LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 62 Urusan Mendadak



Setelah beberapa detik, Zivi membeku! Ia paham ucapan Eibi.


“Arh!” sontak teriak dan mendorong Eibi melepaskannya segera keluar tempat tidur dan turun.


Sikap Zivi membuat Eibi terkejut dan hanya menggeleng kepala tak berdaya melihat Zivi meninggalkan kamar.


Ia memberitahu Zivi serius dan tidak ada maksud apa-apa! Mana tahu jika Zivi akan bereaksi demikian. Huft!


Bicarakan saja, dia seperti itu! gimana jika …?


Setelah kejadian pagi ini, Zivi agak menjaga jarak dengan Eibi, khususnya kontak fisik saat hendak tidur malam hari.


Tenang saja. Eibi selalu ada cara. Saat sudah terlelap, baru ia akan membawa Zivi kedalam pelukannya. Meski paginya ia harus mendapatkan omelan, namun Eibi memberikan alasan masuk akal.


Scene pagi berikutnya!


Zivi tiba-tiba mendorongnya tengah terlelap.


Syok! Ia membuka matanya dan melihat Zivi disampingnya yang sudah duduk sambil mengelus dadanya.


“What’s going on?”


“You!” “Why did you hug me?” dengan raut wajah tidak senang, nafasnya seperti orang habis berlari.


Eibi langsung paham dengan perkataan Zivi dan mengusir sisa rasa kantuknya.


Huft! Sabar. Dengan pelan Eibi memberikan hipotesa pada Zivi untuk direnungkan sendiri jawabannya. Meski ia tahu, ia yang membawa Zivi dalam pelukannya semalam.


“we are sleeping. We don’t who do it. It maybe you who come closer to me! Or…”.


“!” Zivi diam. Ucapan yang masuk akal. Eibi duduk dan membalik tubuhnya agar mengahadapnya.


“Moreover, what are you afraid of? We are already married. Talk about that to your supouse is really normal. Even between friends, it’s normal. Don’t be worry. I only told you about that, no other intention. That’s natural for man, but I still have selfcontrol!” Eibi seakan memberi Zivi kuliah panjang pagi hari.


Ucapan Eibi yang pelan juga tegas dan menunjukkan ketulusannya berhasil membuat Zivi terdiam namun tidak berani melihat Eibi.


“Look at me!” ucapnya mengangkat dagu Zivi agar melihatnya.


Zivi memahami ucapan Eibi. Sangat paham. Tapi bicarakan hal itu dengan posisi seperti itu! bagaimana ia tidak takut.


“Hmmm, I do know about that!” Akunya dengan setengah suara sambil menatap Eibi namun tidak menjelaskan alasan sebenarnya. Ia cukup lega Eibi tidak ada niatan lain.


“Dan saya paham, sangat paham reaksimu pagi kemarin. That’s normal reaction too from my wife.” Eibi mengecup kilat pipi Zivi sambil tersenyum. Nada suaranya penuh pengertian.


Zivi terdiam sebentar dan segera menarik wajahnya mundur.


Eibi dengan senyuman puas sambil mengatakan itu pada Zivi. itulah istrinya yang polos. Reaksinya normal demikian untuk hal baru khususnya urusan mendalam.


Kemungkinan besar. Tidak. Pastinya, ia tidak biasa mendengar apalagi membahas hal semacam itu dengan lawan jenis dalam keadaan seperti itu. Dan melihat reaksinya barusan. Terlihat ini hal yang sangat baru baginya. Dan itu bersama dirinya. Eibi!


“Jangan cari masalah untuk dirimu!” ujar Zivi ketus dengan bibir manyun!


“Jangan khawatir! Justru kamu yang harus terbiasa dengan hal seperti ini!” Eibi tak bisa tidak menyunggingkan senyuman puasnya.


“Kamu!” Zivi menarik nafas dan turun dari tempat tidur. Ia serius malah Eibi tersenyum.


***


Seharian kerja, Zivi tak bisa tidak memikirkan ucapan Eibi. Mereka sudah sepakat menjalani hubungan yang selayaknya. Meski tidak ada kata ‘saling cinta’ diantara mereka, namun mareka pasangan yang sah secara hukum dan agama. Dan ia harus membiasakan diri dengan hal yang belum biasa baginya untuk Eibi.


Zivi tersenyum miris. Andai dari awal, mungkin sudah terbiasa. Sudah memasuk semester kedua pernikahan, baru dirinya harus belajar membiasakan diri.


Ia memainkan cicin pernikahannya dengan Eibi. Benda pertama pemberian Eibi yang tersemat di jarinya. Mutlak Eibi. Bahkan yang pilih Eibi. Terkesan biasa, tapi ia suka. Sekarang!


Gelang. Benda kedua pemberian Eibi yang tersemat dipergelangan tangannya. Seakan menghitung pemberian Eibi, namun bukan itu. Pemberian ini, lebih ada terkesan rasa manis daripada saat Eibi menyematkan cincin padanya. Tapi keduanya, Eibi beri pesan: jangan pernah lepaskan.


