
Eibi sedang duduk disofa. Tenggelam dalam pikirannya sendiri. Entah apa yang dipikirkannya. Zivi tidak tahu.
Dari saat ia membuka pintu hingga sekarang, sudah sekitar 10 menit ia berdiri disana. Tak ada tanda bahwa Eibi menyadari kehadirannya.
Zivi memutuskan untuk turun keruang bawah, ruang pribadi yang juga sudah menjadi kamarnya. Ia memutuskan untuk mandi disana dan ganti pakaiannya.
Untung pakaiannya sebagian sudah ada disana.
Setelah selesai dengan ritual membersihkan dirinya, ia membaringkan dirinya di sofa. Rasa kantuk menyerangnya. Mungkin efek lelah setelah main bulu tangkis. Untungnya sudah makan tadi diluar setelah main bulu tangkis. Tinggal tidur. Akhirnya ia tertidur disofa empuknya.
Dikamar atas, Eibi pun terlelap ditengah-tengah pemikirannya. Ia memikirkan hubungannya dengan Kezia, bagaimana membalasnya? apakah ia bisa membalasnya? Bagaimana dengan Zivi? Jika dia tahu kebenaran dari pernikahan mereka, apa yang akan dia lakukan?
What? Kenapa juga harus memikirkan Zivi?
Eibi terbangun, menyadari dirinya tertidur di sofa. ‘tidur dimana Zivi?’ batinnya melihat kearah tempat tidur. Mengira Zivi akan tidur disana.
Kosong. “Kemana dia?” tidak ada tanda-tanda Zivi ada dikamar itu.
Ia melihat jam ditangannya. Sudah jam 10 malam. “Tidak mungkin belum pulang.” Dan ia teringat Zivi yang pernah ia dapati tidur dibawah. Ia segera turun menuju ruang bawah.
Clek clek clek. Pintu tidak terbuka.
Zivi mengunci pintu ruangannya dari dalam. Teringat akan kejadian saat Eibi tiba-tiba ada di samping sofanya saat itu, jadi Zivi selalu mengunci ruangan itu saat dirinya di dalam.
Tok tok tok Eibi mengetuk pintu.
Tidak ada respon. Namun dari lampu yang menyala, Eibi yakin, Zivi ada di dalam.
Tok tok tok “Zivi” panggilnya.
Mendengar ada suara ketukan pintu dan namanya dipanggil Zivi terusik dan bangun dari tidurnya. Namun tidak merespon, takut jika itu hanyalah ilusinya belaka.
Tok tok tok “Zivi” panggilan itu sekali lagi terdengar.
Zivi benar-benar terbangun. Ia mengenal suara itu. Suara Eibi.
Ia bangun dan menuju pintu.
Glek. Ceklek. Pintu terbuka.
“Hmmm” sambil menutup mulutnya karena menguap dengan mata yang masih mengerjap.
“Why did you sleep here? Move!” ucap Eibi tanpa memikirkan ucapannya akan membuat yang mendengarnya terasa aneh. Apalagi Zivi sudah mengetahui alasan sebenarnya dari pernikahan mereka.
“Hmmm, saya mengantuk, jadi saya tidur disini. Saya melihatmu sibuk dengan pikiranmu sendiri dikamar, jadi saya memutuskan untuk tidur disini. Tidak mau mengganggumu.” Terang Zivi.
“Sorry. I made you sleep here.” Ucap Eibi minta maaf. “but why did not you sleep on the bed?”
“Never mind. I didn’t mind to sleep here.” Jawab Zivi santai.
“Hei, I will not eat you if you sleep on my bed.” Goda Eibi. Ia senang Zivi tidak tidur bersamanya di sofa. Mungkin karena pernikahan ini berawal dari kesalahan dan masih merasa canggung bersamanya orang yang tidak lama dia kenal, makanya memutuskan tidur di sofa. Namun lebih baik demikian. Aman. Itulah pemikiran Eibi sejak awal Zivi tidak tidur di tempat tidur.
“Hei, kamu pikir kamu kanibal?” tantang Zivi tidak menangkap maksud godaan Eibi.
“Kanibal? What’s that?” tanya Eibi.
“Kanibal. Human who eats human.” Terangnya sambil tersenyum. Ia menyadari Eibi tidak terlalu tahu banyak Bahasa indo yang bukan bahasa sehari-hari.
“Owh… let’s go up. Sleep in the bedroom.” Ajak Eibi memberi Zivi jalan keluar, lalu menarik pintu itu tertutup kembali dan kembali ke kamar.
***
Dikamar.
“How is your day?” tanya Eibi.
Mereka tidak langsung tidur. Eibi duduk bersandar di kepala ranjang, sementara Zivi menyiapkan tempat ditidurnya disofa. Mengalasi kain dan menata bantalnya.
“hmmm, not bad.” Jawab Zivi berbalik melihat Eibi sambil melemparkan pantat diatas sofa yang sudah di alasi dengan kain. “I have fun with my friends. How about you?”
“Come here, sleep here.” Ajak Eibi santai. Ia berpikir bahwa kasihan juga Zivi dibiarkan tidur disofa. Dia gadis yang baik. Ajak saja tidur di ranjang dan bersikap santai seperti teman, dan tetap membatasi diri. “it’s a big bed. Don’t be afraid. I’ll do nothing to you.” Jelasnya.
