LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 84 Tugas Luar



Cup! Eibi mengecup kening Zivi yang masih tidak bergeming sejak ia menjelaskan.


Ia melepaskan pelukannya dan mengusap wajah Zivi yang sembab karena air mata.


“Saya pinjam ponselmu.” Pinta sambil mengambil ponsel dari tangan Zivi.


“Saya ingin mengurus berita itu.” tambahnya menggerakkan Zivi untuk membuka kunci ponselnya.


Zivipun mengambil waktu itu untuk ke kamar mandi membersihkan mukanya dan menjernihkan pikirannya.


Ia masih tidak bisa percaya pada Eibi sepenuhnya. Hatinya penuh waspada.


Timing yang pas, Eibi membuka kotak pesan Zivi, mencari hal yang mencurigakan. Pemikiran utamanya, jika itu disengaja, pasti ada yang mengiriminya pesan, jika tidak melalui pesan, maka dengan foto asli.


Zivi begitu yakin itu dirinya, maka pasti melalui foto-foto yang menjelaskan itu dirinya. Zivi tak mungkin percaya begitu saja hanya dengan melihat punggungnya.


Benar saja, ada nomor dengan kode negaranya.


Dugaannya tepat. Isinya adalah foto dirinya dengan jelas bersama Kezia, termasuk foto yang ada dalam berita itu. waktunya adalah hari dimana Zivi tidak menjawab telponnya berulang-ulang. Bertepatan dengan saat ia membuka kotak itu, hingga membuatnya salah paham.


Hari yang malang saat itu. Bisa bertepatan Zivi diprovokasi dan dirinya salam paham.


‘Shit!’ geram! Kezia membuatnya geram. Tak disangka wanita itu masih berani berulah dibelakangnya. Tidak berhasil didepannya, maka ia mengusik Zivi untuk meninggalkannya. Maka tak bisa lain kali ia melunak padanya.


Ia mengembalikan ponsel Zivi pada layar awal, dan menuju ruang kerjanya untuk menghubungi Eibi.


Membicarakan urusan yang akan mereka tinggal selama beberapa waktu, sekalian membereskan berita yang tersebar itu. meski sudah lewat, Eibi tidak ingin ada sejarah berita mengenai dirinya dengan Kezia.


Memanfaatkan waktu ketidakberadaan Eibi, Zivi turun ke kamar bawah dan tidur disana. Tidak lupa mengunci pintu.


‘Huft! Zivi belum percaya padanya.’ terbukti ia tidak ada dikamar. Dimana lagi jika bukan dikamar bawah.’


Kembali Eibi memeluk udara dingin dalam tidurnya.


Keputusannya untuk melobi atasan Zivi tidak salah. Sungguh cara itu yang bisa membuatnya membawa Zivi pulang bersamanya.



Sudah beberapa hari ini Zivi menghindari Eibi dengan segala cara agar Eibi tidak menemuinya.


Pagi-pagi dikantor ia dipanggil menghadap bos, sang pemimpin kantor. ‘ada apa ini? Kenapa aku dipanggil?’ batin Zivi. Hal yang paling ia tidak suka adalah menghadap bos. Ia bukan tipe yang suka cari muka. Baginya, kerja tak ada masalah, tak berurusan dengan bos. Beres. Hidup aman, tentram.


“Kamu saya tugaskan ke luar kota selama satu minggu kedepan!” itulah perkataan sang bos.


“Huh! Bapak serius? Saya bukan dibagian guiding traveler. Saya hanya bisa mengurus data-data tourist yang membutuhkan jasa. Hanya tahu urus bagian administrasi.” Berusaha meluruskan. Atasannya aneh-aneh. Memberinya tugas yang bukan bagiannya, meski ia bisa tapi itu bukan bagiannya, jika didalam kota ia masih bisa.


“bapak juga tahu, Vi. Tapi masalahnya touristnya sendiri yang minta. Sudah saya jelaskan tentang bagianmu dan saya tawarkan yang lain yang paling bisa. Dia ngototnya kamu.” Jelas sang atasan.


“Siapa memangnya Pak? Apa dia mengenal saya?” bertanya merasa aneh. Tidak pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya.


“What? Bapak tidak salah menyebutkan nama?” memastikan.


“Tidak Vi, ini datanya.” Menyerahkan data sang pelobi. Alden Lee Melobi untuk Tuan Akando Baxter.


Hmmm, benarnya. Orang yang mengenalnya. Apa mungkin karena ia menghindarinya beberapa hari ini?


Bepergian dengannya? Apa sungguh murni untuk pekerjaan? Zivi merasakan tidak tenang. Masalah mereka berdua belum selesai, sekarang dia diminta bekerja untuknya. Apa tujuannya? Tidak bisa menerka jawabannya.