Jangan pernah lepaskan!


Zivi tersenyum. Tandanya itu penting bagi Eibi jika ia mengenakan pemberiannya.


Dalam sela-sela ingatannya, Zivi mengingat gelang yang ia siapkan untuk Eibi. Kapan ia akan berikan? Apakah Eibi akan suka? Apakah cocok untuk Eibi? Atau terlihat feminim jika ia memakainya?


Setelah pulang dari kerja, Zivi melakukan rutinitasnya seperti biasa sambil menunggu Eibi pulang kerja. Eibi akan pulang cepat jika urusan pekerjaan selesai dengan cepat. Namun bagus. Jika ia tidak pulang cepat, Zivi bisa persiapkan dengan baik hadiah balasan untuk Eibi yang sudah ia persiapkan.


Pemikiran panjangnya ditempat kerja membuatnya memutuskan untuk memberikan hadiah itu pada Eibi. Entah ia suka atau tidak, lihat saja nanti. Itu bukan lagi hanya sebatas balasan, tapi sungguhan perwakilan perasaannya dan juga Eibi *meski belum 100% yakin. Perhiasan couple yang tidak dibuat secara bersama.


Mandi, mengenakan piyama blue kesukaannya dan cari menu makan diaplikasi untuk order. Ia memutuskan untuk makan malam bersama Eibi dengan memesan dari luar. Setelah dapat, ia perlu menyiapkan hal yang utama. Hadiahnya untuk Eibi.


Ia masuk kamar dan membuka lemari bagiannya. Ia meletakan perhiasan itu dalam laci lemarinya, berdekatan dengan kotak pribadinya yang berisi arloji milik pria penyelamatnya yang misterius.


Tap! Saat membuka lemari Zivi mengerjapkan mata sambil mengingat! Ada dress baru yang rasanya bukan miliknya. Tapi kenapa ada disini? Penasaran, Zivi mengambilnya dari gantungan dan melihatnya. Ada cantolan kertas yang menunjukan itu dress baru. Zivi menariknya dan melihatnya, “Hah!” tak percaya. Mana ada pakaian dijual dengan tulisan demikian.


-Hadiah untukmu. Semoga kamu suka!- tulisan singkat sepertinya tertuju untuknya.


Apa Eibi? Pasti Eibi! Kenapa tidak bilang? Zivi merenung.


Ya. Eibi. Ini bukan pertama kalinya. Ia pernah melakukannya sebelumnya. Zivi mengingat saat Eibi mengiriminya bunga serta pemberian lainnya saat akan ikut bersamanya di peresmian Hotelnya.


Zivi hanya menggeleng tak percaya. Rasa senangnya tidak bisa terbendung. Penglihatannya jadi blur karena kristal bening yang muncul dengan sendirinya dipermukaan biji matanya. Bukan karena bagaimana hadiahnya, tapi seakan ia bisa merasakan perasaan Eibi untuknya. Ia sudah mengatakan tidak perlu, namun Eibi menyempatkan diri untuk membelikannya untuknya. Manis sekali!


Tersenyum sendiri sambil mendongak agak kristal itu kembali masuk. Ia pastikan bahwa malam ini ia akan berikan hadiah itu untuk Eibi.


Ia berbaring sambil menunggu Eibi. Sudah jam 7, Eibi belum pulang. Zivi putuskan untuk menelpon Eibi. Namun belum ia menyalakan layar ponselnya, sudah ada panggilan masuk. Dan itu adalah…


“Hallo!” segera Zivi menjawab tanpa berpikir panjang. Betapa senangnya, orang yang ia nantikan menelponnya.


“Hallo! Kamu dimana?” pertanyaan yang terdengar dengan merdu ditelinga Eibi. Sesungguhnya Eibi ingin segera pulang dan menyelesaikan dengan cepat pekerjaannya. Namun saat sudah selesai, ada urusan mendadak yang tidak bisa ia tunda dan harus berangkat segera ke pulau seberang, salah satu pulau dimana ia juga menanam sahamnya pada salah satu pusat perbelajaan yang sedang dibangun. Semua penanam saham harus segera kesana.


“dikamar, menunggu kamu pulang!” ucap Zivi dengan pelan, sedikit malu dengan ucapannya sendiri. Entah apa yang akan dipikirkan Eibi dengan ucapannya.


“Jangan tunggu saya. Saya ada urusan mendadak ke pulau.” Betapa senangnya mendengar Zivi berkata demikian untuknya, namun harus memberitahu Zivi demikian berharap ia memahaminya dengan urusan bisnisnya.


“Hmmm, baiklah.” Zivi menelan kekecewaan.


#satu sama ya Vi. kala itu Eibi juga kecewa.


“Tidurlah lebih awal. Dan tunggu saya pulang!” Pinta Eibi.


“Ya. hati-hati, jaga diri diluar sana!” balas Zivi. ia harus memahami Eibi. Bukan hal yang Eibi sengaja. Hadiah bisa ia tunda untuk diberikan.