LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 77 Dia Kembali



Ingin rasanya Alden memberithu Eibi. Namun apa yang Zivi ucapkan juga masuk akal. Tunggu saat ia pulang saja baru ia akan memberitahukan padanya. Meski ia tidak tahu bagaimana respon Eibi saat nanti ‘aku siap dengan resikonya’ batin Alden. ‘Untuk urusan pisah, biar Zivi sendiri yang memberitahu Eibi.’ Alden tidak ingin masuk dalam urusan mereka, bisa-bisa tambah runyam.


EiBI


Waktu berlalu dan dalam waktu dua bulan lebih ia bisa mengurus perusahaan papanya dan sekalian menyerahkan kembali semuanya pada papanya yang sembuh.


Saatnya untuk Kembali.


Bagaimana kabarnya? ia ingin segera menemuinya. Mendengar suaranya lagi. Memeluknya lagi. Dan yang paling penting, menanyakan apa maksudnya mengembalikan hadiah pemberiannya?


“Zivi sudah pulang, pak?” Pertanyaan pertamanya saat masuk gerbang rumah sambil menatap rumahnya, dan terlihat sedikit balkon kamarnya gelap.


“Tuan? Sudah Kembali?” terperangah Pak Tejo melihat orang yang datang tanpa memberi salam itu dan ternyata adalah Eibi, tuannya.


“A…nu, Non Zivi sudah beberapa minggu ini tidak kemari Pak. Sesekali datang untuk mengambil sesuatu yang ia perlukan. Katanya nginap dirumah teman.” Jelas pak Tejo sambil mengingat-ingat Zivi yang beberapa kali pulang tapi pergi lagi.


“Ohhh. Terimakasih Pak” Eibi menjawab lalu dengan wajah datar. Sudah ia duga ada yang tidak beres, meski tidak yakin, namun apa yang pak Tejo sampaikan cukup membuatnya yakin. ‘jadi itu maksudnya mengembalikan pemberiannya?’


Tidak pernah ia menyangka. Malam itu ia beranikan diri mengecupnya, bahkan menciumnya dan ia terima. Apa itu tnda-tanda yang ia berikan? Logikanya tidak mungkin. Tapi…


Eibi melangkah masuk rumah yang bercahaya oleh lampu depan dan ruang tengah. Namun tetap saja kesannya suram. Sosok yang seharusnya ada disana, tidak ada.


‘Alden!’ mengeram dalam hati.


Pak Tejo mematung ‘kenapa tuan Alden tidak bilang-bilang jika tuannya akan pulang hari ini?’.


Menggelengkan kepalanya tak mengerti, iapun mengikuti Eibi masuk rumah. Mungkin saja ada yang ia perlukan.


“Mau dibuatkan susu hangat, Tuan?” tanya Pak Tejo masih mengingat biasnya malam hari jika lelah Eibi akan minta dibuatkan susu. Meski setelah Zivi ada, tidak pernah lagi ia buatkan, ia masih ingat.


“Tidak usah Pak. Sudah malam. Bapak istirahat saja. Saya mau istirahat juga.” jawabnya


‘jadi kau benar-benar kamu melepaskanku! Baiklah. Tak dapat aku paksakan. Buat apa ku pertahankan orang yang tidak mau kupertahankan!’ batinnya dengan dirinya sendiri seakan rela. Tapi geramnya terhadap Alden belum hilang.


Matanya menelusuri sekeliling ruangan, kosong, Sepi. Kembali seperti semula. Namun karena rasa lelah, Ia bergegas ke kamarnya, demikian juga Pak Tejo kembali ke pos jaga tempatnya istirahat.


Ia membersihkan diri secepatnya dan mengganti baju tidur untuk istirahat. Rasanya ada yang hilang, tapi tidak benar-benar hilang.


Disofa itu Zivi biasanya tidur sebelum mereka begitu dekat, hingga ia bisa membuatnya mau tidur diranjang bersamanya, hingga akhirnya malam sebelum ia harus pulang ke A***** ia tidur bersamanya, sangat dekat, hanya pakaian pembalut kulit yang membatasi mereka.


Eibi merebahkan diri ditempat tidur, memiringkan tubuhnya kesisi tempat tidur yang kosong disamping bagian Zivi.


Alden


“Hallo!” ada apa pak Tejo tiba-tiba menelponnya?


“Apa? Eibi sudah kembali?” terkejut mendengar laporan pak Tejo. Kenapa Eibi tidak memberitahunya?


