
“Semuanya hanyalah dalam drama novel. Kalau bukan tentang si kaya dan si miskin, paling juga tentang tentang bos atau atau bawahannya, atau pangeran dan sang putri yang terbuang. Intinya sama. Dan semuanya bohong belaka.” Gumamnya lirih seusai menyelesaikan novel yang ia baca.
*gitu – gitu, tetap saja hobinya membaca. Cari novel yang bagus untuk mengisi waktu luangnya.
“aku kapan ya kayak cerita-cerita itu? Mustahil. Hufffft” keluhnya terhadap dirinya sendiri.
Ia merenungkan masa lalunya yang kelam dan menakutkan yang membuatnya hingga saat ini masih takut yang namanya LAWAN JENIS atau sebut saja laki-laki. Meskipun ia coba untuk terbuka, belajar menerima laki-laki yang menyatakan perasaannya padanya, ia tidak bisa seutuhnya menerima hal itu dan akhirnya minta diakhiri.
Yang pertama, Adi pacar pertamanya, meski bukan cinta pertamanya. Putus dengan alasan fokus sekolah. Namun alasan sebenarnya dirinya takut karena tiba-tiba dia bicara masalah pernikahan saat telefonan.
kedua, Radit. putus juga, karena selalu saja menelponnya. Hingga ia tidak bisa leluasa berinteraksi dengan teman-temannya.
ketiga, ke empat, huft…. Semuanya gagal.
“kalo di ingat-ingat, semuanya jarak jauh. Tidak ada yang dekat.” Gumamnya lirih mengingat mantan-mantan kekasihnya.
Zivi kembali pada ingatan masa lalunya dalam hal menjalin hubungan dengan lawan jenis dan berandai jika cerita dalam novel bisa nyata baginya.
Tiba-tiba ia teringat akan dia -Siapa dia?- penolongnya yang datang tepat pada waktunya.
Ia beranjak menuju kamarnya dan membuka lemarinya, dan menarik laci kecil. Ia mengambil kotak kecil dan membukanya. Barang yang ia dapati saat tersadar di rumah sakit.
Jam tangan unik yang tidak pernah ia lihat. Warna hitam legam dengan nama merk yang tak biasa ia temukan di penjual-penjual arloji yang pernah ia kunjungi.
Ada ukiran huruf di bagian dalam lingkarannya. Seperti ukiran huruf pada cincin pernikahan.
Ditempat lain, dalam sebuah ruangan.
Eibi sedang dalam kondisi marah. “arrrghhhhhh. Dasar wanita ******.” Makinya mengacaukan semua barang yang terletak di atas mejanya.
Hp miliknya ikut terlempar, sedangkan headsetnya tetap bergantungan di telinganya “aku boleh tulus padanya. Ternyata begitu kelakuannya di belakangku! Kurang ajar!” umpatnya kesal.
“EiBi, apa ada masalah?” tanya seorang asisten pribadi yang juga adalah sahabat dekatnya. ALDEN LEE. Sahabat dari sejak kecil yang mau bekerja sebagai Asisten Pribadi EiBi meski sebenarnya ia bisa mencapai lebih dari itu. Baginya, EiBi adalah pahlawannya yang mau menerimanya awal-awal kesusahan ia datang dari negaranya “negara K****”.
“Kezia.” Jawab EiBi. Hanya menyebutkan nama seorang wanita yang ada adalah kekasihnya sontak membuat Alden kaget.
Dengan semua kekacauan yang ada dalam ruangan, hanya itu penjelasan yang bukan penjelasan yang ia dapatkan.
“pasti ada sesuatu terjadi dengan Nona Kezia. Kecelakaan? tidak mungkin! Hamil? Masa iya! Kesalahan apa ya? SELINGKUH! Hanya itu yang bisa membuatnya semarah itu. “batinnya melihat kemarahan EiBi serta kekacauan yang terjadi.
“Dia berani main dibelakangku. Ketulusanku selama ini, ia salah gunakan.” Jelasnya kepada APnya *konfirmasi bagi dugaannya Alden yang ternyata benar.
“apa kamu yakin, Bi?” tanya Alden untuk memastikan. Tak ada respon yang artinya benar bahwa kekasihnya Kezia itu telah berselingkuh.
“terus apa yang akan kamu lakukan pada Kezia?” tanya Alden
“diamkan saja dulu. Aku akan memikirkan cara yang tepat untuk membalasnya.” Terangnya. Namun dalam hati ia berencana mendiamkan Kezia untuk waktu hingga Kezia yang akan menghubunginya terlebih dahulu.
“Batalkan tentang pembelian rumah yang tempo hari kita rencanakan. Batalkan reservasi restonya juga.” Tambah EiBi.