
“Siapa?” Zivi mendongak melihat kearah pintu. Tidak ada siapa-siapa. Zivi dengan khawatir melihat Eibi. “Are you ok?” tanyanya sambil menghampiri Eibi.
Dengan satu tangan, Eibi menarik Zivi hingga terduduk disampingnya. “I thought you were someone else.” Ucapnya sambil tangannya dengan kuat menarik tubuh Zivi hingga tertidur bersandar di dadanya. “New hair?” Eibi memainkan ujung rambutnya.
Zivi paham akhirnya dan menjawab Eibi, “Bukan. Hanya saja terlihat curly bekas konde seharian.”
“Kamu lanjutkan lagi tidurmu. Saya juga mau tidur.” Zivi hendak melepaskan diri dari dekapan Eibi.
“Yap. Mari kita tidur.” Eibi dengan sigap menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.
Zivi mematung, lalu mendongak menatap Eibi. “Sleep with me!” Ucap Eibi pelan dengan nada memelas.
“Tapi…”
“Kenapa masih keberatan? Kita sudah sering tidur bersama. dan itu lebih bagus. Hangat dan nyaman!” Eibi mengungkapkan apa yang ia rasakan. Ia juga yakin Zivi merasakan hal yang sama. “Tidakkah kamu merasakan hal yang sama?”
“Hmmm, tapi tetap saja ini tidak baik. Tanpa saya jelaskan, kamu tahu alasannya!” Zivi juga mengakui hal yang ia rasakan saat bersama Eibi. Hangat dan nyaman.
“Mari lupakan kesepakatan yang pernah kamu buat itu, ok! Mulai sekarang kita tidur bersama.” Eibi mempererat dekapannya dan mencium puncak kepala Zivi. Menekankan bahwa itu adalah kesepakatan yang Zivi buat.
Zivi mengangguk terbawa perasaan dan tidak lagi mampu mengelak nya. Ia menyukai Eibi, ia menyukai apa yang Eibi lakukan terhadapnya, ia nyaman. Ini perasaan riil yang pernah ia rasakan.
Puas dengan respon Zivi, senyuman terlukis pada kedua sudut bibir Eibi, “besok tidak usah masuk kerja ya!” Eibi beralih ke permintaan lainnya. Ia mau besok Zivi menemaninya istirahat di rumah.
“Tidak bisa. Tidak baik saya banyak ijin ke atasan. Lagipula kamu sudah baikan. Hanya butuh istrahat lebih saja untuk pemulihan total.” Zivi menjelaskan dengan pelan pada Eibi.
“Hmmm, I see. Apakah kamu nyaman bekerja di sana?” Eibi memberikan pertanyaan tanpa menuntut Zivi sesuai maunya. “Bagaimana jikalau kamu resign dan bekerja di tempat saya?” Tawarnya.
“Saya nyaman disana. Atasan saya baik, rekan – rekan saya juga baik.” Zivi menolak Eibi, bekerja ditempat Eibi? Rasanya tidak nyaman. Zivi membayangkannya.
“Apakah penghasilan mu juga baik?” Eibi ingin Zivi pindah bekerja ditempatnya dan mendapat penghasilan yang lebih baik.
“Tentu saja baik menurut ukuran saya. Tetapi yang lebih penting dari semuanya, itu adalah kenyamanan.” Zivi tidak terbuai dengan tawaran Eibi, “memang kamu mau gaji saya berapa jika saya bekerja di tempatmu?” Zivi mendongak dan bertemu dengan tatapan Eibi.
“Kamu mau dibayar berapa?” Setelah berpikir sejenak bari Eibi merespon.
“Saya lepaskan pekerjaan, kenyamanan dan rekan-rekan yang bagaikan saudara, berapa nilainya kira-kira menurutmu?” Zivi tidak menjawab, namun menanyakan penilaian Eibi.
“Berapapun jumlah yang kamu sebutkan akan saya berikan sebagai penghasilan mu jika kamu bekerja ditempat saya!” memberi pernyataan dengan tegas pada Zivi. Toh, penghasilannya juga adalah milik Zivi.
“Tidak. Terimakasih. Tawaranmu sangat menggiurkan. Tapi tetap tidak!” Zivi menolak.
“Baiklah.” Eibi menghela nafas. Tidak mengapa. Yang penting Zivi nyaman. “Jika suatu waktu kamu ingin mengganti pekerjaan, ingat bilang pada saya.” Ucapnya sambil mengelus punggung belakang Zivi.
“Yap. Pasti!” Ucap Zivi dengan dahi mengernyit. Ia tidak yakin. “Ayo, tidur.” ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk mematikan lampu sekalian memperbaiki posisi tidurnya agar nyaman.
Jaga jarak? Tidak ada lagi dalam benaknya. Selalu gagal!