‘Siap mati!’


“Terimakasih pak sudah memberitahu saya!” Alden mengakhiri telponnya dengan pak Tejo dan ingin segera menelpon Eibi langsung. Ia ingin tanya, kenapa tidak memberitahunya supaya bisa menjemputnya.


“Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan!” suara operator merespon panggilannya.


“huft!”


Zivi



“tidur ah! Besok aku harus melewati hariku dengan baik. Lupakan. Jangan berharap lagi” bicara pada dirinya sendiri. Sperti sebelum-sebelumnya selalu menyemangati diri sendiri. Tidurrrr. Terlelap…


Hari berikutnya Alden segera booking tiket pulang setelah urusannya di pulau selesai.


Tanpa ke hotel terlebih dulu, ia langsung ke rumah untuk menemui Eibi. Pak Tejo memberitahunya bahwa Eibi tidak keluar sama sekali seharian.


Glek!


Pintu terbuka!


Eibi yang sedang berdiri sambil menatap foto pernikahannya dengan Zivi berbalik.


Tepat! Orang yang ia tunggu berdiri diambang pintu tepat di hadapannya. Dan sekarang sedang berjalan kearahnya.


“Bugh!”


“Ouch!” Alden mengadu, membungkuk sambil memegang tulang pipi yang kena pukulan Eibi yang ia terima tanpa persiapan.


“I’m sorry!” Alden minta maaf dengan suara berat. Ia tahu kesalahannya, namun ia juga punya alasan dengan itu. Tapi resikonya benar-benar ia dapatkan. Inilah resikonya.


“Sorry? Kamu tahu kesalahanmu?” Eibi dengan dingin bertanya.


“Ya. Saya punya alasan untuk itu.” Alden mengangkat wajahnya dan melihat Eibi langsung pada matanya.


“Alasan? Dan kamu mengabaikan apa yang saya minta padamu?” Eibi.


“Ya. Jika tidak, saya tidak jamin urusanmu disana akan baik-baik saja. Itulah kenapa saya tidak memberitahumu secara detail apa yang Zivi lakukan.” Jelas Alden, Eibi memahami maksudnya.


“Lalu kenapa kamu membiarkan Zivi tinggal diluar?” bertanya lagi. Paling tidak Zivi tetap ia cegah tinggal diluar meski ia tidak memberitahu detailnya.


“Untuk itu, Zivi mempunyai alasannya sendiri. dan ia juga meminta saya untuk tidak memberitahumu. Ia akan memberitahumu saat kamu pulang.” Alden menjelaskan seperti ucapan Zivi.


“Lalu diluar ia tinggal dimana?” Tanya Eibi. Menginap di rumah teman seperti laporan pak Tejo, tidak mungkin.


“Dia pernah berkata kost, tapi saya tidak tahu persis ia kost dimana. Berulang kali mengikutinya, tapi gagal. Karena ia kadang keluar bersama teman – temannya dan juga tinggal bersama mereka.” Alden menjelaskan upayanya yang tidak berhasil.


“Hmmm” responnya Eibi lalu berbalik menaiki anak tangga. Alden mengikutinya.


“Mulai besok kamu ikuti dia lagi.” Perintah Eibi sambil membuka ruang kerjanya.


“Sekarang laporkan bagaimana keadaan dipulau juga disini.” Eibi berjalan ke balik meja dan duduk disana. Alden mengikutinya duduk di kursi dihadapan mejanya.


Tap tap tap Eibi mengetuk meja dengan jari-jarinya menunggu Alden melaporkan urusan pekerjaan yang selama ini ia tinggal.


Alden menjelaskan secara singkat dan jelas, “Kamu bisa baca kembali laporan yang sudah saya kirimkan ke email mu.” Tambahnya setelah uraiannya pada Eibi.


“Hmmm, thanks.”


“Kenapa tidak memberitahu jika akan Kembali?” Alden bertanya urusan lain setelah urusan kerja selesai dan melihat suasana hati Eibi sudah baik.


“Cara terbaik untuk mendapati bahwa hamba setia atau tidak adalah datang dengan tiba-tiba. Apa kau pernah mendengar ucapan seperti ini?” Alden merenungkan ucapan Eibi. Membenarkan sambil mengangguk.


“Kali ini ku maafkan. Tidak ada lain kali. Tidak peduli apa alasannya.” Eibi menegaskan pada Alden.