LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 5 Janji Ketemu



Siang itu, kala Zivi sibuk menyusun data-data pengunjung yang memerlukan jasa pandu wisata, tiba-tiba Hpnya berdering. Nomor yang tak dikenal, namun segera diangkat, kali aja penting.


“Halo, selamat siang”


“Selamat Siang. I’m EiBi. Am I speaking with Zivinia Wulandari?”


“Yes, you are. Did I know you?” tanya Zivi penasaran siapa orang berbicara dengannya.


Kalau orang asing biasanya langsung datang dan menghubunginya lewat nomor kantor.


“oh… no. I am EiBi. I just know you from your Identity Card. And I know your number from Name Card.”


Sontak mengagetkan Zivi dengan dengan rasa senang membanjiri jiwanya. Karena ia hendak minta ijin pulang lebih awal agar bisa mengurus ATM yang baru, sedangkan yang lainnya hendak ia urus belakangan.


*kan nggak bisa lama-lama tanpa duit. Apalagi kota rantau.


“Are you sure?” tanyanya memastikan namun tersirat nada girang disana.


“I am really happy now. Thank you so much.” Tambahnya lagi.


“Yes, I want to give it back to you. So, please come to DEM caffee at 07.00 P.M” terangnya untuk berjumpa lagi dengan gadis yang ia inginkan.


*yang lalu mungkin hanya aku yang melihatnya. Kali ini, ia akan melihatku juga, kami akan saling kenal. Batinnya dengan sunggingan girang di bibirnya.


“What’s up, bro?” tanya Alden ikut senang dengan EiBi meski tak tahu alasan kenapa sahabat sekalian bosnya itu senang.


“you will know it later. Malam ini kau bebas tugas. It’s up to you, mau apa, mau kemana, terserah.” Jawabnya dengan penuh semangat kepada sahabatnya.Tidak lupa menyarankan “cari cewek, maybe kau akan jodoh dengan orang sini. Tak bagus jomblo terus.”


Alden hanya tertawa ngakak mendengarkan saran EiBi. Ia tidak terlalu mengurus hal yang EiBi tidak mau ceritakan. Baginya setiap orang punya privasi. Dan akan ada saatnya EiBi pasti akan cerita padanya.


### sementara di kantor Pariwisata, Zivi dengan semangat dan serius menyelesaikan semua tanggung jawabnya hari itu. Ia membatalkan untuk pulang lebih awal karena ia akan berjumpa dengan orang yang menemukan dompetnya. Bebanku berkurang Tuhan… batinnya dengan syukur.


*****


DEM CAFFEE


Saking senangnya Zivi karena akan mendapatkan kembali dompetnya yang berharga, ia sudah menunggu di DEM CAFFEE 30 menit lebih awal.


Ia belum memesan apapun. Ia hanya sibuk membolak-balikkan buku daftar menu dihadapannya. Pikirnya sedang memikirkan hadiah apa yang akan diberikannya pada orang yang berbaik hati mengembalikan dompetnya.


‘baju’


“jam tangan”


“sepatu”


“dasi”


“Kue. Terlalu murah. Bikin sendiri tapi tidak yakin enak. Tidak tahu juga kan seleranya rasa apa.” Pertimbangannya lagi.


Akhirnya ia memutuskan salah satu dari antara ke empat pilihan yang tersisa.


“baju. Ukurannya apa?” stuck tidak bisa baju.


“jam tangan. Ukuran tangan? Tapi mahal sekali!”


“sepatu. Ukuran kaki?”


“DASIIIIII". Ini pilihan yang paling sesuai.


Sudah bulat pilihannya untuk memberi imbalan dasi.


“ya ampun… mana bisa ia mengenali ku?” gumamya pada diri sendiri cepat – cepat mengambil Hpnya, membuka history panggilan dan menyimpan nomer tersebut dengan nama “Eibi” dan membuka WAnya mencari nomer yang barusan disimpan berharap bisa via WA.


Berhasil… yeiiii!!!


Cepat-cepat mengetik


'Hallo, I am Zivi. Because we haven’t meet yet, I want to tell you that I am wearing blue clothes. Table nomer 10 in the corner near with the window. by Zivi'


Kembali melihat jamnya . 06:55. ‘lima menit lagi.’ Batinnya.


*****


Ditengah perjalanan yang sedikit macet, EiBi membaca pesan yang masuk. Dengan seringai bahagia membalas


' Hi...'


'Ok...'


But to make me sure finding you. Please send your picture. by Eibi


Sudah 07:00. ia baru masuk area parkir DEM CAFFEE.


Tuingggg…


Bunyi pesan masuk. Segera membuka HPnya dan melihat foto yang ia minta dengan senyum puas.senang karena akan bertemu dengan orang yang ia inginkan. Meski tak tahu pasti yang akan ia lakukan nantinya.


Baginya asal senang dari pada terus memanas karena pengkhianatan Kezia.


Zivi melihat jam. 07:05. ‘bentar lagi. Mungkin macet’ batinnya berharap bahwa ini bukan harapan kosong.