LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 57 Apakah Merasakan Hal Yang Sama?



Zivi merasakan Eibi terlihat manja saat sakit. ngambek seperti anak kecil. Makan minta disuapin, minum obat pun dibujuk.


“Temani saya tidur.” Pinta Eibi membuat Zivi meletakkan nampan piring bekas makan Eibi. Ia duduk disamping Eibi, dan mengatur posisi bantal Eibi agar lebih tinggi karena baru selesai makan.


“Terimakasih.” Ucapnya sambil meraih tangan Zivi yang satunya dan menggenggamnya.


Setelah Eibi terlelap, baru Zivi meninggalkan kamar dengan nampan piring kotornya ke dapur. Alden sibuk dengan laptopnya di ruang tamu. “Mau dibuatkan minum?” Tanya Zivi.


“Tidak. Terimakasih.” Jawab Alden sambil melihat nampan ditangan Zivi dengan tersenyum puas.


“Dia tidur. Mungkin pengaruh obat.” Lapor Zivi tanpa ditanya.


“Bagus. Itu yang dia butuhkan.” Respon Alden pada Zivi.


“Saya tidak menyangka bahwa temanmu itu akan sakit.” dengan raut keheranan.


“namanya manusia.” Balas Alden.


“Ya. saya tahu itu. Tidak menduga saja!” Jawab Zivi.


“Setelah pulang dari luar kota, dia langsung minta menyusul anda tanpa istirahat. Dan sampai disana, saya tidak jamin istrihatnya cukup karena mengikuti pernikahan, pagi jalan-jalan, menjelang sore pulang, tanpa istirahat semalam penuh.” Zivi terhenyak mendengar penuturan Alden.


“Semalaman tidak tidur?” dengan nada bertanya.


“Hmmm, saya ingin menggantikannya menyetir, namun karena anda tidur dan tidak ingin mengganggu tidur anda, ia menyetir hingga tiba dirumah.” Zivi menangkap nada ketidak sukaan Alden. Dengan kata anda dan penekanannya pada kata tidur, memperjelas kalau Alden menyalahkannya.


“ ! “speechless. Ada perasaan bersalah dalam dirinya. “Sorry!” bisik Zivi akhirnya, namun terdengar ditelinga Alden.


“Jika merasa bersalah, temani dan rawat dia selama sakit.” Jawab Alden dengan menatap Zivi tanpa lepas ingin mendapatkan respon.


“Hmmm, saya akan membereskan ini dan segera ke kamar. Terimakasih sudah memberitahu saya.” Jawab Zivi dengan nada bersalah.


***


Saat bangun Eibi mencari sosok disampingnya yang sudah tidak ada, dan sekilas matanya melihat sosok yang tidur sofa. Zivi.


'disofa lagi?' Eibi tidak senang.


Sofa! Ide dalam dalam benaknya muncul. Ia tersenyum sambil bangun dan turun dari tempat tidurnya.


“sudah bangun?” Zivi membuka matanya melihat Eibi yang memegang tiang infus.


Zivi segera bangun dan membantu Eibi, “mau kemana?” tanya Zivi.


“Kamar mandi.” Jawab Eibi.


“Owh. Ok!” Zivi menuntun Eibi sambil memegang tiang infusnya. “Saya tinggal. Nanti kalau sudah, bisa panggil saya.” Ucapnya.


“Kan bisa pakai satu tangan!” Ucap Zivi dengan nada memelas saat Eibi menunjukkan tangannya yang pakai infus. Tidak mungkin dirinya yang bantu, “Tunggu, saya panggilkan Alden!” ucap Zivi dengan solusi terbaik baginya.


“Tidak perlu.” Jawab Eibi sambil tersenyum puas berhasil menggoda Zivi. ia tahu, Zivi pasti akan menolak membantunya hingga tahap itu. Ia hanya ingin lihat reaksi ZIvi. Zivi menarik nafas jengah, dan segera meninggalkan Eibi.


Glek! Pintu terbuka. “Kenapa tidak memanggilku?” Zivi bertanya dengan nada protes saat melihat Eibi membuka pintu sendiri.


“Hanya membuka pintu, itu mudah. Membuka celana yang lebih sulit!” jawab Eibi.


Mulut Zivi terbuka sedikit sambil melihat Eibi, ingin menjawab namun apa yang Eibi utarakan benar. “baiklah. Kamu mau duduk di sofa atau ditempat tidur?” Tanya Zivi.


Dengan tangan tanpa infus, Eibi menarik kepala Zivi bersandar didadanya. “Biarkan seperti ini sebentar. Terasa tenang!” Ucapan Eibi membuat Zivi pasrah. Dan ia merasakan dagu Eibi bersandar diatas kepalanya.


“Maaf sudah membuatmu sakit!” ucap Zivi dengan nada pelan.


“Hmmm, tidak masalah, asal kamu disini.” Jawab Eibi.


“Hmmm.” Respon Zivi hanyut dalam perasaan yang Eibi berikan padanya. Eibi yang tadi berbeda dengan sekarang. Ia kembali manis. “Mau makan apa?” Tanya Zivi.


