LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 74 Berita Selebriti



Betapa senang hatinya mengira Eibi yang mengiriminya pesan, tapi ternyata nomor asing. Mentari yang cerah tiba-tiba menghilang tertutup awal gelap. Seperti itulah perubahan air muka Zivi.


“Kenapa Vi?” Kakaknya segera bertanya melihat perubahan raut wajah Zivi.


“Tidak kenapa-kenapa.” Jawab Zivi sambil membuka pesan yang baru masuk itu.


Mematung. Antara percaya dan tidak Zivi melihat dengan teliti orang dalam foto yang ia lihat itu.


“Vi?” Kakak ipar yang terus memperhatikannya memanggilnya.


“Hah?” Panggilan ke tiga baru Zivi menyahut sambil melihat kearah kakaknya. Dengan senyuman seriang mungkin ia tunjukkan pada kakaknya.


“Kenapa Vi? Apa terjadi sesuatu dengan Eibi?” tidak bisa tidak kakak ipar ikut khawatir. Meski tersenyum Zivi terlihat pucat sedikit dan senyumnya terlihat sangat dipaksakan.


“Tidak. Dia baik-baik saja. Itu tadi bukan dari Eibi.” Jawab Zivi menjawab dengan tenang meski hatinya masih berkecamuk. Ia mau tidak mempercayainya, namun yang ia lihat benar.


Ia berpaling dari kakaknya dan melanjutkan kegiatannya, berpura-pura baik-baik saja agar kakaknya tidak menanyakannya lagi. Ia butuh waktu untuk mencerna semuanya, mempercayainya atau tidak.


Seakan apa yang ia perlukan diberikan padanya, kakak iparnya dipanggil suaminya dan meninggalkannya sendirian untuk mencerna apa yang barusan ia lihat dalam foto.


Zivi tidak mau mempercayai hal itu. Mungkin dirinya hanya di provokasi. Tunggu Eibi menghubunginya. Jika Eibi menghubunginya, maka pasti itu hanyalah foto provokasi.


“Dia akan Kembali pada cintanya. Dan itu adalah aku.” Pesan singkat itu seakan terdengar langsung di telinga Zivi, terus bersuara. Dan Zivi hanya menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkannya.


‘Kezia hanya memprovokasinya’. Eibi pernah bilang padanya dengan tegas bahwa ia sudah putus dengannya.


“Zivi, sudah jam 9, masuk dan mandi sebelum sarapan.” Panggilan kakak ipar menyadarkannya. Begitu tenggelamnya dalam pikirannya, ia sampai lupa waktu, bahkan tidak menyadari terik matahari yang sudah menyengat kulitnya.


Zivi menurut dan masuk hendak membersihkan dirinya. Ponselnya juga ia bawa masuk ke kamar mandi berharap Eibi akan membalas pesannya.


Sayangnya yang ia harapkan tidak menelfon ataupun membalas pesannya. Malah panggilan masuk dari nomor asing tadi.


Dengan sebal hati, Zivi mematikan telponnya dan membersihkan dirinya. Ia tidak mau di ganggu oleh wanita itu dengan provokasinya.


Waktu terus berjalan dengan Zivi menyibukkan dirinya dengan kegiatan belanja bahan kue sekalian jalan-jalan.


Saat berjalan-jalan di mall dengan sekilas ia melihat gambar dalam Tv yang sedang menyiarkan -Celebrity News-, gambar yang sama persis dengan salah satu gambar yang dikirim padanya pagi ini. Ia berbalik dan memastikan dugaannya.


Benar saja. Itu sama persis. Meski hanya melihat punggung prianya, namun jas hitam serta postur tubuhnya jelas menunjukkan bahwa itu adalah Eibi. Dan gadis yang sedang ia gendong itu jelas adalah Kezia dengan pakaian yang sama dalam foto yang ia terima.


“Romansa Pria Misterius Ratu Model” judul dari berita itu, ditambah dengan kata-kata dari host yang tak sengaja ia dengarkan memuji hubungan mereka.


Sesak. Zivi berjalan terus mengabaikan, tidak mau lagi menonton lebih lanjut. Jika tidak, hanya akan menambah jarum yang menusuk hatinya. Meski demikian, apa yang ia lihat dengan sudah dengarkan tetap terngiang dalam kepalanya dan hatinya merasa sakit. Mau mengabaikan rasa sakitnya, namun tidak bisa. Mau juga tidak mempercayai berita itu, namun tidak ada kekuatan penuh untuk membuatnya percayai. Ditambah Eibi tidak pernah bilang cinta padanya.


‘Biarlah’ Satu kata dalam benaknya yang menjadi kekuatannya. Jika benar beritanya, tidak mengapa. Apa yang terjadi antara Eibi dan dirinya tidak juga terlampau jauh. Hanya kecupan, hanya ciuman. Sedikit tidak rela dengan ciuman pertamanya, namun sudah terjadi, dan itupun salah dirinya yang tidak menolak.


