucapannya ditelpon waktu itu. Dia sungguhan datang. Agar Kezia tak ke kantornya, mau tak mau harus menemuinya diluar.
Dan apa yang terjadi direstoran tadi tidak mengusik hatinya. Ia tidak tahu, dirinya tidak merasakan apa-apa saat bertemu Kezia. Bahkan saat ia dicium tiba-tiba, tidak ada debaran dalam dirinya.
Yang ia pikirkan adalah Zivi. Senyuman dan tawa Zivi yang terlintas dalam benaknya, raut wajahnya yang manis dan tenang saat tidur itu bagaikan iklan TV yang lewat dalam pukirannya.
Tidak sabar bertemu dengannya dirumah. Ia berencana pulang cepat dan bertemu dengannya. Ia juga berencana untuk masak bersama Zivi dan makan malam berdua sebelum memberikan kotak itu padanya.
Namun tak didapatinya Zivi dirumah. Sudah gelap, Zivi belum pulang. Akhirnya ia memutuskan masak sendiri.
Makanan sudah tersedia, Zivi belum pulang. Hingga jam 10 malam Zivi belum pulang. Eibi sudah menelponnya berulang-ulang, namun tidak di angkat.
Eibi akhirnya tertidur di sofa menunggu Zivi pulang. Saat Zivi pulang, ia terbangun.
“sudah pulang?” Tanyanya sambil menyunggingkan senyuman dengan mengerjapkan matanya mengusir kantuk. Zivi terhenti namun tidak menjawab.
Sudah larut, Eibi tidak mempertanyakan kenapa pulang malam sekali “Sudah makan?” tanyanya.
“Sudah.” Jawab Zivi lalu melangkah lagi menuju kamar. Diikuti Eibi.
Zivi tidak menghiraukannya. Ia membersihkan diri dan siap-siap tidur.
Gagal rencana Eibi hari itu. Kecewa. Namun melihat keadaan Zivi yang Lelah, Eibi berbesar hati menerima kekecewaan. Masih ada hari esok, batinnya.