
“Are you sure you want to help me? Or tell me what exactly it is?” Tanya Eibi memberi Zivi pilihan. Pertanyaannya menyatakan pasti bahwa Zivi tidak jujur padanya kali ini.
“My suits, 2 pieces!” Eibi langsung menyebutkan apa yang ia perlukan. Zivi segera bergerak untuk membuka lemari Eibi dan melihat isi pakaiannya. Semua digantung rapi dengan warna gelap. Tidak ada warna cerah. Zivi segera melihat menemukan bagian jas digantung dan mengambil dua berwarna hitam. Eibi memperhatikan Zivi menggantungnya di gantungan pakaian ditembok.
“Trousers, 4 pieces.” Zivi bergerak cepat mengambil dan menggantungnya dekat jas.
“Shirt, 5 pieces.”
“Pajamas, 5 pieces.”
“T-shrit, 5 pieces, jacket 3 pieces.”
“Underwear, 10 pieces.”
Semuanya Zivi ambil dengan cepat, kecuali bagian terkhir, ia terhenti.
‘underwear?’ Bulu kuduknya berdiri mendengar itu. ia tidak pernah memegang underwear untuk pria. Bahkan untuk dirinya sendiri, ia malu jika membeli didepan lawan jenis.
“Can you take them by yourself?” Bertanya sambil menunduk dengan suara kecil.
“No. I can’t” Tolak Eibi sambil tersenyum namun dengan nada tegas.
Zivi mendongak, “Really! I don’t have anything to tell you. I just wanna help you this.” Dengan suara memelas agar Eibi mengambil underwear untuk dirinya sendiri.
“Since you wanna help me, so help me with this too.” Eibi menikmati suasana itu dan tak mau melepaskan Zivi.
“Owh, you are …!” Zivi berbalik menuju laci pakaian dalam.
Zivi dengan tangan sedikit gemetar dan gugup mau mengambil underwear yang sudah dihadapannya sekarang.
“I’m sure, you aren’t willing to help me.” Suara Eibi terasa dekat dengannya.
Zivi abaikan dan ingin membuktikan bahwa Eibi salah.
-Hisss, tangannya tak bisa bohong, masih sedikit gemetar ia rasakan! Eibi pasti lihat.- dirinya sendiri menyebalkan untuknya.
Tap! Tangannya terhenti. Bukan dirinya yang menghentikan. Tapi……
Eibi, ia tepat dibelakangnya. Zivi bisa meraskan dadanya bergesekan dengan punggungnya.
Batin Zivi tambah jadi tidak karuan.
“Don’t force yourself to help me!” nafas hangat Eibi menerpas area telinganya. Eibi berbisik padanya. Ia jadi semakin tidak nyaman.
Ia segera mengelakkan kepalanya menjauh, dan tangannya ia lepaskan dari genggaman Eibi.
Ia lari keluar dari kamar dan meninggalkan Eibi yang tersenyum dengan sikap Zivi. Eibi memutuskan untuk tidak memaksa Zivi memberitahu apa yang tidak mau ia katakan padanya, Eibi hanya ingin menggodanya. Lucu saat ia terkesiap, salah tingkah, kikuk ia mengintimidasinya seperti itu.
Eibi semakin tahu Zivi yang terlihat kuat, ceria, berbeda tingkahnya dengan perlakuannya yang dekat dan mengintimidasi. Itu bukti bahwa gadis itu memiliki perasaan untuknya. Dan ia suka.
Sambil tersenyum Eibi mengambil sendiri underwear yang ia perlukan, dan memasukkan pakaian yang sudah Zivi sisihkan tadi untuknya.
Saat selesai, Zivi tidak ada dikamar. Eibi berpikir bahwa ia sedang didapur untuk mencuci gelasnya. Gelas susu tadi sudah tidak terlihat disana.
Lama sekali. Sudah 10 menit sejak ia keluar dari ruang ganti, Zivi tidak ada. Tap tap tap Ia turun dan menemukan dapur kosong.
Ruang OR. Lampu menyala. Benaran saja Zivi ada disana.
“Hahahaha, benarkah? Owh… gitu!” Suara Zivi terdengar dari dalam, rupanya menelpon.
Tok tok tok, glek pintu terkunci.
“Ya?” Eibi menjawab Eibi tanpa membuka pintu. “I’m still answering the call.” Tambahnya.
Eibi tahu ia menghindarinya dan menjawab telpon adalah alasannya. Meski tidak tahu sungguhan Zivi menjawab telpon atau tidak, ia tidak ngotot. Ia tinggalkan Zivi dan menunggu dikamar.
