
Eibi pulang lebih cepat dari kantor hari itu, ia berharap bisa bertemu Zivi dan memberikan kotak yang tertunda ia berikan kemarin.
Saat mendekati gerbang rumahnya, ia melihat gadis yang tidak asing keluar dari gerbang rumahnya.
“Kezia?” syok dan bertanya-tanya dalam hatinya ‘untuk apa Kezia kesini?’, ia turun dan hendak menanyakan Kezia langsung. Sayangnya, Kezia sudah terlebih dahulu naik taksi yang ternyata sudah menunggunya didepan gerbang.
Batin Eibi berkecamuk, ia segera memasuki mobilnya dan mengemudinya masuk kedalam teras rumahnya. Eibi buru-buru masuk, ia ingin melihat apakah terjadi sesuatu dengan Zivi.
Zivi tidak ada diruang tamu, tidak ada dikamar. Tidak ada di dapur, pastinya ada diruang pribadinya. Eibi segera kesana.
Tok Tok Tok
“Ya, Pak?” Zivi menyahut dari dalam, mengira Pak Tejo yang mengetuk pintu. Ia menghentikan kegiatan ORnya untuk membuka pintu. Pengalaman dari sebelumnya, saat itu ia mengenakan kostum OR yang sopan.
Glek, pintu terbuka.
“Kamu?” Tanya Zivi melihat Eibi yang tak ia duga sudah pulang jam segitu. “Saya kira Pak Tejo. Ada perlu sesuatu?” tanya Zivi.
“No.” Jawab Eibi lega mendapati Zivi baik-baik saja. Jawaban Pendek, tidak ada lagi yang keluar dari mulut Eibi, namun tetap berdiri disana. Hal itu membuat Zivi merasa jengah.
“Kalau tidak ada lagi yang dibicarakan, saya mau lanjutkan OR saya.” Ucapnya dalam bahasanya dengan acuh dan terkesan mengusir.
“Yeah, you can continue it.” Balas Eibi sambil melambaikan tangannya dan pergi. Ia agak sedikit canggung untuk bertanya ke Zivi mengenai Kezia yang tadi datang ke rumah mereka.
***
Sehabis OR, Zivi mandi. Saat ia keluar, didapatinya Eibi yang duduk di sofa ruangan pribadinya itu. “kenapa mandi lama sekali?” sambutan pertanyaan dengan terbata-bata.
“Perempuan kalau mandi, memang lama” sambil jalan menuju menuju sofa dan duduk diujung sofa menyisahkan jarak antara dirinya dan Eibi.
“Mau makan bersama?” tanya Zivi memecah keheningan diantara mereka.
“Yap. And I have something to tell you.” Jawab Eibi mengiayakan.
“Then, wait. I’ll cook.” Ucap Zivi sambil bangkit dari duduknya. Saat hendak melangkah, ada tangan yang menangkap tangannya, tak lain adalah Eibi. Langkahnya terhenti dan melihat Eibi, juga melihat tangan yang memegang tangannya.
“Thanks.” Ucap Eibi lembut dengan tatapan sayu memancarkan kelembutannya disana.
“Not to mention.” Ucap Zivi dengan tersenyum tulus mengira Eibi mungkin sungkan dirinya memasak untuknya. Hal itu sudah jelas dimatanya sebagai sebuah jarak antara dirinya dan Eibi.
Zivi menghela nafas lega. Dirinya sudah tidak memedulikan lagi hubungannya dengan Eibi sebagai suami istri. Ia sudah tahu alasan sebenarnya, dan bahkan bertemu dengan orang sebenarnya Eibi cintai. Jadi ia mengabaikan perasaannya yang membuatnya tidak nyaman itu, dan kembali seperti sediakala saat masih single.
Lama terdiam dengan tatapan yang belum lepas dari mata Zivi. Zivi mengira masih ada yang hendak Eibi katakan, jadi iapun terdiam menunggu. Tak ada kata keluar dari mulut Eibi, namun tangannya tidak dilepaskan. “enm, I have to cook!” ucapnya sambil melihat tangannya dalam genggaman Eibi.
