LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 68 Suami Idaman



Tak ada lagi ucapan lebih lanjut dari Zivi, Eibi menghela nafas. Kerena sudah malam, dan lapar, Zivi masak mie yang campur sayuran hijau serta udang.


“Enak!” gumam Eibi saat mengunyah sendokan pertamannya.


“Terimakasih!” Zivi merespon dengan santai sambil tersenyum melihat Eibi.


“Aaaa” Eibi menyodorkan sendokan kedua yang ia tiup minta Zivi membuka mulut untuk disuapi.


Zivi menggeleng tanda penolakan dan menyendok makanannya sendiri. Eibi sudah tahu bahwa Zivi akan menolak, ia hanya bisa tersenyum miris, ‘lihat sampai kapan kamu akan menolak berbagi sendok?’ batinnya.


“Biar saya yang cuci piring!” Eibi mengambil alih piring kotor. Zivi sudah masak, biarkan mencuci piring jadi bagiannya.


“Kamu bisa?” pertanyaan meragukan.


“Suamimu seorang perantau, tentu saja bisa.” Menjawab dengan bangga.


“Baiklah.” Dengan menggidikkan bahu Zivi merespon lalu membersihkan piring serta kompor yang sudah di pakai.


Kerjasama! Hati Zivi terasa manis melihat dirinya dan Eibi bekerjasama demikian. Saling, tanpa harus meminta tolong, sama-sama tergerak. ‘suami idaman’ batinnya. ‘Tapi bagaimana perasaannya? Ingin sekali saya tanyakan langsung padanya!’ berdecak gemas dalam hati. Gimana tidak, perlakuan Eibi padanya makin menyeruakkan rasa manis dalam hatinya, dari waktu ke waktu. Hingga dirinya berasa tenggelam dalam lautan madu dan tak bisa keluar lagi.


“Akhhh” Pekik Zivi saat Eibi tiba – tiba mengangkat tubuhnya sebelum menaiki anak tangga.


“turunkan” Zivi menolak berusaha lepas.


“Diam. Jika tidak kita bisa jatuh!” tidak menghiraukan permintaan Zivi malah memintanya diam dan melangkah terus naik tangga. “Sudah makan, tapi tetap saja beratmu seringan ini!” Komentar Eibi.


“Terimakasih!” respon Zivi menganggap ucapan Eibi sebagai pujian. Siapa yang tidak senangkan dikatakan ringan. Tandanya tubuhnya tetap langsing. Itu memang yang ia suka. Olahraga dan mengontrol makanan yang harus dikonsumsi selama ini tidak sia-sia.


Eibi tak menyangka Zivi akan senang dengan ucapannya. Jelas itu adalah komplain.


“Kamu mau mandi duluan?” Tanya Zivi pada Eibi yang kini sudah duduk di sofa dan membuka ponselnya.


“Tidak. Nanti saja. Kamu bisa mandi duluan.” Jawab Eibi.


Zivi berdiri didepan meja rias, merapikan rambutnya dan sekalian memberikan krim pembersih pada mukanya. Kegiatan rutin sebelum mandi.


“Ada apa?” Tanya Zivi sambil melihat Eibi dari dalam cermin. Eibi tengah berdiri dibelakangnya.


“Tidak. Hanya melihat apa yang kamu lakukan!” Eibi dengan seksama memperhatikan Zivi, lalu kemudian duduk disudut meja rias.


“Sebentar!” Ucapan Eibi menghentikan Zivi yang masih mengusap wajahnya dengan kapas.


“Kenapa?” bertanya melihat Eibi memegang sambil memilin mata kalungnya.


“Tidak! Terlihat sangat cocok untukmu!” Pujian yang membuat Zivi tersenyum bangga.


“Hmmm, tentu. Saya langsung menyukainya saat pertama kali lihat. Dan penghasilan pertamaku ku habiskan untuk membeli ini.” Menjelaskan dengan bangga pada Eibi.


Kalungnya kecil, matanya juga kecil, sesuai dengan selera Zivi. tidak begitu mencolok namun terlihat anggun saat dilehernya dan dipadukan dengan jenis pakaian apapun. Ya, karena kecil, gramnya juga tidak besar, jadi tidak begitu mahal dan bisa menggunakan penghasilan pertamanya untuk mendapatkannya.


Lalu melanjutkan membersihkan muka setelah Eibi melepaskan kalungnya.


“Tidak. Bukan masalah baru atau bagus. Tapi kalung ini bermakna bagi saya.” Menjawab tanpa berpikir lagi.


Itu hasil pertama kerjanya, keringat pertamanya setelah menyelesaikan studinya, tentu saja berkesan. Dan memilih kalung itupun bukan asalan, tapi karena memang ia menyukainya, sangat menyukainya. Pertama kali melihat sudah suka. Dan harus tunggu menerima honor dulu agar bisa membelinya. Untungnya saat Kembali ke tempat itu, kalung itu masih disana. Merasa bagaikan jodoh. Jika jodoh memang tak kemana. Itulah yang Zivi rasakan saat itu.


