
“You are my sun shine! hahahaha” tak disangka Amo dan dirinya menyebutkan lagu yang sama. Tapi itu memang adalah lagu kenangan mereka saat dibangku menengah dulu. Gelak tawapun pecah diantara keduanya.
Mendengar Langkah kaki, Zivi membalikan badannya dan melihat Eibi yang sedang mendekatinya. Tampan, segar dan wangi. Satu kata. Zivi suka. Namun ia tetap fokus dengan Amo yang sudah mulai menyanyi dari seberang. Zivi memberi kode diam pada Eibi.
Karena ada Eibi, dengan malu-malu sambil menunduk Zivi menyanyikan bagian yang harus dinyanyikan sama-sama, tanpa ia sadari Eibi yang kini sudah sangat dekat. Tangan kiri dan kanan Eibi yang memegang pagar balkon dikedua sisinya membuatnya terkurung.
“You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are grey
You'll never know dear how much I love you
Please don't take my sunshine away”
Tangan sebelahnya mendorong Eibi agar menjauh, malah Eibi memandangnya sambil tersenyum membuatnya tak berdaya. Dan ia hanya bisa melanjutkan bagiannya tanpa menghiraukan Eibi.
“I'll always love you and make you happy
If you will only say the same
But if you leave me and love another
You'll regret it all someday”
Pada bagaian yang dinyanyikan sama-sama ini, Zivi memberanikan diri menyanyi sambil menatap Eibi dengan senyuman khasnya, malu-malu bercampur menggoda Eibi dengan tangan yang ia ulurkan sambil menyentuh rahangnya dan mengelusnya sedikit dengan jempolnya.
“You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are grey
You'll never know dear how much I love you
Please don't take my sunshine away”
……
Sementara disebelah, mata yang tadi memperhatikan dengan seksama panas melihat pemandangan ini.
“Apa yang sedang kamu perhatikan?” Suara Alden mengalihkannya pada Alden.
“Bagaimana hubungan Eibi dan istrinya?” berbalik sambil bertanya.
Mendengar jawaban itu, Alden tahu bahwa temannya itu memperhatikan Alden dan Zivi dibalkon. Dan dugaannya benar saat ia melihat ke balkon.
“Seperti yang kamu lihat, Mon!” Jawaban Alden tidak memuaskan Damon. Ia sudah bertanya pada Richard, namun dirinya tidak puas. Apa yang ia lihat barusan juga tidak memuaskan hatinya. Ia tidak percaya aka napa yang ia lihat, jelas-jelas Eibi bilang hanya akan main-main dan …
Kini keduanya, Alden dan Damon melihat Eibi dan Zivi dibalkon, tidak tahu apa yang mereka bicarakan, terlihat Eibi tersenyum puas, dan tangan Zivi yang bermain dirahan Eibi, sementara tangan sebelahnya menggenggam ponsel yang menempel ditelinga.
“Ada apa? Tumben kesini? Mau bertemu Eibi juga?” Alden bertanya pada Damon melewatkan raut wajah Damon yang bercampur. Kacau.
“Tidak. Saya hanya bosan dan berkunjung sebentar.” Jawabnya menutupi alasan yang sebenarnya kenapa ia datang.
Melepas pandangan dari keduanya, ia meraih rokok diatas meja untuk mengalihkan kekacauannya.
Sementara Eibi menikmati suara juga tangan Zivi yang mengelus rahangnya. Baginya lagu itu Zivi nyanyikan penuh perasaan untuknya meskipun ia bernyanyi bersama temannya.
Setelah lagunya selesai, Zivi membalikkan badannya dan menghadap keluar balkon membelakangi Eibi untuk lanjut berbicara dengan Amo.
Ia membungkus Zivi dengan jaketnya yang besar, lalu memeluknya dari belakang.
“bye Jissue!” ia mendengar suara itu dari ponsel, jelas itu suara Wanita.
“Bye Amo! Good night!” Balas Zivi.
Ternyata Amo adalah seorang Wanita. Hati Eibi lega. Jissue? Kenapa Zivi dipanggil Jissue?
Setelah mematikan ponselnya, Zivi ingin melepaskan diri, namun Eibi tidak melepaskannya, “Jissue?” kaya itu yang keluar dari mulutnya.
Menangkap itu adalah pertanyaan, Zivipun memberitahukan sekilas ceritanya pada Eibi.