Hingga sudah pukul 11:30 Zivi kembali ke kamar, ingin ia tidur dibawah, tapi tidak ada selimut dan tidak nyaman.
Pelan-pelan membuka pintu.
Huft, lega melihat Eibi sudah tertidur.
Menutup pintu pelan-pelan, matikan lampu pelan-pelan, Ia mengelus dada tidak membuat Eibi terbangun.
Pelan-pelan masuk ruang ganti untuk mengambil alas dan selimut tidurnya.
Semua ia lakukan dengan se slow motion mungkin dan dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan suara. Tanpa ia sadari, ada mata yang diam-diam terbuka untuk melihatnya.
Hingga ia menghilang dalam selimut, baru Eibi tertidur. Ia sudah bertekad jika Zivi tidur dibawah untuk menghindarinya, ia akan benar-benar menggedor pintu untuk membuatnya keluar dari sana.
Sudah larut, Eibipun tertidur dengan tenang setelah Zivi kembali ke kamar. Zivi menghindarinya, namun dengan sedikit trik ia menutupinya agar ia tak ketahuan. Tentu saja Eibi bisa membaca semua itu.
Zivi merasakan terik lampu. Ia menggeliat. Jam 03am. Masih sangat pagi. Hmmmm, ia bangun dari tidurnya, membuka matanya dan melihat Eibi sudah dalam pakian yang rapi berdiri dekat pintu, dekat kontak lampu.
Eibi sengaja menyalakan lampu untuk membangunkannya.
“Owh.” Zivi ingat sesuatu, ia melonjak berdiri dari sofa dan berlari kecil kaluar kamar melewati Eibi.
Eibi ke ruang ganti dan menarik kopernya keluar dari sana, lalu turun kebawah. Zivi sudah berdiri dibawah tangga dengan tas kecil ditangannya.
Saat sudah berdekatan dengan Zivi, Alden muncul dan mengambil koper Eibi untuk dimasukkan kedalam bagasi.
“Hmmmm, I’ve prepared this for you.” Zivi memanfaat kesempatan sebelum Alden muncul lagi untuk memberikan tas kecil itu pada Eibi. Eibi menerima kotak itu dan membukanya.
Roti 2 bungkus dan susu coklat kemasan 2. Dibawahnya ada kotak makan.
Eibi menatapnya sebentar dan melihat isi kotak, tak menjawa? Apa benar dia hanya ingin membantu semalam? Dia bahkan menyediakan snack untuk perjalanannya. “You can take them in the plane if you are hungry.” Suara Zivi terdengar dan Eibi merasa sangat senang dengan perhatian Zivi.
Ia melihat Zivi dan tersenyum. “So, you are really want to help me!” Eibi maju selangkah menghilangkan jarak.
Zivi mendongak sedikit menatapnya dan tersenyum sambil mengangguk. -Eibi mempercayainya. “take care!” Ujarnya.
Eibi mengelus rambut dipuncak kepalanya
Cup! Agak lama.
Zivi terkesiap. Ia merasakan keningnya dikecup. Sebelum ia bereaksi, Eibi melepaskannya. “You act really like my real wife” Bisiknya.
Zivi tersipu mendengar suara Eibi dan menyadarkannya dari kejutan yang barusan ia rasakan.
Eibi tersenyum dan “I’ll take my leave!” Eibi mundur dan berbalik pergi dengan penuh kepuasan.
“Take care!” Zivi akhirnya bersuara lagi setelah Eibi menghilang.
Ia tak percaya. Eibi mengecupnya? Tidak mungkin! Itu hanya halusinasinya saja.
Ia kembali ke kamar dan ingin teidur kembali, namun apa yang barusan terjadi, terasa begitu nyata. Ia teringat mimpinya saat sakit kepala, ia merasakan hal yang sama. Cuma ini beda. Ia benar-benar terbangun merasakan keningnya di cium. Zivi meraba pipinya sendiri, kala itu mimpi anehnya, Eibi bukan hanya mengecup keningnya, tapi juga ini. dan sekarang ia hanya merasakan Eibi mengecup keningnya.
“Arghhh!” Zivi meraung sendiri dan mengenyahkan mimpi anehnya itu dan apa yang barusan ia rasakan. Ini sudah tak benar! Batinnya. Ia berusaha fokus dengan hal lain hingga membuat matanya redup, dan kembali tertidur.