“Yang enak, yang kamu masak.” Membuat Zivi sedikit melambung dengan pujian Eibi. Terasa dalam hatinya namun tetap dibawah kendali dirinya. Jika terlalu tinggi melambung, sakitnya pun nanti akan terlalu saat jatuh.


“Sudah setengah 6. Saya turun masak dulu.” Ucap Zivi mendongak melihat Eibi yang juga menatapnya.


“Hmmm. Cup!” Eibi mengecup kening Zivi dengan reflek tanpa takut akan reaksi Zivi.


“Hmmm, jangan lakukan itu lagi!” Zivi protes dan mengusap keningnya dengan malu.


“Saat kamu cium, saya tidak protes!” mata Zivi terbelalak melihat Eibi yang tersenyum.


“Ah! Lupakan. Saya masak dulu!” Zivi segera melepaskan diri dari pelukan Eibi dan bangun. Ia tidak bisa membalas Eibi. Eibi tersenyum sambil melihat Zivi menghilang dibalik pintu kamar. Hatinya puas dengan keberadaan Zivi juga reaksi Zivi yang terlihat protest dipermukaan, namun air mukanya yang tersipu memperlihatkan hati Zivi yang sebenarnya.


Zivi memasak menu biasa yang ia masak saat sakit, namun kali ini sedikit bahannya ia tambahkan. Karena yang makan adalah Eibi. Tahu putih, daging ayam, serta wortel, ditambah dengan bumbunya, ia membuat soup bening sederhana. Jika biasanya semua ia campurkan dengan bubur sekaligus, namun kali ini pisahkan, nanti saat Eibi mau makan, bisa dicampurkan sendiri. Zivi juga menggoreng ikan untuk dirinya, juga Eibi sebagai tambahan jika Eibi mau. Ia tidak tahu apa yang pas untuk Eibi. Ia hanya mengikuti pimpinannya hatinya untuk memasak.


Dikamar Eibi masih terngiang akan Zivi yang tiba-tiba mengecup pipinya tadi. Tidak pernah disangka Zivi akan berbuat hal seperti itu. Kejutan yang tak pernah ia bayangkan. Ia berharap Zivi akan seperti itu seterusnya, tidak perlu menjaga jarak, tidak perlu sungkan atau malu terhadapnya untuk menyatakan perasaannya lewat tindakan seperti dirinya. Hilangkan jarak! Eibi teringat pemikirannya tadi, lalu beranjak meraih ponselnya. untung masih bisa digunakan meski sedikit retak screen guardnya. Ia menghubungi Alden.


Setelah hidangan siap, Zivi membawanya ke kamar. Eibi terlihat menikmati tanpa komentar. Zivi lega. “Aaaa!” Zivi melihat sendok dengan bubur di depannya.


“No, that’s for you!” tolak Zivi reflek, “Tidak masalahkan makan masakan sederhana?”


“Hmmm, it’s really ok. Sehat dan juga enak. So, that’s ok!” jelas Eibi dengan sedikit mimik menunjukkan tidak masalah.


Setelah makan, Zivi membatu Eibi makan obatnya. ‘mendampingi, memasak, membantunya minum obat?’ Zivi merasa seperti istri sesungguhnya. Ia senang, namun masih sedikit janggal dalam hatinya. Eibi juga merawatnya saat sakit. apakah Eibi pernah merasakan hal yang sama?


Whatever! Zivi menggeleng kepalanya. Zivi segera merapikan piring dan membawanya turun ke dapur, sekalian makan baru ia naik ke kamar.


Setiba dikamar ia melihat Eibi tertidur. Mungkin pengaruh obat. Zivi memanfaatkan waktu untuk mengecek e-mailnya.


Drttt drttt poselnya berbunyi. Alden menelponnya. Zivi keluar kamar untuk menjawab.


Hyiekkkk Zivi terkejut. Alden ada didepan pintu. Karena tak memperhatikan, hampir saja ia menabraknya.


“Dia tidur. Mungkin pengaruh obat!” Lapornya sebelum ditanya. Alden mengangguk lega.


“Good. Saya percayakan dia padamu!” Ucapnya menatap Zivi tegas.


“Hmmmm,” Jawaban Zivi dengan tanda tanya, tapi tidak bertanya malah menganggukkan kepala.


“Well. Good night!” ucapnya lalu berbalik pergi sebelum Zivi merespon.


“Well. Good night!” balas Zivi untuk dirinya sendiri. Alden sudah menghilang.


Jam 9 malam, Eibi masih terlelap. Zivi menyelesaikan latihannya dari email, lalu membersihkan dirinya dan mengganti pakaian tidur. saat hendak tidur, ia melepaskan sanggul rambutnya yang belum ia lepaskan seharian.


Dengan kepala sedikit menunduk, ia merapikan rambutnya yang baru dilepas. Rambutnya terlihat bergelombang bekas sanggul.


“Kamu siapa?” suara itu membuatnya mengangkat kepalanya.