LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
31. Penculikan



Keesokan harinya, Zivi diserbu dengan banyak pertanyaan dari Donna.


“Vi, maaf, kemarin aku tak bisa datang. Perutku keram. Sayang Richardku pergi sendiri. Apa kau tak melihatnya? O ya, apakah kau jadi pergi ke acara itu?” Bla bla bla.


“Jika kau bertanya seperti itu, pertanyaan yang mana aku jawab duluan?” Tanya Zivi menggelengkan kepalanya.


“Intinya, ceritakan saja. Nanti aku akan bertanya jika ada yang yang aku tahu lebih.” Donna memintanya demikian saja.


“Jadi ceritanya begini, ……” Zivi menceritakan dari awal saat ia tiba dirumah dan hingga akhirnya pergi ke acara Eibi, alasan yang sudah ia siapkan tak berlaku.


“Sepertinya kau senang dengan perlakuan Eibi padamu?” Tanya Donna.


“Tentu saja. Siapa coba yang tidak akan terbuai dengan perlakuan tersebut. Tapi tetap, aku masih tahu batasanku.” Zivi mengungkapkan perasaannya.


“Apakah perasaan senangmu hanya sekedar senang, atau kau benar-benar menyukainya dan dibatasi oleh keadaan pernikahan kalian?” Donna bertanya ingin tahu perasaan Zivi yang sebenarnya.


“Aku tidak tahu. terkadang aku senang, namun selalu ada kata tapi. Jadi aku tak pernah tahu pasti perasaanku.” Zivi menjelaskan pada Donna.


“Hmmmm, dan saat Eibi menerima ajakan Kezia berdansa, bagaimana perasaanmu?” Tanya Donna menuntut untuk mendiagnosa perasaan Zivi.


“Ya sama. Cuma kebalikannya saja. Aku sedih, tapi….” Menguraikan namun menggantung, tapi Donna sudah membaca lanjutan kalimatnya.


“Aku rasa kau menyukainya.” Setelah beberapa saat diam, Donna memberitahu Zivi hasil diagnosanya.


“Entahlah!” Jawab Zivi. setelah berbicara yang Panjang lebar, mereka kembali fokus bekerja.


Sore hari Zivi memutuskan untuk mampir toko perhiasan. Ia berpikir untuk memberi Eibi hadiah. Dirinya menerima banyak dari Eibi, Eibi perlu mendapat sesuatu darinya, juga perwakilan dari perasaannya seperti perkataan Donna, ia menyukainya.


Setelah dari sana, ia hendak untuk ke minimarket untuk membeli keperluan memasak besok, karena besok dirinya free.


Dalam perjalanan, ia melihat ada seorang yang tengah berkutat dengan motornya, ia kasihan pada orang itu, dan waktu sudah malam. Disana tidak dekat dengan tambal ban atau lainnya yang berurusan dengan motor. Zivi pelan-pelan, sambil melihat spion untuk melihat apakah ada yang menolongnya atau tidak.


Tidak ada. Zivi memutuskan putar balik untuk menolongnya.


“Kenapa motornya, mas?” Tanya Zivi pas pria itu. Tidak terlalu tua, juga tidak terlalu muda. Mungkin umurnya 30an. Ia memanggilnya mas.


“Mogok, neng.” Jawabnya mengangkat mukanya melihat Zivi.


“Apakah bensinnya masih ada?” Tanya Zivi.


“Oh, iya. Saya belum cek.” Mas mengecek bensinnya.


Tak disadari, mobil hitam meluncur dekat mereka, dan menarik Zivi masuk kedalamnya. Mas itu terkejut, setelah beberapa detik baru tersadar dan berteriak. Namun mobil hitam itu sudah makin jauh dari pandangannya. Saat orang berhenti dan bertanya, ia menceritakan, tetap saja tidak ada solusi.


*****


“Cantik? Nggak! Apa salahnya sama boss hingga ingin diculik? Kasihan sekali.” Penculik 1


“Hmmm, jadi penasaran apa yang membuatnya harus menderita begini?” Penculik 1


“Heh! Lihat baik-baik. Sebelum bicara. Memang hanya orang ganteng yang bisa melihat cantik yang tak kasat mata.” Penculik 2


“Hmmm, benar juga. Dia meski begitu biasa, sebenarnya menarik, menawan.” Penculik 1 yang baru terbuka matanya.


