
Tidak mendapatkan reaksi penolakan Zivi, Eibi menutup mata Zivi dengan sebelahnya dan tangan satunya ia menadah kepala belakang Zivi, lalu dengan pelan ia menempelkan bibirnya pada bibir Zivi yang sedikit terbuka.
Dengan pelan ia mengecupnya, menyesapnya sedikit demi sedikit seakan permen, takut jika akan remuk dan segera habis. Zivi mematung, tidak menolak, juga tidak membalas ciuman Eibi.
Setelah sekian lama, Zivi megap-megap setelah Eibi melepaskannya, dan matanya bertemu langsung dengan tatapan Eibi saat Eibi mengangkat tangannya yang menutup matanya. Tangan itu ia gunakan untuk mengusap bibir Zivi yang barusan ia kecup.
Tak kuat menatap Eibi dan tidak bisa berkata apa-apa, Zivi menunduk. Seketika itu Eibi membawanya dalam pelukannya.
Eibi tahu ini pertama kali bagi Zivi, mungkin butuh waktu baginya untuk mencerna yang barusan terjadi. Sementara baginya, ini biasa, sudah sering ia lihat, dan sering sekali Kezia mengecupnya atau menyerangnya dengan ciuman. Meski ini pertama kalinya ia melakukannya dengan kamauannya sendiri pada Zivi, tapi Zivi bagi Zivi ini benar-benar baru.
Eibi benar-benar menciumnya. Ciuman pertamanya jatuh pada pria ini. dan ini bukan mimpi. Kenapa tidak menolak? Zivi terdiam dalam pikirannya.
“Apakah orang tuamu tahu jika kamu sudah menikah?” akhirnya ia bisa menanyakan hal yang paling krusial baginya. Sudah sejauh ini, tapi apakah orang tua Eibit ahu hubungan mereka? Eibi tidak pernah menyebutkan orang tuanya dihadapannya, apalagi memintanya berkenalan dengan mereka. Jika sudah sejauh ini, ia perlu menanyakan hal ini.
Tidak ada jawaban Eibi, diam sebagai jawabannya dan mengeratkan pelukannya serta mengecup puncak kepalanya.
Drttt drrtt drrttt drrtttt
Eibi ingin menjawab Zibi, “Ponselmu berbunyi. Jawablah.” Ucapan Zivi menghentikannya. Sedang Zivi seperti menelan pil pahit, menyembuyikan kekecewaannya. Ia yakin sepenuhnya bahwa Eibi tidak memberitahu orang tuanya perihal pernikahan mereka. Bahkan dari awal orang tua Eibi tidak pernah tahu akan hal tersebut. Ucapan Eibi saat itu sepenuhnya bohong.
“Hallo!” Eibi segera menjawab telponnya setelah menjangkaunya didalam kamar. Zivi hanya terdiam ditempat, melihat dan mendengar Eibi suara Eibi merespon orang yang sedang berbicara dengannya. “Baik. Saya akan segera kesana.”
Zivi merasa tidak tenang melihat Eibi dengan aura yang berbeda setelah menjawab telpon itu. Dan dengan cepat pula ia segera menghubungi orang lain.
“Alden, tolong pesankan tiket untuk malam ini juga jam berapa pun.” Setelah mendengarnya menyebit nama Alden, Zivi tahu bahwa ia sedang menelpon Alden.
Setelah menyudahi pembicaraan dengan Alden, Zivi baru berani mendekat dan melihat Eibi tanpa bicara apa-apa.
“Saya harus segera pulang. Papa jatuh sakit. Jantungan!” Ucapan Eibi menjawab apa yang membuatnya tidak tenang. Tidak heran jika Eibi seperti itu, papanya sedang sakit. Zivi hanya bisa mengangguk.
“Saya harus pulang ke A* malam ini.” tak menjawab dengan kata, hanya bisa menganggukkan kepala. Itulah jawaban yang bisa Zivi berikan pada Eibi.
“Papa saya sakit.” Sekali lagi Eibi memberitahu Zivi karena tidak mendengar jawaban Zivi.
“Hmmmm, Sebaiknya memang kamu pulang. Keluargamu, terutama Papamu pasti membutuhkanmu.” Zivi menjawab dengan sedikit gemetar untuk meyakinkan Eibi bahwa ia mendengarnya dan mendukung keputusannya untuk pulang. Meski ia mengingat bahwa Eibi tidak mau menyinggung kedua orang tuanya, tapi dengan reaksi Eibi, Zivi tahu bahwa ia masih peduli. Memang benar ucapan yang mengatakan darah lebih kental daripada air. Sebesar apapun yang menjadi masalah, jika yang namanya hubungan darah, tidak bisa tidak kita abaikan. Secara alami ikatan itu akan tampak disaat genting seperti ini.
“Hmmm, mau ikut pulang bersama?” puas mendengar jawaban Zivi, Eibi menawarkannya untuk ikut bersamanya.
“Ahh, tidak.” Zivi tidak berpikir panjang untuk menolak.
“Kenapa?” Eibi sedikit kecewa dengan penolakan Zivi. Ia masih ingat jika Zivi tadi bertanya padanya ‘apakah orang tuanya tahu?’
“Belum waktunya.” Jawaban singkat, sederhana dan masuk akal yang bisa Zivi berikan.