Biarlah! Menarik nafas dan dengan tegar melanjutkan kegiatan belanjanya. Dan hari itu ia tenggelam dengan membuat kue yang banyak dengan kakaknya. Kue kering dengan berbagai bentuk.


Kakak ipar: “Banyak sekali?”


“Lagi pengen. Jika bagus nanti bisa dijual selain untuk dimakan.” Zivi menjawab kakaknya dan memfokuskan dirinya untuk mencampurkan bahan.


Sementara Zivi sedang berjuang melampaui perasaannya, Eibi sedang kesal. Ia langsung pulang dari kantor dan ingin bicara dengan Zivi yang sudah bagaikan suplemen baginya. Pesannya tadi tidak sepat ia balas karena sedang rapat penting, namun itu cukup membuatnya kembali bersemangat. Setelah seharian lelah, dan mendapatkan pesan dari yang terkasih, bukan itu seperti baterai lemah yang di charge?


Lagi? Bukannya sudah ia katakana untuk memberitahunya jika ia pergi? Bahkan saat chat dengannya, Zivi tidak memberitahunya.


“Hisss” mendesis kesal dan melemparkan ponselnya. Ia teringat akan kotak yang Zivi berikan padanya saat itu.


Bangkit dari sofa dan mengambil tas kecilnya dari gantungan dan mengeluarkan kotak itu.


Mematung sebentar disana dan membolak - balik kotak itu. Seperti kotak perhiasan. Hanya saja warnanya gelap. Mungkin Zivi pertimbangkan karena itu adalah untuk pria. Apa isinya? Apa yang Zivi berikan padanya? terasa manis hatinya membayangkan Zivi yang juga memperhatikannya. Dengan diam Zivi juga menyiapkan hadiah untuknya. Kesal dihatinya jadi sirna dan tak bisa tidak ia tersenyum.


Melangkah dengan sumringah Kembali ke sofa dan duduk.


“What? Apa maksudnya ini?”


Eibi terkesiap dengan apa yang ia lihat dalam kotak itu. senyuman itu sirna. Baru saja ia terbang tinggi dan dalam sekejam ia dihempaskan Kembali. Hatinya sakit juga marah.


Tanpa meraih perhiasan itu dari dalam kotak ia hempaskan sembarangan.


Dengan jelas ia ingat mengatakan pada Zivi untuk tidak melepaskannya. Itu hadiah pertama yang ia berikan padanya. Itu adalah gelang pengikat baginya untuk Zivi. jika cicin pernikahan hanyalah keterpaksaan dan mengandung makna main-main didalamnya, gelang itu adalah ketulusan hatinya yang sesungguhnya.


Zivi mengembalikan padanya? Apa maksudnya?


Arghhhh! Eibi hanya bisa meraung. Ia mau menelpon, menanyakan kepulangannya, menanyakan kenapa ia mengembalikan gelang perhiasannya? namun ia urungkan. Tidak ada gunanya. Gadis itu juga pasti tidak akan jujur. Sama seperti sebelumnya. Rupanya ia memang tidak pernah menganggap keseriusannya selama ini.


Papanya sakit, urusan perusahaan belum selesai. Dan Zivi seperti ini. kepala rasanya mau pecah. Hanya satu yang bisa ia harapkan sekarang.


“Alden, tolong awasi Zivi dan beritahukan setiap kegiatannya pada saya. Juga ia bersama siapa beritahu saya. Saya akan secepatnya pulang!” permintaan tolong bagaikan perintah bagi yang mendengarnya.


Eibi memutuskan untuk segera membereskan masalah perusahaan dan berharap agar papanya segera sembuh untuk kembali ke perusahaan. Zivi akan menjadi urusannya saat kembali. ‘tidak akan kumelepasmu!’ tegasnya dalam hati.


Tok tok tok


“Eibi!” Panggilan grandma dari luar.


“Ya!” sahutnya sambil membuka pintu dan menetralkan air mukanya di depan grandma.


“Kamu belum mandi?” terkejut melihat Eibi masih dengan jaz kerjanya. Eibi hanya memberikan senyum kecut pada grandmanya.


“Segeralah mandi. Setelah itu bisa turun makan sebentar.” Ucapan grandma sebelum berbalik turun kebawah.


Meja makan!


“Makanlah yang banyak. Kamu butuh banyak tenaga untuk mengurus perusahaan.” Eibi mendengarkan ucapan grandmanya, perhatian nenek melembutkan hatinya sedikit. Tidak bisa tidak. Kasih sayang grandmalah yang selama ini ia terima. Ia bagaikan seorang ibu baginya.


“Grandma rasa, sangat perlu seseorang untuk mendampingi mu. Lagipula umurmu sudah tidak muda lagi.” Grandma bicara dengan pelan-pelan sambil melihat ekspresi Eibi yang datar.


“Ke…”


“Grandma, Eibi sudah katakan tunggu saja. Eibi akan membawa pasangan Eibi pada waktu yang tepat. Dan pastinya itu bukan Kezia.” Eibi memotong grandma dengan cepat saat hendak menyebutkan nama itu.


“!”