
Hanya menggeleng sebagai respon ambigu yang ia berikan pada Richard.
“Sampai kapan Eibi disana?” bertanya untuk bisa mengkalkulasikan waktu yang ia miliki.
“Tidak tahu. mungkin sampai keadaan papanya semakin baik.” Jawaban Richard tidak memuaskan, tapi paling tidak ia tahu bahwa ia harus mengambil kesempatan sebaik mungkin sekecil apapun kesempatan itu.
Selama ini ia berusaha, namun selalu tidak bisa. Dan kini saat Eibi tidak ada, tidak ada penghalang lain yang membatasinya. Sudah cukup ia melihat dari jauh dan hanya dengar kabarnya dari sumber informasi, meski tidak memuaskan.
***
“Saya sudah sampai.” Mendengar suara Eibi membuat Zivi tidak bisa tidak untuk tersenyum. Suara itu seakan membawa Eibi ada disampingnya.
“Syukurlah.” Hanya bisa menjawab singkat. Tidak mungkin menanyakan kabarnya, pastinya ia lelah dengan penerbangan yang begitu lama. Menyuruhnya istirahat, tidak mungkin. Eibi tahu harus melakukan apa. Mungkin ia ingin segera mengunjungi papanya. “Sudah makan?” akhirnya bisa menanyakan ini.
Kebetulan saat itu Zivi sedang menikmati makan malamnya. Dan disana kayaknya waktu pagi. Pas untuk menanyakan Eibi sudah makan apa belum.
“Nanti. Saya harus segera ke rumah sakit dulu. Tadi saya dengar bahwa Papa makin drop.” Penjelasan Eibi mebuat Zivi menarik nafas dalam dan menggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran terburuk yang hinggap dikepalanya.
“Papa pasti baik-baik saja! Percaya saja!” menghibur Eibi, namun juga menghibur dirinya.
“Hmmm, Pasti.” Eibi menjawabnya tanpa ragu. Zivi tidak mengetahui bahwa Eibi senang dengan ucapannya -Papa-. Zivi menyebut papanya ‘papa’. Papanya berarti juga papa Zivi. meski belum secara resmi dipertemukan, Zivi sudah menyebutnya papa.
“Yap. Jaga dirimu disana.” Zivi segera memberikan tanda untuk mengakhiri telponnya. Tidak mau menyita waktu Eibi.
“Ya. kamu juga. Saya sudah dirumah sakit. saya pergi dulu. Tut.” Eibi menyudahi percakapan dengan memutuskan telpon.
Zivi melanjutkan makannya dan akan packing sedikit pakaian dan oleh-oleh yang akan ia bawa besok. Untung Bos mengijinkannya.
****
Setiba dikota kecilnya Zivi dijemput kakaknya dibandara dan langsung membawanya kerumah nenek. Mereka semuanya berkumpul dirumah nenek dimoment kebersamaan. Zivi langsung memeluk neneknya yang menunggunya didepan rumah setelah turun dari mobil, lalu bergantian dengan kakak ipar untuk melepas rindu. Berkali-kali Zivi mengungkapkan kegembiraannya pada kakaknya atas kehamilannya.
“Lalu kamu kapan Vi?” Tanya kakak ipar mengejutkan Zivi.
Zivi tersenyum malu ditanya seperti itu, “belum tahu kak. Lihat saja nanti.” Jawab Zivi membayangkan dirinya ciuman dengan Eibi. namun hanya sampai disana. Mana mungkin hamil! Hehehe
“Yuk, masuk dulu.” Nenek menggiring Zivi kedalam rumah diikuti kakak ipar juga kakaknya yang membawa koper kecilnya kedalam rumah.
“Btw, Eibi kenapa tidak ikut?” Pertanyaan kakak ipar mengiring Zivi masuk kerumah namun Zivi slow respon masih menikmati rumah yang lama ia tinggalkan.
Kembali lagi ke rumah, rasanya menyenangkan dan tenang. Zivi mengamati rumah sejenak sebelum duduk, tidak banyak perubahan.
“Ahh ya? kak tadi tanya apa? Eibi?” Zivi baru merespon kakaknya setelah ia duduk di sofa.
Kakaknya tak bisa menahan rasa gelinya melihat Zivi yang baru sadar akan pertanyaannya, “Eibi tidak ikut?” ulangnya bertanya dalam bentuk pernyataan.
“Owh, itu. awalnya kami sudah merencanakan kesini bersama. bahkan dia memintaku merencanakannya disaat ia luang agar bisa kesini bersama.” lanjutknya Zivi memberitahu mereka kenapa akhirnya hanya dirinya yang datang.
“Sayang sekali. Semoga papanya lekas sembuh. Nanti kamu bisa membawanya lagi kemari.” Respon kakaknya.
Nenek yang mendengar Zivi bercerita lega. Cucunya sungguh menjalani pernikahan yang baik dengan suaminya. Tidak seperti keraguannya selama ini.
‘Hari ini Eibi tidak menelpon’ batinnya dan berpikir bahwa Eibi pasti sangat sibuk. Ia ingin menelpon Eibi, namun diurungkan.
