LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 36 Satu Sendok



Sudah jam 10:00, Zivi baru tiba di rumah. Mereka mengakhiri acara mereka jam 9. Dirinya sangat lelah. Tidak lagi berniat untuk membersihkan dirinya. Efek wine yang hanya dua teguk ia minum serta lelah seharian tanpa istirahat membuatnya hanya ingin tidur. Untuk Eibi tak ada jadi tidak ada yang perlu khawatir atau merasa sungkan.


Bugh… menghempas dirinya diatas ranjang dengan kaki menggantung.


Tanpa ia tahu bahwa jam 01 pagi si pemilik tempat tidur pulang.


Eibi mengeryit mendapati Zivi yang tertidur pulas diatas kasurnya. -rupanya berani tidur diranjang kalau saya tidak ada.- batinnya. Ia masih teringat saat pulang dari pantai, gadis itu cepat-cepat membersihkan diri, dan sebelum ia memintanya tidur diatas ranjang, ia sudah tidur disofa, ditempatnya. Ia mulai merasa kalau Zivi pandai menghindarinya, meski tak pandai untuk membuatnya tak menyadari hal itu.


-Mengenakan dress? Make up? Dari mana ia? - pertanyaan dalam benak Eibi muncul, ia ingat ditelfon Zivi mengatakan ia keluar makan bersama teman-temannya. – acara apa? – dirinya cukup lelah, besok baru akan ditanyakan.


Ia membenarkan tidur Zivi dan menyelimutinya dengan selimut sebelum ia membersihkan dirinya.


-Rupanya ia minum- batinnya saat mencium sedikit aroma wine -acara apa hingga minum? -. Diwajahnya masih terlihat make up tipis, apa perlu dibersihkan? Biasanya Zivi membersihkannya sebelum tidur. Namun resikonya Zivi akan terbangun. Eibi memutuskan untuk membiarkannya saja.


Cup


satu kecupan mendarat, lalu ia beranjak untuk membersihkan dirinya.


Cup


satu kecupan setelah berada disamping Zivi, lalu membaringkan dirinya, menarik Zivi masuk kedalam pelukannya. Hangat dan nyaman ia rasakan dan tak lama terlelap bersama gadis itu.


Alarm alami Zivi membangunkannya seperti biasa jam 05:30 pagi. Ia merasa aneh, berat, ada yang menindih tubuhnya.


Matanya terbelalak saat membuka matanya dada bidang dihadapannya, serta mulai merasakan tangan yang memeluknya dan kaki yang menindih kakinya.


What? Eibi! Sudah pulang, jam berapa ia pulang semalam? Zivi mengingat-ingat semalam Eibi tidak ada, dan pastinya belum pulang. Zivi merasa tidak nyaman. Harusnya ia tidur disofa semalam. Sudah berapa kali ia mendapati dirinya bangun, dan Eibi tidur bersamanya?


Bagaimana caranya lepas jika seperti ini? Zivi memikirkan caranya.


Zivi berusaha dengan nafas tertahan untuk lepas juga tidak membangunkan Eibi. Tangannya bergerak pelan untuk mengangkat tangan Eibi pelan, dan kemudian kakinya. Akhirnya lepas. Huft, lega.


Saat bangun, Eibi sudah mendapati Zivi tak ada. Begitu lelahnya hingga tidur lelap dan tak merasakan Zivi lepas dari pelukannya.


“Pak, Zivi pergi kemana?” Tanya Eibi.


“Tidak tahu, Tuan. Namun seperti biasa ia keluar pagi sekali jika di hari pekan.” Jawab Pak Tejo setahunya.


“Mulai sekarang, tanyakan kemana ia pergi saat ia keluar.” Pinta Eibi, lalu kembali masuk ke dalam rumah. -Gadis itu, tidak pernah repot memberitahunya kemanapun ia pergi. Padahal ia sudah selalu memberitahunya jika ia pergi, jika ia sibuk. Paling tidak menelpon atau memberi pesan ia pergi kemana. Ini sama sekali tidak!- Eibi membatin sambil menggelengkan kepalanya. -Apa perasaannya bahwa Zivi menyukainya juga hanya ilusi belaka? - mulai meragu. Setelah itu iapun keluar bersama Alden ketempat dimana Zivi dan teman-temannya waktu makan bersama.


“Siang Pak.” Salam Zivi saat siang hari sudah pulang, “Ini pudding untuk Bapa!” sambil menyerahkan 1 pudding dari kantongnya. Ya, hari itu, ia membawa pudding lebih 2 dari tempatnya melayani anak-anak. Ia dan teman-temannya tidak ada rencana keluar setelah lelah semalam, jadi langsung pulang setelah melayani anak-anak.


“Terima kasih Non. Non Zivi dari mana?” Tanya Pak satpam akhirnya ingin tahu karena tuannya tadi pagi.


“Saya ikut komunitas Pak, tapi saya menangani anak-anak.” Jawab Zivi, “Saya masuk dulu Pak.”


“Iya, Non. Silahkan. Sekali lagi, terimakasih untuk puddingnya.” Pak Tejo berterimakasih lagi.


“Sama-sama Pak. Itu bukan apa-apa.” Ucap Zivi lalu masuk. Rumah kosong, seperti biasa Eibi mungkin keluar. Zivi melakukan rutinitasnya dengan cepat lalu beristirahat.


