LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 52 Obat Paling Tepat



“Dare you leave this room…” Eibi mengancam dengan nada dingin, suara Zivi tidak meluluhkan hatinya.


“I don’t care!” Zivi tetap turun dari ranjang.


****! This girl! Eibi melonjak bangun dan melangkah cepat menarik tubuh Zivi berbalik menghadapnya. Namun Zivi tidak balik menatapnya. Ia menatap dada Eibi dengan tangannya disana untuk menjaga jarak mereka.


Dengan jari telunjuk, Eibi mengangkat dagu Zivi untuk membuatnya melihatnya, “look at me if you really sorry.” Pintanya tegas.


‘she cried!’ Eibi syok. Zivi sungguhan menangis. Ia mengusap pipi Zivi yang masih ada bekas air mata, lalu mengusap pelan pinggir mata Zivi. Zivi menepis tangan Eibi, namun Eibi menepis balik tangannya.


Eibi memeluknya, membenamkan kepala Zivi menempel di dadanya, “I forgive you. I feel sad knew you lied to me. I was so happy accepted your care but I found out that it was fake care you gave me.” Suara Eibi terdengar dari atas kepalanya.


Tak ada respon yang Eibi dapatkan setelah ia mengutarakan kekecewaannya, hanya diamnya Zivi yang ia dapatkan setelah hampir semenit. Eibi membawa tubuh dalam pelukannya itu dan mendudukkannya di dipinggir tempat tidur, lalu ia sendiri duduk disebelahnya. Tangannya memegang kedua bahu Zivi, “look at me!” ucapnya pada Zivi.


“Hei, look at me” Ucapnya lebih lembut seperti berbisik membujuk Zivi melihatnya.


Zivi mengangkat mukanya dan bertemu langsung dengan tatapan Eibi, lalu tersenyum malu dan mengalihkan pandangannya karena pasti masih terlihat sembab karena menangis. Dengan punggung tangannya ia mengusap kembali sudut matanya, memastikan kering.


“Saya mau cuci muka.” Beranjak meninggalkan Eibi.


Setelah membilas mukanya, ia mendapati Eibi berbaring di ranjang dengan mata terpejam dan kedua tangannya jadi bantal. Zivi mengulurkan tangannya hendak membangunkannya, namun mata Eibi yang tiba-tiba terbuka menghentikannya.


Eibi bangun lalu kembali ke tempat tidurnya dengan enggan. Ia ingin bersama Zivi diatas ranjang dan masih banyak yang ia inginkan kejelasannya untuk menghilangkan kabut yang menyelubungi hati dan pikirannya. Merasa bahwa Zivi belum bisa ditanyai, ia terpaksa menarik tubuhnya kembali tempat tidur yang sudah ia pilih.


Zivi membaringkan diri diatas tempat tidur dan memiringkan tubuhnya menghadap Eibi yang dikira tidur, namun ternyata tidak.


“Belum tidur?”


“Hmmm, “Eibi memperbaiki posisi tidurnya agar nyaman membalas pandangan Zivi, “Kenapa kamu takut saya tidak ijinkan? Andaikan saya tidak ijinkan, apa kamu akan mendengarkan saya?” Eibi ingin tahu hal itu. Jawaban Zivi bisa memberinya petunjuk lebih akan perasaan gadis itu padanya.


Pertanyaan Eibi membuatnya terdiam. Kenapa harus takut tidak di ijinkan? Kalau Eibi tidak mengijinkan, apa ia akan menurutinya? “Saya rasa tidak.” Jawabnya setelah berpikir. Mengingat hubungannya dengan Eibi, pasti tidak akan ia turuti. Teman pasti yang akan ia utamakan.


Jawaban Zivi seperti hantaman bagi Eibi, ‘what? Gadis ini! ingin sekali saya jitak! Baru juga saya maafkan!’ batinnya gemas.


“Andaikan saya tidak tahu hal ini, apa kamu akan terus menyembunyikannya?” pertanyaan lain berharap jawabannya bisa memulihkan lagi suasana hatinya yang barusan.


“Tidak tahu. saya tidak memikirkannya sejauh itu. Saya hanya berpikir bagaimana bisa pergi tanpa ketahuan saat itu.” Zivi dengan mata menerawang kearah lain, terlihat jika ia memikirkan jawabannya. “Tapi kurasa, bisa saja saya tidak memberitahumu sama sekali, tapi tidak berencana untuk menyembunyikannya.” Jelasnya.


