
Beberapa kali hari minggu, hari libur seperti ini biasanya Eibi sudah tidak ada dirumah pagi-pagi sekali. Kebiasaannya jogging Bersama Alden hingga siangan. Dan saat pulang ia mendapati Zivi tidak dirumah, itupun hal biasa. Itu tidak mengusik hatinya.
Tidak tahu apa yang terjadi, pagi ini dirinya masih ada dirumah dan ingin tahu lagi apa yang dilakukan gadis itu pada hari libur seperti itu.
Penampilan yang menawan meski tidak seksi karena tubuhnya yang kecil, namun tetap saja mampu memikat hati yang melihatnya. Bukan pikatan yang membangkit nafsu, namun pikatan yang mampu meluluhkan hati orang lain, merasa damai dan senang memandangnya.
Ia memutuskan menghubungi Alden dan jalan-jalan keluar pada hari itu. Ia bermaksud ingin tahu kemana gerangan gadis itu pergi.
Sialnya, Alden masih mendengkur dan tidak mengangkat telponnya.
Ia mencoba melacak nomor ponsel Zivi lewat GPS, nihil. Rupanya nomor Zivi tidak aktif dan tidak bisa dilacak kemana perginya.
Ada sedikit rasa dongkol tidak mencapai apa yang ia mau. Namun dering ponselnya mengalihkan kedongkolannya.
****
Senin pagi
"Hei, apa yang kau lakukan?" Zivi kaget melihat wajah yang sangat dekat didepannya yang tak lain adalah Eibi, suaminya. Pertanyaan langsung terlontar dari mulutnya.
"Tidak. Saya hanya melihat bagaimana ekspresi wajahmu saat tidur." Jawab Eibi sambil tersenyum melihat ekspresi Zivi yang cemberut. Terlihat sedang membayangkan raut wajahnya saat sedang tidur.
"Memangnya bagaimana?" Tanyanya menuntut, ingin dengar apa yang akan dikatakan Eibi.
"Hmmmm?" Eibi bergumam hmmm seolah-olah berpikir untuk menjawab Zivi.
"Hmmm, apa?" Zivi penasaran dan mendesaknya menjawab.
"Kalau saya beritahu nanti, takut menyinggungmu." Jawab Eibi dengan senyum menggoda Zivi.
Jawaban Eibi membuat Zivi semakin penasara dan ingin tahu.
Ia membayangkan ekspresi jeleknya saat tidur.
Mulut terbuka?
Iler?
Oh, tidak!
Ia segera menyentuh kedua sudut bibirnya. Tidak ia dapati ada iler disana setelah sedikit mengusap kedua sudut bibirnya.
Ia menatap Eibi dengan tatapan menantang, "Hmmm, kenapa takut. Beritahu saja."
"Saya orangnya bisa menerima diri dan bersyukur dengan apa adanya saya." sambungnya lagi setelah beberapa saat tidak ada respon dari Eibi.
"Saya tidak mau memberitahumu." ucap Eibi dengan senyum menggoda membuat Zivi semakin sebal.
"Tapi, lihat ini." sambil menunjukkan gambar dari ponselnya.
What?
Zivi membelalakkan matanya melihat fotonya sendiri dilayar ponsel Eibi.
Ia sedang tidur dengan tangan di tangkupkan di dadanya. Rambut acak menutup sedikit wajahnya.
Namun Zivi lega. Tidak di dapati dirinya seperti yang dibayangkan.
"Kamu mengambil fotoku diam-diam." Protes, namun ada senyum lega dari pancaran matanya.
"Hapus cepat." Perintahnya tegas dengan tangan terjulur untuk merebut ponsel dari tangan Eibi.
Eibi menjauhkan tangannya yang memegang ponsel ke balakang dan dengan tangan satu menangkap tangan Zivi.
"Tidak mau." Eibi menolak melakukan perintah Zivi dengan senyum tipis tersungging dari kedua sudut bibirnya.
"Hapus. Hapus. Plis hapus. Saya malu." suara melemah cara Zivi untuk melunakkan hati pria itu untuk menghapus fotonya.
Meskipun ia senang tidak ada yang aneh dengan pose tidurnya, dan termasuk pose tidur yang bagus, tetap saja dirinya malu fotonya di ambil orang lain.
What? Orang lain?
Dia bukan orang lain. Dia suamimu.
Suami disaat pernikahan saja. Suami diatas kertas saja.
"Katanya menerima diri? Kenapa malu?" Tantang Eibi atas pernyataannya sendiri.
"...." speechless. Tidak bisa menjawab langsung.
"Sayakan hanya minta jawaban dari mulut langsung. Bukan fotoku." akhirnya merespon setelah menemukan jawaban untuk menjawab Eibi.
"Lagipula kamu mengambil fotomu tanpa seijin saya. Itu artinya kamu mencuri foto saya." sambung Zivi dengan cemberut.
"Ya sudah.terserah." Zivi memalingkan mukanya dengan cemberut. Menyerah untuk membujuk pria itu menghapus fotonya.
Eibi gemas dan senang melihat raut Zivi yang cemberut dan marah namun tidak terlihat marah sama sekali baginya.
Hal itu membuatnya lebih ingin menggodanya lagi. Ada kesenangan tersendiri melihat Zivi seperti itu.