Obat Zivi sudah mulai hilang dan tersadar. Ia membuka matanya dan melihat dirinya ada ditempat asing. Ia ada dalam sebuah bangunan yang belum rampung dibangun, namun sudah tua.


“Lepaskan aku. Tolong. Apa yang kalian inginkan?” memohon pada penculik.


“Hmmmm, kami ingin kamu.” Goda penculik 2


Mau kamu! Zivi terkesiap mencerna ucapan itu.


“Tidak. Tolong lepaskan aku. Kalian butuh uang? Aku bisa berikan.” Zivi mulai meronta, namun tidak bisa kuat, tubuhnya lemas, juga ketakutan.


“Tidak tidak tidak. Kami tidak butuh uang darimu yang pastinya tidak sebanding dengan apa yang kami dapatkan setelah menikmatimu.” Ucapan penculik 1.


“Tidak. Tidak. Tolong. Apa salahku?” Zivi berteriak, dirinya gemetar semakin takut. Air matanya tak terbendung lagi. Mimpi buruknya seperti terulang lagi.


“Heh! Tidak ada gunanya kau berteriak minta tolong. Tempat ini terpencil, dan jauh dari pemukiman warga. Sia sia saja kau berteriak. Mendingan nikmati saja. Dijamin enak.” Sentak penculik 2 dengan seringai jahatnya.


“Bajingan kalian. Teganya melakukan hal rendah hanya demi uang. Siapa yang menyuruh kalian?” Suara Zivi dengan amarah, keberanian sedikit muncul membuang rasa takut. Mereka tega melakukan hal seperti itu. Apa mereka tak punya saudara perempuan atau istri atau ibu? Bagaimana perasaan mereka saat mereka diperlakukan seperti yang mereka lakukan padanya sekarang?


“Seorang yang pastinya bisa memberi kami uang yang banyak. Siapa yang tidak tergiur jika berhubungan dengan uang. Apapun bisa dilakukan asalkan uang. Kau tahu, apalagi hal seperti ini, dapat dobel. Nikmat juga uang.” Ucapan penculik 2.


Zivi jijik mendengar ucapannya itu. Amarahnya makin naik, namun ia meredamnya dan berubah memelas “Tidak tidak. Kumohon.”


“Tidakkkkkkkk” Zivi berteriak dengan mata terpejam. Air matanya sudah mengalir tiada henti. Tubuhnya mulai terkulai.


Bang!


“Siapa itu?” Penculik 2 tersentak oleh suara itu dan berhenti. Tinggal tiga langkah dirinya mencapai Zivi.


“Tangkap mereka.” Suara samar Zivi dengar, namun ia tidak bisa membuka matanya.


****


“Tidak. Tidak. Tidakkkk!” Zivi meronta dalam mimpi, tubuhnya bergerak meronta tiada henti.


“Hei hei, bangun. Kamu aman sekarang.” Suara lembut itu menenangkannya, juga menyadarkannya.


Huuuuuuu menangis memeluk sumber suara itu.


“You are save now. Save. Calm down, ok.” Suara lembut terus menyeruak kedalam telinga juga hatinya hingga kembali tertidur lagi.


“You, bastard. Have you ever care about her? Because of you, she should suffer like that.” Eibi terkejut saat melihat orang yang menyelamatkan Zivi tak lain adalah Anthony, perebut kekasihnya. Hatinya panas, semakin memanas saat Anthony berucap demikian.


Senyum sinis tersungging dari bibir EIbi, “Don’t forget, you are the real bastard here!” Eibi mengingatkannya. Ia mendekati tempat tidur dimana Zivi terbaring. “You can leave now, but thanks.” Ucap Eibi tetap berterimakasih. Bagaimanapun, Anthony yang menyelamatkan Zivi.


“I'm sorry. I'm sorry. I promise I would not let you hurt again.” Eibi mengecup dalam dan lama kening Zivi yang masih terlelap.