“Pak, apakah Zivi sudah pulang?” Tanya Eibi saat sudah pulang di sore hari.


“Sudah Tuan. Non, Zivi pulang siang hari tadi.” Jawab Pak Tejo, “Katanya ada kegiatan komunitas anak-anak gitu.” Jelas pak Tejo.


“Baiklah, terimakasih.” Jawab Eibi, lalu Alden kembali melajukan mobilnya masuk menuju garasi, “Mari Pak.” Ucapnya pada Pak Tejo.


“What’s the matter, bro?” Tanya Alden pada Eibi akhirnya setelah ia mematikan mesin mobil.


“No. Nothing. I just feel uncomfortable. She is avoiding me these days.” Jawabnya singkat, dan Alden tahu siapa yang Eibi maksud.


“It’s normal, Bro for her. Except you tell her …” Ucap Alden, “Do you have a feeling for her?” Tanya Alden akhirnya tak percaya dengan penemuannya.


“I think yes.” Aku Eibi.


“You tell her, and ask about her feeling.” Alden menyarankan.


“I have told her by action.” Jawab Eibi seperti yang ia yakini dari perkataan ‘actions speak louder than words’, itu cara yang paling tepat untuk menunjukkannya pada Zivi “And I felt that she does have the same feeling with me.” Tambahnya mengungkapkan apa yang ia rasakan dari Zivi. Cuman saja tadi pagi ia meragukannya.


Alden tidak memberitahu Eibi lagi untuk menyatakan perasaannya secara langsung. Ia tahu bahwa Eibi bukan orang yang akan mengatakan hal itu. Ia hanya akan menyatakannya lewat tindakannya bahwa ia care dan sayang. Terhadap Kezia juga demikian, dan malahan Kezia yang menyatakan cinta padanya. Bagaimana dengan Zivi? Apakah ia akan menyatakan duluan seperti Kezia?


Terdiam. Lalu keduanya keluar mobil menuju tempat masing-masing. Eibi tidak meminta Alden bersamanya karena ia ingin segera menemui Zivi.


Ia naik, segera membuka pintu, cadata! Orang yang ingin ia jumpai tidak ada. Ruang bawah? Ia ia segera kesana.


Kamar terlihat gelap dari luar. Clek, pintu terkunci. Kalau tidak di kamar, Zivi hanya bisa di jumpai di kamar itu, jika ia tak nampak di dapur.


Tok Tok Tok


Tak ada tanda-tanda orang bergerak membukakan pintu untuknya.


Dia tidur. Eibi sudah tahu itu.


Shit! Ingin rasanya pintu di gedor keras-keras agar gadis itu bangun. -Kenapa dirinya jadi emosional seperti ini? – Eibi tersadar. Menarik nafas, lalu pergi kembali ke ruang kerjanya. Ia mengalihkan pikirannya dengan mengecek laporan dan melihat perkembangan hotel dan bisnis lainnya.


-Harus berhasil! Itu adalah tujuan utamanya. Zivi bisa nanti. Asalkan berhasil, apa yang tidak bisa? – Batinnya agar tidak dikendalikan perasaannya.


Waktu berjalan, kerjaan selesai. Keluar menuju dapur untuk ambil minuman dingin.


Surprise! Zivi ada disana duduk menikmati sesuatu.


“Hi!” Sapa Zivi menoleh saat ia merasakan langkah kaki masuk ke dapur, dan itu adalah Eibi.


“Hi!” balas Eibi membuka kulkas, mengambil minumnya lalu duduk di seberang meja berhadapan dengan Zivi.


“Mau?” Tanya Zivi menawarkan “Namun hanya satu, satunya sudah saya berikan Pak Tejo.” sambungnya memberitahu.


“Owh, No, thanks.” Tolak Eibi tidak senang. Pak Tejo Zivi ingat, sedang dirinya tidak. “Kamu ingat Pak Tejo, dan saya tidak.” Ungkapnya dengan nada protes.


“!” Zivi terkesiap dengan ucapan Eibi.


“Maaf.” Zivi minta maaf meras tak enak hati, “Kalau saya tahu kamu mau, saya tidak akan makan ini. Atau mau makan bersama yang ini?” Tawar Zivi dengan perasaan tidak nyaman.


“Boleh.” Eibi dengan senang hati mendengar itu. Zivi menyodorkan sisa puddingnya dan hendak bangun mengambil sendok untuk Eibi, “Sebentar saya ambilkan sendok untukmu.”


“Tidak perlu. Pakai sendokmu saja.” Eibi menghentikan Zivi dan mengambil sendok dari tangan Zivi.


Satu sendok? Tak pernah dalam benaknya berbagi sendok dengan orang lain.


Hap!


Satu suapan masuk ke mulut Eibi. Zivi melihat hal itu, merasa jijik. Kenapa Eibi tidak jijik dengan bekas mulutnya?


“Habiskanlah, saya sudah!” Ucap Zivi membiarkan Eibi menghabiskan puddingnya dengan perasaannya tertuju pada sendok bekasnya itu. Dirinya jijik jika sendok yang sama dengan orang lain, kecuali orang-orang tertentu. Kenapa Eibi tidak?