LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 78 Tugas Tidak Berbobot



Keesokan harinya pukul 07:00.


“Antar saya ke kantor. Tugasmu hari ini menemukan tempat tinggal Zivi.” memerintah tanpa melihat orang yang diperintah.


Bugh! Bunyi pintu mobil yang di Tarik dengan kuat.


Alden tanpa menjawab ikut masuk di kursi kemudi, anggukan kecil sebagai jawabannya.


Kegiatan yang paling tidak berbobot bagi Alden hari ini. Harus menemukan tempat tinggal Zivi, dan semua cara telah ia lakukan, namun sayang tidak berhasil. Ia mendapati Zivi malah tinggal bersama Donna. Tidak ada teman Zivi yang tahu dimana ia tinggal.


Satu per satu yang yang terpikirkan oleh Alden, dihubungi satu persatu untuk bertanya, namun semuanya terkejut. Mereka hanya memberitahunya tempat tinggal sebelumnya dan alamatnya setelah menikah.


“Alamat? Hahahaha! Jika bercanda, jangan padaku. Sebaiknya tanyakan teman sekaligus bos mu. Pasti ia lebih tahu.” Respon Donna menggodanya saat ia hubungi.


“Maaf, salah orang!” Balas Alden tidak ingin menimbulkan pertanyaan bagi Donna.


‘Ternyata ia pindah tanpa memberitahu siapa-siapa, termasuk teman dekatnya. Pintar juga bersembunyi!’ batin Alden.


“Siapa?” Tanya Zivi menatap penuh tanya pada Donna yang tertawa karena telpon yang barusan ia terima.


“Teman suamimu. Aneh. Dia menanyakan alamat mu. Apa tidak ada bahan yang lebih lucu?” ucapnya sambil terkekeh.


“Atau jangan-jangan ia mengalami amnesia jangka pendek! Hahahaha” Donna menerka.


Tutttttt, panggilan tersambung. Alden melakukan panggilan langsung pada orangnya.


“Bisa jadi. Tapi hal yang 1001 kali kemungkinan itu terjadi.” Komentar Zivi tidak menunjukkan keanehan dengan ucapan Donna sebelumnya. “Sebentar, aku angkat telfon dulu.” Memberitahu Donna.


“Hallo!” Zivi


“Hallo! Ini dengan Alden.” Mengeryit mendengar suara dari seberang.


“Ya. Saya tahu.” Zivi.


“Sekarang anda dimana?” Alden.


“Saya dirumah teman saya. Donna.” Zivi mengungkapkan kebenaran. Namun bukan itu yang dimaksud Alden.


“Maksud saya, sekarang anda tinggal dimana?” bertanya lagi.


“Dirumah Donna.” Jawaban yang sama ia berikan meski ia menangkap pertanyaan yang dimaksud Alden. Zivi tidak ingin memberitahu siapa-siapa dimana ia tinggal sekarang.


“Maaf, saya harus segera pergi. Jadi tidak bisa menerima telfon.” Sambungnya kemudian, lalu mematikan ponsel.


‘Pandai menghindar.’ Alden gelengkan kepala. Meskipun rasanya masuk akal, namun nada suaranya terdengar ia menghindari untuk menjawab pertanyaannya.


Jalan keluar satu-satunya, Alden menunggu didepan kantor Zivi dengan bersembunyi agar tidak terlihat. Ia duduk di resto kecil diseberang jalan ditemani kopi yang ia pesan, resto yang letaknya persis berhadapan dengan gerbang kantor Zivi.


Selang 20 menit, mobil tidak asing memasuki area kantor Zivi.


Bugh! Keduanya bersamaan turun dari mobil. Donna dan Zivi. ‘tidak bisa menerima telfon? Tidak masuk akal.’ Dengus Alden melihat tak berdaya pada sosok yang baginya pandai berbohong sekarang. Apa yang ia ragukan, ternyata benar.


Tap tap tap, mengetuk meja sambil menatap layar menunggunya menyala. Setelah rapat hingga jam 11 siang, dan mengecek file yang menumpuk diatas yang diserahkan oleh sekretarisnya, Eibi menunggu Alden menghubunginya.


Sudah jam 12:30, sama sekali Alden belum menghubunginya. Sudah berapa jam hingga sekarang? Tidak mampukah ia menemukan alamat Zivi seorang?


“Bagaimana?” pesan singkat yang kirimkan pada Alden.


“Belum. tidak ada temannya yang tahu, juga tidak ada CCTV didaerah dekat kantornya untuk menyusurinya. Jika CCTV seluruh kota, maka akan butuh waktu yang lama. Saat ini saya sedang menunggunya didepan kantor untuk bisa mengikutinya.” Jelas Alden agak panjang.


“Hmmm” jawaban singkat.


Sore hari, jam bubar kerja.


“Ke rumahku dulu yuk!” Donna mengajak Zivi kembali bersamanya, “nanti pulang ku antar.”