“Owh, yeah. Sorry. Then, I leave to wash up.” Ucap Eibi seraya melepaskan tangannya.
****
Zivi sudah duduk menunggu dimeja makan saat Eibi menuruni undakan tangga.
“What have you cooked?” tanyanya basa-basi. Padahal masakan sudah didepan mata.
“sawi tumis, daging ayam goreng, sambal, tahu dan tempe goreng” jelas Zivi dalam bahasanya dengan mata yang menunjukkan masakannya.
“hmmmmm” jawaban Eibi tidak begitu tertarik dengan masakan Zivi namun duduk juga berhadapan dengan Zivi.
“makanlah. Coba dulu.” Tawar Zivi memberi Eibi piring, dan menyendokkan nasi untuknya “segini, cukup?” menunjukkan takaran nasi kepada Eibi.
“Yap, enough!” balas Eibi mengambil sedikit, sedikit sayur dan lauk yang tersedia. Zivi pun mengambil untuk dirinya sendiri. Eibi menatap makanannya tidak menyentuhnya. Zivi sudah dua kali suap malahan.
“makanlah” pinta Zivi.
“pakai sendok juga bisa. Kalau saya suka pakai tangan.” Jelas Zivi. Eibi mengikuti Zivi ‘enak juga batinnya’
Selesai makan Zivi mencuci piring dan sendok, dan merapikan meja makan “Just wait for me in the bedroom!” pinta Zivi saat melihat Eibi tidak meninggalkan dapur meninggalkan dapur.
“Then, Ok!” ucap Eibi beranjak dan meninggalkan dapur.
Zivi sudah memutuskan untuk bicara dengan Eibi terlebih dahulu nanti sebelum Eibi mengatakan apa yang akan dia katakana. Ia tidak mau merasa berada diposisi yang ditolak. Jadi sebelum Eibi mengucapkan kata-kata penolakan, dirinya harus duluan. Decided!
****
Selesai membereskan dapur, Zivi bergegas ke kamar. Eibi sedang duduk di sofa tempat dirinya biasa tidur. Ia duduk dengan jari kedua tangannya bertautan dengan Gerakan seperti gemetar.
Zivi menutup pintu lalu menuju sofa dan duduk disana dengan menyisahkan jarak antara dirinya dengan Eibi.
Eibi mendongak melihatnya saat menyadari Zivi duduk disofa, “Finished?” tanyanya pendek dengan pandangan yang tak lepas dari Zivi.
“Hmmmm.” Sahut Zivi dengan sambil mengangguk kecil.
“I want to …”
“Let me talk to you first.” Ucapan Eibi langsung Zivi potong, ia tidak mau Eibi bicara terlebih dahulu.
“Then, go ahead. I’ll listen to you first.” Eibi mempersilahkan Zivi bicara terlebih dahulu.
“Kamu mengerti bahasaku?” Tanya Zivi terlebih dahulu. Zivi tidak mau kerepotan menggunakan Bahasa asing dalam hal ini, jadi ia ingin memakai bahasanya.
“Yeah, saya mengerti.” Jawab Eibi.
“Hmmmmm,” untuk menutup rasa gugupnya ia menggunakan partikel hmm terlebih dahulu, “sebenarnya, saya tahu alasan sesungguhnya kamu menikahi saya.” Zivi membuka pembicaraan.
“memangnya apa?” tanya Eibi terlihat syok dari pancaran matanya, namun segera ia tutupi.
“Saya tahu, kamu menikahi saya bukan karena kamu ingin bertanggung jawab. Iya kan? Dan saya juga sudah tahu kalau ternyata kita tidur bersama karena dijebak” Jelas Zivi menegaskan kalimat terakhirnya.