“Baiklah. Jaga dirimu baik-baik selama saya pergi.” Eibi tidak memaksa. Jawaban Zivi benar. Saat pulang, ia juga tidak akan bisa sepenuhnya bersama Zivi karena urusan papanya yang sakit, dan pasti akan menggantikan papanya sementara di perusahaan. Tidak mungkin Zivi ia abaikan.
“Saya pulang ke rumah. Hanya perlu bawa diri.” Jawab Eibi sambil menarik Zivi dalam pelukan. Ia senang Zivi memperhatikannya seperti ini. Saat khawatir, hatinya tidak bisa menolak senang, ia masih bisa tersenyum karena gadis ini.
“Baiklah. Apa Alden ikut?” Tanya Zivi sambil mengelus punggung Eibi sebagai tanda penguatan untuk Eibi.
“Tidak. Dia yang akan menghandle urusan disini. Jika ada apa-apa, jangan ragu untuk memberitahunya. Saya percayakan kamu padanya.” Ucapan Eibi yang terakhir membuat Zivi berdecak.
“Hmmm, baiklah. Terimakasih atas perhatiannya.” Tidak protest. Berterimakasih cukup agar tidak berdebat. “Jam berapa pesawatmu?” bertanya sambil berlalu meletakkan kalungnya pada kitak perhiasan yang masih terbuka diatas meja rias. ‘Pasti kotak kalung ini’ duga Zivi yang memang benar.
“Jam 3 pagi.” Menjawab singkat. Baru saja ia merasakan senang dengan kemajuan hubungannya dengan Zivi yang tidak disangka bisa sejauh itu tanpa hambatan. Eibi menatap Zivi dengan sendu.
“Kalau begitu, kamu istirahat cepat sekarang.” Jawab Zivi yang menangkap itu adalah tatapan sedih Eibi karena papanya yang sakit.
“Ya. Tapi saya mau kamu tidur bersamaku.” Balas Eibi. ingin sekali ia tidak berpisah dengannya dan menikmati kebersamaan itu dalam waktu yang lama. Namun sekarang hanya bisa memanfaatkan waktu yang ada sebelum jarak memisahkan mereka.
“Baiklah.” Jawab Zivi dengan pikiran sederhana sambil bergerak menutup pintu balkon. Namun saat naik ranjang dan Eibi menyelubunginya dengan selimut yang sama, baru ia paham dan segera menolak.
“Jangan menolak, ok!” Ucap Eibi dengan lembut sambil mengeratkan pelukannya.
Dengan suara lembut dan terasa kasihan, Zivi menyerah dan membiarkan Eibi memeluknya.
Dengan satu tangan Eibi menekan tombol untuk mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur.
Zivi memejamkan matanya dalam dekapan Eibi dengan hati yang sedikit kacau, bukan karena Eibi memeluknya, namun karena papa Eibi yang sakit, dan rasanya ia merasakan gundah hati Eibi saat itu.
Sekian lama, tidak bisa tidur, ia membuka mata dan mendongat sedikit untuk melihat Eibi yang ternyata tidak tidur.
“Tidak tidur?” Tanya Eibi sedikit menjauhkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Zivi dalam temaran lampu tidur.
Gelengan kepala sebagai jawaban Zivi dengan tatapan sendu pada Eibi. Tidak ada kata yang dapat ia ucapkan untuk memberikan kata-kata positif.
Cup! Eibi mengecup keningnya, “Mengkhawatirkan saya?” bisik Eibi.
“Hmmm” Gumaman disertai anggukan sebagai jawaban yang berikan.
“Tidak perlu khawatir. Saya baik-baik saja. Papa adalah orang kuat, pasti bisa melewatinya. Dan sekarang sudah ditangani dengan baik oleh dokter khusus.” Terang Eibi dengan tenang.
Siapa yang membutuhkan ucapan seperti itu? sepertinya kebalikan! Ucapan Eibi membuat Zivi sadar bahwa ia sudah terlalu terbawa perasaan.
Tahu bahwa Eibi tidak selemah yang ia rasakan, Zivi tenang dan Kembali masuk dalam pelukan Eibi, menenggelamkan wajahnya disana. Dengan jelas kali ini ia mencium wangi maskulin dari tubuh Eibi yang bercampur dengan aroma sabun mandinya. Wangi yang menenangkan dan tak lama ia bisa tertidur.
Karena situasi Eibi, Zivi tidak lagi memikirkan akan ciuman yang tadi ia dapatkan dari Eibi dibalkon. Sedangkan Eibi kini menatapnya tak paham, kenapa Zivi tidak memberinya respon apapun? Ya, paling tidak tersipu malu seperti pada kebanyakan gadis lainnya. Dan sekarang ia ingin sekali menciumnya kembali dan sekalian menjawab pertanyaannya tadi dengan jujur dan juga memberinya kepastian bahwa ia akan mengenalkannya pada keluarganya secepatnya. Namun tidak tega mengganggunya tidur.
‘Segera! Pasti kamu akan bertemu dengan mereka!’ bisiknya. Rasa bersalah terasa dari ucapannya karena dari awal ia berbohong pada Zivi, namun sudah terlanjur. dan yang penting sekarang ia mau jujur dan dengan kesungguhan hati memberi Zivi kepastian untuk meneguhkan hatinya terhadapnya.