“Kamu memberinya nama, apa kamu memberi nama untukku?” Tanya Eibi, meski terdengar kekanak kanakan dengan memberi nama seperi itu, namun ia rasa ada istimewanya jika diberi panggilan khusus oleh orang tersayang. Seperti keluarganya dan teman-temannya memanggilnya Eibi, sedangkan dalam pekerjaan, ia dikenal dengan nama lengkapnya atau orang menyapanya dengan tuan Akando atau Mr. Baxter. Ia ingin tahu, Zivi akan memberinya nama apa.
“Namamu sudah bagus. Dan saya menyukai namamu!” Jawab Zivi dengan alasan sederhana. Lagipula sudah bukan zamannya memberi nama-nama istilah seperti itu lagi. Bahkan sekarang diajarkan untuk tidak menggantikan nama orang, itu bisa menyinggung orang lain. Alasan paling mendasar, ia tidak pernah kepikiran untuk memberi nama semacamnya pada Eibi.
“Hmmm, bagus kalau kamu menyukai nama saya!” Eibi mendesul pipinya pada pipi Zivi sambil mengumamkan rasa senangnya. “Siapa Amo? Kenapa saya baru mendengarnya?”
“tentu saja. Karena saya tidak sering menyebut namanya atau bertemu dengannya. Dia teman SMA. Dia tidak ada disini juga.” Zivi menjawab Eibi seperlunya, menghindari memberitahu Eibi alasan Amo menelponnya.
“Owh, jadi seperti itu.” Eibi memajukan wajahnya untuk bisa melihat Zivi.
“Hmmm, apa?” Tanya Zivi sambil tersenyum melihat senyuman dalam binar mata Eibi dibawah cahaya remang lampu.
“Tidak.” Sambil menarik Kembali kepalanya dan meletakkan dagunya diatas kepala Zivi. tangannya satunya ia gunakan untuk menyentuh mata kalung Zivi dan memainkannya.
Eibi dengan pikirannya, demikian juga Zivi.
Entah kenapa, Zivi merasa hari itu berbeda. Hari yang penuh dengan Eibi. mulai dari malam saat Eibi pulang, hingga pagi, pulang kerja, dan sekarang. Semuanya Eibi, Eibi, dan Eibi. luangnya hanya saat ia bekerja, selain itu, bersama dengan Eibi. Tapi ia menyukainya. tenggelam dalam pikirannya, tak dirasakannya bahwa Eibi sudah melepaskan kalungnya dan sedang memasang kalung yang ia belikan kemarin.
“Simpan yang ini, dan bisa dipakai ganti-ganti.” Ucap Eibi sambil meletakkan kalung Zivi dalam genggaman Zivi. tidak ia sadari bahwa Zivi sedang tenggelam dalam pikirannya.
“Huh!” Zivi kaget dan melihat tangannya dengan onggokan kalung disana, “kamu!” sambil tangan satunya memegang lehernya.
“Apa yang kamu lamunkan?” tak bisa tidak Eibi bertanya menyadari Zivi dengan tatapan tidak sadar akan apa yang ia lakukan barusan.
“Tidak!” merasa malu ketahuan ia sedang melamun hingga tidak sadar Eibi melepaskan kalungnya.
Huft, jelas ia sedang berpikir. Masih menjawab tidak! Eibi hanya menggelengkan kepalanya.
“Apa kamu menyukai kalungnya?” Tanyanya tidak menuntut Zivi untuk memberitahu apa yang ia pikirkan.
“hmmm, terimakasih.” Zivi hanya bisa mengucapkan terimakasih dengan pemberian Eibi. kalungnya sesuai dengan seleranya. Tidak mencolok. Hampir sama dengan kalungnya, namun mata kalungnya saja yang berbeda motif. Jika kalungnya bermata seperti ketupat, namun ini bermata seperti bentuk hati.
Hati?
Menyadari hal itu, tak bisa tidak hatinya seperti berbunga. Eibi bisa melihat raut wajah Zivi yang senang dari sisi pipinya. Dan mengikuti kata hatinya, Eibi membalikkan Zivi untuk berhadapan dengannya. Ia ingin melihat jelas wajah itu.
Tak bisa menutupi rasa senang, Zivi tetap tersenyum sambil menatap Eibi dengan tangannya yang memainkan mata kalungnya.
Cup!
Reflek Eibi mengecup bibir Zivi secepat kilat membuat si pemilik mematung. Senyuman itu sirna, namun tatapannya tidak melepaskan Eibi.