
Pagi hari saat bangun, Eibi mendapati Zivi sudah berangkat kerja. Ia merasa sedikit kecewa, orang yang ingin dilihatnya saat membuka mata sudah tidak ada disana.
Tunggu! Sejak kapan, saat bangun pagi, ia kecewa mendapati Zivi tidak ada?
Ia merasa janggal dengan perasaannya sendiri.
Jam 09:00 pagi, Pak Tejo masuk memberitahunya ada kiriman yang datang. Eibi mengeryit mendengar laporan Pak Tejo.
“Apa kirimannya, Pak?” Tanyanya penasaran, karena ia merasa tidak memesan apa-apa.
“Katanya, hadiah pernikahan, Tuan.” Jawab Pak Tejo sesuai dengan ucapan pengirim barang tersebut.
“Bawa masuk saja, Pak.” Ucapnya. Eibi mengira itu adalah hadiah pernikahannya mungkin dari Mr. Caston. Mengingat waktu yang lalu, Mr. Caston mengatakan akan memberinya hadiah, meski yang ia katakana bukan barang. Mungkin hadiah tambahan pikir Eibi.
Saat barang tersebut dibawa masuk oleh kedua orag kurir pengantar kiriman, Eibi melihat benda berbentuk segiempat besar yang pipih seperti bingkai foto. Satunya berukuran besar, satunya berukuran sedang. Ditumpuk.
“Apakah ini lukisan?” Tanya Eibi memastikan apa yang dipikirkannya. Mr. Caston mungkin mengiriminya lukisan. Biasanya orang tua suka lukisan, mungkin dia memberikan lukisan miliknya sebagai hadiah pernikahan mereka.
“Tidak tahu, Tuan. Kami hanya disuruh untuk mengantarkannya kesini.” Jawab salah satu kurir jujur.
Eibi mengangguk-angguk mendengar jawaban dari kurir itu, ‘?’ dalam hati penasaran.
Setelah kedua benda itu diletakkan ditempat yang pas, salah satu kurir menyodorkan buku tanda terima untuk Eibi tandangani. Setelah itu mereka pergi.
Eibi pun mulai membuka bungkusan bingkai itu untuk mengetahui apa isinya.
Deg! Yang tidak pernah ia sangka, tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Bahkan diusia pernikahannya dengan Zivi sudah beberapa bulan, ia tidak pernah memikirkan tentang pernikahan mereka, apalagi foto mereka.
Selama ini, ia menjalaninya biasa saja setelah awal-awal ia menghindar. Tapi lama kelamaan, ia tidak menghindar lagi, malahan makin penasaran akan gadis itu. Meski penasaran, tidak ada dalam benaknya tentang hubungan mereka sebagai suami-istri.
‘Hanya penasaran? Saat kamu menciumnya itu, apa?’ batinnya berperang.
‘Cih, bahkan kamu ingin menciumnya lagi! Cuma tidak berhasil.’ Ejek batinnya.
‘Saya hanya ingin merasakannya, dan menyukai rasanya.’ Balasnya pada batinnya.
Pusing dengan perang batinnya, Eibi menggelengkan kepalanya, lalu melihat dengan seksama foto itu.
Foto dalam bingkai besar, dirinya sedang memakaikan cicin pada jari manis Zivi, sedang foto dalam bingkai berukuran sedang, dirinya dan Zivi berdiri berdekatan melihat kedepan.
Melihat kedua foto itu, ia tahu saat foto itu diambil kapan. Terlebih foto yang berukuran sedang, ia tahu betul. Itu diambil dengan arahan foto grafer brengsek. Anthony.
Terlihat ekspresi mereka dalam foto itu. Zivi tersenyum sedikit. Telihat kaku, senyum yang dipaksakan. Namun tetap manis. Kalau tidak diperhatikan baik-baik, tidak akan terlihat bahwa senyumnya dipaksakan. Sedang Eibi tidak terlihat senyum sama sekali. Terlihat dingin, namun tetap mempesona.
Dan saat itu ia menyadari sesuatu.
Anthony. Yap, pasti dia yang mengirim foto itu untuknya. Dia yang menjadi fotografer pernikahannya, dia yang memiliki file fotonya, pasti dia pengirimnya. Dia jugalah sutradara dibalik pernikahannya dengan Zivi. Hati Eibi memanas.
Anthony pasti sekarang berada disini, mengingat Kezia ada disini. Dia pasti ingin memata-matainya saat bertemu dengan Kezia. Eibi menyeringai, ada sesuatu yang ia pikirkan.
Ia mengambil ponsel, memotret fotonya saat memakaikan cicin pada Zivi lalu mengirimkannya pada Alden dengan pesan untuk dicetak dalam ukuran kecil sebagai hiasan dimeja kantornya.
‘Kelihatannya, Anthony belum memberitahu Kezia bahwa dirinya sudah menikah.’ Pikirnya mengingat Kezia tidak menuduhnya macam-macam kemarin. ‘Apa dia sungguh menjaga perasaan gadis itu hingga tidak memberitahukan pernikahan? Biar aku yang menunjukkannya. Bagaimana perasaannya merasa di khianati?’ batinnya.
Tentu saja, perkiraan Eibi salah, sebab Anthony sudah memberitahukannya pada Kezia.
Setelah mengirim pesan pada Alden, Eibi meminta pertolongan untuk memasang kedua foto itu didinding.
