LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 59 Masih Tidak Nyaman



Saat pulang Zivi mendengar suara gedebuk dari samping rumah. “Suara apa itu, pak?”


“Tuan dan Tuan Alden sedang bermain bola non!” Pak Tejo menjawab Zivi sambil tersenyum, “Tuan terlihat segar kembali. Sepertinya sudah sembuh!” tambahnya.


“Hmmm, kurasa begitu pak.” Jawab Zivi, lalu melajukan motornya ke garasi.


“Seharusnya Zivi sudah pulang!” Tutur Eibi sambil melihat jam dipergelangan tangannya dengan bola yang ia kepit di pinggangnya.


“Seharusnya! Tapi belum terdengar suara motornya.” Jawab Alden sambil menghampiri Eibi, lalu merebut bola dari tangan Eibi, dan segera menggiringnya untuk mencetak gol. Eibi dengan sigap meladeni Alden dan mencegahnya mencetak gol.


“lebih baik kamu memintanya bekerja untuk mu! Dan kamu bisa mengatur jamnya bekerja!” sambil menggiring bola memberi saran.


“Sudah ku tawarkan. Dia menolak!” Eibi menjawabnya namun fokus merebut bola.


“Kurang pandai kamu menawarkannya, bro! hahaha!” Ejek Alden berusaha merebut kembali bolanya.


“Jangan mengejekku jika kau hanya tahu permukaannya!” Sengir Eibi sambil melayangkan golnya. Ia tetap fokus dan mengalahkan Alden. “2 – 0”


Alden tidak tahu kemajuan apa yang Eibi sudah capai sejauh ini. Tidak biasa ia menceritakan urusan pribadinya pada Alden. Alden juga tidak repot mengoreknya, hanya ikut campur seperlunya saja.


Usai mandi, Zivi ingin menonton Eibi dan Alden bermain bola. Sudah jam 5. 45. Harusnya mereka sudah berhenti bermain. Namun masih terdengar suara seru mereka bermain.


Glek!


Alden segera mendongak, demikian juga Alden mendengar suara dari atas kepala mereka.


“Yang kamu tanyakan sudah ada!” Ucap Alden sambil tersenyum. Zivi tidak tahu apa yang mereka bicarakan, suara Alden terlalu pelan untuknya. Namun ia senang melihat kebersamaan keduanya. Terlihat mereka dekat. Bukan hanya sebatas atasan dan bawahan, namun juga seperti teman, atau bisa dikatakan saudara.


Alden dalam balutan kostum OR lengkap warna merah hitam gelap yang bertuliskan nama David Beckham, demikian juga Alden, kostum OR yang sama, namun berwarna putih. Hati Zivi senang. Itu adalah pesepak bola favoritnya.


“Saya tahu!” Jawab Eibi namun tatapannya tetap keatas bertemu tatap dengan Zivi yang tersenyum padanya, lalu beralih dan tersenyum juga pada Alden dan kembali pada Eibi. Zivi mengenakan baju rumah biasa. Kaos putih dengan celana pendek selutut. Terlihat aura belianya yang masih 20an.


Ia merasakan Eibi tidak melepas pandangannya dari dirinya. Membuatnya risih, namun merasakan sesuatu yang takut ia artikan salah. Rasanya menyenangkan, tapi takut itu hanyalah menurut perasaannya dan melambung terlalu jauh.


“Sudah hampir jam 6!” dengan suara yang sedikit keras ia memberitahu Eibi.


“Kamu urus bolanya. Sampai disini permainannya.” Ucap Eibi tanpa melihat Alden. Ia melepas pandangannya dari Zivi dan setengah berlari masuk rumah.


“Bye!” Alden melambaikan tangannya pada Eibi yang sudah menghilang, lalu kemudian pada Zivi sebelum berbalik mengambil bola dan masuk ke rumahnya.


Zivi tersenyum dan kembali menikmati langit sore! Namun tak lama, ia merasakan sosok yang tak lain Eibi berdiri disampingnya.


“Jam berapa pulang?” Eibi bertanya. Ia ingin memeluk Zivi dan mengecupnya, namun menahan diri karena ia penuh dengan keringat!


“Seperti biasa!” Zivi menjawab Eibi namun tidak melihat Eibi yang sedang memperhatikannya. Bukannya tidak mau, perlu kekuatan baginya untuk bertemu tatap dengan Eibi. Jika tidak, ia bisa salah tingkah dengan tatapan Eibi yang ia rasakan.


“Sebaiknya kamu mandi!” Ucap Zivi. Eibi mengangguk dan kembali masuk. “Kamu juga masuk!” ucap Eibi. Zivi menurut. Ia juga ingin masuk, karena harus menyiapkan makan malam.