“Alden, tolong kamu cari tahu siapa dalangnya. Hajar mereka hingga parah bahkan mati jika tidak mengaku.” Eibi menghubungi Alden sambil menunggu Zivi bangun.


“Hei, kau seharusnya sudah tahu siapa pelakunya. Tanpa mencarinya.” Balasan Alden membuatnya terkesiap.


“Maksud kamu apa?” Bertanya memastikan dugaannya.


“Cinta pertamamu, gadis pertamamu. Kau pikir dia sebaik apa? Demi kau dia bahkan bisa sekeji ini.” Alden tidak memikirkan lagi kata-katanya, mengalir tiada henti penuh dengan ketidaksukaan terhadap gadis yang dimaksud.


“Brengsek! Alden, buat perhitungan dengannya.” Eibi mengumpat, marah.


Setelah memutuskan sambungan telpon, Eibi keluar. Ia terkejut, Anthony tidak pergi dari sana. “Why are you still here?”


“Hey, wake up. It’s my place. My room.” Anthony menjawabnya dengan senyum yang ditahan. Ia merasa lucu.


Eibi tersadar namun tidak memedulikannya, “Owh. Terima kasih. Aku akan membawanya pulang.”


“Hei, tunggu dia bangun dulu.” Anthony berpendapat.


“Tidak perlu.” Eibi menolak tegas, dan mengangkat Zivi untuk membawanya pulang.


****


Sudah siang hari, Zivi belum bangun saat Eibi mengeceknya. Alden juga Anthony dibelakangnya. (Anthony mengikuti Eibi saat membawa Zivi dan ngotot tinggal.)


“Dia demam. Segera panggilkan dokter.” Seru Anthony saat dirinya menempelkan tangannya pada Zivi.


“Zivi. Kamu aman sekarang. Ok.” Bisik Eibi pada Zivi setelah dokter keluar dari kamar. Alden dan Anthony yang mengantarkannya. “Cepatlah bangun.” Pintanya lembut. Ada penyesalan dalam dirinya, ia lalai hingga Anthony yang menyelamatkannya. Bahkan Anthony yang menyadari dirinya demam.


Selang beberapa jam, Zivi mulai membuka matanya dan menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya samar dalam kamar. Ia sadar dirinya ada dikamar, Ia melihat Eibi juga Alden dan Anthony yang berdiri di pintu kamar. Air matanya mengalir tanpa ia minta. Ia rasakan tubuhnya tidak terjadi apa-apa padanya, hanya sedikit pegal. Ia bersyukur dirinya selamat. Untuk kedua kali mengalami hal yang sama, dan selamat.


Eibi segera mengusap air mata Zivi dengan jari jempolnya, “Kamu aman. Nothing happened to you. Don’t be afraid, ok.” Eibi berkata lembut.


Alden turun kebawah tidak mau mengganggu moment itu. Membiarkan Eibi meluapkan apa yang ingin ia ucapkan. Mereka berkutat membantu bi Surti menyiapkan makan. Sedang Anthony tetap disana menonton.


“Terima kasih. Terima kasih.” Ucap Zivi tulus.


“Maaf, maaf saya terlambat.” Ucapnya Eibi merasa bersalah, sudut kedua matanya basah.


“Hei, apa tidak ada terima kasih untukku?” Anthony menyeruak diantara percakapan mereka, mengalihkan padangan mereka.


Anthony mendekat sambil tersenyum, Zivi diam dengan raut wajah bingung.


“Dia yang menolongmu.” Jawab Eibi jujur. Zivi paham akhirnya kenapa Eibi malah minta maaf.


“Owh, terima kasih. Saya akan mentraktirmu makan setelah gajian nanti sebagai ucapan terima kasih.” Ucap Zivi tersenyum karena merasa sedikit lucu. Dirinya salah orang untuk berterima kasih terlebih dahulu, hingga diprotes.


“Ok. I wait for that moment.” Goda Anthony seakan menantang untuk menimbulkan suasana yang membuat Zivi tidak memikirkan apa yang dialaminya.