“Selesai! Sekarang mandi!” Seru Zivi setengah suara seperti anak kecil baru menyelesaikan tugasnya dengan baik.


Eibi tersenyum memandang tingkah kekanakan itu, Zivi juga terlihat lebih imut dibandingkan jika Zivi terlihat serius. Ia menyukainya.


30 menit kemudian Zivi selesai mandi, dengan piyama baby dollnya yang biru muda serta handuk yang membungkus rambutnya menghampiri Eibi dan menyuruh Eibi mandi. Eibi sedang duduk disofa dengan kaki satu dipangkukan ke atas kaki yang lain. Ia sibuk dengan tabnya. Eibi beralih pandang dari tabnya mendongak pada Zivi yang mendekatinya.


Setelah Eibi masuk kamar mandi, Zivi melepaskan handuk kepalanya dan mengeringkan sedikit anak rambut yang kena air saat mandi. Ia tidak keramas karena merasa rambutnya belum kotor.


Setelahnya, ia duduk santai di sofa dan membuka IGnya, sudah lama ia tidak buka dan ngepost foto yang baru. Setelah memilih fotonya bersama Epi dan Donna yang menurutnya terbaik, ia post dengan hanya memberikan tanda hati sebagai catatan.


Drtt


Amo menelpon. Senior juga teman SMA yang paling pintar disekolahnya dulu. Setelah lulus, orang tua asuhnya menawarkannya studi keluar dan dia ikut orang tua asuhnya. Meski tidak begitu dekat, dan bahkan sudah berjauhan, tapi Amo termasuk teman baiknya dan bahkan masih mengingatnya sampai sekarang. Disaat senggang dan bisa mereka chat dan Amo pasti memberitahukannya tentang info beasiswa dan tetap menyemangatinya.


“Hallo!” Zivi menjawab telponnya.


“Jissue!” Seruan riang Amo memanggilnya dengan nama pemberiannya dari ujung telfon terdengar di telinga Zivi.


“Amo! Ada apa? Apa kau baik-baik saja?”


Secara otomatis nama ‘Amo’ nama pemberian Zivi pun keluar dari mulut Zivi saat mendengar seruan namanya. Kelebihan senang apa Amo sampai demikian?


Ya, Jissue adalah nama yang Zivi dapatkan dari temannya ini, maka sebagai balasannya, ia memberikan nama ‘Amo’ padanya sebagai ganti Erly nama sebenarnya. Entah apa artinya, Amo tidak memberitahu Zivi, demikian juga Zivi tidak memberitahu arti Amo padanya. cukup diri masing-masing tahu.


“Baik. Sangat baik!” Suara riang dari seberang terdengar dengan sangat jelas ditelinga Zivi meski Amo menjawabnya dengan Bahasa asing. “Kau tahu, akhirnya yang aku tunggu-tunggu keluar. Dan aku jamin, kau pasti mau menerimanya kali ini!” Amo dengan riang memberitahu Zivi penyebabnya riang sedemikian.


Pengumuman beasiswa yang selama ini Amo tunggu-tunggu akhirnya keluar. Tapi kenapa dia yakin dirinya akan terima? “Kenapa kamu begitu yakin aku pasti akan terima? Lagi pula persyaratan belum tentu aku penuhi!” Zivi memberitahukan keraguannya terhadap Zivi.


Masih ada semangatnya mencari beasiswa, meski dirinya bukan fresh graduate, tapi masih dengan impiannya itu untuk mendapatkan kesempatan belajar keluar. Itu juga yang membuatnya terus belajar sambil bekerja.


“Tentu saja yakin, tapi sebelum aku memberitahumu, nyanyikan dulu satu lagu untukku!” Goda Amo dari seberang. Goda? tapi sungguhan Amo memintanya, “sekalian mengingat masa-masa kita Latihan nyanyi persiapan PENSI dulu!”


“Sungguhan nih kau minta aku nyanyi?” bertanya memastikan, “Sudah lama aku tidak menyanyi! Biasanya nyanyi dikamar mandi doang!” sambil berjalan menuju balkon.


“Ayolah! Ya, ya, ya! kangen aku nyanyi bareng.” Mohon Amo. “Kalau tidak aku…”


“Aku apa?” Zivi menggoda Amo dengan ucapan yang tidak diselesaikannya.


“Tidak, tidak, tidak jadi.” Amo akhirnya mengalah.


“Baiklah, karena kau adalah Amoku, bolehlah satu lagu. Tapi nyanyi sama-sama,ok!” Zivi akhirnya mengalah sambil tersenyum.


Dengan obrolan riang, Zivi tidak menyadari sepasang mata dari celah pintu rumah sebelah yang memperhatikannya dengan tatapan yang sendu. Gerak geriknya yang tersenyum, memandang langit, mengibaskan rambutnya, dan setiap gerakan kecil tak luput dari pandangan mata itu.