LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 24 OR Bersama?



“Arhh” Zivi terperanjat merasakan ada tangan yang memeluknya dari belakang.


Ia sedang sibuk memasak makan malamnya. Beruntung dirinya tidak memegang gagang panci yang ada diatas kompok. Tangannya tidak memegang apa-apa, jadi tidak ada korban kerterkejutannya.


Zivi mengulurkan tangannya untuk melepas tangan yang tengah memeluknya, namun tangan itu bertambah erat kaitannya, tidak mau dilepas.


kepala yang tadinya ia rasa menempel dikepala belakangnya, kini berpindah ke ceruk lehernya, “Just for a while.” Bisik pelan suara itu. Zivi merasakan suara yang tak asing tidak bersemangat.


Zivi teringat akan cerita Donna dikantor tadi, bahwa ia melihat gadis yang mencium Eibi direstoran waktu itu ada dibandara. Donna menceritakan bahwa gadis itu tengah menarik kopernya. Dugaannya, gadis itu pulang ke negaranya.


Merasakan keadaan Eibi yang seperti ini, Zivi merasa Eibi mungkin merasa sedih ditinggal oleh kekasihnya. Jadi ia urungkan untuk melepas tangan Eibi yang memeluknya.


Berbeda dengan Eibi, ia merasa sangat kelelahan hari ini, proyek yang tengah dibangun, sudah seperempat bagian pembangunannya. Ia sangat membutuhkan istirahat dan merebahkan dirinya.


Jika biasanya ia pulang dan langsung rebahan disofa untuk melepas lelah, kali ini tidak. Didengarnya ada suara samar dari dapur saat masuk rumah. Ia melangkah ke sana dan mendapati Zivi sedang menikmati kesendiriannya dalam memasak.


Hatinya bergejolak, entah perasaan apa namanya ia tidak tahu. Ia hanya ingin memeluk gadis itu, menyandarkan dirinya dari kelelahan. Dan diluar dugaannya, pikiran dan batinnya yang lelah sedikiti rileks.


Setelah beberapa menit, sup yang Zivi masak, mendidih. Dan saatnya untuk diangkat. Ia mematikan kompornya. Berharap Eibi menyadari hal itu dan melepaskan pelukannya. Namun tidak.


“Bisakah kamu melepaskanku?” Tanya Zivi dengan nada melemah.


“one minute.” Pinta Eibi.


“Ok.” Zivi menghela nafas pasrah. Seakan memahami perasaan Eibi, ia tidak tega menolak meminjamkan dirinya jadi sandaran.


1 menit


“Thank you.” Suara lembut ucapan terimakasih Eibi menyeruak ke telinganya, dan iapun merasakan beban ditubuhnya terangkat.


Eibi sudah melepaskan dirinya dan berbalik pergi meninggalkan dapur.


Setelah menata makanannya diatas meja Zivi hendak makan. Namun perasaannya tidak enak. Ia teringat Eibi. Apakah mengajaknya makan atau tidak? Apakah Eibi makan makanan seperti yang ia masak?


Hmmm, yang penting ajak saja dulu. Tidak enak makan sendiri. Tidak biasanya ia makan sediri. Jika ada orang disekitarnya, apalagi yang dikenal, pasti ia menawarkan makanan yang ia miliki. Akhirnya ia memutuskan menawarkan Eibi makan.


Ia ke kamar dan menawarkan Eibi untuk makan bersama.


“Have you had your dinner?”


Eibi menatap mata Zivi yang tengah memandangnya menanti jawabannya.


“Not yet.” Jawab Eibi dengan sedikit senyuman dibibirnya. Senyum senang merasa diperhatikan.


“I’m going to eat. If you don’t mind to eat my cooking, join with me.” Info Zivi


“Sure. I don’t mind at all. Thank you for you consent.” Jawab Eibi


“So, come with me.” Ajak Zivi menunggu Eibi didepan pintu dan turun bersama untuk makan.


***


Mereka menikmati makan malam Bersama dalam diam. Zivi tidak biasa menghibur orang lain, dirinya hanyalah seorang yang bisa mendengarkan orang lain. Kalau teman dekat, paling hanya menunjukkan tampang prihatin tanpa kata yang keluar dari mulutnya. Dan itu adalah teman wanita semua.


Dan ini, adalah Eibi. Ia berpikir mengucapkan apa yang tetap untuk menghibur Eibi.


Ia mengingat kisah-kisah yang pernah ia tonton, bagaimana perasaan seorang pasangan saat kekasihnya pergi dan harus menjalani LDR. Ia juga mengingat teman-teman kuliahnya yang menjalani LDR. Bagaimana mereka dihibur teman-teman mereka. Namun tetap, Zivi tidak mendapatkan kata yang pas untuk memulai percakapan.


Selesai makan.


“You must be upset!” pernyataan yang keluar dari mulutnya to the point. Perkiraannya Eibi tahu apa yang ia bicarakan.