"Mendekat sini. Lihat. Saya hapus." Eibi akhirnya menghentikan inginnya melihat Zivi menyerah dan meminta Zivi melihat langsumg bahwa dirinya sungguh mengahapus fotonya.
Huffft, lega fotonya dihapus.
"Segera bersihkan dirimu. Saya tunggu dibawah." ucap Eibi pada Zivi sambil tersenyum melihat Zivi yang tersenyum puas karena fotonya dihapus. Namun dalam hatinya tersenyum lain.
"Baiklah." Zivi beranjak dari sofa dan merapikan perlengkapan tidurnya dari sana dengan dibantu Eibi.
Eibi tersenyum simpul sambil membuka HPnya setelah Zivi masuk kamar mandi.
Ia membuka file manajer untuk melihat foto Zivi yang ia hapus tadi.
Foto itu tersimpan disana.
***
"kamu yang menyiapkannya?" ucap Zivi memasuki ruang makan.
Ia melihat hidangan sarapan pagi sudah tersedia diatas meja.
Tidak biasanya Eibi masak pagi hari. Zivi mengernyit.
🍝?
Banyak orang mengatakan spaghetti enak. Teman-temannya juga sangat menyukai 🍝.
Mata Zivi tertuju pada spaghetti yang sudah tersaji di piring dihadapannya. Itu artinya bagiannya. Satu piring ada di hadapan Eibi. Ada dua gelas susu di yang masing -masing sudah ada didekat piring spaghetti.
Zivi tidak menyukai spaghetti. Ia pernah memakannya sekali. Tapi ia tidak mau makan makanan itu lagi. Baginya tidak enak. Namun masih bisa memakannya jika memang sudah seperti ini.
Eibi yang duduk diseberang meja berlawanan dengannya melihat jengah Zivi yang melihat hidangan sarapan untuk mereka.
"Yeah. Who else?" Respon Eibi pertanyaan Zivi tadi. 'Gadis ini, dia berpikir bahwa saya tidak bisa apa-apa dengan urusan dapur? ' batinnya.
Bu Surti yang bertugas memang belum datang di pagi hari. Hanya suaminya yang datang pagi untuk jaga di post depan.
Bu Surti akan datang jam 9. Saat keduanya sudah berangkat bekerja.
Zivi menarik kursi dan duduk. Meski tidak suka spaghetti, ia penasaran akan rasa spaghetti yang Eibi masak.
"Have a taste." ucap Eibi sambil mengambil garpu dan menyerahkannya pada Zivi setelah duduk.
"Okay." ucap Zivi singkat mulai menyendok spaghetti nya.
What? Enak. Yang pernah dirasakan tidak seperti ini rasanya.
"Yummy. It's like that you are able doing many things." puji Zivi setelah merasakan suapan pertamanya dan terus makan tanpa menunggu respon Eibi.
"Yap. You are right." ucap Eibi bangga diri setelah ia selesai makan.
What? Pria ini! Zivi sedikit sebal mendengar respon Eibi seperti itu.
Sudah responnya lama, dan responnya pun seperti itu.Menyesal sudah memujinya.
"Drink this. It's good for your body." ucap Eibi menyerahkan 1 gelas susu yang sudah ada dihadapannya. Eibi cuek dengan ekspresi yang Zivi tampilkan.
"Hmmm. Thank you." ucap Zivi singkat dan mengambil susu itu.
"What will you do today?" tanya Eibi sambil mengusap bibirnya dengan tissue yang sudah tersedia dimeja makan.
"Hmmm, I have a guest. He will arrive this morning at 10. I should pick him up from the airport." jawab Zivi.
"Why it is you who pick him up?" Tanya Eibi yang sudah tahu bagian pekerjaan Zivi bukan pada bagian menjemput tamu.
"The one who charge in this job is off. She is ill." Terang Zivi.
Tempat bekerjanya memang seperti itu. Jika bagian lain ada yang berhalangan, maka bagian lain harus siap. Jadi kemampuan merekapun harus di tingkatkan terus agar bisa ditempatkan dibagian mana saja.
"Then, after that, what will you do?" Tanya Eibi lagi setelah mendapat jawaban yang masuk akal dari Zivi.
Ia juga orang yang bekerja. Ia paham akan sistem kerja seperti itu.
"Hmmm, go back to my office." Jawab Zivi santai dan terus terang.
"Finish? I will drive you to work." setelah Zivi menyelasaikan makan dan minum susunya.
What? Tidak salah dengarkan? Baru kali ini dia menawarkan diri untuk mengantarnya.
"No need." tolak Zivi acuh dengan tawaran Eibi. Lagipula ia nyaman dengan memakai motor. Dan lebih cepat sampai ditempat kerja.
"Who asks your opinion? I said, i will drive you." sanggah Eibi mendengar penolakan Zivi.
Zivi tersadar. Eibi bukan menawarkan. Tapi memberinya pernyataan. Dari itu seperti perintah yang harus dipatuhi.
Ia menyadari pagi ini dirinya banyak berdebat dengan Eibi.
"Huft, okay. Thanks." akhirnya Zivi mengiyakan. Tidak mau berdebat lagi.
"Just for this time." ucap Eibi tegas.
"..." Zivi terdiam tapi makan hati. 'What? Just for this time? Siapa yang mau mengantar sih?'seraya memutar bola matanya jengah.
Pria ini.... Zivi geleng-geleng kepala. Tidak merespon lagi. Sekalipun bisa, tidak perlu berdebat dengannya.