****
Di kantor, Zivi terlihat semangat dan sibuk seperti biasanya. Tidak terlihat seperti orang yang patah hati dimata Donna yang kemarin jelas-jelas lihat apa yang Eibi lakukan ditempat makan.
“Vi, apakah kau baik-baik saja?” tanya Donna dengar keryitan heran dengan keadaan Zivi yang seperti itu.
“Aku baik-baik saja.” Jawabnya cuek tanpa melihat orang yang bertanya padanya. “Apa kau ingin aku tidak baik-baik saja?” lanjutnya bertanya dengan seyuman tipis dibibirnya.
Kenapa dirinya harus tidak baik-baik? Ia buka pelaku kejahatan. Ia bukan orang yang melakukan kesalahan. Pikirnya.
“Apakah kau sudah menyelesaikan masalahmu dengan Eibi?” tanya Donna lagi.
Zivi menghentikan kesibukannya, lalu memalingkan kepalanya melihat Donna. “Masalahku? Aku tidak punya masalah.” Jawab Zivi menegaskan.
“…” Donna membisu. ‘benar juga. Zivi bukanlah orang memiliki kesalahan dalam hal ini, kenapa juga Zivi yang menyelesaikannya.’ Batinnya merasa bersalah akan pertanyaannya yang salah.
“Maaf, aku salah bertanya!” Ucap Donna memelas.
“Kau tidak salah bertanya.” Zivi tertawa dengan permintaan maafan Donna. Membuat Donna tak bisa berkata akan tingkah Zivi lagi.
“Vi, kau sungguh baik-baik saja? Apa kau sakit?” tanyanya lagi setelah beberapa detik, sedikit kuatir. Jelas-jelas tadi ucapannya menunjukkan bahwa pertanyaannya salah. Tapi sekarang jawabannya menunjukkan pertanyaannya benar.
“Hahahaha, Don… apaan sih Don?” Zivi tertawa melihat perubahan raut wajah Donna terhadap dirinya “Aku baik-baik saja. Aku sudah menceritakan kemarin kebenarannya padamu. Kenapa aku harus tidak baik-baik? Pernikahan kami bukan karena kami saling suka. Tidak ada dasar perasaan disana.” Terang Zivi dengan suara sepelan mungkin, serta memastikan sekitar aman dan tidak ada yang mendengarnya. “Ini, hanya kau yang aku beritahu.” Tambahnya lagi dengan tatapan yang mengatakan -jangan ceritakan ke orang lain-.
“Jadi, ?” Donna hendak bertanya, namun menggantung.
“Yang kemarin, aku hanya syok saja. Ditambah dirimu ada disana dan melihatnya juga. Aku berencana merahasiakan hal ini, tapi ketahuan deh!” tersenyum miris.
“Hmmm, sorry. Aku janji akan menjaga rahasia ini. Kalau ia berani menyakitimu, beritahu aku. Aku yang akan maju melabraknya.” Ucap Donna dengan perasaan bersalah bercampur marah membayangkan Zivi disakiti.
“Hei, pikiranmu liar. Dia tidak kasar, dia tidak pernah menyakitiku.” Terang Zivi juga merasa terharu dengan sikap Donna yang berapi-api siap memberikan pertolongan untuknya.
“Syukurlah. Semoga semakin hari perasaan itu tumbuh diantara kalian!” harapnya.
Zivi tidak membalas dengan kata-kata, hanya senyuman. ‘tidak mungkin’. Pikirnya sambil membayangkan hubungan mereka selama sebulan ini tidak begitu berinteraksi. Hanya interaksi singkat, meski interaksinya baik, itu tidak mungkin. Ditambah lagi dengan apa yang dilihatnya kemarin.
So, Zivi harus benar-benar mempersiapkan diri dan menguatkan diri untuk berbicara dengan Eibi mengenai hubungan mereka dengan baik-baik.
Tapi kapan?
Sementara Eibi dikantor sedang melihat foto pernikahan diatas mejanya dengan rasa puas sambil berpikir, kapan ia bisa menyerahkan hadiah dalam kotak hitamnya untuk Zivi? Kalau saat itu, ia memakaikan cicin itu dengan begitu tidak senang, Sekarang ia sungguh ingin memberinya hadiah itu dengan senang hati dan penuh rasa terimakasih.
Tenggelam dalam pemikirannya, ada telpon masuk memberitahunya bahwa ada orang yang ingin bertemu dengannya. “Siapa?” tanyanya pada resepsionis yang menelponnya.
“Bring her to my room.” Pintanya dengan seringai jahat disana.
Eibi beranjak menuju jendela kaca kantornya memandang kearah luar, seakan menikmati cerahnya langit sebelum bertemu dengan orang yang tidak ingin ia temui.
“Why are you looking for me?” Tanya Eibi langsung saat mendengar pintunya yang tadi terbuka sudah ditutup kembali. ‘I never mention about my address to her. She must be following me from yesterday’ batin Eibi.
“Honey, I miss you!” jawab gadis itu dengan manja sambil melangkah ingin segera memeluk Eibi. Sayang, tidak berhasil. Karena Eibi berbalik dan kembali menuju kursinya, lalu duduk disana.
Gadis itu -Kezia- otomatis mengikutinya dan hendak memeluknya dari belakang kursi. Sebelum itu terjadi, ia matanya menangkap sesuatu diatas meja.
‘What? Impossible!’