
Richard.
Pandangannya tertuju pada Donna. Dalam balutan gaun pesta putih selutut tanpa lengan, hihgheels, dengan riasan make up yang lebih cetar, serta rambut yang keriting gantung, membuatnya jatuh cinta lagi pada gadis itu.
Eibi.
Hatinya yang masih dipenuhi kekesalan, kini hanyut oleh gadisnya yang berdiri diantara kedua sahabatnya disana. Gaun putih simpel yang tertutup, kerah Shanghai, dan sedikit terbuka dibagian lengan, rambut Cepol dengan konde yang membuat leher terlihat jelas dan mempesona, make tipis yang tidak menutupi cantik naturalnya yang memikat, dan higheels pemberiannya yang membuatnya sedikit lebih tinggi. Ingin rasanya ia segera membenamkan gadis itu dalam pelukannya.
Sedangkan Alden.
Ia melihat ketiganya. Terlihat mereka teman dekat. Jalan - jalan mengenakan kostum yang sama, pakaian pestapun mereka samakan. Ia melihat Epi yang disamping Zivi dalam gaun pesta yang sama. Hampir sama dengan Donna, namun ia berlengan sesiku. Rambutnya yang pendek, tidak di apa apakan, hanya dihiasi dengan bando cantik senada dengan warna gaunnya.
Gaun yang mereka pilih sebelumnya untuk pembawa cincin. Saat resepsi, bagian sambungannya yang panjang dilepas, jadi selutut. Seperti instruksi dari tempat pembelian.
Beberapa orang yang lewat terpesona akan mereka, dan memberikan senyum.
ke tiga wanita yang diperhatikan didepan malah tidak menyadari kehadiran mereka. Masih sibuk konsentrasi dengan lagu yang sedang mereka alunkan.
Tap tap tap
Langkah mereka semakin masuk dan menarik perhatian undangannya, baik sedang makan, minum, ngobrol ataupun yang sedang menikmati alunan musik romantis yang dinyanyikan.
“Wow!”
“Cakep!”
“Siapa mereka?”
Bisik - bisik undangan melihat kehadiran mereka dengan penuh kagum juga pertanyaan.
Prok prok prok
Tepuk tangan meriah serta suitan dari pengunjung yang menonton memenuhi area resepsi saat mereka mengakhiri lagu.
Zivi, Donna, dan Epi menghela nafas lega. Tersenyum puas satu sama lain. -Tidak buruk! - bisik Donna, diikuti anggukan Zivi dan Epi.
Saat undur dari panggung, Zivi mendengar bisik bisik kagum. Ia menunduk memperhatikan jalan, daripada kesandung dan malu. Ia tidak sadar ada mata yang terus mengikutinya.
“Cakep ya!” “Gantengnya!” “Sepertinya yang satu dari Korea.” komentar dari orang – orang masuk ke pendengaran Zivi. -Siapa? Apa Richard sudah datang? Lalu siapa orang yang mirip korea? – Zivi penasaran.
Zivi melihat Donna, yang kini sedang melihat kearah lain dengan tersenyum.
“Vi, kamu bilang nggak datang?” Epi menepuk pelan lengan Zivi dengan tersenyum.
Zivi heran dan melihat kearah Donna melihat.
Tap.
Tatapan mata bertemu dengan Eibi.
Zivi segera melepaskan tatapan dan menunduk seakan melihat jalan, melangkah mengiringi Epi dan Donna.
Tangannya dengan spontan menggaruk sedikit jidatnya. -mati aku! Tatapannya, tatapan apa itu? Apa dia marah? - Zivi membatin.
“Hi, Miss you.” Donna cipika cipiki dengan Richard.
“Miss you too” Balas Richard sambil menatap Donna dan mengelus lembut pipinya. Menarik perhatian para undangan. Kagum.
“Hi. I didn't know that you Will come here together.” Salam Zivi dengan senyuman paksa.
“Yeah, kebetulan.” Balas Eibi datar. Ingin ia memeluknya, namun mengingat Zivi membohonginya, dan sikap kikuk Zivi ia bertahan.
“Hi, Mrs. Akando! Nice to meet you!” Richard menyalami Zivi, lalu menyalami Epi sekalian berkenalan dengannya.
'Mrs? terdengar aneh!' Zivi bergidik dan menganggapnya lalu. Tidak perlu dipikirkan. batinnya.
Demikian juga Alden menyapa mereka, dan menyalami dengan Donna dan Epi.
“Have you given your blessing?” Tanya Zivi pada mereka. Lebih tepatnya ia ingin menghilangkan rasa kikuknya didepan Eibi. Semuanya menggeleng.
“So, let us accompany you to give your blessings for them.” Ajak Zivi mendahului mereka. Eibi tepat di belakang Zivi. Donna menggandeng Richard, lalu disusul Alden, lalu berikutnya Epi.
“So, you actually come. You lied to me. ”Ucap Lita saat Eibi menyalaminya, lalu kalimat kedua ia utarakan sambil melihat Zivi.
Eibi terus maju bersalaman dengan suami Lita dan juga kedua orang tua mereka. Bergantian dengan Richard dan Alden.
“What?” mulut Zivi terbuka dengan pertanyaan yang tak disuarakan merasakan tatapan Lita padanya.
“You said he couldn't come. But what?” Balas Lita dengan sedikit melotot padanya namun binar matanya senang.
“Yeah, actually.” Ucap Zivi namun dengan setengah suara.
“That's ok. You won the bet.” Jawab Lita padanya sambil tersenyum.
-Bet? What bet? - Eibi penasaran.
“Please, stop talking about that.” Mohon Zivi setengah berbisik.