Baiklah. Kalau hal ini bisa membantunya bicara dengan Eibi tentang hubungan mereka, ia akan dengan senang hati. Dari sejak Eibi menemuinya, sekalipun ia tidak dapat kesempatan. Ada saja yang membuatnya tidak bisa. Zivi memutuskan dalam hati untuk ikuti pengaturan atasannya.


Malam saat Eibi membawanya pulang harusnya bisa, namun Eibi selalu menghentikannya saat hendak bicara. Karena itu ia menghindarinya sebisa mungkin selama beberapa hari ini. Dengan segala alasan ia berikan agar tidak menemuinya. Jika tidak, ia tidak yakin Eibi tidak akan melakukan yang terlewat batas seperti dikostnya waktu itu. Enak saja! Tidak akan. Tidak memberinya kesempatan bicara, dan dia bertindak seakan tidak ada masalah.


Ia juga selalu berusaha saat membicarakan mengenai hubungan mereka melalui telfon saat Eibi menelponnya untuk bertemu, namun selalu Eibi memutuskan telfonnya terlebih dahulu. Huft…


“Bapak yakin orangnya membutuhkan jasa saya? Saya tidak menjamin bisa memenuhi syarat seorang ahli yang seharusnya Pak!” sekali lagi bertanya dengan ragu-ragu dan merendahkan diri.


“Yakin Vi. Kamu diperlukan untuk jadi interpreternya. Kamu jugakan bisa dalam hal itu. Dan bapak percaya kamu bisa.” Atasan meyakinkan.


‘Interpreter? Bukannya dia fasih Bahasa? Interpreter untuk apa?’ Zivi tidak mempercayai apa yang didengarnya. Sudah jelas, Eibi memiliki tujuan lain memintanya.


“Pak,,, Jika di ganti dengan yang lain saja, bagaimana?” Zivi meminta dengan penuh harap.


“Tidak bisa Vi. Dia mintanya kamu. Kenapa kamu sepertinya sangat keberatan?” Atasannya bertanya heran, “Lagipula dia suamimu, jadi enakkan berkerja untuknya.” Memberitahu Zivi sambil mengeryit. Tidak biasanya Zivi keberatan jika ia mempercayakan pekerjaan padanya, memang untuk keluar kota baru kali ini.


“Suamimu berani bayar 3x lipat untuk tugas seminggu keluar kota. Ini bagus untuk income kantor kita dan bonus kalian juga nanti bisa bertambah.” tambahnya lagi dengan senyum diwajahnya, “Sekalian kamu jalan-jalan dengan suamimu. Ok!” dengan akhir yang tidak bisa dibujuk lagi.


‘Apa… Bapak ini namanya menjual saya. demi 3x lipat itu, memanfaatkan saya!’ batinnya kesal.


‘Ok. Tidak ada pilihan lain. Andai saja tidak nyaman bekerja ditempat ini, sudah saya undurkan diri!’ menggerutu dalam hati.


‘Baiklah! Mari kita bekerjasama sekalian mengakhiri yang harus diakhiri.’ Membulatkan tekat sekalian support untuk diri sendiri.


“Baik Pak” Mengiyakan tugas dari atasannya.


*****


“Hmhmhmhm” bersenandung dengan senyuman puas terpancar dari mata seseorang dari perusahaan seberang. Siapa lagi kalau bukan EiBi. Kesenangannya melebihi apapun mendengar laporan Alden bahwa ia berhasil melobi atasan Zivi untuk mengijinkannya tugas luar.


“Apa yang sedang kamu rencanakan?” Alden akhirnya bertanya. Tidak paham akan apa yang direncanakan bos sekaligus sahabatnya itu “jika untuk menyakitinya saja, sebaiknya urungkan niatmu itu” nasihatnya karena kasihan pada Zivi. Ia mengerti, Zivi yang selalu tidak bisa ditemui, bukan karena tidak bisa. Pasti gadis itu bersembunyi atau menghindar. Pasti ada hal yang buruk yang terjadi waktu Eibi menemuinya selain masalah diprovokasi Kezia. Perkiraan Alden.


“Siapa menyuruhnya menghindariku? Biar ia tahu sampai kapan ia bisa menghindari saya!” balasnya menyatakan bahwa ia menyadari sedang dihindari “don’t be worry. I just want to play my role as she wants. It’s must be fun if it with her.” Tambahnya dengan senyum bahagia membayangkan kebersamaannya dengan Zivi.


Malam hari itu ia sudah berharap bisa bersamanya dan menjelaskan padanya, juga membuat semuanya jelas diantara mereka, ia malah meninggalkan kamar dan mengunci dirinya dikamar bawah.


Pagi hari ia berharap bertemu dengannya, Zivi sudah tidak ada. Setiap harinya, selalu saja ia tidak bisa menemuinya dengan berbagai alasannya. Apa dengan menghindar akan membuat semuanya jelas?


‘Dengan begini akan ada jalan untuk membuat semuanya jelas diantara kita, dan hubungan kita bisa lebih yang pada seharusnya.’ Batin Eibi.