****
“Good morning!” Balasan Zivi sambil tersenyum memuaskan hati Eibi. Zivi tidak lagi memprotesnya. Tidak lagi menolaknya menciumnya secara terang-terangan.
“Kamu sudah terlihat sangat sehat. Infusnya bisa dilepaskan nanti.” Zivi memperhatikan dengan seksama bahwa Eibi sudah sembuh.
“Hmmm, nanti dokternya akan Alden panggilkan.” Eibi mengiyakan Zivi. “Mandilah!” Eibi melepaskan Zivi dari pelukannya.
Zivi melihat jam. 05:30. Eibi bangun pagi sekali? Zivi menatap Eibi. “Kenapa?”
“Tidak kenapa-napa!” Balas Zivi. ia tahu ingat awal-awal menikah Eibi tidak pernah bangun sepagi ini. Kecuali ada urusan kerja yang mengharuskannya. Sekarang ia sedang sakit, dan tidak ada mengharuskannya kerja. Zivi terheran. Mungkin kebanyakan tidur. batinnya berpikir positif. “Saya masih bisa menyiapkan sarapan untukmu.”
Eibi mengangguk sambil tersenyum dan mengelus-elus tangan Zivi sebelum melepaskannya mandi.
Saat Zivi sibuk di dapur, Eibi menghubungi Alden untuk menghubungi dokter sekalian mengecek laporan masuk lewat email.
Setelah Eibi menghabiskan sarapannya dan makan obat, baru Zivi siap-siap secara kilat untuk berangkat kerja.
“berangkat dulu ya…” pamit Zivi sambil melihat dirinya dalam cermin yang menyatu dengan meja rias.
“Come here first!” Zivi menoleh melihat Eibi melambaikan tangan memintanya mendekat. Tersenyum patuh Zivi mendekat.
Tangan Eibi memintanya menunduk, Zivi menurut, pikirnya Eibi ingin membisikinya sesuatu.
Cup! Eibi mengecup pipinya, “Take care. Come back soon after work!” ucap Eibi sambil tersenyum. Zivi mematung beberapa detik dan tersadar dengan suara Eibi yang memintanya untuk segera pulang.
“Hmmm!” ucap Zivi sambil mengelus pipinya dan meluruskan badannya. Tanpa melihat Eibi, ia pergi. Bukan marah, tapi lebih tepatnya ia malu namun ada rasa senang dihatinya.
Eibi yang menyadari hal itu hanya tersenyum puas. Tidak salah lagi. Zivi sungguh menyukainya. Mereka memiliki perasaan yang sama.
Setelah Zivi pergi, Alden pun datang bersama dokter untuk melepaskan infusnya. Setelah itu, ia dan Alden mengatur jadwal ketemu dengan klient dan rapat yang sudah ditetapkan. Beberapa yang bisa Alden handle, Eibi serahkan pada Alden.
Pada saat yang sama, Alden memberitahu Eibi bahwa orang yang akan mengangkut sofa dari dalam kamar akan segera datang. Tapi Eibi membatalkannya. Alden terheran! Dan terjawab saat ia melihat Eibi tersenyum. Alden menebak pasti ada hubungannya dengan Zivi. Entah apa hubungannya dengan sofa, ia tidak tahu. Yang pasti, asal Eibi bahagia, ia ikut senang dan menurut apa kata Eibi.
Di kantor, disela-sela kerja Zivi tak bisa tidak memikirkan kembali perilaku Eibi terhadapnya. Ia merasakan sayang dan perhatian Eibi hingga hatinya yang paling dalam. Tak bisa dipungkiri, hatinya serasa berbunga. Hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Apakah terjadi sesuatu antar kau dengan suamimu?” tanya Donna melihat raut Zivi yang tidak bisa tidak menutupi perasaan hatinya.
“Tidak. Memangnya apa yang kau harapkan?” Zivi balik bertanya menutupi perasaannya. Tidak mungkin ia menceritakan perilaku Eibi terhadapnya dan apa yang ia rasakan. Belum waktunya. Ia perlu memastikan terlebih dahulu hingga yakin, ia akan berbagi dengan Donna.
“Masih sama seperti sebelumnya.” Jawab Donna sedikit kecewa, “Lalu apa yang membuatmu senang?”
“…”
“dan bagaimana keadaan suamimu?” sebelum menjawab pertanyaan berikutnya sudah keluar dari mulut Donna.
“Sudah baikan. Dia hanya butuh istirahat!” Jawab Zivi memberitahu Donna yang mengangguk lega. ‘ku pikir parah!’ batin Donna, “btw, tentang taruhan, kapan kau akan mentraktirku?” Zivi segera beralih dari tentang Eibi.
Donna menjanjikannya hari sabtu. Dan mereka sepakat untuk mengajak Epi juga.