
“How is your work?” Zivi menanyakan pekerjaan Eibi setelah tidak mendapat respon darinya.
“Good. I've already finished with my bussiness here.” Jawab Eibi sebisanya -lihat nanti apa reaksimu saat melihat saya disana! - batinnya dengan sinis.
“Sounds good. So, you can relax and enjoy your free time there.” Zivi terdengar riang ditelinganya, dengan selubung untuk memintanya bersantai disana.
“Hmmm, but I want to go back early!” Eibi ingin tahu jawabannya dengan pernyataannya itu.
“Why? It’s better to relax and enjoy your free time, right? If you come back, you’ll have no time to relax!” Zivi dengan penuh harap agar Eibi tidak cepat pulang.
“Yes, you are right. But I want to go back earlier. Except, you want to come here to me.” Sekarang suasana hatinya membaik. Ia merasakan Zivi yang panik dengan pernyataannya.
“Owh, no. Let me just wait you here.” Zivi sedikit terkesiap dan menjawab dengan tolakan pasti, tanpa pertimbangan sama sekali.
-Huh! Really a good liar! - Eibi mendengus.
Change to video. Eibi mengubah panggilan jadi panggilan video. Semakin ia menikmati situasi saat itu.
“Accept it.” Pintanya pada Zivi yang tidak menerima ubahan panggilan videonya.
“No. I can't.” Zivi menolak.
“Why?” Tuntut Eibi bertanya.
“I have my own reason.” Jawab Zivi, jadi semakin panas.
“Well.” Eibi yang menikmati permainannya berkahir kesal. -keras kepala-
Tut! Langsung mematikan telponnya.
“What? Just like that? Is he angry to me?” Zivi terbelalak.
“Let him be!” bisiknya pada dirinya sendiri, lalu melemparkan ponselnya didalam tasnya.
Ya, acara jalan-jalan dipantai berakhir dan siap-siap pulang untuk makan siang, istirahat sebentar, lalu bisa untuk ikut kegiatan gladi bersih.
“Send me that picture to me!” Pinta Eibi pada Richard.
“Ok!” Richard langsung meng-schreenshot foto-foto dimana ada Zivi dan mengirimkannya pada Eibi.
“Thank you!” ucap Eibi sambil melihat foto-foto Zivi dengan seringainya.
“Let's see, what will you say tomorrow.” Bisiknya pada foto yang ia pandang.
Perjalanan jauh, butuh waktu lama. Semalaman dalam perjalanan jika penyebrangan tidak ada kendala angin kencang.
Jam 3 sore baru tiba di hotel, check in dengan kamar masing-masing. Eibi memilih kamar untuk couple.
Sementara di hall hotel telah berlangsung pernikahan diantara kedua pengantin.
Lita dalam balutan gaun putih dan bawahannya yang mekar begitu cantik, ia sedang digandeng ayahnya menuju calonnya yang sudah berdiri menanti didepan semua hadirin.
Dalam balutan jas dan bawahan serba putih, kecuali sepatu dan bunga yang disampirkan pada bagian dadanya, Stefan berdiri dengan senyuman menanti calonnya tiba untuk disanding dengannya.
Mempelai wanitanya sangat cantik, mempelai lakinya sangat tampan. Sangat cocok. Bisik bisik para hadirin.
Saat sang ayah sudah menyerahkan sang putri pada pangerannya dan kembali duduk, acara pun dilangsungkan. dari pembukaan, janji nikah, tukar cincin hingga dinyatakan sah.
Kedua mempelai dan orang tua keduanya lega, diiringi dengan tepuk tangan ria penuh dengan senyum kebahagiaan dari semua undangan. Lita tak bisa tidak menitikkan air mata bahagianya, demikian juga Stefan.
Semua acara selesai, mereka melanjutkan acara resepsi ditaman belakang hotel yang sangat menawan. Rumput hijau halus sebagai karpet alami, dengan tempat duduk khusus untuk mempelai sudah tersedia.
Stand makanan di setiap pojok dan beberapa jenis minuman khas juga disediakan.
Pengunjung yang sudah menyalami mempelai, diarahkan untuk menikmati hidangan sesuai selera masing masing.
Alunan musik terus berganti, salah satunya, you’re still the onenya Sania Twain. Ada juga undangan yang menawarkan diri untuk menyanyi, mempersembahkan lagu untuk kedua mempelai.
"I'm really happy for you, dear. Congratulation!" Zivi memeluk Lita, lalu menempelkan pipi mereka, kanan kiri bergantian. Lalu melanjutkan menuju Stefan, sang suami Lita.