***


Usai makan malam, Zivi memberitahu Eibi ia akan ke kamar belakang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Selain sebagai ruang OR nya, kamar itu juga untuknya bekerja atau belajar.


Eibi juga ke ruang kerjanya dengan memikirkan Zivi. Saat makan, yang mereka bicarakan hanya seputar pekerjaan Zivi dan makanan yang mereka makan. Dan jawaban Zivi padanya singkat juga tidak menatap matanya. Eibi merasa tidak puas. Belum pertanyaan yang ingin ia tanya pada Zivi terlontar, sikap Zivi sudah membuatnya demikian. Jadi, ia memutuskan nanti.


“What’s the matter?” Tanya Eibi melihat kebingungan Zivi yang menggaruk lehernya.


“Hmmm! No!” Ucap Zivi dan segera berlalu mengambil selimut dan bantal tidurnya dan kembali ke sofa.


“Did you forget what we talked last night?” Pertanyaan Eibi menyambutnya saat ia berdiri didekat sofa. Eibi sudah duduk di sofa. Zivi menggeleng sebagai jawaban.


Dengan tindakan, Eibi bangun dan menarik Zivi menuju tempat tidur. Setelah Zivi bergeser, Eibi naik dan hendak meraih selimut dipangkuan Zivi.


“No. I use mine.” Zivi menolak dan mengeratkan genggamannya pada selimut.


“Ok!” Eibi mengiyakan dengan menghembuskan nafas.


Zivi berbaring dibawah selimutnya yang menutup tubuhnya hingga leher, lalu menghadap Eibi yang juga menghadapnya.


“Masih tidak nyaman bersamaku?” Tanya Eibi dengan penuh prihatin.


Zivi mengangguk tidak bisa berkata, “Saya bisa mengerti. butuh waktu bagimu agar terbiasa bersama dengan saya!” Perkataan Eibi menenangkan Zivi.


Eibi mengulurkan tangannya mengelus pipi Zivi. Ia ingin menarik Zivi kedalam dekapannya, namun menahan diri. Tunggu saat dia tertidur saja.


“Kenapa tidak menelpon saya siang hari?” Eibi menanyakan pertanyaan lain untuk mengalihkan Zivi, namun itu juga pertanyaan tertunda tadi.


Zivi mengernyitkan keningnya seakan bertanya ‘untuk apa?’


“Didn’t you care about my lunch?” Eibi ingin Zivi memperhatikannya sedetil yang ia mau.


“Bukankah ada Alden yang mengurusmu saat saya tidak ada? Ada Bibi Surti juga untuk menyiapkan mu makan jika tidak ingin beli?” Zivi menanyakan apa yang ia perkirakan saat siang. Ia memang sengaja tidak menelpon Eibi.


Eibi terdiam dengan jawab Zivi. ‘Hei! Kamu menyukaiku tidak? Kenapa tidak menunjukkan kekhawatiran sedikitpun? Jelas-jelas dia menyukainya’. Eibi membatin protes.


Berbeda sekali saat Kezia tahu dirinya sakit, meski ia tidak berharap diperhatikan. Dan ini, ia sangat berharap, namun tidak ia dapatkan.


“Ok. Forget about it!” Jawabnya kemudian membuat Zivi mengangguk.


“Apa yang kamu kerjakan di ruang bawah tadi?” Pertanyaan Eibi yang ingin tahu.


“Yeah, urusan pekerjaan. Membuka email.” Jawab Zivi sambil menggidikkan bahunya.


“Apakah kamu nyaman disana?” Zivi mengeryitkan matanya. Sudah terbiasa ia disana dan sangat nyaman selama ini. Ada apa dengan Eibi tiba-tiba menanyakan hal itu?


“Tentu saja!” Zivi menjawab pendek.


“Ruang kerja saya besar. Kita bisa menggunakannya bersama!” Eibi ingin Zivi bekerja satu ruangan dengannya, dengan demikian ia lebih bisa dekat dan tahu apa yang Zivi kerjakan.


“Owh, tidak. Terimakasih tawarannya.” Zivi menolak tanpa pertimbangan membuat hati Eibi mencelos.


“Baiklah.” Respon pasrah. Belum saatnya. Tunggu hingga Zivi benar-benar nyaman bersamanya. Need a process. “tidurlah!” ucapnya kembali menggerakkan jarinya mengelus pipi Zivi.


Cup! Dengan cepat Eibi mengecup kening Zivi. “Hal yang terlupakan tadi sore.” Ujarnya sambil tersenyum. “Good night.” Tambahnya dan menarik tangannya.


Zivi yang awalnya terdiam, kembali tersadar, dan menarik selimutnya menutupi dirinya. Setelah merasa Zivi terlelap, Eibi melakukan aksinya. Bergeser dan tangan satunya ia lingkarkan pada tubuh Zivi. Membawa Zivi ke dalam dekapannya.