Dan memang benar diseberang sana Eibi sibuk dengan perusahaan yang agak kacau. Dia harus mengecek semua file yang diperlukan untuk menemukan titik permasalahannya. Tidak geran papanya mengalami serangan jantung. Ternyata karena mendapati keadaan perusahaan yang sudah hampir collapse, mengalami kerugian besar.
“Sayang, makanlah.” Dengan suara manja Kezia masuk membawa rice box serta minta minuman kedalam ruangan.
“Siapa yang memberimu ijin masuk?” Eibi dengan tatapan datar pada Kezia.
“Maaf. Pak. Saya sudah melarangnya masuknya. Namun dia menerobos masuk saat saat saya menerima telfon.“ Jawab sekretaris yang kini berdiri sedikit gemetar didepan pintu.
“Ok. Sekarang kamu keluar.” Menyuruh sekretaris keluar dan bangkit dari tempat duduknya. Ia merasa waktu yang tepat memberitahu Kezia untuk tidak mengganggunya lagi dan bermanja seperti sebelum ia menikah. Jika dulu ia tidak keberatan, meskipun tidak bisa dikatakan ia senang dengan sikap manja Kezia, namun sekarang hatinya sangat keberatan. Ia merasa tidak nyaman dan seperti mengkhianati Zivi.
“Apa maumu? Saya sudah menikah dan jangan ganggu saya!” Jelas Eibi singkat dan tegas.
“Aku mau kamu. Tidak peduli kamu sudah menikah atau belum. Kita belum putus dari awal.” Protes Kezia sambil maju dan memeluk Eibi, “Aku tahu kamu menikah karena pasti terpaksa. Pasti wanita itu menjebakmu!” berbisik lembut sambil mengelus dada Eibi dengan bangga penuh pengertian pada Eibi. ia mengerti Eibi selama ini. Dan ia satu-satunya wanita pertama yang berhasil dekat dengan Eibi bahkan Eibi mau menerimanya jadi pacarnya.
“Terpaksa?” Sengir Eibi miris pada dirinya sendiri. “Awalnya memang terpaksa.” Ia mengakuinya sekaligus menyesali keterpaksaannya. “Tapi kamu harus tahu, yang membuatku terpaksa adalah kau, bukan istriku.” Tegas Eibi sambil mendorong Kezia menjauh dari tubuhnya.
“Maksudmu?” menatap lekat mata Eibi mencari kesalahannya disana. Ia merasa tidak ada kesalahan yang membuat Eibi terpaksa karena dirinya.
“Satu hal lagi, hubungan kita berakhir jauh sebelum saya menikah dengan Zivi! sekarang kamu keluar dari ruang saya.” Berbalik dan Kembali duduk.
“Owh, untung kamu segera datang! Bawa dia pergi!” Eibi mendongak melihat kearah pintu.
Kezia menoleh dan melihat Anthony disana. “Aku tidak mau pergi.” Tolaknya.
Eibi tidak peduli. Ia merapikan pekerjaan yang ia rasa sudah selesai dan berlalu meninggalkan Kezia bersama Anthony di dalam.
Sudah tengan malam, dan ia harus ke rumah sakit melihat keadaan papanya sebentar lalu pulang.
Begitu lelahnya ia tidak menghubungi Zivi, namun ia menyempat mengirimi Zivi pesan singkat sebelum tertidur, “Saya sangat lelah. Maaf tidak bisa menelfonmu.”
Pagi menjelang, Zivi mendapati pesan Eibi padanya dengan haru. Meski tidak menelponnya, ia menyempatkan untuk memberitahunya.
“Saya mengerti. Istirahatlah. Lepaskan lelahmu dalam tidur dan Kembali bangun dengan semangat baru baru esok hari.” Balas Zivi dengan kata-kata puitis yang sebisa mungkin ia rangkai untuk menghibur Eibi.
Zivi melakukan rutin paginya seperti sebelumnya dirumah nenek, namun dengan keseruan dengan kakak ipar serta neneknya saling bercerita. Sedangkan kakaknya siap-siap untuk berangkat kerja. Zivi berencana akan jalan-jalan bersama kakak ipar hari itu. pokoknya selama seminggu ijinnya, ia akan habiskan bersama keluarganya dan melakukan apa yang sudah ia rencanakan.
“Ingat! kakak iparmu sedang hamil, jangan membuatnya lelah.” Pesan kakaknya sebelum berangkat kerja.
“Siap Bos!” Zivi dengan sikap hormat yang membuar kakaknya menggelengkan kepala, ‘adiknya ini, sudah bersuami, tetap saja kelakuannya kadang seperti anak kecil. Membenarkan ucapan yang pernah ia dengar, tidak peduli seberapa dewasanya seseorang, dihadapan ibu, ayah, atau kakaknya sifat ke kanak kanakannya pasti muncul.’
Hari berlalu memasuki sore hari, sedangkan disana pagi hari.
Eibi membuka matanya dengan sisa lelahnya. Meraih ponsel dan melihat pesan yang masuk.
Pesan Zivi yang pertamakali ia baca dengan senyum sumringah. Sisa lelah yang ia rasakan hilang.