"Finally, you've become Mrs. Wijaya, hehehe" Epi dengan adegan yang sama dengan Zivi.
"Congratulation. You are so so beautiful, Mrs. Wijaya." Donna, tak ketinggalan juga pelukan dan tempelan pipi. *Untuk make up awet, tidak akan terhapus, 😀😀😀
Thank you adalah balasan yang mereka terima dari Lita. Dan itu ucapan, bukan sekedar ucapan, ada terpancar kesungguhannya dari tatapannya.
Setelah itu mereka bertiga menuju ke posisi kedua orang tua mempelai untuk menyelamati mereka.
Salaman selesai, menuju kebagian hidangan, tepatnya bagian minuman untuk menyegarkan tenggorokan.
"Setelah lagu ini berakhir, dengan secara spesial ketiga teman dari sang primadona kita sore ini akan menyanyikan persembahan lagu dari mereka." Suara dari mikrofon terdengar ditelinga ketiganya. Epi, Zivi, dan Donna.
“Siapa?” Zivi
“Siapa yang dimaksud?” Epi
“Siapa ya?” Donna
Menunggu disebutkan ketiga orang tersebut, tak kunjung terdengar.
"Kini kita satu dalam ikatan cinta..." Malah lagu yang mereka dengarkan.
Lagu terus mengalun, namun mereka sibuk melihat lihat kian kemari mencari, dan tak mendapatkan jawaban.
“Apa jangan jangan kita?” Cetus Epi.
Lagu berakhir dan terdengarlah suara tepukan meriah, juga suitan yang mengalihkan pandangan Zivi, Epi, Donna melihat kedepan, menanti siapa yang dipanggil.
"Kepada ketiga teman dari sang primadona kami persilahkan, nona Epi, nona Zivi, dan nona Donna." Suara itu terdengar membuat Zivi dan Donna terkesiap, membisu. “dugaanku benar!” Bisik Epi dengan suara memelas.
“What? Our names. They ask us to sing.” Donna tersadar dan berujar untuk memastikan merekalah yang dipanggil.
Ketiganya menggeleng gelengkan kepala. Namun tak berdaya menolak.
“Kalau bukan Lita yang minta pada MC, siapa lagi?” Bisik Zivi.
“Demi!” Donna
“Demi!” Zivi
“Demi teman kan ya nggak papa” Epi
“Lagu apa yang akan dinyanyikan?” Sampai didepan pianis bertanya pada mereka.
“Sebentar mas, kami diskusikan.” Jawab Zivi.
“Iya, mas. Ini dadakan, dan kami perlu putuskan lagu yang kami bertiga bisa.” Donna menjelaskan dengan sedikit memelas membuat pianis tersenyum dengan anggukan maklum.
Hadirin yang sedang sibuk makan minum ngobrol, tertuju pada mereka.
Mereka terlihat cantik, tapi bukan itu masalahnya. Semua yang hadir juga cantik dan tampan.
Mereka memperhatikan kerisauan yang tampak pada raut mereka. Terlihat bahwa mereka dipanggil dadakan untuk menyanyi tanpa persiapan.
Mereka penasaran lagu apa yang akan mereka nyanyikan? Suara mereka indah atau tidak?
"You are so beautiful in whitenya Shane Filan, bagaimana?" Donna menyebutkan lagu yang ia sukai dan melintas dalam benaknya.
“Boleh. Aku bisa lagunya. Ep, kamu bisakan?” Tanya Zivi pada Epi yang jarang menyanyikan lagu barat.
"Ya. Itu saja. Aku bisa." Jawab Epi namun dengan keraguan.
Sang pianis mulai memainkan musiknya setelah mereka memberitahukan lagunya dan rangesnya bagaimana.
Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as I live, I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now to my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
What we have is timeless
My love is endless
And with this ring I Say to the world
You're my every reason
you're all that I believe in
With all my heart I mean every world
So as long as I live, I love you
Will heaven hold you
You look so beautiful in white
And from now to my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
oooh oh
You look so beautiful in white
Na na na na
So beautiful in white
Tonight
You look so beautiful in white
You look so beautiful in white
You look so beautiful in white
Tonight
Eibi, Alden, Richard memasuki area membuat terpana para penerima tamu dan orang-orang yang ada disana.
Setelah menyerahkan undangan dan menulis nama, mareka masuk, namun namun hanya beberapa langkah dari penerima tamu.
Pandangan mereka tertuju pada ketiga gadis tak asing yang sedang melantunkan lagu "Beautiful in whitenya Shane Filan" sesuai dengan mereka penampilan mereka yang saat itu mengenakan dress pesta berwarna putih.