“No. I like to sleep here.” Tolak Zivi langsung tanpa berpikir Panjang. Andai dirinya tidak tahu kejadian sebenarnya, mungkin ia sudah akan tidur disana dari awal mereka menikah.
‘Apa sebaiknya saya beritahu dia kalua saya sudah tahu yang sebenar?’ batin Zivi. ‘Sekalian minta pindah kamar ke ruang bawah’. Zivi memikirkannya baik-baik sambil masuk kebalik selimutnya dan melanjutkan tidurnya.
Urusan itu besok dipikirkan lagi.
Sementara Eibi memperhatikan Zivi yang terlihat sedikit tenggelam dalam pikirannya sendiri. ‘What is she thinking about?’
Ia hendak menanyakan Zivi, namun orang yang ingin ditanya sudah masuk kedalam selimut, menutupi semua badannya.
****
Pagi hari
“06:30” Eibi mengerutkan keningnya sambil melihat jam, lalu pandangannya beralih pada sofa.
Eibi kaget melihat Zivi yang tumbennya belum bangun. Apakah dia sakit? Biasanya Zivi sudah tidak ada disana saat dirinya bangun. Meskipun hari minggu seperti hari itu.
“Sakit?” gumamnya pelan sambil beranjak dari tempat tidurnya mendekati sofa tempat ZIvi tidur.
Eibi menjulurkan tangannya dan meletakkan punggung tangannya untuk mengecek suhu badan Zivi. “Tidak panas.” Gumamnya. Ia berjongkok disana sambil memperhatikat lekat-lekat wajah Zivi.
Rambutnya yang berantakan khas wanita yang tidur. Wajah putih sedikit merona membuat orang yang melihatnya terpana. Wajah tenang dengan hembusan nafas yang teratur.
Semakin dilihat, semakin mempesona. Wanita yang bias ajika hanya sekilas pandang. Namun tidak disangka ada daya Tarik tersendiri yang memikat hati orang yang memperhatikannya.
Tak sadar tangan Eibi menyentuh pipi gadis yang dihadapannya itu. Tangannya berpindah ke alis mata menuju hidung hingga terhenti pada bibir manisnya.
Eibi teringat akan ciumannya yang diam-diam dan ingin mengecup lagi gadis itu. Perasaan manis itu mendorongnya untuk mengecup bibir itu lagi.
Eibi memajukan wajahnya kedepan hendak mengecup Zivi, dan sebelum dirinya mencapai bibir itu, matanya bertemu dengan tatapan Zivi.
Zivi bangun dari tidurnya, “Apa yang kamu lakukan?” kaget saat tiba-tiba bertatapan dengan Eibi dan langsung menyambarnya dengan pertanyaan.
Eibi sedikit kikuk. Hampir saja ketahuan. Batinnya bergejolak. “Tidak ada. Saya hanya ….nmmm itu…diwajahmu ada yang hitam. Saya memastikannya apa.” Ucapnya gelagapan.
Untung ia bisa dengan cepat menemukan alasan. Meskipun sebenarnya tidak ada apa-apa di wajah Zivi. Hanya ada titik hitam yang sangat kecil, andeng-andeng di pipi kirinya. Ia menjulurkan tangannya untuk menyentuh titik itu.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Zivi lagi menepis tangan Eibi.
“Itu, dipipimu.” Jawabnya menatap Zivi untuk meyakinkannya dan tangan menyentuh titik hitam itu “Ini kotorannya.” Ucapnya sambil mengusap lembut titik itu.
Kulitnya sangat lembut. Eibi menikmati sentuhannya itu pada pipi Zivi. Namun segera di tepis tangannya oleh Zivi.
“ini andeng-andeng.” Jawab Zivi sambil cemberut. Jujur, Zivi tidak suka disentuh oleh lawan jenis, meskipun itu hanyalah bagian tangan atau wajahnya. Rambutnya saja dielus, ia tidak nyaman.
Ia beranjak duduk dari tempat tidurnya, dan melihat ponselnya.
“What? Sudah hampir jam 7?” histeris melihat jam diponselnya. Ia bergegas bangun membereskan sofa tempat tidurnya. Tidak peduli lagi dengan Eibi yang masih jongkok disampingnya.
Eibi tercengang melihat tingkah Zivi yang sepertinya terburu-buru. Padahal itu hari minggu.
‘what’s going on with her?’
Zivi bergegas ke kamar ganti dan mengambil pakaian yang ia butuhkan. Ia berlari kecil keluar dari kamar itu dan turun. Ia mandi dan membersihkan dirinya dikamar mandi bawah dan mengaplikasikan make up tipis di ruang bawah.
Selesai dengan ritualnya, ia segera pergi menuju garasi dengan hanya memakai tas punggung hitam kecil. Terlihat seperti remaja.
Dengan si blue, motor kesayangannya ia meninggalkan rumah itu tanpa pamit pada Eibi maupun pak Tejo yang sudah standby dipos jaga.
Eibi yang melihat tingkahnya hanya menontonnya dalam diam. Tidak berani menginterupsi kesibukannya. Seakan menunjukan bahwa Zivi telat untuk hal yang sangat penting.
“Apa yang dilakukan pada hari libur seperti ini?” gumamnya. Ada rasa penasaran yang menggelitik hatinya.