“What?” tanya Eibi heran dengan pertanyaan Zivi.


“Hei, don’t be pretend that you don’t know what I mean.” Ungka Zivi sambil tersenyum pada Eibi yang makin tercengang melihatnya dengan menerka apa yang Zivi bicarakan.


“I have known how it felt when we separate in distance with the ones we love.” Ujar Zivi menguak perasaan yang ia alami saat berpisah jauh dengan orang-orang yang ia sayang.


“It’s only a matter of time. You can meet her again. Just endure it for a while. Moreover, you can have video call with her when you miss her. When you really really really miss her, you can visit her, if not ask her to visit you.” Tambah Zivi dengan alis mata yang terangkat sambil melihat Eibi didepan yang memperhatikannya.


Mendengarkan Zivi yang Panjang lebar bicara sebagai tanda peduli, Eibi tersenyum mengerti apa yang Zivi bicarakan.


Zivi lega melihat Eib tersenyum, mengira Eibi bereaksi dengan ucapannya barusan.


“Hmmmm” jawaban Eibi yang demikian pun membuatnya benar-benar lega. Berbeda dengan Eibi, tertawa dalam hati karena tidak berani tertawa didepan Zivi. Ia ikuti saja aliran perkataan Zivi seakan-akan dirinya terdorong dengan hiburan Zivi.


“I’ll clean the plates. You can rest.” Ucap menghentikan suana pembicaraan sebelumnya, kalau tidak dirinya bisa tertawa.


Ia segera membereskan piring dan menuju wastafel dengan kepala digeleng-geleng.


Zivi tidak menyadari hal itu, ia hanya merasa bahwa Eibi mungkin ingin membalas kepeduliannya dengan merelakan dirinya untuk mencuci piring, jadi ia biarkan.


Awalnya, ia ingin menolak, namun melihat Eibi yang sudah bergerak tanpa menghiraukannya yang hendak bicara, mau tidak mau Zivi hanya menarik nafas dalam – dalam dan membuangnya.


Pasrah!


Mungkin ini tanda Eibi juga peduli padanya. Ya mereka saling peduli satu sama lain, saling membalas kebaikan. Posting ‘positive thinking’.


Ia tinggalkan Eibi membereskan piring kotor dan bergegas ke kamar dan bermain dengan ponselnya sekalian melihat email yang masuk. Baik urusan kerjaan maupun info beasiswa yang sedang ia cari.


Esok, disore hari saat hendak olahraga, Zivi dikejutkan dengan keadaan ruangan belakangnya.


Apa ini? Kakinya terhenti diambang pintu, melihat benda asing dalam ruangannya.


1 Gym ball?


2 Sepede statis?


2 pasang Dumbbell? 1 pasang berukuran sedang, 1 pasang berukuran lebih besar.


2 Matras yoga?


Siapa yang melakukan ini? Apakah Eibi? Siapa lagi? Masa Pak Tejo? Orang lain, siapa? Yang pasti, hanya Eibi yang melakukan ini.


Zivi sedikit menggerutu dengan ruangannya yang jadi terasa penuh. Meski hanya beberapa benda, tapi tetap membuat luasnya jadi berkurang.


Apa Eibi juga ingin olahraga diruangan ini?


Hufttt, Zivi menghela nafas. Dirinya tidak akan leluasa jika perkiraannya benar.


“Are you upset?” Suara dari belakang mengejutkannya yang masih tidak bisa menerima jika Eibi benar-benar olahraga diruangan ini juga.


“hmmm, yeah. You did it. I’m upset.” Jawa Zivi tanpa menoleh – suka sekali buat orang kaget. Kemarin tiba-tiba peluk, sekarang ruanganku seperti ini- Zivi membatin.


“That’s good.” Ucap Eibi kini berdiri disampingnya.


Pagi tadi, ia sedang melakukan pengecekan ke market, usaha pertamanya saat ada tempat ini, dan ia melihat stall yang menjual alat-alat olahraga, ia teringat Zivi.


Jika kotak yang sudah ia siapkan belum bisa ia berikan, paling tidak ia belikan alat-alat olahraga untuk Zivi. Dirinya juga bisa olahraga bersama Zivi.


“Let’s try it!” ajak Eibi menarik Zivi masuk ruangan itu dan menuju ke sepeda statis.


Zivi mengikuti Eibi, tanpa mengganti pakaian OR, ia naik sepeda OR seperti yang Eibi lakukan.


Tidak lama, “I’m tired.” Ucapnya, lalu turun, keluar dari ruangan itu dan naik ke kamar atas meninggal Eibi bersepeda sendirian. Eibi menangkap bahwa Zivi benar-benar lelah, mengiyakan.


“From tomorrow on, we will exercise together, ok!” Ucap Eibi sedikit berteriak cukpe terdengar oleh Zivi.


“?”