“You knew from whom?“ Tanya Eibi selidik. Awalnya syok mendengar penuturan Zivi namun ia cepat-cepat menyembunyikan keterkejutannya. ‘Siapa yang berani memberitahunya?’ batin Eibi menatap langsung kemata Zivi.
“Saya tahu dari percakapanmu bersama teman – temanmu di kafe.” Aku Zivi jujur.
Tampang Eibi syok, membuka sedikit mulutnya hendak mengatakan sesuatu namun tidak keluar dari mulut.
Eibi terdiam. “Saya tidak sengaja mendengar. Saya hanya ingin memberikan ponselmu. Tapi saya urungkan setelah mendengar percakapan mu dan teman-temanmu.” Terang Zivi menunduk menyembunyikan rasa sedih juga sakit hatinya “Saya mau memberitahumu, saya mau menikah denganmu karena yang saya tahu saya sudah tidur dengan kamu. Andai waktu itu kamu tidak datang untuk melamar saya, sayapun tidak akan mengemis dinikahi.” Per kata dengan penekanan sambil menunjuk diri sendiri, “Cuma sayangnya saya tertipu dengan lamaranmu yang pura-pura tulus.” Menarik nafas. “Semoga kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu inginkan.” Tambahnya dengan penuh makna.
“apa kamu sungguh tahu alasan saya menikah dengan kamu?” memastikan seberapa jauh Zivi mendengar percakapannya di kafe bersama temannya waktu itu.
“hah! Sudah saya katakan saya tahukan.” Senyum mengejek “mau bukti? Mau saya beberkan sekarang didepanmu?”
“hanya untuk have fun? Terimakasih sudah menjadikan saya sasaran untuk bersenang-senang.” Ucap Zivi sinis namun hatinya miris. “hmmm, begitu takutnya bisnismu akan tidak berjalan dengan baik jika sampai video itu beredar?” pernyataan dalam bentuk pertanyaan yang telak Eibi terima. Tak menjawab namun mengangguk lemah. “Saya hanya sedih dimanfaatkan. Kita dijebak, tapi kamu malah menjebak saya juga dalam pernikahan seperti ini.” Zivi mengutarakan kesedihannya, mendongak melihat tampang Eibi yang pias, memucat. Tanda kuat bahwa pernyataannya benar.
Eibi merasa bersalah mendengar penuturan Zivi yang sedih. Ia teringat tujuan awalnya mendekati Zivi. Dan ternyata, ia harus menikahinya diluar harapannya demi tujuannya yang lain. Ya, ia akui dirinya sudah memanfaatkan Zivi dalam hal ini. Bahkan sudah setengah berhasil.
“I …” Eibi ingin bicara namun tercegat ditenggorokannya.
“I’ll help you. I’ll let you use me. Semoga berhasil dengan tujuanmu. Butuh berapa lama untuk memanfaatkanku?” Tanya Zivi dengan menahan sesaknya. Lebih baik merelakan diri untuk berkorban dari pada dimanfaatkan secara diam-diam, pasti akan lebih sakit.
“Setelah kamu berhasil, beritahu saya. Dan setelah itu, kita bisa berpisah baik-baik. Untuk sekarang, kita jalani saja seperti diri kita sebelumnya. Kamu dengan urusanmu, saya juga dengan urusan saya. Jadi kamu boleh bertemu dengan siapa saja, termasuk bertemu dengan kekasihmu. Tidak perlu sungkan dengan saya.” Terang Zivi.
Mendengar penuturan Zivi, Eibi hanya mengangguk-ngangguk, kehilangan kata. Ia, ingin menjelaskan, namun apa yang harus ia jelaskan? Ia ingin memberikan hadiah yang sudah ia siapkan juga sebagai ucapan terimakasih, tapi tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya. Intinya, dirinya yang sangat bersalah terhadap Zivi dalam hal ini.
“Saya sudah selesai, sekarang giliranmu untuk bicara!.” Zivi mempersilahkan Eibi untuk bicara.