“Ok. Lagipula aku tidak ada kerjaan. Bolehlah, sekalian have fun ditempatmu.” Zivi yang merasa sumpek sendirian di kostnya pun mengiyakan. Bagus jika ia ada temannya. Biasanya dia akan nonton drama bersama Donna atau menyanyi bersama Donna.


Eibi segera meninggalkan ruangan dan mendapati Alden sesuai dengan alamat yang Alden berikan.


Dari luar pagar terlihat jelas kegiatan kedua gadis itu sedang bercengkrama ria. Entah apa yang mereka bicarakan.


“Kau boleh pulang. Biarkan aku sendiri.” Pinta Eibi meminta Alden pulang. Alden menurut dengan mencegat taksi.


Gorden yang tidak di gerai membuat Eibi lega, ia bisa menatap Zivi yang sesekali tertawa riang dengan Donna.


Tak berapa lama, mobil memasuki pekarangan rumah Donna. Bukan Richard. Siapa?


Setelah orangnya turun, Eibi baru mengenalnya.


Damon? Untuk apa dia kemari?


Eibi seakan menonton siaran langsung. Sesekali raut wajahnya berubah.


Damon yang sudah biasa berkunjung ditempat Donna, masuk dengan santai. Sekarang meskipun Richard tidak ada, ia tetap berkunjung kesana asalkan ada Zivi.


Ia meletakkan kotak kue yang ia bawa serta minuman ringan diatas meja, lalu menyalami kedua gadis itu dengan salaman akrab.


“Thank you!” ucapan riang Donna sambil membuka kotak cemilan yang dibawa Damon, dan membagikan minuman pada masing-masing mereka.


“Never mind. Kapan Richard pulang?” Tanyanya pada Donna sambil melihat Zivi yang sedang melihat pesan yang baru masuk.


Zivi yang merasakan tatapan Damon mendongak melihat Damon. Damon yang menyadari hal itu, mengalihkan segera pandangannya.


Tersenyum malu dengan pemikirannya, Zivi mengambil minum yang Donna sudah bagikan, “Thank you!” ucapnya pada Damon.


“Anything for you!” Damon membalasnya.


“Mana gitarnya?” Damon bertanya.


“Owh, ada di kamar. Semalam kami bawa masuk.” Jawab Zivi dan segera beranjak mengambil gitar.


Kegiatannya di tempat Donna adalah main gitar dan menyanyi bersama Donna. Dengan adanya Damon, ia jga belajar beberapa kunci lagu. Damon dengan senang hati membantunya.


Setelah gitar ditangan Damon, mulailah konser kecil mereka seakan melepas semua kelelahan hari itu dengan menikmati musik serta bersenandung sepenuh hati.


“I claim every mountain, and swim every ocean. Just to be with you….” Lagu dari Calum Scott.


“Sekarang giliran mu mainkan.” Damon menyerah gitar Zivi setelah menyelesaikannya dengan sangat mempesona.


“Ok. Tapi jika tidak sesuai, jangan protes.” Sambil menerima gitar.


“Tidak akan. Saya akan mengajarimu.” Damon pindah duduk, ia duduk dilengan sofa single tempat Zivi duduk. Dengan serius Zivi memainkan gitarnya. Dan sesekali Damon akan mengoreksinya. Damon juga membantunya meletakkan posisi jarinya pada senar gitar.


Zivi tidak keberatan, karena ia tidak over thinking. Namun bagi Damon itu adalah kesempatannya makin dekat dengan Zivi, bahkan bisa menyentuh jari Zivi.


Setiap adegan itu membuat yang menonton makin geram. Apa maksud Damon menatap Zivi seperti itu? Kenapa Zivi membiarkan Damon sedekat itu dengan dirinya? Apa mereka… tidak mungkin. Zivi yang ia kenal, tidak akan melakukan itu selama ia masih berstatus seorang istri.


Waktu berlalu, sudah jam 8 malam. Apa Zivi tinggal bersama Donna selama ia tinggal?


Tak lama kemudian, ia melihat Damon berdiri, Zivi juga ikut berdiri mengambil tasnya dan keluar mengikuti Damon.


Damon membukakan pintu mobil untuk Zivi, membuat Zivi terharu, “Thank you!” Ucapnya sambil tersenyum.


Damon menurunkan Zivi depan gerbang rumah Eibi, membuat Eibi senang karena Zivi pulang. Rasa lelah dan kepikirannya hari ini sedikit terbayar. Dengan Zivi pulang, ia bisa menanyakan langsung untuk kejelasannya.


Namun tidak lama kemudian motor datang dan berhenti di dekat Zivi setelah mobil damon menghilang.


****! Rasa leganya hanya untuk sebentar. Zivi naik motor itu dan pergi. Eibi tidak tinggal diam. Ia mngikutinya hingga Zivi turun didepan kostnya. Lokasi yang tidak jauh dari tempat ia kerja.


“Rupanya disini kau tinggal!” bicara pada diri sendiri, lalu segera turun dari mobil.