“Take picture together.” Lita mengajak mereka berfoto berhenti menggoda Zivi, yang meninggalkan keingintahuan pada Eibi terutama.
Ketiganya, Eibi, Richard, Alden berfoto bersama mereka.
“All, with your special women too.” Pinta Lita.
Alden keluar, bergabung dengan Epi. Donna dan Zivi masuk.
“Once more ya, with all of you!” Pinta Lita lagi. Epi dan Alden masuk.
Richard, Alden, Eibi berdiri disamping mempelai laki-laki, sedang Zivi, Epi, Donna berdiri disamping mempelai wanita.
Sesi foto berakhir, Lita berterimakasih, demikian juga suaminya.
“Wish you a happy merriage life.” Ucap Eibi mewakili mereka.
“You can enjoy the party, enjoy the meal and beverages. Thank you for your coming.” Ucap Lita.
“You’re most welcome!” Balas Eibi.
Selesai sesi dengan penganten, Donna menggandeng Richard menuju stand hidangan.
Zivi hendak menggandeng Epi, namun Epi menolaknya.
“It’s better you come with me!” Alden bersuara diantara mereka. Tentu saja yang ia maksudkan adalah Epi. Eibi hanya cukup melihat dan mendengarkan. Donna dan Richard sudah menjauh.
“Yeah, you are right!” Epi meninggalkan Zivi lalu mengikuti Alden ke salah satu stand.
Tinggallah Zivi dan Eibi. Zivi melihat Eibi dengan menarik nafas.
Deg! Eibi meraih tangannya, menggenggamnya dan membawanya menuju stand makanan.
“What do you want to eat?” Tanya Zivi mendongak melihatnya dengan tatapan yang dipaksakan.
“No. I don't eat.” Jawab Eibi, lalu melepaskan tangan Zivi untuk mengambil makanan.
“Do you want to drink?” Tanya Zivi dengan perasaan tidak nyaman dengan sikap Eibi yang terlihat dingin dan datar.
“No.” tolaknya lagi.
Zivi menyerah, dan mengambil makanan yang menurutnya khas, mungkin nanti Eibi mau saat ditawari.
“Try this one.” Zivi menyodorkan satu tusukan sate padanya. Eibi menggeleng tidak mau.
“Hm, Try. It’s delicious.” Ucapnya lagi membujuknya. Eibi tetap tidak mau.
Zivi mengeryit, menarik nafas, lalu memakan sate yang ditolak Eibi. Dengan nikmat ia mengunyah satenya. Dengan sekali mengusap sudut bibirnya.
Eibi menonton Zivi menghabiskan makanannya. “It’s sate. It’s so yummy. You’ll regret it later.” Zivi berusaha agar ia mau mencoba makan sate.
“So, what’s this mean?” Tanya Eibi. Ia masih terbayang dan kecewa dengan sikap Zivi yang katanya care, tapi?
“No, i just want you to try this meal, delicious.” Jawan Zivi jujur, tidak tahu apa yang dipikirkan Eibi.
“Owh, really!” Dengus Eibi.
“If you don't believe me. That's ok.” Balas Zivi cuek.
“Done. I need to drink.” Ucapnya lalu meninggalkan Eibi disana. Lalu kembali dengan dua cangkir minuman -Es teller- yang berakhir dengan diminum sendiri.
“Wah, ibu pikir kamu datang sendiri!” Salah satu ibu komunitas datang menyapa mereka. Dia salah satu yang Zivi undang saat menikah.
“Awalnya, bu. Eibi datang menyusul akhirnya.” Jawab Zivi dengan senyuman khasnya. -sebenarnya juga ia sendiri, mana tahu Eibi tiba-tiba muncul. -
“Bagus. Sekalian bulan madu.” Ucapnya dengan kedipan mata pada Zivi, Eibi hanya tersenyum saat ia disenyumi. Zivi senyum masam mendengarnya.
“Ya, mungkin ditempat ini bisa berhasil.” Ucapnya lagi dengan santai. Ia melihat sampai saat ini Zivi tidak menunjukkan tanda-tanda hamil saat bertemu. Pikirnya karena tidak berhasil.
“Kau tidak menundanyakan?” Membuat Zivi mengerjap. -maksunya apa? – senyumannya tambah masam.
“Apanya yang ditunda bu?” Zivi dengan suara tertahan dan senyuman paksanya. “Ibu bersama siapa kemari?” Zivi megalihkan pembicaraan.
“Ibu datang sama bapak, juga beberapa ibu-ibu yang ingin jalan-jalan.” Jelasnya, “Oww. Sama. Menyelam sambil minum air.” Komentar Zivi. dirinya juga dengan Donna dan Epi demikian.
“Ibu lanjut dulu ya. Maaf mengganggu.” Zivi senang mendengarnya. Serasa mendapat kebebasan.
Namun sebelum pergi, ibu itu mendekat ke telinganya dan membisikkan sesuatu yang membuatnya membulatkan mata dan mulutnya membundar.
“Bagus. Semoga berhasil ya!” Ucapnya melangkah pergi meninggalkan Zivi yang menarik nafas sambil menggelengkan kepala.
“What did she whisper to you?” Tanya Eibi, meski ia bisa menerka, ia tetap bertanya.
“No. Nothing.” Jawab Zivi tidak mau memberitahu Eibi.
“Pregnant?” Eibi langsung dengan satu kata yang membuat Zivi terkejut, ingin bicara namun tak ada kata yang keluar. Sebagai jawaban Zivi menggelengkan kepalanya. menghela nafas. Bisa saja dia paham bisikan mereka.