“Saya akan memberitahumu dan minta ijin.” Jawab Zivi langsung. Itu memang kenyataannya.


“Kalau saya tidak ijinkan?”


“mungkin seperti diawal, saya akan pergi tanpa ijin.” Jawab Zivi mengulang kembali jawaban awalnya.


“Hmmm. Baiklah. Saya lelah. Butuh tidur.” Keluh Eibi membuang nafas, lalu memiringkan tubuhnya memunggungi Zivi. Ia ingin segera tidur, selain melepas lelah, ia bisa melupakan hal yang tidak menyenangkan tersebut. Mana tahu dia jika ia akan susah tidur. Hatinya yang tidak menerima jawaban yang ia inginkan, tidak membiarkan tubuhnya yang lelah tidur.


“Hmmm, kamu pasti lelah.” Respon Zivi yang tidak peka, memuat Eibi tambah gregetan. “Tapi jawab dulu, siapa yang memberitahumu saya disini?”


“!” Tidak ada respon.


Zivi meluruskan tubuhnya untuk tidur. Baru saja matanya hendak menutup, ia mendengar suara. Bukan sekali, terus berulang dalam satu menit.


Zivi tahu, itu Eibi yang terus bergerak. Ia merasa kasihan. Tidak biasanya Eibi tidur dilantai. Pasti ia tidak nyaman. Pikirnya.


“Tidurlah ditempat tidur.” Ucap Zivi menghentikan gerakan Eibi membalik balikan tubuhnya.


“Jangan paksakan tidur disana jika tidak bisa. Sudah hampir jam 11, kamu bisa sakit jika kurang istirahat” Zivi berbicara lagi karena tidak ada respon dari Eibi. Namun ucapan kedua berhasil, Eibi sudah berdiri dan mengangkat selimut, bantal kepala dan guling ia taruh keatas ranjang.


Zivi bangun, hendak pindah tempat, namun Eibi segera menarik tangannya, “Let’s share the bed, ok!” pintanya. Ia tidak mau jika Zivi harus tidur dilantai. Ini juga kesempatan baginya untuk dekat dengan gadis itu. membiasakannya dekat dengannya, hingga ia nyaman dan rasa enggan atau apapun yang membuatnya menjauhkan diri hilang. Sekalian dia menjadi obat untuk lelahnya. Tubuhnya, pikirannya, terlebih hatinya lelah karena gadis itu, maka obat yang paling tepat hanyalah dirinya.


Zivi mengiyakan setelah melihat tatapan iba dari Eibi. Bukan kata, namun tindakan. Zivi kembali membaringkan dirinya, dan menggeser tubuhnya ke pinggir, untuk memberi jarak yang cukup antara dirinya dengan Eibi.


Setelah sekian menit, mata Zivi mulai redup karena kantuk. Namun disebelahnya belum. Hatinya tidak meminta untuk tidur ditempat yang empuk. Hatinya masih kesal. Ia menggeser tubuhnya agak dekat dengan Zivi. ”Hmmm, keep the distance.” Ucap Zivi setengah berbisik, karena rasa kantuknya yang sudah semakin berat.


Eibi tidak berhenti, malah menarik tubuhnya kedalam pelukannya, “Hmmm, I’m tired. Don’t be like this” Ucap Zivi dengan suara parau meronta.


“Just sleep. Let’s sleep like this as we have ever had, ho. I can’t sleep, let me sleep like this with you.” Ucap Eibi berbisik dari atas kepalanya. Zivi tidak meronta lagi, rasa kantuknya sudah membawanya tidak berdaya, dan hanya bisa tertidur pulas dalam pelukan Eibi yang memberinya kehangatan dan tambah nyaman.


Eibi mencium puncak kepala Zivi. sungguh gergetan, ia ingin menjitaknya. Namun ucapan yang Zivi utarakan adalah kejujurannya, meski tidak sesuai dengan keinginannya. Ia tidak bisa memaksanya sesuai keinginannya. “in the future, no matter what, tell me. Let me know at least. If Richard didn't tell me, I didn’t know what should I do.” Bisiknya pada Zivi yang pelan-pelan masuk ke bawah sadarnya.


Tidak butuh waktu lama, setelah Zivi dalam pelukannya, dan dengan perenungan dan harapannya, hatinya tenang dan kantukpun membawanya kedalam dunia tidur untuk menghilangkan segala lelah, fisik maupun psikisnya hari itu. Suara bisikan Eibi yang lembut bagaikan nina bobo pengantar tidur untuknya.